
Arion tidak dapat menahan dirinya lagi tatkala mengetahui rencana Sekar untuk pindah ke gedung lain. Pria itu bahkan menolak mentah-mentah surat kepindahan Sekar yang dibawa oleh Anita.
Rasa bersalah benar-benar menghantam telak batinnya. Sebab, sejak kemunculan rumor tersebut, belum pernah satu kali pun Arion turun tangan langsung untuk membantah, mau pun membenarkannya. Arion bahkan tidak mendapat penghakiman seperti yang sudah mereka lakukan terhadap Sekar. Gadis itu mau tidak mau, harus memikul beban di pundaknya seorang diri.
Mendapat penolakan keras dari Arion, Anita gamang. Pasalnya, wanita itu sudah berjanji akan memberikan kabar baik secepatnya.
"Mohon maaf, Pak, jika saya lancang. Menurut saya alangkah baiknya memindahkan Sekar, demi kenyamanan gadis itu." Anita mencoba meluluhkan Arion. Baginya sudah sangat bagus Sekar hanya meminta dipindahkan ke gedung baru, bukan mengundurkan diri. Sebenarnya, bukan tugas Arion untuk mengurusi hal-hal demikian secara langsung. Namun entah mengapa, Anita merasa Arion harus mengetahuinya. Wanita itu tak ingin salah langkah.
"Tidak!" agar Anita berhenti mencecarnya, Arion merobek-robek dokumen milik Sekar dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia tak peduli, Anita kini akan berpikiran macam-macam. Ia juga tidak peduli pada Aiden yang sudah memperingatinya untuk tidak menemui Sekar, demi menjaga nama baik dirinya dan juga kenyamanan gadis itu.
Saat ini, yang ada dipikiran pria berusia 33 tahun itu adalah meluruskan segala kesalahpahaman yang ada di antara mereka.
Malam itu juga Arion memutuskan menemui Sekar di rumah Rani. Ia memarkirkan mobilnya di lapangan yang berada tak jauh dari rumah gadis itu.
Arion naik ke teras rumah Rani dan langsung mengetuk pintu. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mengajak Sekar bicara empat mata.
Arion dapat mendengar derap langkah kaki yang kian mendekat.
"Uw–" Sekar seketika bungkam, begitu melihat dirinya. Gadis itu seperti tengah mendapati sesosok mahluk halus, sedang berdiri di hadapannya.
"Sekar," sapa Arion. Wajahnya yang semula diliputi kemarahan kontan melunak. Ia benar-benar merindukan gadis itu. Ingin rasanya ia membawa Sekar ke dalam pelukannya. Namun Arion menahan diri. Ia tak mungkin melakukan hal tiba-tiba seperti itu. Terlebih, rumah Rani merupakan lingkungan padat penduduk. Bisa-bisa Sekar berteriak dan warga berbondong-bondong mendatangi mereka.
"Tahu dari mana aku di sini?"
Arion tersentak. Sorot matanya yang semula mendamba berubah kelam, kala mendengar suara Sekar. Tak ada lagi nada lembut yang dilontarkan gadis itu untuknya. Bahkan, tatapan matanya pun telah banyak berubah. Arion dapat melihat jelas semua rasa sakit yang Sekar rasakan dari sana.
Pria itu sejenak goyah. Haruskah ia menyetujui pemindahan tersebut, agar Sekar tetap dapat melanjutkan hidupnya dengan tenang?
"Bila kau enggan menjawab, lebih baik pergi dari sini." Sekar hendak menutup pintu kembali, tapi Arion dengan sigap menahannya.
"Meski kau bersembunyi di lubang semut pun, aku tetap dapat menemukanmu," jawab Arion tegas.
Sekar termangu. Derap langkah kaki lain terdengar dari dalam rumah. "Siapa, Ar?" tanya Rani.
__ADS_1
Tingkah Rani berubah canggung, ketika mengetahui kedatangan CEO-nya.
"Pak Arion," sapa Rani seraya menunduk takut-takut. Dalam hati ia sudah menyiapkan beberapa jawaban, kalau-kalau Arion kelepasan bicara soal telepon beberapa waktu lalu.
"Maaf, jika saya mengganggu malam-malam begini," Arion mengendurkan raut wajahnya, agar si tuan rumah merasa nyaman.
Rani tersenyum kaku. "Tidak apa-apa, Pak. Bapak ada perlu dengan Sekar, ya? Kalau begitu, kalian bisa masuk ke dalam. Biar saya dan adik saya yang akan keluar sebentar."
"Tidak perlu. Saya akan mengajak Sekar keluar. Apa boleh?" Arion meminta ijin Rani.
Rani mengerling ke arah Sekar. Sekar memberi isyarat padanya untuk menolak permintaan Arion. Tetapi bukannya menuruti sang sahabat, gadis itu malah mengiyakan permintaan bosnya. Tentu saja, ia masih waras untuk tidak memperkeruh suasana.
Cukup lama bagi Sekar, hingga akhirnya menyetujui ajakan Arion. Mereka pun langsung pergi meninggalkan rumah Rani.
Arion membawa Sekar ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari wilayah rumah Rani. Cukup lama mereka saling berdiam diri, sebelum akhirnya Sekar membuka suara terlebih dahulu.
"Kupikir, kau masih mengingat dengan jelas perkataan terakhirku, tentang hubungan kita yang sudah berakhir," katanya mengawali pembicaraan.
"Ya, aku mengingatnya. Setiap saat perkataanmu selalu berseliweran di benakku. Menggores tiap-tiap bagian di relung hatiku, bagai sebilah pedang tak kasat mata." Arion menatap Sekar melalui ekor matanya.
"Tidak sesakit apa yang telah kau lakukan padaku selama ini!" seru Sekar tak mau kalah.
"Aku sudah mengetahui soal keinginanmu untuk pindah ke gedung lain." Arion memandang lurus ke luar jendela mobil. "Haruskah kau berlaku sejauh itu? Tidak bisakah kita menyelesaikan hal ini secara baik-baik?" tanyanya.
Sekar terdiam.
"Tahukah kau, aku sangat berharap kita bisa kembali seperti dulu. Tak apa jika kau tak sudi, asal tak perlu menjauh dariku." Arion menoleh ke arah Sekar dengan sorot mata pilu.
"Seperti dulu? Maksudmu, aku harus kembali menjadi gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa, dan membiarkanmu terus mempermainkanku?" Sekar menatap Arion dingin. Dia sebenarnya tahu apa maksud perkataan tersebut, tetapi Sekar memang sengaja memancing pertengkaran, agar Arion bisa membencinya.
"Aku tahu, kau mengerti maksud perkataanku."
Suasana kembali hening. Tak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan lagi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sekar memilin ujung kaosnya. Ia betul-betul tidak menyukai situasi canggung seperti ini. Jujur, berdekatan dengan Arion membuat pikirannya sedikit kacau. Di satu sisi hatinya pilu, mengingat betapa Arion tega berbohong hanya demi keegoisan semata. Tetapi di sisi lain, sulit bagi Sekar untuk melupakan perasaan yang sudah bersemayam. Kenangan akan kebersamaan mereka tak bisa hilang begitu saja.
__ADS_1
Sekar berusaha membangun dinding pemisah setebal mungkin, hanya karena tidak ingin terluka lagi. Namun siapa sangka, perpisahan ini lah yang membuatnya terluka.
Sekar menghela napasnya. "Kau pasti tahu soal rumor tentang kita, yang sudah menyebar bak virus penyakit. Aku hanya ingin hidup tenang," ucap Sekar lirih.
"Kita akan mengatasinya bersama-sama," ujar Arion.
Sekar tertawa kecil. " Bagaimana caranya? Memberi klarifikasi? Kemunculanmu hanya akan menjadi pembenaran akan hubungan kita."
"Apapun akan kulakukan. Kau tak perlu menanggung beban ini sendirian." Arion mencoba meraih tangan Sekar, namun gadis itu menepisnya.
Sekar lagi-lagi tertawa. "Mau dibagi pun, kau tetap tidak akan merasakan bebannya. Siapa yang berani menghina CEO mereka?" kali ini suaranya terdengar parau.
"Sekar,"
"Jangan katakan apapun lagi. Sekarang, aku hanya ingin meminta satu hal padamu. Mulai detik ini, berhenti mengganggu hidupku. Jalani hidupmu dengan tenang seperti biasanya, sebelum aku ada. Maka aku pun akan melakukan hal yang sama." Sekar membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Rintik hujan yang mulai turun, tidak membuat Sekar mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
Arion bergegas menyusul Sekar. Dia menarik lengan gadis itu agar menghentikan langkahnya. "Ini hujan. Kembali ke mobil, kau bisa sakit."
Sekar tersenyum kecil. "Mobil itu lah yang mengingatkanku, pada semua kebodohanku selama ini," ucapnya parau. Dia masih mengingat betul akan kebohongan Arion soal mobil mewah tersebut.
Sekar berusaha melepaskan genggaman tangan Arion.
"Aku antar kau pulang." Arion mengencangkan cengkraman tangannya pada lengan Sekar, tanpa memperdulikan rintihan gadis itu.
"Lepaskan aku! Aku bisa pulang sendiri!" Sekar menarik keras lengannya hingga nyaris terjerembab. Sedetik kemudian, ia berlari kencang meninggalkan Arion sendirian.
Arion berteriak memanggil Sekar,
namun gadis itu terus saja berlari. Ia sama sekali enggan berhenti, mau pun menoleh ke belakang.
Arion meninju kaca mobilnya sekeras mungkin hingga pecah. Darah segar mengucur dari tangan kanannya sejurus kemudian. Tubuhnya pun mulai basah kuyup oleh hujan yang turun semakin deras.
Sekar terus berlari, sembari sesekali menghapus air matanya yang telah bercampur dengan air hujan. Gadis itu menangis sesenggukan di sepanjang jalan. Rani yang menungguinya di teras rumah, sontak berlari menghampiri Sekar, begitu melihat kedatangan sahabatnya.
Rani memayungi tubuh Sekar yang mulai menggigil. "Ayo, masuk, nanti kamu sakit," ajak Rani sembari merangkul lembut tubuh Sekar.
__ADS_1
Sekar mengangkat wajahnya. Ia menatap Rani dengan wajah basah dan mata sembab. Gadis itu kemudian menerjang Rani dan kembali menangis.
Rani menjatuhkan payungnya. Di bawah hujan mereka menangis bersama.