
Rumah mewah itu sudah ramai yang datang, lantunan surat yasin terus terdengar di telinga, bendera kuningpun sudah terpasang didepan rumah, ketika ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan pagar besi yang terbuka dengan lebar. Di susul seorang gadis cantik keluar dari mobil dan langsung berlari masuk kedalam rumah.
Tubuhnya terasa ringan, seakan ikut terbawa oleh angin yang berlalu. Air mata kian deras menetes.
"Adel" suara seseorang membuatnya berhenti.
Adel menoleh lalu menatap Om Zaidan adik Babanya tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca, segera tubuh mungil itu menubruk Om Zaidan untuk dia peluk dengan erat.
"Baba Om, kenapa secepat ini"
Om Zaidan mengelus punggungnya dengan pelan, ikut terisak bersamaan dengan suara seseorang yang kembali memanggil Adel.
Adel melepaskan pelukannya, lalu menoleh kearah Sang Bunda.
"Sini Nak !" ujar Bunda Zenia dengan suara serak.
"Baba kenapa ninggalin Adel Bun ? kenapa ? padahal Adel belum wisuda, dan Adel ingin Baba nyaksiin Wisudanya Adel"
Namun Bunda Zenia tak tahu harus menjawab apa, kepergian suaminya begitu menimbulkan luka terdalam, luka yang entah dengan cara apa menghapusnya. Secepat ini ! secepat angin yang berlalu.
"Masuk dulu Nak ! sebelum Baba di Kafani !" ucap Bunda.
"Gak nungguin Kakak Ar dulu Bun ?"
Bunda menggeleng "Kelamaan Nak kalau nungguin Kakak Ar, kasihan sama Baba, lagian Kakak Ar pasti ngerti"
Didalam rumah ada begitu banyak orang yang hadir, bahkan hampir seluruh tetangga datang untuk melayat, mungkin karena Baba adalah orang yang baik dan juga seorang Ustadz.
Adel duduk bersimpuh disamping jenazah Baba yang kini tertutup kain batik, dengan amat pelan ia membuka penutup wajah Baba. Tangisnya kembali pecah saat melihat wajah Baba yang begitu pucat dan bibir sudah membiru.
"Baba" panggil Adel, ia memeluk tubuh yang sudah kaku tak berdaya itu.
"Kenapa Baba ninggalin Adel ? kenapa ? kenapa gak pamit sama Adel ?"
"Bagaimana caranya Adel ikhlas Ba ? ini terlalu menyakitkan dan terlalu cepat ! Harapan Adel yang ingin Baba melihat Adel wisuda lenyaplah sudah"
__ADS_1
Rentetan kata yang begitu memilukan berhasil membuat semua orang kembali menangis, begitupun dengan Bunda Zenia. Sementara Zhalfa entah sudah berapa kali anak itu jatuh pingsan akibat tak terima di tinggalkan seperti ini.
"Kak Nia apa Bang Zahran sudah bisa kami Kafani ?" tanya Om Zaidan
Bunda Zenia menatap ketiga anaknya, Raja menganggukan kepalanya begitupun dengan Adel. Tapi tidak dengan Zhalfa ia masih menentang dengan keras jika Baba di bawah.
"Jangan dulu Om, Zhalfa masih ingin sama Baba !"
Om Zaidan mendekat "Zhalfa dengerin Om ! Om tau Zhalfa sedih di tinggal sama Baba, kita semua sama tidak ada yang bahagia melihat Baba seperti ini, tapi ini sudah menjadi takdir Allah Nak, Jadi Zhalfa harus ikhlas ya ! Saat ini Baba cuman butuh doa dari kalian semua anak-anaknya" jelas Om Zaidan.
"Tapi sulit Om, sulit sekali bagi Zhalfa untuk mengikhlaskan kepergian Baba, apakah tidak bisa besok pagi Baba dimakamkan ini sudah soreh Om"
Om Zaidan melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukan pukul 16:25 sudah lewat Ashar tapi pemakaman sudah siap di laksanakan.
"Lebih cepat lebih baik Nak"
Hingga mau tak mau Zhalfa mengikhlaskan semuanya, ia memeluk tubuh Keyla dengan erat, sementara Adel memeluk tubuh Bunda...
...✨✨✨✨✨...
"Lailahaillallah" kata terus menggema seiring dengan jalannya mereka kepemakaman.
Foto Baba Zahran di pegang oleh Zhalfa, mereka semua berjalan mengikuti para bapak-bapak membawa keranda yang menjadi kendaraan terakhir Baba Zahran.
Sedangkan Raja ikut bersama bapak-bapak yang membawa keranda, bahkan semua orang berebut untuk membawa benda tersebut.
Keyla menggenggam tangan Zhalfa, hingga mereka semua sampai di area pemakaman. Disana sudah banyak yang menunggu.
Raja langsung turun kebawa untuk menyambut serta mengadzani Baba Zahran, suara seraknya membuat dadanya kian terasa sesak. .
Sebelum naik keatas Raja menyempatkan mencium puncak kepala Baba "Istirahat yang tenang Ba, terimakasih sudah mendidik dan membesarkan Abang dengan baik, terima kasih atas kasih sayang yang selalu Baba berikan untuk Abang. Abang janji akan menjaga Bunda untuk Baba, dan adik-adik"
...✨✨✨✨...
Sementara itu didalam pesawar Arda terus menangis, seorang pramugari memberikan botol minum pada Arda, ia merasa kasihan karena sejak naik kedalam pesawat Arda terus menangis.
__ADS_1
"Silahkan di minum" ucap pramugari itu dengan sopan.
Arda mengambilnya tapi tak langsung meminumnya, ia kembali memandang keluar jendela yang terus menampakan awan putih. Kemungkinan ia akan tiba di indonesia esok pagi.
Tadi Om Zaidan sudah menghubunginya kalau pemakaman Baba Zahran akan di laksanakan sore ini, jujur ia marah karena mereka semua tak mau menunggunya, tapi jika di tunda kasihan juga sama Baba.
Arda hanya ingin menatap wajah Baba untuk yang terakhir kalinya. Karena ia bertemu dengan Baba setahun yang lalu tepat di acara pernikahan Raja dan Keyla.
"Maaf Ba, kakak gak bisa nganterin Baba ke tempat peristirahatan terakhir Baba. Maafkan Kakak" gumamnya dengan pelan.
"Kakak akan jagain Bunda Ba sesuai yang Baba minta, dan Kakak juga akan jagaian Adel dan Zhalfa dengan baik. Kakak akan jaga mereka seperti Baba yang jaga selama ini. Kakak janji Ba"
...✨✨✨✨✨...
Diarea pemakaman setelah selesai dan semua orang beranjak untuk pergi. Tinggalah Bunda, Adel, Raja, Zhalfa dan Keyla serta kedua orang tua Keyla. Sementara Om Zaidan dan yang lain pulang kerumah untuk mempersipkan pengajian buat nanti malam.
"By" Bunda Zenia mengelus batu nisan yang bertuliskan 'Zahran Sidqi Arsalaan' dengan linangan air mata yang terus menetes dengan deras.
"Byby janji sama Nia gak akan ninggalin Nia sendiri, tapi kenapa sekarang Byby lakukan semua itu. Bagaimana kehidupan Nia setelah ini By ? bagaimana cara Nia menjalani hari-hari Nia tanpa kehadiran Byby"
Mommy Alya mengelus pundak Bunda, ia merasakan apa yang di rasakan Bunda pasti akan sangat sakit kehilangan orang tercinta, apalagi ini suami sendiri tempat kita berbagi kesedihan, tempat kita bersandar.
"Sabar ya Mbak, semoga Ustadz Zahran ditempatkan di syurganya Allah" ucap Mommy Alya.
"Kita pulang ya Bun, udah soreh ! besok kita kesini lagi" ajak Keyla.
Bunda menatap menantunya "Iya Nak"
Semuanya berdiri tapi mata tetap menatap gundukan tanah merah yang masih basa itu, di atasnya di taburi dengan bungah warna-warni.
"Ba, kami pulang dulu, Besok Abang akan kesini lagi" ucap Raja.
"Assalamualaikum Baba" seru Adel dan Zhalfa serempak.
Tidak akan ada yang menjawab karena seseorang yang teramat kita sayangi sudah di dalam tanah itu, dan entah kapan mereka akan di pertemukan lagi. hanya Allah yang tau.
__ADS_1