Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Tiba di rumah


__ADS_3

"Sekar, sepatu kamu kok elek tenan, sih?" Jarwo, teman sekelas Sekar, menatap jijik sepatu sekolahnya yang sudah lapuk dan lusuh. Sepatu tersebut bahkan terlihat jelas sudah berkali-kali ditambal.


"Biarin! Sing penting aku iso sekolah!" sahut Sekar kecil seraya menjulurkan lidahnya. Sekarang waktunya pelajaran olahraga. Seperti biasa, Sekar akan selalu merekatkan sepatunya erat-erat menggunakan lakban hitam yang sudah dia persiapkan dari rumah. Dengan cekatan, gadis itu melilit sekeliling sepatu agar tidak rusak ketika dipakai berlari. Ini merupakan cara yang diajarkan sang ayah.


"Cah ayu, tahan sedikit lagi sampai tabunganku cukup, yo?" Sekar menepuk-nepuk sayang sepatu keramat miliknya. Gadis itu kemudian bergabung bersama teman-teman lainnya yang sudah membentuk barisan.


"Dilakban lagi, Sekar? Tuku anyar, dong!" Jarwo tertawa terbahak-bahak sembari menunjuk-nunjuk sepatu Sekar yang sepenuhnya sudah dilakban asal-asalan.


"Ora duwe duit, Wo," Prapto, teman sekelas Sekar yang lain, menimpali ejekan Jarwo. Tawa keras langsung keluar dari mulut para bocah laki-laki di sana.


Sekar memicing sinis. Gadis itu sudah siap memasang kuda-kuda untuk mengajak Jarwo berduel, kalau saja Ratna tidak menahannya.


"Sudah, Sekar, cah edan jangan didengerin!"


Sekar menurut. Memang, meladeni Jarwo dan teman-temannya merupakan hal yang sia-sia. Buang-buang energi. Sebab mereka memang dikenal sebagai anak-anak nakal yang suka membuat anak perempuan menangis. Hanya Sekar lah satu-satunya perempuan yang tidak pernah menangis digoda mereka.


Pak Atin, si guru olahraga pun tiba di lapangan. Hari ini beliau mengadakan pertandingan lari yang terdiri dari tiga orang secara acak. Beruntung bagi Sekar, ia di hadapkan dengan Jarwo dan Prapto.


Sekar, Jarwo dan Prapto dipersilakan berdiri sejajar di tempat yang telah ditentukan. Mereka akan berlari mengelilingi lapangan kecil ini dan kembali ke garis awal.


"Nyerah aja kamu. Nanti keselimpet sepatu gembelmu itu!" ejek Jarwo yang langsung disetujui oleh Prapto.


"Berisik!" sahut Sekar ketus. Matanya melirik sepatu Jarwo dan Prapto yang terlihat mengkilap. Wajar saja, mereka berasal dari keluarga berada. Jangankan sepatu, tas pun bisa setiap minggu gonta-ganti.


Sekar sekilas terlihat sedih. Tahun ini sang ayah harus mengalami gagal panen hingga dua kali karena faktor cuaca. Itu lah yang menyebabkan Sekar harus bersabar jika ingin membeli sesuatu. Dia bahkan menabung sendiri sedikit demi sedikit, agar tidak membebani kedua orang tuanya.


Suara Pak Atin membuyarkan lamunan Sekar. Sesuai arahan dan aba-aba pria itu, Sekar langsung melesat meninggalkan Jarwo dan Prapto di belakang. Tubuhnya yang kecil memudahkan Sekar melaju cepat.


Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, gadis itu berhasil memutari lapangan kecil tersebut dan kembali ke garis awal.


Teman-teman perempuan Sekar langsung menghampirinya dan memberikan pelukan. Sementara Jarwo dan Prapto terlihat sangat kesal.


"Sepatu bagus, tapi lari kayak siput!" ejek Sekar sembari tertawa sinis. Matanya mengerling pada sepatu Jarwo yang ternyata solnya lepas.


"Wo, sol sepatumu mana?" tanya Sekar seraya menunjuk-nunjuk sepatu Jarwo yang bagian bawahnya telah hilang. Kaos kakinya pun sampai koyak. Mungkin disebabkan oleh gesekan saat berlari tadi.


Jarwo yang tersadar langsung melirik ke sana kemari mencari sol sepatunya. Laki-laki kecil itu kontan berlari, tatkala menemukan sol tersebut berada jauh di lintasan lari. Semua murid yang melihat terbahak-bahak, tak terkecuali dengan Prapto dan kawan-kawan lainnya.


"Nduk, kok, ngguyu dhewek?" Mbah Bhanuwati terheran melihat Sekar tertawa-tawa sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


"Jarwo, Mbah," ujar gadis itu.


"Kenapa sama Jarwo?" tanya Mbah Bhanuwati penasaran. Mereka berhenti sejenak guna mendengar cerita Sekar soal sepatu Jarwo.


Mbah Bhanuwati ikut tertawa kecil. Mata teduhnya kemudian sedikit meredup, kala melihat sepatu yang Sekar kenakan. Wanita itu mengetahui perihal Sekar yang sering diejek oleh beberapa temannya karena jarang membeli perlengkapan sekolah. Tetapi gadis itu tidak pernah mengeluh, ia sangat mengerti akan kesulitan yang tengah dihadapi kedua orang tuanya. Sekar bahkan tidak malu memakai sepatu usangnya, meski harus ditambal dan dililit lakban hitam agar tidak semakin rusak.


"Jadi, uangmu sudah terkumpul berapa?" tanya Mbah Bhanuwati tiba-tiba.


Sekar tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang nenek.


"Kalau begitu, ikut Mbah dulu," ajak Mbah Bhanuwati. Sekar yang tidak mengerti hanya menurut saja. Mereka berbelok menuju pasar tradisional.


Sepuluh menit kemudian, Sekar dan Mbah Bhanuwati sampai di sebuah lapak sepatu kecil. Wanita itu kemudian meminta Sekar untuk memilih sepatu yang dia mau.


"Uang Sekar belum cukup, Mbah," tutur Sekar.


"Sudah, pilih saja." Mbah Bhanuwati duduk di bangku kecil yang telah disediakan pedagang.


"Tapi Sekar ndak bawa uangnya." Sekar menatap sang nenek malu.


"Mbah bawa uang. Sekarang, pilih yang kamu suka, Nduk." Mbah Bhanuwati mengambil sepasang sepatu sekolah yang terlihat sangat cantik dimata Sekar. "Ini bagus, loh,"


"Boleh, Mbah?" tanya Sekar dengan mata berkaca-kaca. Sang nenek mengangguk lembut. Dengan antusias, gadis berusia 9 tahun itu memilih sepatu sekolah yang bagus namun tidak terlalu mahal. Setelah beberapa lama, pilihan Sekar ternyata jatuh pada sepasang sepatu yang diambil sang nenek sejak awal. Mbah Bhanuwati pun segera membayar sepatu tersebut dengan uang recehan yang beliau bawa.


"Sama-sama, Nduk. Kamu belajar sing rajin biar jadi anak pinter. Kalau pinter, nanti bisa hidup enak dan bisa beli apapun yang kamu mau. Ngerti, ora?" Mbah Bhanuwati mengelus kepala Sekar penuh sayang.


Sekar mengangguk-anggukkan kepalanya semangat. Dia berjanji akan menjaga sepatu pemberian sang nenek, dan membahagiakan keluarganya kelak.


...***...


Sekar terbangun dari tidurnya, ketika seseorang memukul pundak gadis itu agak keras. "Maaf, Mbak, kita sudah sampai," ujar seorang wanita yang menjadi teman sebangku Sekar di bus.


"Ahh, iya. Makasih ya, Mbak," ucap Sekar sembari menegakkan tubuhnya. Gadis itu meraba wajahnya yang terasa basah. Rupanya, ia tadi sedang memimpikan sang nenek di masa lalu.


Sekar tersenyum. Mungkin, saking rindunya pada Mbah Bhanuwati jadi terbawa sampai ke alam mimpi. Demi mengobati kerinduannya, Sekar bergegas turun dari bus yang sudah mulai kosong.


Tak perlu menunggu lama, ia segera naik angkutan umum menuju rumah sakit tempat Mbah Bhanuwati dirawat.


Bude Gayatri begitu terkejut mendapati kedatangan Sekar. Pasalnya, gadis itu sama sekali tidak memberitahu perihal kepulangannya ke kampung. Sekar mencium lembut punggung tangan budenya.

__ADS_1


"Kamu bolos, Nduk? Kok, tidak mengabari Bude?" wanita paruh baya itu memeluk Sekar erat. Dielusnya rambut sang keponakan, yang sudah dia anggap sebagai anak kandung sendiri dengan penuh kasih sayang. Perasaan tak enak yang sempat hinggap di hatinya kemarin mendadak hilang, tatkala melihat keadaan Sekar baik-baik saja.


"Aku dapat jatah libur cukup lama, Bude. Rencananya aku akan dipindahkan ke gedung baru yang sedang dibangun. Jadi selama menunggu gedung itu, aku bisa istirahat dulu di rumah." Terang Sekar. Kendati merasa bersalah karena telah berbohong, tetapi menurut Sekar, itu adalah pilihan terbaik demi menghindari kecurigaan.


Sekar menghampiri Mbah Bhanuwati yang sedang tertidur di ranjang. Ia mencium lembut kening beliau dan berbisik kecil, untuk mengucapkan salam.


"Bagaimana kondisi Mbah, Bude?" tanya Sekar.


"Alhamdulillah, tubuh sebelah kiri Mbah sudah berfungsi normal, dan kebetulan sekali, besok Mbah sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Mbah hanya perlu rawat jalan rutin saja." Jawab Bude Gayatri.


Sekar mengangguk. Dalam hati ia tidak lupa mengucap syukur karena perawatan Mbah selama berminggu-minggu di sini membuahkan hasil. Bagaimana tidak, pengobatan yang paling terbaik diberikan donatur sang nenek.


"Kalau begitu, aku akan pulang dan membereskan rumah, supaya besok Mbah bisa nyaman di rumah." Sekar melirik jam dinding yang ada di sana. Mumpung masih pagi, jadi ia tidak perlu tergesa-gesa ketika membereskan rumah nanti.


"Baiklah. Hati-hati ya, Nduk? Istirahat saja di rumah. Kamu bisa kembali besok," pinta Bude Gayatri, yang sedikit khawatir melihat kondisi Sekar. Gadis itu terlihat sangat lelah.


...***...


Jarak antara rumah sakit ke rumah Sekar membutuhkan waktu dua jam perjalanan. Oleh sebab itu, Sekar memanfaatkan waktunya untuk tidur lagi di dalam bus.


"Eh, Sekar! Baru datang dari Jakarta?" sapa Bu Murni, tatkala berpapasan dengan Sekar yang baru saja memasuki jalan menuju desanya.


"Nggih, Bu," jawab Sekar sembari menundukan kepalanya.


"Beberapa hari lalu para tetangga dan perangkat desa menjenguk Mbahmu. Katanya beliau sudah bisa pulang besok," Bu Murni memberitahu Sekar.


"Alhamdulillah, iya, Bu. Saya baru saja dari sana." Sekar tersenyum lembut.


"Syukurlah kalau sudah tahu. Yo wis, kamu pasti capek. Pulang dan istirahat, ya?" Bu Murni menepuk lembut pundak Sekar.


"Nggih, Bu. Mari," Sekar menyalami Bu Murni dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Seharusnya, perjalanan dari pintu masuk desa menuju ke rumah hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Tetapi karena hampir tiap rumah ia selalu menjawab sapaan para tetangganya, Sekar baru tiba setengah jam kemudian.


Gadis itu segera meletakkan koper dan tasnya di kamar. Sementara seikat singkong, ubi dan pisang yang diberikan para tetangganya, ia letakkan di dapur.


Sekar membuka kulkas tuanya dan mengambil sebotol air minum guna menuntaskan dahaganya. Tak lupa, ia juga menaruh rendang buatan Bi Ida di dalam kulkas.


Di dalam rumah ini, barang berharga yang mereka miliki hanya televisi tabung 14 inch dan kulkas keluaran tahun 80'an, yang dibeli Mbah Kakungnya dahulu. Lebih dari itu, tidak ada.

__ADS_1


Rumahnya pun hanya berdinding bata tanpa plester setinggi satu meter, disambung dengan bambu dan kayu. Sementara lantainya beralaskan semen. Untuk atap, seng dan genteng yang sudah sangat tua menjadi pelindung mereka dari panas dan hujan. Kelebihan rumah ini hanya ukurannya saja yang lumayan luas.


Meski hanya tinggal keluarganya saja yang memiliki rumah seperti ini di desa, tetapi Sekar tidak merasa berkecil hati. Justru ia bersyukur karena tidak harus bersusah payah mencari utangan demi merenovasi rumah. Selagi tidak bocor, rumah tersebut sudah sangat cukup bagi mereka.


__ADS_2