Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Hari H


__ADS_3

Sekar baru saja sampai di rumah Bi Ida malam harinya, setelah memeriksakan diri ke rumah sakit bersama Arion. Gadis itu menolak diopname lantaran cedera pada kakinya masih tergolong ringan. Dokter sendiri sebetulnya merasa takjub akan keadaan Sekar, yang masih terbilang baik-baik saja setelah terhempas lebih dari satu lantai.


"Ya Allah, Nak," Bi Ida dan Dini yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung menghampiri Sekar. Wanita paruh baya itu memperhatikan Sekar dari atas ke bawah dengan seksama.


"Aku tidak apa-apa, Bu." Sekar tersenyum simpul sembari menatap lembut beliau.


"Apanya yang tidak apa-apa! Kau sampai terluka begini." Bi Ida memegang kedua pipi Sekar.


"Mbak kenapa tidak dirawat saja?" Dini membuka suaranya. Raut wajah gadis itu tak kalah khawatir.


"Ini hanya cedera ringan. Besok juga sembuh." Sekar tersenyum lebih lebar.


"Ya sudah, lebih baik kita masuk dulu. Kalian belum makan malam, kan? Makan dulu, yuk?" ajak Bi Ida. Ketiganya langsung mengikuti beliau masuk ke dalam rumah.


Setelah selesai makan malam Arion langsung pamit pulang. Dia memang tidak berniat lama-lama di sana agar Sekar bisa mengistirahatkan dirinya.


"Tidak perlu memikirkan pekerjaan. Istirahat yang cukup dan jangan bertingkah!" seru Arion galak sembari mencubit ujung hidung Sekar.


Sekar mengangguk. Tangannya sibuk menggosok-gosok hidungnya yang baru saja dicubit sang kekasih.


Arion tersenyum. Ia mendekati wajah Sekar dan mencium kening gadis itu lembut.


"Hati-hati di jalan ya, Mas? Sampaikan rasa terima kasihku pada Pak Arion, karena telah sudi meminjamkan kita mobil untuk pergi ke rumah sakit sampai mengantarku pulang," pesan Sekar.


"Akan aku sampaikan," jawab Arion.


Di sepanjang perjalanan pulang Arion memikirkan apa yang Aiden sampaikan padanya, tentang bagaimana Sekar bisa terjebak di dalam lift.


Sepengetahuan Arion, Sekar tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun di kantor. Jadi sangat mustahil memiliki musuh. Kalau pun ini disebabkan adanya persaingan, resiko yang diambil orang itu terbilang sangat besar jika sampai berniat mencelakai Sekar. Kini di benaknya hanya terlintas satu orang, Erlina.


Wanita itu sudah pasti memiliki dendam padanya dan mungkin pada Sekar karena kejadian dulu.


Arion menggertakan gigi-giginya. Ia harus bertindak.

__ADS_1


...***...


Erlina tertawa terbahak-bahak kala mendengar laporan dari Ningrum soal kejadian yang menimpa Sekar. Sayang sekali gadis itu masih bisa selamat dan hanya mengalami cedera ringan, padahal ia berharap Arion akan menangisi kecacatan kekasih kampungannya itu.


"Baiklah, perlahan-lahan saja. Jika gadis kampung itu masih bertahan di sana, buat agar dia dipecat. Kalau dipecat juga tidak bisa, buat agar dia mati sekalian! Mengerti?"


Jujur, Ningrum sedikit tersentak mendengar perintah Erlina. Ini sudah di luar ambang batas. Meski ia sendiri menaruh dendam pada Sekar karena sudah menggeser posisi OG terbaik, tetap saja Ningrum tidak memiliki keinginan lebih dari sekedar menyelakai gadis itu.


"Bu, a–apa aku tidak s–salah dengar?" Ningrum bersuara.


"Kenapa? Kau takut? Tidak perlu takut. Jika insiden ini ketahuan Arion pun, aku akan membela dirimu!" Erlina menegaskan janjinya.


"T–tapi, Bu ...,"


"Sudah jangan banyak omong! Kau sudah kubayar lebih dari cukup untuk menyumpal seluruh mulut keluargamu. Jadi seharusnya kau menuruti apa mauku atau kuhancurkan semua keluargamu!" Erlina meninggikan suaranya. Ancaman ibu tiri bosnya itu kontan membuat Ningrum ketakutan.


"Ba–baik, Bu," jawabnya dengan suara bergetar.


"Good." Tanpa berkata apa-apa lagi, Erlina segera menutup teleponnya dan kembali tertawa bak orang gila.


...***...


Pintu kamar mandi terbuka, Adhisty keluar dari sana hanya dengan mengenakan bathrobe.


"Sayang, kau melamun?" tanya Adhisty ketika melihat kekasihnya itu sama sekali belum bergerak dari sana.


Adhisty berjalan menghampiri Abiyan dan duduk di tepi tempat tidur. "Kau memikirkan apa?" tangannya dengan lembut menggenggam tangan Abiyan.


Abiyan tersadar dari lamunan. "Tidak ada. Hanya memikirkan soal pekerjaan." Pria itu berkilah.


Adhisty mencium bibir Abiyan sebelum bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri lemari pakaian Abiyan. "Oh iya, tadi Mama meneleponku dan memberitahukan soal insiden Sekar di kantor. Kau sudah mendengarnya?" tanya wanita itu.


"Sudah. Berita itu sudah menyebar ke mana-mana." Jawab Abiyan.

__ADS_1


"Kupikir Mama sudah salah langkah. Ningrum terlalu terang-terangan membalaskan dendamnya pada Sekar. Entah apa yang akan Arion lakukan setelah tahu, bahwa itu semua adalah perbuatan Mama, mengingat Sekar adalah orang terpenting baginya." Adhisty berpendapat demikian, sebab menilik apa yang pernah Arion lakukan pada semua koleksi Erlina tempo hari. Mengusik karyawannya saja Arion sudah sedemikian marah, apa lagi mengusik sang kekasih.


"Kau sendiri bagaimana? Apa Mama menyuruhmu melakukan sesuatu?" tanya Abiyan.


"Mama melarangku ikut campur, agar aku tetap bisa bertahan di Umbara. Jika diperlukan, mungkin aku akan turun tangan." Jawab Adhisty tanpa mengalihkan pandangannya pada cermin. Wanita itu kini sibuk memoles wajahnya setelah usai berganti pakaian.


Abiyan tampak berpikir sejenak, sebelum kembali bertanya, "apa kau tidak berniat menghentikan perbuatan Mama?"


"Ahh, aku tak bermaksud apapun, hanya saja Arion tidak mudah dikalahkan begitu saja." Buru-buru Abiyan menambahkan kalimatnya, tatkala mendapati tatapan aneh dari Adhisty.


"Tidak. Terlalu merepotkan menghadapi kegilaan Mama." Jawab Adhisty enteng.


Mendengar jawaban sang kekasih, Abiyan kontan terdiam. Anak tunggalnya saja tidak ingin repot-repot berurusan dengan Erlina. Calon mertuanya itu memang dikenal licik dan tamak di kalangan para sosialita. Belum lagi sifatnya yang sombong. Seorang mantan narapidana seperti dirinya saja mungkin masih kalah jauh dari wanita itu.


...***...


Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Sekar yang sebenarnya sangat menginginkan pergi untuk melihat acara peluncuran mobil pintar milik Umbara Corporation, terpaksa hanya gigit jari, kendati keadaannya tidak memungkinkan. Terlebih lagi, ia sama sekali tidak mendapatkan undangan. Jadi, mau tidak mau Sekar hanya bisa melihat acara tersebut di layar televisi.


"Lebih enak nonton di televisi, kok!" seru Sekar jengkel. Gadis itu lantas keluar dari kamar menuju ruang tamu.


"Sedang apa, Din?" tanya Sekar keheranan, tatkala melihat Dini sedang berjongkok di belakang meja televisi.


Dini buru-buru keluar dari sana dan memasang wajah kesal. "Ini mbak, aku mau nonton tivi tapi ternyata kabelnya digigit tikus!" serunya jengkel, seraya menunjukan kabel colokan televisi yang sudah dalam keadaan terkoyak.


Sekar melotot. "Yaah ...," gumamnya lesu.


"Mbak mau nonton juga, ya? Maaf ya, Mbak, gara-gara tikus, kita jadi gagal nonton." Dini memasang wajah sendu.


"Ya sudah tidak apa-apa, Din. Kamu tidak berangkat kerja?" Sekar berusaha terlihat baik-baik saja.


"Ini aku baru mau mandi, Mbak. Aku mandi dulu, ya?" Dini bergegas undur diri dari hadapan Sekar. Tangan kanan gadis itu berada di dalam kaosnya.


Saat Dini sampai di depan pintu kamar mandi, ia melipir sejenak ke meja dapur untuk meletakan pisau buah yang tadi dibawanya untuk merusak kabel televisi.

__ADS_1


"Nyusahin banget punya majikan, sekaligus Kakak angkat model beliau!" batin Dini kesal.


__ADS_2