Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Rumah Bi Ida


__ADS_3

Erlina berteriak histeris selepas kepergian Arion. Wanita itu mengacak-acak seluruh isi lemari sepatu mahalnya bak orang gila.


Arion benar-benar telah merendahkan harga dirinya. dan ia tidak boleh begitu saja tunduk pada pria itu. Ia harus memberi Arion pelajaran.


"Akan kupastikan hidupmu berantakan, bocah," gumamnya penuh amarah, sebelum kembali berteriak.


"Ibu Erlina kenapa, Nak?" tanya Bi Ida, begitu berpapasan dengan Arion di lantai bawah. Suara teriakan wanita itu benar-benar menggema sampai ke lantai bawah.


"Abaikan saja dia." Jawab Arion cuek.


"Oh ya, terima kasih bantuannya ya, Bu? Aku titip Sekar dulu," ujar pria itu. "Tolong, jangan sampai dia tahu soal aku," sambungnya.


Bi Ida menganggukan kepalanya. "Iya, Nak, serahkan saja pada Ibu."


"Kalau begitu, aku berangkat dulu," Arion mengambil tangan Bi Ida dan menciumnya sebelum beranjak pergi dari sana.


Arion memang sudah menganggap Bi Ida sebagai Ibunya sendiri, sebab wanita itu lah yang membantu almarhum sang Ibu mengurusnya sejak kecil. Tak heran, ia pun memanggil Bi Ida, Ibu, dan menganggap Dini, anak dari Bi Ida, sebagai adiknya sendiri.


Semula Arion menginginkan Bi Ida untuk ikut pindah dengannya setelah sang Ayah meninggal, namun Bi Ida menolak dengan alasan ingin menjaga rumah penuh kenangan tersebut. Jika ia ikut Arion pergi dari sana, maka tak ada lagi yang tersisa dari penghuni rumah itu. Terlebih, ia tak ingin Erlina leluasa menguasai rumah tersebut.


...***...


Menjelang maghrib Bi Ida baru pulang ke rumah. Sekar menyambut wanita paruh baya itu dengan ramah.


"Cantik sekali kamu," puji Bi Ida tatkala melihat Sekar. Wanita itu sudah bisa menebak bahwa Sekar adalah gadis yang lugu dan polos. Tipe yang cocok dengan Arion yang dingin dan sedikit pemaksa.


"Terima kasih, Bu," ucap Sekar malu-malu. Gadis itu menuntun Bi Ida dan mengajaknya ke dapur.


Bi Ida menatap takjub berbagai macam makanan sederhana yang tersaji di atas meja. Rupanya, sembari menunggu kepulangan mereka, Sekar memutuskan mengolah bahan makanan yang terdapat di kulkas. Sebagian daun sayuran sudah mulai layu, namun ia merasa sayang jika harus membuangnya begitu saja, jadi Sekar memutuskan memilah-milah daun yang masih segar untuk diolah.

__ADS_1


"Maaf atas kelancanganku ya, Bu?"


Bi Ida menepuk-nepuk halus tangan Sekar. "Tidak apa-apa, Nak, Ibu dan Dini memang terlalu sibuk bekerja, jadi tidak sempat mengolah bahan makanan. Ditinggalkan sehari saja, sudah pasti mereka akan berakhir sia-sia. Sekali lagi terima kasih ya, anak manis,"


Sekar mengangguk antusias. Senang rasanya dapat melakukan sesuatu di rumah ini. Sedikit mengurangi rasa tak enaknya sebab sudah menumpang di rumah ini.


"Ibu mandi dulu dan sholat dulu, baru kita makan. Tidak usah menunggu Dini, biasanya ia akan pulang jam sembilan malam."


Sekar menganggukan kepalanya. Ia pun kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat juga.


Setelah sholat dan makan, Bi Ida membantu Sekar mengompres lututnya.


"Terima kasih sekali lagi ya, Bu," ucap Sekar disela-sela obrolan mereka. Gadis itu merasa tidak enak karena sudah berbaring di atas sofa depan ruang televisi, sementara Bi Ida duduk di atas jengkok, menghadap ke arahnya. Wanita paruh baya itu sibuk memeras kain untuk mengompres lutut Sekar.


"Tidak usah sungkan, Nak Sekar," jawab Bi Ida. "Omong-omong, Nak Sekar asalnya dari mana?" sambung Bu Ida.


"Saya dari Kota M, Bu." Jawab Sekar.


"Saya yatim piatu, Bu. Saya hanya tinggal bersama Mbah dan Bude saya." Jawab Sekar sembari memasang senyum simpul.


Mendengar jawaban Sekar, Bi Ida kontan terkejut. Ia pun meminta maaf karena Arion tidak pernah menceritakan soal hal itu.


"Tidak apa-apa, Bu, Mas Rion juga belum tahu banyak soal saya."


Bi Ida memandang wajah Sekar dengan tatapan kagum. Wanita paruh baya itu kemudian mengambil tangan Sekar dan menggenggamnya lembut. "Kau harus tetap kuat dan sehat demi Mbah dan Budemu ya, Sekar," ujar Bi Ida.


"Iya, Bu." Jawab Sekar dengan mata berkaca-kaca.


Demi mengalihkan pembicaraan, Bi Ida menceritakan sedikit masa lalu Arion. "Sedari kecil Rion adalah anak yang cerdas dan sedikit pendiam. Orang tuanya sangat memanjakan Rion. Maklum, ia adalah anak tunggal, jadi kedua orang tuanya sedikit berlebihan dalam mengasuh dirinya. Beruntung, ia tidak tumbuh menjadi anak yang manja." Kata Bu Ida mengawali pembicaraan.

__ADS_1


"Ia anak yang sangat mandiri. Disaat anak-anak seusianya gemar merengek dan menangis, tidak demikian dengan Rion. Ia pun tidak bersedih saat kedua orang tuanya berkali-kali tidak datang ke acara penting sekolahnya. Masa kecil Rion memang sedikit kesepian karena sering ditinggal bekerja. Dari situlah, Ibu sering dititipkan oleh Ibunya untuk menemani Rion." Tukas Bi Ida panjang lebar. Ia mengaku sebagai sahabat dari almarhum Rossane, Ibu kandung Arion.


"Syukur mereka bukan orang tua egois, jadi ketika Rion duduk di bangku SMP, Ibunya memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengurus anak semata wayangnya."


"Mereka orang tua yang hebat. Mas Rion pasti bahagia bisa terus bersama mereka hingga saat ini." Puji Sekar.


Bi Ida menggelengkan kepalanya. "Ia sama denganmu. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia."


Sekar membelalakan matanya. Ia mengingat-ingat, apa Arion pernah membicarakan soal kedua orang tuanya atau tidak. Jadi selama ini Arion tinggal di kost-kost'an bukan karena ingin mandiri, melainkan memang ia telah hidup sendirian.


Gadis itu menundukan kepalanya sedih.


"Assalamualaikum," suara Dini terdengar dari pagar depan. Ia masuk ke dalam rumah disusul Arion.


"Mbak, tadi aku ke kost-an. Aku meminta kunci cadangan pada penjaga kost. Aku sudah masukan beberapa pakaian. Maaf ya, Mbak, kalau aku lancang masuk ke sana," Dini berbicara panjang lebar sembari menyerahkan koper milik Sekar. Arion dan Dini memang mengunjungi Kost-an Sekar terlebih dahulu sebelum pergi ke sana.


"Maaf sudah merepotkan kalian. Sekali lagi terima kasih," ucap Sekar yang langsung diiyakan Dini.


Bi Ida pun menyuruh Dini untuk mandi dan makan bersama setelahnya.


"Sekar yang memasak untuk kita," katanya pada Dini dan Arion.


"Wah, makasih ya, Mbak," ucap Dini sumringah.


"Aku yang harus berterima kasih," Sekar tersenyum simpul. Hatinya sedikit menghangat atas keramahan Ibu dan anak tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu. Karena Nak Rion sudah datang, Ibu tinggal sebentar ya," pamit Bi Ida undur diri. Arion menganggukan kepalanya.


"Mas mau makan duluan?" tanya Sekar.

__ADS_1


"Tunggu Dini saja." Arion menggelengkan kepalanya. "Bagaimana lukamu?" tanyanya.


"Baik-baik saja." Jawab Sekar sembari menunjukan lututnya. Arion meringis, membayangkan seberapa menderitanya Sekar tempo hari, yang harus membersihkan aula besar menggunakan kain pel biasa. Lututnya harus bergesekan dengan lantai selama kurang lebih dua jam. Mengingat hal itu, ia jadi semakin membenci Erlina.


__ADS_2