Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kiss?


__ADS_3

Dua minggu sudah Sekar bekerja di kedai Mon Amour. Arion pun tidak lagi terlihat datang ke rumah, sejak peristiwa terakhir yang terjadi di antara mereka. Dalam hati kecilnya, Sekar sebenarnya menyesali perkataan yang ia lontarkan untuk Arion. Perkataan tersebut pasti telah menyinggung perasaan pria itu.


Alih-alih merasa senang dengan ketidakhadiran Arion, Sekar justru merasa gundah gulana. Ia jadi sering memeriksa notifikasi ponselnya, tetapi sama sekali tidak ada panggilan atau pesan masuk darinya.


Suara lonceng pintu kedai tiba-tiba membuyarkan lamunan Sekar. Gadis itu bergegas melayani pelanggan yang baru datang.


Hampir setiap hari saat jam makan siang, kedai ini akan selalu ramai oleh para pengunjung, terutama karyawan-karyawan kantor. Ia dengan keenam temannya kompak bekerja sama melayani mereka. Sebagai waitress, ia, Gendis dan Tyas harus rela mondar-mandir demi memenuhi pesanan pelanggan. Beruntung, kedai hanya ramai pada jam-jam itu saja.


Setelah pesanan selesai semua, Sekar memilih berjaga di sana, sementara Gendis dan Tyas membantu Gading dan Banyu yang bertugas di dapur.


Suara lonceng kembali berbunyi. Kali ini, lebih dari separuh pelanggan tiba-tiba menghentikan aktifitas makan siang mereka, lalu berdiri dan membungkuk hormat pada pelanggan yang baru datang tersebut.


"Sela–mat datang," ucap Sekar terbata saat mengetahui bahwa Arion lah yang datang bersama Aiden.


"Sepertinya tempat ini sudah penuh," gumam Arion. Mendengar bos mereka bicara, sebagian besar dari para karyawan kontan menawarkan dirinya dan Aiden untuk duduk bersama.


Keduanya pun memilih duduk bersama dua orang karyawan yang hampir selesai makan.


Berusaha terlihat biasa-biasa saja, Sekar menghampiri meja tersebut. "Selamat siang," ucapnya ramah sembari meletakkan dua buah papan menu di atas meja. Arion yang melihat kedatangan Sekar kontan terkejut. Pria itu menelisik sang gadis dari atas ke bawah.


"Silakan panggil saya, jika Bapak-bapak sudah selesai memesan." Buru-buru Sekar melangkah pergi dari sana.


"Permisi," Sekar menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan Arion. Ia pun kembali ke meja pria itu untuk mencatat pesanan.


"Terima kasih, silakan tunggu sebentar." Sekar menganggukan kepalanya sekali, lalu mengambil kembali dua papan menu tersebut dan pergi menuju dapur.


"Memang benar gosip yang beredar," Gendis tiba-tiba menopangkan dagunya di pundak Sekar. Mata gadis itu menatap Arion dan Aiden berbinar-binar.


Sekar yang kaget langsung menoleh ke arah Gendis. "Gosip apa?"


"Bahwa CEO Umbara yang baru sangat ramah dan tampan. Pak Ben sebenarnya tak kalah tampan, kalau saja sifat dinginnya tidak ada." Jawab Gendis.


"CEO Umbara? Pak Ben?" tanya Sekar tak mengerti.

__ADS_1


Gendis menegakkan tubuhnya lalu menatap Sekar heran. "Oh iya, saat kau masuk, Pak Arion tidak makan di sini. Mungkin dia sedang tugas Keluar Kota."


" kenal orang itu?" tanya Sekar lagi.


"Tentu saja kenal. Ia selalu makan siang di sekitar sini, dan beberapa kali makan di tempat ini. Beliau adalah CEO baru yang menggantikan Pak Ben sementara. Katanya sih hanya beberapa bulan saja," ujar Gendis sembari melirik gedung tinggi yang berada di seberang kedai mereka.


Sekar membelalakkan matanya saat mengetahui fakta tersebut. Ia pikir, Arion sudah kembali ke Jakarta, tetapi ternyata pria itu malah tinggal di sini selama beberapa bulan.


Panggilan Banyu membuyarkan lamunan Sekar. Gadis itu bergegas membawa pesanan Arion dan Aiden ke depan.


Entah lah, ia jadi malas memikirkan apapun. Rasanya, semakin ia ingin menjauh dari Arion, pria itu malah semakin dekat dengannya.


Sementara Arion hanya bisa berkutat dengan pikirannya sendiri. Jujur saja, ia merasa kecewa mengetahui Sekar telah mendapat pekerjaan. Sebab keinginannya untuk membawa gadis itu pasti akan terasa sedikit sulit.


Jika saja ia tidak meninggikan egonya kemarin-kemarin. Yah, mau bagaimana lagi, fokusnya juga sedang terbagi pada Abiyan. Ia harus kembali ke Jakarta untuk memberi kesaksian sebagai korban.


Abiyan bersama komplotannya akhirnya diputuskan bersalah. Mereka dikenakan Pasal 52 ayat (4) UU ITE, yaitu pemberatan penjatuhan hukuman pidana dilakukan apabila peretasan dilakukan pada korporasi/perusahaan. Dengan masa kurungan selama tiga tahun penjara dan denda lima ratus juta rupiah.


Arion mau tak mau harus berpuas hati dengan putusan pengadilan. Setidaknya, hidupnya kini bisa sedikit tenang.


...***...


"Biar kuantar kau pulang,"


"Aku bisa pulang sendiri," tolak Sekar. "Kau, pulang saja duluan," usirnya.


"Aku tahu kau bisa pulang sendiri, tapi kau terlihat sangat mengantuk. Akan sangat berbahaya jika kau tertidur di dalam bus."


Sekar hanya menanggapi ocehan Arion dengan gumaman kesal. Bukannya menurut, gadis itu malah menyamankan diri di kursi halte.


Ditanggapi seperti itu oleh Sekar, Arion hanya bisa menghela napas. Dengan sedikit paksaan, ia merangkul Sekar dan membawanya ke mobil.


Pria itu tersenyum kecil saat Sekar malah meringkuk di kursi mobil setelah dipasangi seatbelt. Agar lebih nyaman, ia merendahkan kursi yang diduduki gadis itu.

__ADS_1


...***...


Adhisty hanya bisa menelan kekecewaan saat petugas lapas memberitahu, bahwa Abiyan tidak ingin bertemu dengan siapa pun.


Sejak ditahan, sang kekasih sama sekali enggan menemui dirinya. Ia juga menolak makanan yang diberikan Adhisty.


"Terima kasih, Pak," ucap Adhisty. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Abiyan, sebab Arion sudah mengancam mereka jika sampai berani mengeluarkan Abiyan dengan uang jaminan. Pria itu bahkan secara tegas menghapus saham waris yang dipersiapkan Dewandaru untuk Erlina.


Sang ibu tentu saja tidak terima atas keputusan Arion. Ia mengamuk dan sempat menampar anak tirinya tersebut. Tidak ingin kehilangan segalanya, kini Erlina sedang berusaha menghasut para pemegang saham agar mau menggulingkan Arion dan menjadikan Adhisty sebagai CEO baru mereka.


Adhisty yang semula menolak keinginan Erlina, akhirnya hanya bisa pasrah setelah diancam akan ditendang keluar dari rumah. Ia tahu, dirinya kini dijadikan pion baru oleh sang ibu.


...***...


Suasana desa sudah sepi dan gelap ketika Arion sampai di sana. Agar tidak terlalu mencolok, pria itu memilih mematikan lampu mobilnya.


Sekar masih terlihat nyaman tidur di dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, gadis itu hanya sesekali terbangun lalu tidur kembali. Arion tersenyum kecil menatap wajah polos Sekar. Rasa rindu kembali menyeruak ke dalam dada pria itu.


"Kita sudah sampai," bisik Arion sembari membenahi anak rambut Sekar yang sedikit berantakan.


Sekar tidak merespon. Ia masih tetap terlelap dalam tidurnya.


Mata Arion kini fokus menatap seluruh wajah Sekar, dan berhenti pada bibir tipis gadis itu. Seolah terhipnotis, ia lantas mendekatkan dirinya.


Sebuah sentuhan lembut pada bibirnya, membuat Sekar terbangun. Mata gadis itu terbelalak begitu mengetahui Arion baru saja mencuri ciumannya. Sekar kontan terduduk tegak, begitu pula dengan Arion yang langsung menjauhkan diri.


"Ma–maaf," ucap Arion. Dalam hati ia sibuk mengutuk dirinya sendiri.


Sekar hanya bisa mengangguk kaku. Ia lalu mengucapkan terima kasih pada Arion, karena telah repot-repot mengantarnya pulang. Tak lupa, kata maaf juga dilontarkan Sekar karena sudah tidur seenaknya di dalam mobil.


"Tidak apa-apa." Jawab Arion.


"Kalau begitu, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan,"

__ADS_1


Arion mengangguk.


Tanpa pikir panjang Sekar segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Beruntung, malam membuat Arion tidak dapat melihat wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.


__ADS_2