Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Acara 4 Bulanan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa usia kehamilan Keyla sudah memasuki usia 4 bulan. Maka dari itu kedua orang tua Keyla mengadakan acara 4 bulanan.


Peringatan acara 4 bulanan hukumnya tidaklah wajib, namun boleh saja di lakukan selama acara ini mengandung banyak unsur-unsur kebaikan seperti diantaranya shodaqoh, sholawat dan qiratu Qur’an. Kemudian yang terpenting adalah tidak mengandung unsur-unsur negatif dan melenceng dari ketentuan Islam.


Tujuan dari diadakannya peringatan 4 bulanan ini adalah sebagai rasa syukur atas amanah besar dan berharga dari Allah subhana hua ta’ala dengan dihadirkannya seorang calon anak di dalam suatu keluarga; selain itu juga sebagai pendidikan prenatal (pendidikan sebelum lahir) bagi janin supaya menjadi anak yang shaleh/shalehah.


ketika kehamilan memasuki usia ke 4 bulan, Allah Subhana hua taala mulai mengutus malaikat guna meniupkan ruh ke dalam janin yang terdapat di rahim ibunya.


Keyla duduk bersanding dengan sang suami yang kini memakai pakaian serba putih sama dengan gamis yang ia kenakan. Tak terasa memang kehamilan Keyla sudah menginjak 4 bulan. Sujud syukur selalu Raja lakukan atas anugerah ini.


Acara pertama adalah sambutan dari Raja yakni suami dari Keyla, ia menyampaikan kata terima kasih kepada ibu-ibu yang sudah bersedia datang dan mendoakan anak yang ada di kandungan istrinya.


Rangkaian demi rangkaian terus terlaksana, hingga akhirnya selesailah sudah dan waktunya makan siang.


"Mau makan apa Sayang ?" tanya Raja dengan lembut.


"Gulai Ayam saja Bang, Key dari tadi udah ngiler lihatnya"


Raja terkekeh, lalu mengambil piring dan hendak mengambilkan istrinya makan siang, namun dengan cepat Keyla menahan.


"Biar Key aja Bang !"


"Sudah, kamu duduk aja dengan santai, Abang bisa kok pilihin ayamnya yang gedek"


"Iiihh, Abang bukan itu maksud key !"


Raja kembali terkekeh, istrinya semakin hari semakin menggemaskan apalagi dengan pipi cubby nya saat ini, bahkan Raja sering kali mencubit pipi Keyla saking gemasnya.


"Udah ya, Abang aja yang ngambilin" Sebelum Keyla menjawab Raja sudah melangkah kedekat prasmanan untuk mengambilkan istrinya makan siang, banyak para ibu-ibu yang kagum dengan perhatian Raja.


Raja hanya membalas mereka dengan senyuman, setelah selesai mengambilkan istrinya makan siang Raja kembali mendekati sang istri dan menyerahkan piring yang sudah berisi makan siang.


"Kok cuman satu Bang ?"


"Iya sengaja memang, biar sepiring berdua"


"Apa sih Bang, kan malu banyak orang"


"Ya sudah biar gak malu kita makan di dapur aja yuk, atau mau dikamar"


"Is, Abang kenapa makin hari makin gombal aja sih Bang"


"Ya gombal sama istri sendiri gak ada salahnya juga kan"

__ADS_1


Keyla hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami yang semakin menjadi.


"Suapin Abang Neng !" pinta Raja.


"Malu Bang !"


"Malu sama siapa sih Neng ? kan gak yang lihat juga"


Dengan menghela nafas panjang Keyla menyuapi suaminya, ternyata tingka keduanya di perhatikan Momy dan juga Bunda. Kedua orang tua itu saling pandang dan tersenyum.


"Semoga rumah tangga mereka selalu bahagia ya mbak" ucap Momy.


"Aamiin, semoga di jauhkan dari hal-hal yang tidak di inginkan"


Dengan berjalannya waktu Bunda kembali ceria, ia sudah mulai bisa menerima kepergian sang suami..Bunda tau bahwa semua orang yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya 'Kematian' dan di setiap pertemuan pasti akan ada 'Perpisahan'.


✨✨✨✨✨✨✨✨


Sore hari ketika para tamu sudah Jihan masih saja ada disana, ia menunggu Ibra pulang karena Jihan ingin di anterin lagi. Bahkan Jihan sengaja tak pulang bersama dengan kedua orang tuanya demi menunggu Ibra.


Jihan sudah mulai jenuh karena dari tadi Ibra tak berhenti mengobrol, padahal hari sudah sangat sore.


"Belum pulang Ji ?" tanya Keyla yang kini duduk disamping Jihan sambil membawa jus alpukat.


Keyla melirik Ibra, tentu saja yang di katakan Jihan calon suami adalah Ibra. Siapa lagi cowok yang menjadi incaran Jihan kalau bukan Ibra.


"Kamu belum nyerah juga buat deketin Ibra ?"


"Belum, sebelum janur kuning melengkung"


"Iiss. Lebay deh" Keyla tertawa mengejek membuat Jihan mencebik kesal.


"Lu jangan ngehina gue Key, Lu lupa bagaimana dulu Lu mau dapetin Raja"


"Ciee. Ngambek"


Jihan masih melengos, ia tak mau menatap Keyla.


"Mau di bantuin gak buat di anterin Ibra pulang" tanya Keyla


Mendengar ucapan Keyla tentu saja Jihan langsung tersenyum, tentu saja ia mau karena sedari tadi ia memang nungguin Ibra.


"Mau Key, dari tadi Kek bantuinnya !"

__ADS_1


"Huu, kalau masalah itu langsung nyaut juga"


"Hehe, kan dia cowok incaran aku"


Keyla membalas senyuman Jihan, lalu berdiri "Bentar ya"


Jihan menjawab dengan anggukan, ia menunggu Keyla yang saat ini berjalan kearah Ibra. Perasaan Jihan menjadi deg-degkan takut kalau Ibra menolak seperti biasanya.


Namun siapa sangka Keyla berhasil membawa Ibra mendekatinya, Jihan menjadi salah tingka ia menarik nafas dalam-dalam kemudian tersenyum manis kearah Ibra walaupun tak di balas oleh Ibra.


"Ayo" ucap Ibra.


"Ayo kemana Mas ?" tanya Jihan tak mengerti.


"Katanya mau di anterin pulang"


"Oh, aku kira mau di ajak ke KUA"


Ibra memutar matanya malas, berhadapan dengan Jihan harus banyak stok sabar. Tak ingin berlama-lama Ibra langsung meninggalkan Jihan dan Keyla.


"Ayo sana entar Ibra beruba pikiran lagi" ujar Keyla.


"Makasih Keyla Sayang"


Muah


Muah.


Jihan mencium kedua pipi Keyla, membuat Keyla meringis kemudian melambaikan tanganya. "Hati-hati Ji !" teriak Keyla.


Di dalam perjalanan pulang Ibra terus terdiam sama sekali tak ada niat untuk membuka pembicaraan. Sementara Jihan mencari pertanyaan yang pas untuk membuka topik obrolan supaya keadaan tak sehening ini, lagian Jihan harus memanfaatkan suasana seperti ini karena kan jarang sekali Ibra mau nganterin dia pulang


Bahkan ini kali kedua Ibra mengantar Jihan pulang, yang pertama saat Jihan berhasil menjawab pertanyaan Ibra tentang rukun islam dan kedua, ? entah bagaimana Keyla bisa membujuk Ibra supaya bersedia nganterin dirinya pulang.


Apapun itu Jihan benar-benar berterima kasih pada sahabatnya itu.


"Hmmm, mas Ibra kok diam terus sih, gak ada gitu yang mau di tanyain sama Jihan ?"


Ibra menatap kaca yang menggantung di dalam mobil, dimana ia bisa melihat wajah Jihan disana.


"Ya Allah kenapa macet banget sih" gerutu Ibra.


Namun justru itu membuat Jihan tersenyum bahagia karena jalanan macet akan membuat dirinya bisa lama-lama bersama dengan Ibra.

__ADS_1


"Ya Allah untuk sekali ini hamba bersyukur jalanan macet, kalau bisa macet sampai besok juga gak papa supaya dekat terus sama mas Ibra" batin Jihan sambil tersenyum.


__ADS_2