
Aiden menyembunyikan dirinya di balik pintu tangga darurat. Arion menyuruh pria itu untuk memeriksa tangga darurat lantai lima, guna memastikan Sekar tidak makan seorang diri di sana, seperti tempo hari.
Namun, apa yang Aiden lihat benar-benar membuatnya terkejut. Sekar tengah asyik makan di sana tetapi tidak sendirian. Ada Abiyan bersamanya.
Sejuta pertanyaan segera bergelayut di benak Aiden saat ini.
Mengapa Sekar bisa mengenal Abiyan? Sejak kapan mereka bertemu? Dan, bagaimana bisa mereka makan bersama tanpa ada rasa canggung sedikit pun?
Satu hal yang dapat Aiden yakini adalah, ini bukan kali pertama mereka makan siang bersama, dilihat dari seberapa akrab keduanya berinteraksi.
Aiden tiba-tiba diliputi rasa gelisah. Ia gamang. Apa yang harus dilaporkannya pada Arion? Jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, sudah pasti itu akan langsung memicu keributan.
Aiden tidak ingin hal itu sampai terjadi. Ia harus memastikan kepala Arion tetap jernih, setidaknya sampai acara besar mereka terlewati.
Pria itu menutup pintu darurat perlahan-lahan dan pergi dari sana tanpa suara.
"Sepertinya, aku sudah lama tidak melihat Mas?" ujar Sekar, begitu acara makan siang mereka selesai.
"Aku sibuk membantu proyek Earlene, jadi tidak sempat main-main ke bawah."
Sekar mengangguk-anggukan kepalanya. Mata gadis itu menatap Abiyan bangga. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Abiyan adalah salah satu anggota Tim Earlene.
"Minggu depan proyek tersebut akan diperkenalkan ke khalayak umum. Para awak media akan datang membanjiri tempat ini, dan hampir seluruh stasiun televisi akan meliput secara langsung acara tersebut." Abiyan membuka suaranya lagi.
Sekar reflek membuka mulutnya. Ia merasa sangat takjub. Sebesar itu kah Proyek Earlene, hingga mampu menyita perhatian khalayak ramai?
"Kuharap, acaranya berjalan dengan sukses." Sekar tulus mendoakan. Ingatan akan Arion bergentayangan di kepalanya. Pria itu juga salah satu anggota Tim Earlene, sama seperti Abiyan.
"Aamiin." Abiyan menimpali. "Terima kasih atas makanan lezatnya," ia sejenak melupakan fakta, bahwa Sekar adalah gadis yang harus dibenci dan diberi pelajaran.
Sekar tersenyum manis. "Sama-sama."
...***...
Tepat malam hari, Arion menjemput Sekar dan mengajaknya makan malam di luar. Kali ini ia membawa kekasihnya itu ke salah satu restaurant mewah, yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Mata Sekar terperanjat begitu Arion mengarahkan motornya ke sebuah bangunan lantai tiga bergaya modern.
Gadis itu meringis malu, kala petugas valet parking dan beberapa pengunjung yang juga baru datang ke sana, memperhatikan mereka yang datang dengan percaya diri menggunakan motor butut Arion.
"Mas, ngapain ke sini? Ya ampun! Lihat itu, semua orang melirik ke arah kita, tahu! Aku malu!" seru Sekar seraya menyembunyikan dirinya di balik punggung Arion.
Arion memarkirkan motornya terlebih dahulu, di antara motor-motor mahal yang terdapat di sana, sebelum akhirnya menanggapi omongan Sekar. "Kenapa harus malu? Kita ke sini mau makan, bukan mau ngemis." Arion menarik tangan Sekar dan menggandengnya mesra.
Keduanya masuk ke dalam restaurant mewah tersebut diiringi tatapan mencemooh dari sebagian pengunjung.
__ADS_1
Sekar menundukan kepalanya dalam-dalam. Tatapan mereka benar-benar mengingatkan Sekar pada segelintir orang di kampungnya.
Dulu, gadis itu sering sekali mendapatkan tatapan serupa dari orang-orang itu. Maklum, keluarga Sekar adalah keluarga paling miskin di desa berpenghuni tak sampai 500 jiwa tersebut. Mereka mungkin tidak bermaksud jahat. Sekar dan keluarga tetap diperlakukan baik, sebagaimana mestinya. Apa lagi ia memang dikenal sebagai gadis yang sangat ramah dan suka menolong. Namun, tetap saja ada segelintir orang yang memandang Sekar dan keluarga dengan sebelah mata.
Genggaman tangan Arion yang mengerat membuat Sekar mengangkat kepalanya. Gadis itu sontak saja terperangah, begitu melihat interior restoran yang sangat mewah dan elegan. Suasana di dalam sana begitu tenang. Tidak ada suara musik hingar-bingar yang mengalun, mengiringi para pengunjung. Hanya ada suara musik klasik yang begitu menenangkan hati. Matanya lantas melirik salah satu dinding besar yang terlihat paling mencolok. Di sana terdapat banyak sekali foto-foto artis dan pejabat yang pernah berkunjung.
"Tempat ini terkenal banget ya, Mas?" bisik Sekar pada Arion.
"Iya. Restoran ini terkenal di kalangan pejabat maupun artis. Sering masuk televisi juga, kok." Jawab Arion.
"Mahal donk, Mas? Kita pulang saja, yuk!" desak Sekar sembari menarik tangan Arion agar berbalik pergi. Ia takut Arion tidak sanggup membayar tagihan makan mereka.
"Mana aku cuma bawa uang duaratus ribu!" batin Sekar merana.
Arion menahan tangannya. "Untuk makan di sini, butuh waktu yang lama karena harus reservasi dari jauh-jauh hari. Jadi, jangan sia-siakan usahaku, donk!" sahut Arion, pura-pura jengkel.
"Memangnya, Mas punya uang sebanyak apa sih, sampai percaya diri sekali mengajakku makan di sini?" Sekar tak kalah jengkel.
"Pokoknya tenang saja, aku dapat banyak uang dari membantu proyek Earlene. Jumlahnya cukup untuk makan di sini dua sampai tiga kali. Jadi, diam saja dan cukup ikuti aku, oke?" Arion menarik Sekar dan berjalan menghampiri dua orang wanita yang berdiri di balik meja.
Pria itu mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada mereka.
Melihat kertas tersebut, kedua wanita yang semula menatap Arion dan Sekar aneh, tiba-tiba saja berubah santun dan hormat. Mereka bahkan langsung membungkukan tubuhnya 90 derajat, begitu Arion membuka kupluk jaketnya.
"Silakan, Pak–"
Kedua wanita itu mengangguk. Seorang dari mereka lalu mengantar Arion dan Sekar ke lantai atas.
"Mas tadi ngasih kartu apa ke mereka?" tanya Sekar ingin tahu.
"Kupon. Ada beberapa makanan yang bisa kita dapatkan secara gratis."
"Oh."
...***...
Abiyan terlihat mondar-mandir sembari menelepon seseorang. "Pokoknya kalau sampe gagal lagi, lo semua bakal terima akibatnya! Ngerti?"
"Beres, bang. Gua pastiin rencana kita bakalan sukses besar!" sahut seorang pria muda yang Abiyan ajak bicara.
Abiyan menutup teleponnya tanpa bicara apa-apa lagi. Pria itu menatap tajam keluar jendela apartemennya. Jika rencana mereka kali ini berhasil, bisa dipastikan Arion akan mendapatkan malu seumur hidup, seperti apa yang Erlina inginkan.
...***...
Arion dan Sekar makan di dalam private room. Awalnya gadis itu heran dengan cara penyajian restaurant tersebut. Mereka tidak menyajikan seluruh makanan sekaligus, melainkan mengeluarkannya satu persatu, setiap selesai menghabiskan makanan sebelumnya. Belum lagi, porsi makanan di tempat itu sangatlah sedikit.
__ADS_1
"Mas pasti sudah biasa ke sini, ya?" tanya Sekar. Dari awal Arion mengajaknya kemari, sebenarnya Sekar sudah dapat menebak, bahwa ini bukan kali pertama sang kekasih makan di tempat begini.
"Aku beberapa kali menemui klien di sini." Jawab Arion tanpa pikir panjang.
Sekar mengangguk. Sembari menunggu Arion selesai makan, gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan menuju satu-satunya jendela besar yang terdapat di ruangan itu.
Sibuk memandangi Kota yang tampak gemerlap, Sekar sampai termangu, hingga tak sadar sesuatu sudah melingkar di perut rampingnya.
"Kau suka makanan di sini?" tanya Arion sembari menyandarkan dagunya di pucuk kepala Sekar.
"Suka. Seumur hidup aku tidak pernah merasakan makanan seenak itu. Makan makanan cepat saji saja, hanya beberapa kali dalam hidupku." Sekar memegang telapak tangan Arion, yang berada di perutnya. "Terima kasih sudah memberikan pengalaman yang luar biasa menyenangkan ini," ucap gadis itu tulus.
Mata Arion berubah sendu. Ia yang sudah menyelidiki seluk-beluk keluarga Sekar, tahu betul bagaimana perjuangan hidup kekasihnya itu. Terlebih ketika ia harus kehilangan kedua orang tuanya beberapa tahun silam.
"Aku bisa mengajakmu ke sini lagi, jika kau mau," ucap Arion.
Sekar menggelengkan kepalanya. Gerakan gadis itu menggelitik dagu Arion. "Tidak perlu. Makan di mana pun bagiku sama saja. Sekali pun kita hanya makan ind*mie telor di warkop, itu sama sekali bukan masalah. Aku sudah terbiasa."
Arion mengeratkan pelukannya dan mengecup lembut rambut Sekar. Mengetahui kesederhanaan dan ketulusan yang dimiliki gadis itu, malah membuat perasaan Arion tumbuh berkali-kali lipat.
Arion lalu melepaskan pelukannya dan menghadapkan tubuh Sekar ke arahnya.
"Aku mencintaimu," ucap Arion penuh kelembutan. Matanya dipenuhi kabut cinta yang hanya ditujukan untuk Sekar seorang.
"Aku pun." Sekar tersenyum malu-malu. Tanpa aba-aba, Arion memagut bibirnya mesra.
Ini adalah ciuman kedua mereka. Kali ini tanpa air mata Sekar, seperti waktu itu. Ia bahkan mencoba membalas perlakuan Arion, meski dengan gerakan canggung.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih kakak-kakak, karena telah sudi membaca sampai sini. Jangan lupa, like, komen, dan fav bagi yang belum, ya? Mau kasih gift-gift juga boleh banget ... xixixi
Oh iya, yang mau lihat trailer novel ini, juga visual dari Sekar dan Arion, boleh mampir ke FB-ku dengan nama Kim kim. Selamat menonton, semoga kalian suka.
Terima kasih, 🤗
__ADS_1