Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Zhalfa di Culik


__ADS_3

Kaisar keluar dari ruangannya sambil membawa sebuah rekaman CCTV, mata menyalang dengan rahang mengeras. Ia menuju anak buahnya yang sedang mengobrol sambil tertawa.


Tanpa aba-aba Kaisar menarik kerah baju seseorang.


*Bug


Bug


Bug*.


Ia memukul orang itu bertubi-tubi, tak ada yang membantu karena mereka semua tau kalau Kaisar sedang marah pasti ada yang membuat kesalahan.


"Amp--un Tuan, apa salah saya ?" tanya Pria yang bernama Herdi.


"Kau masih bertanya apa kesalahan mu ? Buug" ucap Kaisar dengan geram, ia kembali memukul wajah Herdi dengan keras.


Darah segar mengalir di wajah Herdi, hidunh bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah, namun ia tak berani melawan akan tetapi Herdi sudah tau letak kesalahannya.


"Kau sudah mengkhianati ku, kau yang mencuri senjataku" teriak Kaisar dengan keras, membuat semua anak buah Kaisar tercengang.


"Maafkan saya Tuan, saya hilaf saya terpaksa melakukan itu" Herdi berlutut di kaki Kaisar.


"Lepaskan kepar*t, jangan sentuh saya ! pergi kau dari sini sebelum tanganku membunuhmu !"


Herdi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau di pecat oleh Kaisar "Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi Tuan ! saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi"


Kaisar mencengkram dagu Herdi dengan kuat, ia menatap tajam wajah pria yang sudah babak belur itu "Kau lupa dengan peraturan yang ku buat, kalau aku tak akan memberikan kesempatan kedua" setelah itu Kaisar melepaskan cengkraman nya..


Kaisar berdiri "Bawa di keluar, dan jangan biarkan dia masuk lagi ke sini !" perintah Kaisar.


Beberapa anak buah Kaisar langsung menyeret tubuh Herdi dan membawanya keluar dari rumah mewah itu, Herdi berontak ia masih teriak memanggil nama Kaisar, namun sayang Kaisar sudah tidak peduli lagi.


Begitulah Kaisar ia tidak akan menerima yang namanya kesalahan sekecil apapun, Kaisar masih berbaik hati pada Herdi karena tak membunuh pria itu karena merasa kasihan dengan istri dan anak Herdi.


Di luar gerbang Herdi di lempar kejalanan, setelah itu di tinggalkan begitu saja. Pintu gerbang sudah tertutup dengan rapat.


Herdi berdiri dengan tubuhnya yang lemah, ia menatap gerbang yang sudah terkunci itu. Ibu jarinya menyusut darah yang keluar di sudut bibirnya.


"Akan ku balas semua ini Tuan Kaisar" gumam Herdi dengan geram. Ia tak terima di perlakukan seperti ini.


Herdi meninggalkan kawasan rumah itu dengan amarah yang memuncak, otaknya berpikir dengan keras bagaimana caranya membalas Kaisar. Hingga beberapa saat kemudian Herdi bisa tersenyum karena kini ia bisa membalaskan dendam nya.

__ADS_1


"Iya gadis itu, dia yang akan aku buat untuk membalas dendam dengan Kaisar. Karena aku yakin bahwa gadis itu kelemahan Kaisar"


Sebelum menjalan kan aksinya Herdi pulang kerumah dulu untuk mengambil mobil, tentu saja ia harus punya kendaraan dalam menjalankan aksinya.


✨✨✨✨✨✨✨✨


Di sebuah kampus ternama Zhalfa merasa sangat legah karena sudah 2 hari ini ia tidak di ikuti oleh siapapun lagi.


"Ternyata ancaman ku waktu itu berhasil juga" gumam Zhalfa.


Setelah mata kuliah selesai Zhalfa tak langsung pulang ia dan kedua temannya pergi ke toko buku, mereka bertiga tertawa sambil bercanda, tak ada sedikitpun mereka merasakan ada sesuatu yang mengganjal.


Sementara di dalam mobil berwarna hitam Herdi sudah memakai toping dan pakaian serba hitam, ia masih menatap Zhalfa dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi.


Nanti Herdi akan membawa Zhalfa setelah kedua teman Zhalfa pergi supaya tidak ada yang mengetahui kejahatannya.


Zhalfa mencari buku yang ia inginkan, tidak berapa lama ponselnya berbunyi. Tertera nama Bunda di sana. Dengan segera Zhalfa menggeser menu hijau supaya panggilan tersambung.


"Assalamualaikum Bunda"..


"Waalaikumsalam Nak, kamu dimana kok belum pulang ? katanya kuliah cuman sampai siang ?"


"Zhalfa mampir ke toko buku dulu Bun, setelah ini langsung pulang. Memang nya kenapa Bun ?"


"Siap Bunda, habis ini aku langsung pulang"


"Bunda tunggu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam".


Zhalfa geleng-geleng kepala, Bunda begitu khawatir akan dirinya. Dengan cepat Zhalfa mencari buku dan membayarnya supaya segera pulang ia tak ingin Bunda masih khawatir.


"Aku duluan ya !" ucap Zhalfa kepada kedua temannya yang masih belum mendapatkan buku yang mereka inginkan.


"Lah kok cepat amat Zhal ? gak makan siang dulu ?" teriak Erika salah satu teman Zhalfa.


"Aku udah di tungguin sama Bunda, lain kali aja ya"


"Dasar anak Bunda"


Zhalfa tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua teman nya. Ia berdiri di depan toko buku untuk mencari taksi karena sopir yang bisa mengantar jemputnya sedang cuti karena sakit.

__ADS_1


Karena tak juga mendapatkan taksi Zhalfa berjalan sedikit ke depan, disana ada halte bus mungkin ia bisa mendapatkan taksi disana.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepan Zhalfa, di susul dengan seorang laki-laki berpakaian hitam turun. Zhalfa melirik sekitar hanya ada dirinya seorang. Saat Zhalfa hendak melarikan diri orang itu langsung menarik tangan Zhalfa.


"Siapa kamu ? tolong lepaskan aku !" ucap Zhalfa yang sudah ketakutan


"Diam, atau saya tembak !" balas Herdi.


Zhalfa memejamkan matanya melihat sebuah pistol yang kini menempel di pelipisnya, tubuhnya bergetar dan air mata yang sudah menetes.


"Ya Allah lindungi aku, Abang Zhalfa takut Bang, tolongin Zhalfa !" batin Zhalfa dalam hati.


Zhalfa menurut saat Herdi membawanya kedalam mobil, ada beberapa orang yang hendak menolong tapi urung karena melihat pistol Herdi.


Tubuh Zhalfa di lempar kedalam mobil, membuat Zhalfa meringis karena menahan sakit.


Setelah itu mobil melaju dengan cepat, entah akan kemana tujuannya, tubuh Zhalfa semakin bergetar karena baru kali ini ia mengalami seperti ini.


"Baba, tolongin Adek Ba ! Adek takut"


Zhalfa mencengkram gamis yang ia pakai, begitu ketakutan dirinya saat ini.


"Siapa sebenarnya kamu ? apa salah saya ? kenapa kamu menculik saya ?" tanya Zhalfa


"Diam ! jangan banyak tanya !" bentak Herdi, membuat Zhalfa kaget.


"Hiks--hiks--hiks, saya takut, tolong lepaskan saya"


Mendengar tangisan Zhalfa, membuat kemarahan Herdi memuncak, ia menghentikan mobilnya dan---


Plaaaak.


Sebuah tamparan yang keras Herdi berikan pada Zhalfa, wajah Zhalfa memanas, ia merabah pipinya yang kini mungkin berwarna merah atau pun memar, tamparan Herdi sangat keras.


"Saya bilang diam ya Diam ! kalau kamu nangis lagi saya bunuh kamu !" ancam Herdi.


Zhalfa menggeleng dengan air mata berderai, ini kali pertama ia di tampar seseorang, dulu Baba Zahran saja tak pernah melakukan ini tapi sekarang Zhalfa merasakan nya dari pria yang tidak ia kenal.


"Abang, tolong Bang "


Tiba-tiba Zhalfa ingat dengan ponselnya, ia membuka tas dengan hati-hati untuk mengambil ponsel dan mengirim SMS dengan Raja. Beruntung Herdi tak melihat karena ia begitu fokus kejalanan.

__ADS_1


"Abang tolong Zhalfa ! Zhalfa di bawa seseorang yang enggak Zhalfa kenal ! Zhalfa takut Bang ! tolong ya !"


__ADS_2