Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Pertemuan


__ADS_3

Saat jam istirahat selesai, Sekar kembali bekerja seperti biasa. Ia berusaha tidak menghiraukan tatapan-tatapan para karyawan, yang seolah-olah sedang menyudutkan dirinya. Sekar juga pura-pura tidak mendengar saat beberapa di antara mereka membicarakan dirinya, sama seperti yang dilakukan tiga karyawan wanita tadi.


"Bertahanlah beberapa hari lagi, Sekar!" Sekar menyemangati dirinya sendiri.


Mungkin Sekar bisa menganggap ini sebagai sebuah keberuntungan kecil, sebab tidak semua karyawan bersikap demikian. Ada juga yang masih mau tersenyum padanya kala berpapasan, kendati raut wajah mereka berubah aneh sedetik kemudian. Bagi Sekar, itu terasa jauh lebih baik dari pada diperlakukan secara terang-terangan.


Setelah selesai mengantar berkas ke lantai empat, Sekar diminta datang ke meja resepsionis lantai satu, untuk mengambil surat penting yang ada di sana, dan langsung mengantarnya ke lantai delapan.


"Ini suratnya, Sekar. Tolong, jangan dilipat, ya?" Nana, resepsionis yang bertugas hari itu memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat ke tangan Sekar.


"Ok. Terima kasih, Mbak," Sekar menerima surat tersebut dan berjalan kembali menuju lift.


"Eh, itu si OG yang katanya punya hubungan sama Pak Arion, kan?" Nola, seorang resepsionis lain, menyenggol bahu Nana dan berbisik padanya.


"Terus kenapa?" tanya Nana tak acuh.


"Ihh, kau ini bagaimana, sih! Lihat tuh! Bisa-bisa dia masih berani nampang, seperti tidak terjadi apa-apa." Nola melipat kedua tangannya dan menatap Sekar yang mulai menjauh dengan tatapan sinis.


Nana memutar bola matanya jengah. "Itu tandanya, gosip yang beredar tidaklah benar, La," ujar gadis berusia 25 tahun itu.


"Nggak mungkin, Na! Masa iya kalau hanya isapan jempol belaka, yang digosipkan malah si gadis OG itu!" seru Nola tidak terima.


"Loh, memangnya kenapa? Apa urusanmu? Kalau pun sebenarnya mereka memang tengah menjalin hubungan, sah-sah saja menurutku. Apa yang membuat orang-orang begitu heboh tentang mereka berdua? Karena Sekar hanya seorang office girl ? Kenapa memangnya dengan office girl? Kalau semua dilihat hanya dari kedudukan semata, kau pun harusnya sadar diri untuk berhenti mengejar-ngejar CFO gedung F. Ingat, kau hanya seorang resepsionis magang!" Nana yang emosi akhirnya mengoceh panjang lebar.


Nola menatap Nana tak percaya. Dirinya merasa tertohok. Ia bahkan sampai tidak sanggup membalas perkataan Nana.


Nana yang merasa bersalah segera meminta maaf dan meminta Nola untuk tidak lagi membicarakan keburukan orang lain.

__ADS_1


Saat asyik bersenandung demi mengabaikan tatapan para karyawan yang dilewatinya, langkah Sekar tiba-tiba terhenti. Irama jantungnya berdetak tak karuan. Tangannya pun seketika gemetaran.


Arion, pria yang sangat ingin dihindarinya saat ini, tengah berdiri jauh di hadapannya. Pria itu sepertinya hendak keluar kantor.


Mendapati gadis yang dirindukannya muncul tiba-tiba, Arion tak dapat menahan dirinya untuk tidak menghampiri Sekar. Namun Aiden segera memegang pundak sang bos, guna menahannya di tempat. Tindakan pria itu bisa menyebabkan rumor yang tengah berkembang, memang merupakan sebuah kenyataan, dan Aiden tidak ingin hal itu terjadi.


Bagi Aiden dan bagi perusahaan, reputasi Arion berada di atas segalanya.


Tak dapat dipungkiri, rasa rindu juga menghampiri benak Sekar. Ia bahkan tengah menahan diri untuk tidak menangis. Sekuat tenaga Sekar menggali lagi ingatannya soal kebohongan-kebohongan Arion, agar dapat mengalahkan rasa rindu yang kini mendera batinnya.


Setelah berhasil meyakinkan diri, Sekar melanjutkan langkahnya tanpa ragu. Begitu pun dengan Arion. Bak orang asing, keduanya saling melewati tanpa bertatapan satu sama lain.


Begitu sampai di dalam lift, Sekar kontan bernapas lega. Gadis itu tidak menyadari, bahwa dia sempat menahan napasnya tadi. Sekar tersenyum lirih. Matanya menatap nanar lantai lift. Arion terlihat sedikit berbeda. Wajahnya tak lagi sesegar terakhir kali mereka bertemu. Kentara sekali, ada begitu banyak beban yang tengah dipikul pria itu.


Andai saja ia masih berada di sampingnya, mungkin beban yang Arion pikul bisa sedikit dibagi.


Sekar refleks menggelengkan kepala. Dia tidak boleh lemah. Arion terlalu tinggi untuk digapai. Lihat saja, baru rumor yang beredar ia sudah diperlakukan bak mangsa oleh para pemburu. Bagaimana jika mereka mengetahui kebenarannya nanti?


...***...


Sekar dan Rani baru tiba di rumah sehabis maghrib. Mereka mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk berbelanja bahan makanan yang sudah mulai menipis. Kali ini Sekar bersikeras membayar belanjaan, padahal Rani mengajak Sekar berbelanja karena ibunya baru saja mengirimkan uang.


"Aku tidak menerima penolakan!" tegas Sekar, yang mau tidak mau, membuat Rani menyerah.


Gadis itu juga sudah mengatakan pada Rani akan segera mencari tempat tinggal baru setelah gajian nanti. Ia berdalih tidak ingin terus-menerus merepotkan sahabatnya itu.


Awalnya Rani menentang keras. Ia sampai mengatakan pada Sekar untuk berbagi biaya listrik rumahnya, kalau memang Sekar merasa terbebani. Namun Sekar justru menolak mentah-mentah. Biaya listrik rumah Rani jauh lebih murah dibandingkan biaya kost bulanannya. Bahkan, setengahnya pun tidak ada. Maklum, rumah Rani hanya memiliki daya 900 watt dan tidak ber-AC. Walau Sekar membayar penuh pun, tetap saja murah dan tetap tidak sebanding harganya dengan kebaikan gadis itu.

__ADS_1


Mereka berdebat cukup panjang, dan seperti biasa, Rani yang akhirnya mengalah. Rani sampai heran, bagaimana bisa seorang gadis lembut seperti Sekar, berubah menyeramkan ketika tengah berdebat? Gadis itu sepertinya lebih cocok bekerja di Firma Hukum.


"Kau mandi saja dulu, aku yang akan merapikan barang-barang belanjaan." Rani hendak membantah, namun Sekar buru-buru memelototinya.


Gadis itu tersenyum geli saat melihat Rani merengut dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk.


Egi yang baru pulang dari rumah Uwa sontak menghampiri Sekar. "Wah, banyak banget belanjaannya, Mbak," tukas remaja tanggung itu dengan wajah berbinar-binar. Ia bahkan sampai berseru kegirangan, ketika melihat beberapa cemilan kesukaannya ada di sana.


"Tumben, Kak Rani mau membelikanku semua itu. Dia, kan pelit!" imbuhnya.


Sekar tertawa. "Ini Mbak yang beli. Jangan sungkan untuk dimakan, ya? Mbak memang membelinya untukmu," ujar Sekar sembari mengelus rambut Egi.


Egi tersenyum lebar lalu memeluk Sekar erat. "Sayang Mbak banyak-banyak. Nggak sayang Kak Rani!"


Rani yang berjalan menuju kamar mandi melempar handuknya hingga menutupi kepala Egi. Mereka memulai pertengkaran kecil selama beberapa saat, sebelum Sekar, dengan wajah pura-pura garang, memisahkan mereka.


Sekar memilih memasak spaghetti yang sudah ia beli, sembari menunggu gilirannya mandi. Egi membantu membuka kornet, mencincang daging ayam, dan memotong-motong bawang bombay. Terbiasa mandiri membuat remaja itu tidak lagi canggung menggunakan alat-alat dapur. Bahkan ia ternyata lebih mahir menggunakan pisau dari pada kakaknya sendiri.


Rani keluar dari kamar mandi setelah saus spaghetti sudah hampir matang. Gadis itu lalu mengambil alih pekerjaan Sekar, agar bisa mandi.


Selesai Sekar mandi, spaghetti yang mereka buat telah tersaji di meja ruang televisi. Dapur Rani memang hanya memiliki meja untuk menaruh makanan saja, jadi mereka selalu makan di ruang televisi.


Selagi makan, mereka asyik berbincang mengenai pekerjaan dan juga sekolah Egi. Sampai akhirnya suara ketukan pintu menginterupsi ketiganya.


"Paling itu Uwa. Tadi katanya mau ngasih nangka," ujar Egi. "tapi, tumben pakai ketuk pintu segala."


"Biar aku saja yang buka pintu." Sekar berdiri dari duduknya dan menghampiri pintu depan.

__ADS_1


"Uw–" gadis itu seketika bungkam, tatkala mengetahui siapa yang berkunjung ke rumah Rani.


Jantungnya berkebit tak karuan. Sebab di hadapannya kini, berdiri sesosok pria yang sangat ingin ia hindari.


__ADS_2