Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Bab 78


__ADS_3

Melihat Jihan yang tersenyum membuat Ibra menoleh kebelakang.


"Kamu sengaja ya doain supaya jalannya macet" ucap Ibra.


"Mana ada, Mas Ibra jangan nuduh Jihan dong"


"Terus kenapa kamu senyum-senyum begitu ?"


"Lah memangnya kenapa ? gak ada yang salahkan kalau Jihan senyum, dari pada Jihan cemberut terus gimana ?"


Ibra terdiam, ia kembali menatap lurus kedepan. Sedikit demi sedikit mobil nya bisa di jalankan. Namun ternyata kemacetan semakin parah membuat Ibra berulang kali menarik nafas panjang.


Hingga suara Adzan Maghrib yang berkumandang membuat Ibra langsung mencari masjid terdekat, beruntung tak jauh dari lokasinya ada masjid dan disana Ibra berhenti untuk melaksanakan sholat maghrib.


"Turun dulu aku mau sholat" ucap Ibra.


"Aku juga mau sholat Mas, emm, imaman sama Mas Ibra boleh gak ?"


"Enggak, sholatnya bareng sama yang lain"


"Terus kapan Mas Ibra mau jadi imam sholat aku ?"


"Mau ikut sholat gak ?" hardik Ibra yang sudah sangat kesal dengan Jihan.


Tak ingin ada perdebatan lagi Ibra langsung pergi tanpa menunggu Jihan, ia begitu malas meladeni setiap ucapan Jihan.


"Loh kok aku di tinggal" gerutu Jihan.


Setelah selesai berwudhu Jihan masuk kedalam masjid dan mengambil mukena yang telah di sediakan. Jihan memakainya kemudian bergabung bersama ibu-ibu yang hendak melaksanakan sholat berjamaah.


Namun tak sengaja mata Jihan dan Ibra saling pandang, untuk pertama kalinya Ibra melihat Jihan memakai Hijab walaupun itu adalah mukena, Jihan terlihat sangat cantik. Hingga membuat debaran aneh di dada Ibra.


"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah !" batin Ibra.


Seorang telah berdiri paling depan untuk menjadi imam, ini kali pertama bagi Jihan bisa melaksanakan sholat maghrib bersama dengan Ibra.


Selesai sholat Jihan langsung kembali keluar ternyata Ibra sudah menunggu di samping mobil yang kini sedang menatap Jihan.


"Doa apa saja sih, perasaan lama bener ?" omel Ibra.


"Banyak banget yang aku doain Mas, Mas Ibra mau dengar gak ?"


"Enggak, ayo buruan masuk tuh udah gak macet lagi"


Jihan mengerucutkan bibirnya, ia masuk kedalam mobil Ibra.


"Walaupun Mas Ibra gak mau dengar tapi Jihan akan tetap bercerita apa saja yang Jihan doakan" ucap Jihan antusias


"Terserah" balas Ibra, terlihat sekali kalau dirinya malas meladeni Jihan. Tapi sayangnya tak ada yang bisa ia jadikan penutup telinga untuk menghindari ucapan Jihan.


Jihan tersenyum "Tadi aku doa semoga Mas Ibra selalu sehat, terus cepat sukses"

__ADS_1


Mendengar itu Ibra tersenyum dalam hati, ia terharu mendengar doa Jihan. Tak disangka bahwa wanita itu akan mendoakan dirinya seperti itu.


"Mas tau gak kenapa aku doa seperti itu ?" tanya Jihan.


"Enggak" lagi-lagi jawaban Ibra membuat Jihan meringis.


"Karena jika Mas Ibra udah sukses Mas Ibra akan segera melamar aku, ya kan Mas ?"


Ibra menggelengkan kepalanya, padahal ia sudah sering mengatakan kalau dirinya belum mau menikah. Tapi Jihan selalu membahas masalah itu.


"Udah sampai silahkan turun Mbak Jihan !" tutur Ibra


"Loh kok cepat amat sih Mas"


"Cepat dari mana ? orang aku udah capek nyetir karena kelamaan terjebak macet"


"Tapi tetap saja kecepatan Mas , harusnya ya kalau bisa macetnya sampai besok pagi"


"Astaghfirullah" Ibra mengelus dadanya.


"Silahkan turun, saya mau pulang !" titah Ibra penuh penekanan.


"Iya Mas, tapi aku mau salim boleh gak ?"


"Enggak boleh, belum mukhrim"


"Jadi kalau udah mukhrim boleh gak ?"


"Iya-iya, Assalamualaikum Mas Ibra"


"Waalaikumsalam" balas Ibra "kuatkan iman ku ya Allah"


...✨✨✨✨✨✨...


"Sepertinya Jihan beneran suka deh sama Ibra" ucap Keyla kepada sang suami.


Raja duduk disamping Keyla sambil membawa segelas susu ibu hamil, ia berikan susu itu supaya langsung Keyla minum mumpung masih hangat.


"Mending jangan deh ! takutnya Jihan bakalan sakit hati" jawab Raja, telapak tangannya mengelus perut sang istri yang kini sudah membuncit walaupun belum terlalu besar.


"Memangnya kenapa Bang ?"


"Ibra itu sudah ada calon istri, pilihan Abi Fahri sama Umi Aisyah. Abang gak ingin Jihan sedih mending kamu bilangin deh Jihan nya"


"Ibra udah tahu belum kalau dia udah ada calon istri ?"


"Kaya nya sih belum, kata Abi biar Ibra lulus S1 nya dulu"


Keyla langsung kepikiran tentang Jihan, entah bagaimana caranya supaya Jihan mau melupakan Ibra. Karena Jihan adalah wanita pantang menyerah.


Tapi jika tidak di hentikan Keyla takut perasaan Jihan akan bertambah besar kepada Ibra. Memang sih jodoh itu sudah di atur sama Allah, tapi kalau Ibra sendiri sudah di jodohkan sama kedua orang tuanya tidak mungkin kan Ibra akan menolak.

__ADS_1


"Abang kenal sama ceweknya ?" tanya Keyla penasaran.


"Cewek siapa ?"


"Yang mau di jodohin sama Ibra Bang"


"Oh. Enggak kenal sih Neng, cuman tau namanya aja"


"Siapa namanya Bang ?"


"Ya Allah kepo nya istriku ini" Raja kembali mencubit kedua pipi istrinya membuat Keyla mengadu kesakitan.


"Sakit Bang" ucap Keyla "Ayo siapa namanya Key penasaran Bang"


"Kalau gak salah namanya Husna Abang agak lupa juga Neng, dia anak Kyai dari jawa timur memang teman dekatnya Abi Fahri"


"Wah saingannya Jihan berat" gumam Keyla.


Tentu Keyla harus menghentikan semuanya ia tak ingin sahabatnya itu sakit hati gara-gara Ibra. Sebenarnya Ibra juga gak salah ia tak pernah memberi harapan pada Jihan tapi memang dasar Jihannya saja yang terus ngejar Ibra.


"Sayang" panggil Raja


"Iya Bang"


"Kapan cek kandungan lagi ?"


"Minggu depan Bang, kenapa memangnya ?"


"Ingetin Abang ya soalnya sering lupa"


"Dasar belum tua juga udah pikun"


...✨✨✨✨✨✨...


Sementara itu sebuah kamar milik seorang gadis cantik cahaya lampu masih begitu terang, setelah selesai menghadiri acara 4 bulanan kakak iparnya Zhalfa langsung memutuskan pulang karena ada tugas kampus yang belum selesai ia kerjakan.


Begitupun sang Bunda yang juga ikut pulang.


Sejak seminggu terakhir ini ada yang selalu mengirimkan dirinya SMS, tapi Zhalfa hiraukan ia tak ingin membalas pesan itu.


Dan malam ini ponsel Zhalfa kembali bergetar, seperti biasa walaupun tidak ia balas Zhalfa akan membacanya.


"Selamat malam ? apa aku menganggumu ?"


Zhalfa mendesah frustasi "Siapa sih yang ngirimin aku SMS terus ? ganggu aja"


Zhalfa kembali meletakkan ponselnya keatas meja nakas, dan kembali menarik selimut supaya menutupi tubuhnya. Berhubung tugasnya telah selesai Zhalfa langsung tidur saja. Besok ia kuliah pagi.


Tapi ternyata SMS yang terus ia terima dalam seminggu terakhir ini mengganggu tidurnya, ia gelisa dan yang paling utama sangat penasaran tentang siapa yang mengiriminya SMS itu.


"Apa aku balas aja ya ? supaya aku tau siapa yang mengirimi aku SMS" gumam Zhalfa.

__ADS_1


"Tapi kalau orang ini berniat jahat bagaimana ?"


__ADS_2