
(Kisah Zenia)
Disebuah pemakaman umum Zenia masuk sambil membawa bungah untuk ia hadiakan kepada sang suami. Langkahnya begitu pelan sambil menatap setiap makam yang ia lewati.
Kini tibalah ia dimakam Suaminya, di samping kiri makam Zahran ialah makam kedua orang tua Zenia. Ia duduk sambil menarik nafas panjang. Setiap menatap nama Zahran di batu nisan itu dadanya selalu merasa sesak. Rasanya sangat sulit untuk bernafas dengan normal.
"Assalamualaikum By" ucap Zenia pelan kemudian menatap makam kedua orang tuanya "Assalamualaikum Ma. Pa"
3 orang yang paling berarti dalam hidupnya telah meninggalkan dirinya dengan cepat. Zenia bahkan masih ingat kepergian sang Papa karena terkena serangan jantung mendadak. Setelah itu menyusul sang Mama 2 bulan kemudian.
Dan kini menyusul juga suaminya. Orang yang masih sangat ia harapkan.
"Tak terasa udah 25 tahun pernikahan kita, dan Byby hanya menemani Nia sampai disini. Meninggalkan Nia tanpa mengucapkan kata pamit"
"Kenapa Ya Allah, kenapa semua orang ninggalin Hamba dengan cepat. Yang pertama engkau mengambil adik hamba Zara, kedua orang tua hamba, ketiga mertua hamba dan kini suami hamba juga engkau ambil. Kenapa Ya Allah"
Sekarang Zenia sudah tak kuat menahan tangisnya, ia memeluk makam sang suami guna mencari ketenangan. tak peduli kalau makam suaminya masih tanah merah.
"Nia udah berusaha ikhlas By, tapi kenapa sangat sulit ?"
"Tunggu Nia di Sana ya By, akan Nia ceritakan semuanya bagaimana kehidupan Nia setelah kepergian Byby. Akan Nia ceritakan Bagaimana Nia terluka karena kehilangan Byby"
Tiba-tiba angin berhembus dengan pelan menerpa dirinya, begitu sejuk. Zenia merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya tapi sayang ia tak bisa melihat siapa itu.
"Jika Byby ada disini, Nia mohon kasih Nia petunjuk !"
Sebuah daun jatuh tepat di samping Zenia duduk, Zenia mengambil daun itu dan memeluknya dengan erat, ia yakin itu adalah kode dari suaminya..Ia yakin kalau suaminya ada di sisinya sedang menatapnya yang saat ini masih sangat berduka.
"Apa Byby mau marah karena Nia belum juga ikhlas dengan kepergian Byby ? "
"Marahlah By ! Nia ikhlas"
Tak terasa hari sudah semakin siang, sinar matahari sudah terik dan bahkan sudah menyengat menerpa sekujur tubuh. Tapi Zenia tetap bergeming tak beranjak sedikitpun dari sana. Ia masih rindu dengan suaminya.
✨✨✨✨✨
Sementara itu.
Raja baru saja bersiap untuk meeting bersama perusahaan Abraham grup, harusnya tadi pagi tapi karena Daddi Kenan baru tiba di Jakarta jam 08 pagi makanya Meeting di tunda setelah makan siang.
Untuk pertama kalianya Raja menginjakan kaki di perusahaan Abraham, perusahaan milik ayah mertuanya.
__ADS_1
Perusahaan itu sama besarnya yang ia pimpin sekarang. Di depan pintu lift ada Om Pras yang menunggu
"Silahkan Tuan !" ucap Om Pras.
"Panggil Raja saja Om ! jangan Tuan !" balas Raja sopan rasanya tak enak hati mendengar panggilan Tuan dari Om Pras.
Om Pras justru terkekeh tapi tak membalas ucapan Raja, ia menekan tombol lift dimana lantai yang akan mereka tempati untuk meeting.
"Apa kabar Dad ?" Raja mencium punggung tangan Daddi Kenan dengan sopan.
"Baik, bagaimana kabar kamu dan Key ?"
"Alhamdulillah baik juga Dad"
"Semalam Mommy nginep di rumah ya ?"
"Iya Dad, katanya gak ada teman"
"Udah Daddi ajak malah gak mau katanya mau nginep di rumah Key aja, padahal Daddi takut ganggu kalian"
Raja menggaruk kepala nya yang tak gatal, ngobrol dengan Daddi Kenan akan selalu mengarah ke hal berbau ranjang.
Saat acara meeting di mulai, Raja dan Daddi Kenan bersikap profesional. Walaupun semua orang tau kalau Raja adalah menantu pertama keluarga Abraham.
Setelah Raja menjelaskan semuanya bertepuk tangan karena takjub dan langsung setuju dengan penjelasan Raja.
"Hebat, cara kerja kamu Daddi suka !" ucap Daddi Kenan setela menyelesaikan meeting.
"Terima kasih Dad. Ini berkat bantuan Daddi"
Daddi Kenan justru tertawa kemudian menepuk bahu Raja berulang "Ada hadiah buat Key, kata Om Pras udah di kirim kerumah kalian, semoga Key suka"
"Terima kasih Dad. Key pasti suka hadiah dari Daddinya"
✨✨✨✨✨✨✨
"Astaghfirullah" Ucap Keyla kaget melihat ruang tamunya di penuhi oleh perlengkapan bayi.
"Ini dari siapa Pak Asep ?" tanya Keyla.
"Dari Tuan Kenan Non"
__ADS_1
"Ya Allah Daddi. Ngapain coba beliin Key beginian, orang lahiran masih lama" gerutu Keyla kesal.
Karena bagaimana bisa Daddi Kenan bisa membeli semua ini. Semuanya lengkap dengan pelengkapan bayi, Keyla mendadak pusing karena harus ia apakan semua ini. Kalau buat anaknya masih sangat lama karena kandungan Keyla baru memasuki 2 bulan.
"Dad. Dad" Keyla geleng-geleng kepala.
Tidak berapa lama suaminya pulang..Raja juga kaget melihat perlengkapan bayi di ruang tamunya.
"Sayang kamu kapan beli semua ini ?" tanya Raja.
"Ini dari Daddi, ngapain coba Daddi beliin ini padahal Key lahiran masih lama"
Raja baru ingat kalau tadi siang Daddi Kenan mengatakan tentang hadia. Raja tak pernah menyangka kalau hadiah yang Daddi katakan adalah perlengkapan bayi seperti ini.
"Lagian kata Bunda pamali udah siapain semua ini kalau kandungan masih kecil" ucap Keyla lagi.
"Ya terus ini mau kita apakan Sayang, kalau gak di terima gak enak sama Daddi"
"Tau Ah pusing"
Tak berapa lama ponsel milik Keyla berbunyi, Keyla langsung melihat siapa yang menelpon ternyata Daddi nya.
"Halo Key, bagaimana hadiah dari Daddi suka kan ?"
"Suka sih suka Dad. Tapi ini kecepatan Dad kandungan Keyla baru mau 2 bulan"
"Iya enggak papa Key, jadi nanti Key gak usah sibuk nyari perlengkapan bayi lagi"
"Kata orang pamali Dad. Gimana sih padahal anak Daddi dua kok gak ngerti"
Raja mengelus pundak istrinya mengisyaratkan kalau Keyla jangan marah-marah sama Daddi Kenan. Semua ini di lakukan Daddi Kenan karena ia teramat menyayangi Keyla, dan mungkin Daddi Kenan begitu bahagia mendengar kalau ia akan menjadi seorang kakek.
Keyla menghela nafas panjang "Ya sudah makasih ya Dad hadiahnya. Maaf tadi Key marah-marah"
"Tidak apa-apa Nak, Key suka kan hadiah nya ?*
"Suka Dad ,suka sekali"
"Itu belum selesai Nak, besok ada lagi yang datang"
"What ??" Pekik Keyla hingga membuat Raja kaget.
__ADS_1
"Dad jangan gitu deh, ini belum waktunya Dad , tak bilangin Mommy entar !"
"Kamu ini udah besar tapi masih aja tukang ngadu" gerutu Daddi Kenan di seberang sana karena memang Momy Alya tak tahu kalau ia membelikan Keyla perlengkapan bayi sebanyak itu.