
Sekar akhirnya memberanikan diri bercerita tentang semua kejadian yang telah ia alami selama di Jakarta. Dari mulai pertemuannya dengan Arion, siapa dia sebenarnya, sampai pembullyan yang terjadi di kantor. Sekar juga dengan jujur mengaku telah dipecat dari sana. Gadis itu menangis tersedu-sedu seraya mengucapkan maaf karena tidak mendengarkan nasihat sang bude untuk hidup dengan baik di perantauan. Meski rumor tersebut hanya lah fitnah belaka, tetap saja ia merasa bersalah.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Namanya hidup, walau kita sudah merencanakannya dengan matang, tetap saja Allah selipkan sedikit ujian sebagai pengingat agar kita tidak lupa memohon pertolongan-Nya." Bude Gayatri menghapus air mata Sekar yang berlinang.
"Kau juga ingat, kan, apa yang pernah Mbah katakan dulu, tentang bagaimana pentingnya berbagi keluh kesah di antara keluarga?" tanya sang bude.
Sekar mengangguk seraya bergumam lirih.
"Seharusnya kau tidak perlu menutup-nutupinya. Kau masih memiliki bude untuk dijadikan tempat bercerita. Kesehatan mentalmu harus tetap terjaga, dan memendam bukanlah satu-satunya cara terbaik untuk dilakukan." Bude Gayatri menarik Sekar ke dalam dekapannya.
"Ma–maaf, Bude," ucap Sekar sesenggukan.
"Sekarang boleh Bude memberikanmu sedikit nasihat lagi?" tanya wanita itu sembari mengelus rambutnya. Sekar menjawab pertanyaan beliau dengan anggukan kepala.
"Jangan pernah berani mengingkari hatimu. Sebab itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
Mendengar perkataan tersebut Sekar semakin mengeratkan pelukannya.
"Perbedaan kami terlalu jauh, Bude. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa hidup kami kedepannya. Dia bukan orang sembarangan. Pasti akan sangat membebaninya nanti."
"Jangan kebiasaan berpikiran buruk. Semua itu belum tentu terjadi, Nak." Bude Gayatri melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk bahu Sekar.
"Bude hanya bisa berpesan untuk menurunkan egomu sedikit. Ingat, sebenarnya pertengkaran ini tidak perlu terjadi jika kalian saling memahami dan memberi pengertian."
Dalam hati Sekar mengakui apa yang dikatakan budenya itu. Jika saja ia tidak menumpukkan egonya. Pasti mereka akan bisa melewati semua rumor ini bersama.
...***...
Sudah dua hari ini Arion bertingkah tak ubahnya robot yang telah diprogram. Pria itu hanya fokus pada pekerjaan kantornya saja. Selepas jam kerja pun, mereka akan langsung pulang ke apartemen. Kalau boleh Aiden memilih, ia sebenarnya lebih senang melihat Arion menjalani hidupnya yang tertata seperti ini. Tetapi mendapati sorot mata Arion yang kosong, membuat Aiden sedikit mengkhawatirkannya.
Aiden memang tidak terlalu menyukai Sekar. Ia menganggap Sekar tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang dikenal Arion. Tetapi seiring berjalannya waktu, pendapatnya tentang gadis itu telah berubah. Terutama saat Aiden mendapati sikap Sekar, setelah mengetahui identitas Arion sebenarnya.
Semula, Aiden pikir gadis itu hanya akan berpura-pura marah demi menarik simpati Arion, agar semakin terjerat olehnya. Tapi nyatanya tidak demikian. Sekar adalah gadis yang baik. Ia mencintai Arion dengan segala kesederhanaannya.
Suara bel apartemen membuyarkan lamunan Aiden. Pria itu segera bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri pintu depan.
"Siapa?" tanya pria itu melalui interkom yang terdapat di sana. Matanya memicing curiga saat tidak mendapati siapa pun berdiri di luar apartemen mereka. Kendati begitu bel terus saja berbunyi. Tak ingin membuat istirahat bosnya terganggu, Aiden memutuskan membuka pintu depan
Pria itu terkejut bukan kepalang ketika mendapati Davina berdiri di sana dengan wajah sumringah. Ia memegang sebuah koper besar di tangan kanannya. Tanpa permisi wanita itu menerobos Aiden dan meninggalkan kopernya di sana.
__ADS_1
Aiden berdecak kesal. Ia membawa koper wanita itu masuk dan menutup pintu.
"Arion ada?" tanya Davina.
"Nona, kenapa Anda bisa ke sini?" bukannya menjawab, Arion malah balik bertanya.
Davina menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. Telunjuk lentiknya ia arahkan ke wajah tampan Aiden. "Kau! Kenapa ikut-ikutan mengabaikan telepon dan pesan dariku, hah? Dasar asisten kurang ajar!" hina Davina sebelum berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Aiden menyusul langkah Davina. Pria itu dengan tegas melarangnya naik ke atas karena Arion sedang beristirahat. Mereka berdebat sengit selama beberapa saat, membuat Arion mau tidak mau terbangun dari tidurnya.
"Ada apa, Ei?" matanya terbelalak saat mendapati Davina berada di dalam apartemen yang mereka tinggali. Tanpa pikir panjang wanita itu segera berlari menerjang Arion yang tengah berdiri di anak tangga.
Arion melepaskan pelukan Davina secara paksa. "Kenapa kau bisa ada di sini? Tahu dari mana?" tanyanya dingin.
"Apa yang aku tidak tahu soal dirimu? Sampai ke ujung dunia pun, aku akan berhasil menemukanmu, Sayang," jawab Davina percaya diri.
"Pulanglah, aku lelah seharian berkutat dengan pekerjaan." Arion bersiap naik kembali ke lantai atas.
"Sudah malam, aku juga tidak tahu mau tidur di mana. Jadi, di sini saja, ya?" Davina tiba-tiba merangkul lengan Arion dan memaksa ikut ke atas.
Arion memberontak, tetapi Davina menggunakan segenap kekuatannya untuk menahan pria itu.
...***...
Suara sirine mobil polisi terdengar membelah jalanan kota terpencil ini. Mereka sedang melakukan pengejaran terhadap sebuah mobil kijang kapsul yang berhasil kabur dari penyergapan. Mobil kijang tersebut bahkan nekat masuk ke jalan berlawanan arah demi menghindari pengejaran para polisi.
Perkataan Ben tidak main-main. Dibantu pihak kepolisian, pria itu memerintahkan seluruh anak buahnya agar segera mencari keberadaan komplotan Abiyan. Meski identitas mereka masih muda, tetapi komplotan tersebut dikenal licin dan pandai bersembunyi.
Tetapi berkat usaha para anak buah Ben, dalam sehari, lokasi persembunyian mereka yang berada di luar pulau jawa dapat ditemukan. Tak ingin kehilangan jejak, saat itu juga Ben memerintah seluruh anak buahnya untuk mengejar dan meringkus mereka. Sayang, komplotan itu langsung kabur begitu mengetahui keberadaan pihak polisi.
"Hati-hati, gobl0k!" teriak Bimo pada Jhon yang sibuk menghindari beberapa pengendara agar tidak bertabrakan. Di belakang mereka, suara sirine mobil polisi semakin keras terdengar. "Bang Biyan bisa ditelepon, nggak?" tanyanya pada Maria.
"Nomornya nggak aktif," jawab Maria seraya membanting teleponnya.
"Ahh! Anj**g tuh, orang! Lo sih, udah gua bilang waspada! Selesai perkara bukan berarti selesai juga tugas kita, tolol!" Bimo menghajar belakang kepala Dimas yang tengah duduk ketakutan di kursi belakang sembari memeluk laptopnya.
Mendengar teman-teman pria-nya ribut, Maria kontan berteriak. "Ini bukan saatnya bertengkar. Biarkan Bimo fokus menyetir. Kalau sudah berhasil lolos, baru kalian adu jotos sekalian sana!" bentak gadis itu. Ia mencoba menghubungi kembali nomor Abiyan menggunakan ponsel lain.
"Belok! Belok!" teriak Bayu ketika melihat sebuah jalan sepi yang tidak dilengkapi lampu penerangan. Tanpa pikir panjang Bimo segera membelokkan mobil mereka.
__ADS_1
BRAAAK!
Suara hantaman terdengar keras begitu mobil kijang kapsul yang mereka kendarai, bertabrakan dengan sebuah mobil SUV hitam yang tengah bersiaga di sana. Asap tipis mulai mengepul dari dalam kap mobil.
Beberapa polisi berpakaian preman turun dari dalam mobil SUV sembari menodongkan pistol. "Letakkan tangan kalian di atas kepala dan jangan bergerak!" teriak salah seorang polisi.
Kelimanya tidak bisa berkutik saat mobil polisi yang tadi mengejarnya tiba-tiba datang memblokir jalan. Dua buah mobil sedan mewah menyusul beberapa saat kemudian.
Polisi-polisi berpakaian preman tersebut berjalan perlahan menghampiri mobil kijang itu. Dengan kasar mereka membuka seluruh pintu dan menarik keluar orang-orang suruhan Abiyan. Tak lupa, beberapa barang bukti yang ditemukan di sana langsung diamankan. Seperti ponsel, laptop dan sejumlah senjata tajam.
Seorang kepala polisi memeriksa ponsel yang Maria gunakan dan menemukan sebuah nomor asing. Ia kemudian berjalan menghampiri pria bertubuh tinggi tegap, yang tengah berdiri di sebelah mobil sedan.
Mereka tampak sedang mendiskusikan sesuatu, sebelum akhirnya sang kepala polisi berteriak pada anak buahnya untuk segera membawa pergi para tersangka.
...***...
Abiyan dan Adhisty yang tengah asyik bermesraan di dalam apartemen mereka, terpaksa menghentikan kegiatan ketika mendengar suara bel berbunyi.
"Biarkan saja!" Abiyan kembali mendekap Adhisty dan menciumi lehernya mesra.
Adhisty yang risih dengan suara bel tersebut akhirnya mendorong Abiyan agar menjauh. "Takutnya itu Mama," ujar wanita itu sembari memakai dress dan ********** yang tercecer di lantai.
Adhisty keluar dari kamar menuju pintu depan. Tanpa melihat layar interkom, ia membuka pintu itu.
"Selamat Malam, Nona," Adhisty membelalakkan matanya saat mendapati tiga orang pria berseragam polisi berdiri di sana.
"Ma–malam, Bapak-bapak. Ada apa, ya?" tanya Adhisty terbata-bata. Perasaan tak enak mulai memenuhi batinnya.
"Siapa, Sayang?" tanya Abiyan dari dalam.
Mendengar suara Abiyan, ketiga orang polisi tersebut saling bertukar pandang. Mereka lalu menerobos masuk ke dalam apartemen, tanpa mengindahkan larangan wanita itu.
"Ada apa ini?" tanya Abiyan dengan raut wajah terkejut.
Salah seorang polisi mengeluarkan surat perintah penangkapan dan meminta Abiyan untuk ikut dengan mereka tanpa perlawanan. Bukannya menurut, pria itu malah memberontak dan berusaha kabur. Beruntung, polisi dengan tubuh paling tinggi berhasil membantingnya ke lantai.
"Anda memiliki hak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk berbicara dengan seorang pengacara, dan memiliki seorang pengacara yang hadir selama interogasi. Jika Anda tidak mampu membayar pengacara, satu akan disediakan untuk Anda dengan biaya pemerintah!" polisi tersebut membicarakan hak Miranda pada Abiyan sembari memborgol tangannya.
Adhisty hanya bisa menangis ketika sang kekasih diseret paksa keluar dari apartemen.
__ADS_1