
Jam sudah menunjukan pukul 07 pagi, Tasya baru akan melakukan misinya, namun semua itu urung ia lakukan saat mendengar suara Ayah dan Ibunya yang baru datang.
Tasya kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya apalagi sepagi ini. Dengan kening mengkerut Tasya menghampiri kedua orang tuanya.
"Kok dadakan mau kesini Yah ?" Tanya Tasya heran.
namun sayang Ayah Tasya tak membalas pertanyaan Tasya, ia malah menatap tajam anaknya.
Melihat tatapan tajam sang Ayah membuat Tasya takut, pasalnya ia ingat tatapan itu Ayah berikan kalau dirinya melakukan kesalahan.
"Rencana apa yang akan kamu lakukan Sya ?"
Deggg.
Jantung Tasya berdetak lebiqqh kencang, bagaimana Ayahnya bisa tahu tentang semua ini ?
"Kamu ini keluaran pesantren Nduk ! Kenapa sikap kamu tak mencerminkan penampilan kamu. Ibu malu Nduk !" Ucap Ibu yang sudah berlinang air mata.
"Tasya hanya ingin mendapatkan Raja lagi. apa Tasya salah ?"
"Ya jelas salah Tasya. Raja itu sudah punya istri kamu mau jadi pelakor ?" Bentak sang Ayah hingga membuat Tasya kaget.
"Bagaimana kalau kamu di posisi istrinya Raja ? Apa kamu kira dia gak bakalan sakit jika kamu berniat merebut suaminya" sahut sang Ibu
Tasya mulai terisak ia menuju sofa di ikuti kedua orang tuanya.
"Ikhlaskan dia karena Allah sayang ! Raja bukan jodohmu, sekuat tenaga kamu ingin merebutnya kalau Allah tak berkehendak Raja juga gak akan menjadi suami kamu"
Tasya kembali terdiam, ia sebenarnya tau perihal jodoh tapi kenapa rasa ingin memiliki begitu besar ia rasakan. Ia seakan tak rela jika laki-laki itu sudah memiliki seorang istri.
Tangis Tasya terus terdengar membuat kedua orang tuanya merasa kasihan, tapi niat jahat Tasya tak bisa di teruskan karena akan membahagiakan dirinya dan juga orang lain.
"Ayah sama Ibu sangat menyayangi kamu, harapan kami begitu besar Nduk" Ibu mengelus kepala Tasya dengan lembut.
"Suatu hari nanti akan ada yang lebih baik dari Raja, percayalah takdir Allah jauh lebih indah dari yang kamu bayangkan !" Sahut Ayah yang kini sudah memelankan suaranya. Ia sebenarnya tak tega jika melihat putri kesayangannya menangis.
"Hiks--hiks. Maafkan Tasya Bu, Tasya hilaf hampir saja Tasya merusak kebahagiaan orang lain karena keegoisan Tasya sendiri"
Ibu memeluk tubuh Tasya dengan erat, mengelus punggung yang masih naik turun karena isakan tangis.
"Ibu yakin kamu akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Raja, percayalah !"
✨✨✨✨✨✨
"Bunda mau kemana ?" Tanya Zhalfa yang kini sudah siap berpakaian rapih menuju kampus.
__ADS_1
"Mau kemakam Baba Nak, hari ini adalah ulang tahun pernikahan Baba sama Bunda" jawab Bunda dengan suara serak.
Zhalfa tau kalau sebentar lagi air mata Bundanya akan menetes dengan deras. Begitu menyakitkan memang kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup kita.
"Mau Zhalfa temenin Bun ?"
Bunda menggeleng "kamu kuliah saja Sayang, Bunda ingin sendiri ke makam Baba, ingin berduaan sama Baba"
Dan Tes .
Air mata Bunda langsung menetes dengan deras. Begitupun dengan Zhalfa padahal baru semalam ia bercerita dengan kedua kakak kembarnya tentang rindu yang membelenggu perasaan nya.
"Bunda" Zhalfa langsung memeluk tubuh Bunda dengan erat "Zhalfa juga rindu dengan Baba, rindu sekali ."
"Sabar ya Sayang, insya Allah nanti kita berkumpul di syurga nya Allah"
"Iya Bun, Zhalfa akan berusaha sabar dan ikhlas"
Zhalfa melepaskan pelukanya, jemari Bunda menghapus air mata Zhalfa dengan lembut. Sekuat tenaga Zhalfa tersenyum di tengah kesedihan yang ia alami.
"Adek mau ke kantor Abang Bun"
"Mau ngapain Nak ?"
"Mau minta tanda tangan Abang, sama mau mohon izin sama Abang kalau adek mau ke ikut kegiatan kampus"
Zhalfa menganggukan kepalanya. Selesai sarapan Zhalfa langsung pamit untuk kekantor Raja. Harusnya memang bisa Bunda yang membubuhkan tanda tangan disana tapi Zhalfa tetap ingin meminta izin pada Raja karena walau bagaimanapun Raja adalah kakak tertua di keluarganya.
✨✨✨✨
"Abang berangkat kerja dulu ya ! Hati-hati di rumah !" Ucap Raja pada sang istri.
"Iya Bang. Abang juga hati-hati di jalan !"
Raja menganggukan kepalanya, setelah Keyla mencium punggung tangan nya. Raja langsung berangkat kerja.
"Kak berangkat dulu" ada Ibra yang baru muncul.
"Gak sarapan dulu ?" Tanya Keyla.
"Nanti saja Kak"
"Ya sudah hati-hati"
Setelah kepergian Suami dan Adik iparnya. Keyla kembali kekamar rasa mual yang ia rasakan membuat Keyla tak berniat mau ngapa-ngapain. Mommy Alya juga sudah pulang.
__ADS_1
Keyla mengelus perutnya yang masih belum ada perubahan sama sekali. Walaupun mual dan muntah kerap membuat tenaga nya habis tapi Keyla tak pernah mengeluh karena kehamilan ini sudah ia tunggu selama setahun lebih.
"Sehat terus ya sayang !" gumam Keyla. Untuk panggilan belum Raja tentukan. Anaknya nanti mau memanggil apa.
_____
Di perusahaan Arsalan grup Zhalfa sudah sampai terlebih dahulu, ia menunggu di ruangan Raja dan sudah meminta izin pada resepsionis.
Tidak berapa lama pintu ruangan terbuka. Zhalfa menoleh dan tersenyum kearah Raja.
"Kapan datang dek ?" tanya Raja.
Zhalfa mencium punggung tangan Raja "Tadi Bang"
"Kok gak ngabarin Abang dulu ? kalau tau kamu mau datang Abang bisa lebih pagi ke kantor"
"Tidak apa-apa Bang, lagian Zhalfa kesini cuman sebentar"
Raja mengajak adiknya duduk di sofa,, sepertinya ada yang serius yang ingin Zhalfa katakan.
"Ada apa ?" tanya Raja.
Zhalfa mengeluarkan sebuah kertas yang ia letakkan di tas ranselnya kemudian Zhalfa berikan kepada Raja.
"Ini surat izin orang tua Bang, Zhalfa akan mengikuti kegiatan kampus, kalau Abang mengizinkan Zhalfa akan berangkat"
Pertama kalianya Raja mendapatkan hal seperti ini, membuat ia sadar kalau tanggung jawabnya sangat besar, apalagi Zhalfa masih gadis tentu ia harus menjaga Zhalfa dengan sangat baik.
Raja membaca kertas itu dengan teliti, tak ada satu poinpun yang ia lewatkan. Setelah membaca Raja kembali menatap Zhalfa.
"Abang izinkan,.tapi Zhalfa harus jaga diri baik-baik ya disana !"
"Iya Bang, Zhalfa akan pulang dengan selamat !"
"Apa sudah minta izin sama Bunda ?"
"Sudah Bang"
Raja mengambil polpen dan membubukan tanda tangannya disana. Dimana dulu sering nama Baba Zahran yang tertera namun sekarang berganti menjaga nama Raja.
"Makasih ya Bang, kalau begitu Zhalfa pamit mau ke kampus" ucap Zhalfa yang kembali memasukan kertas itu kedalam tasnya.
"Hati-hati, nanti siang Abang kirim uang bulanan kamu"
"Iya Bang, terima kasih sekali lagi"
__ADS_1
Setelah kepergian Zhalfa, Raja mendudukan diri di kursi kebesarannya, kedua tangannya ia letakkan didada. Menatap lurus kedepan sambil menghela nafas berulang kali.
"Rasanya Abang masih sangat berat memikul tanggung jawab ini Ba" gumamnya.