Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Rencana lainnya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Abiyan sudah datang ke apartemen Erlina untuk memberitahukan rumor heboh yang tengah berkembang pesat di perusahaan milik keluarga Umbara, mengenai hubungan Arion dan Sekar. Pria itu bisa mendapatkan informasi tersebut dari salah seorang security yang ia sogok dengan sejumlah uang.


"Bahkan sampai ada rumor yang mengatakan, bahwa mereka sudah sering tidur bersama." Abiyan menghisap kembali rokoknya yang tinggal setengah.


"Separah itu?" Erlina terlihat sangat senang dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Ya. Kini Sekar sedang meminta kepala koordinatornya untuk mencarikan tempat baru." Pria itu menoleh pada sang kekasih. "Sayang, rasanya tidak mungkin kau tidak mendengar berita ini, bukan? Mengingat hampir semua karyawan mengetahuinya."


Adhisty terdiam sejenak. "Aku memang mendengar sedikit tentang itu. Hanya selentingan saja." Jawabnya jujur.


"Kenapa kau tidak mengatakannya pada Mama?" Erlina menatap tajam Adhisty.


"Kupikir itu tidak terlalu penting." Jawab wanita itu santai.


"Cih! Berita sekecil apapun soal mereka, tentu saja penting bagi Mama, bodoh!" sahut Erlina jengkel. "Apa lagi ini bisa Mama jadikan senjata ampuh untuk menjatuhkan Arion!"


Adhisty mengangkat bahunya cuek. Dia malas berdebat dengan sang ibu.


Sejurus kemudian, Erlina tertawa terbahak-bahak. "Baiklah! Kita akan manfaatkan rumor itu untuk menjatuhkan Arion dan menendang Sekar dari sisinya. Kita akan membuatnya memilih antara karir atau gadis kampungan itu!"


"Apa yang akan Mama perbuat kali ini?" tanya Abiyan penasaran.


"Lihat saja nanti. Yang jelas, Mama yakin dia akan lebih memilih gadis itu di atas segalanya!" Erlina tersenyum misterius pada anak dan calon menantunya tersebut.


...***...


Rani masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi bubur dan obat. Gadis itu meletakkannya di sisi kiri Sekar yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Makan dan jangan lupa minum obatmu. Mengerti?" titah Rani galak. Karena hujan-hujanan semalam, Sekar mengalami demam tinggi. Oleh sebab itu Rani melarangnya bekerja, meskipun panasnya sudah turun pagi ini.


"Aku selalu merepotkanmu, Ran. Semalam kau pun ikut hujan-hujanan. Apa kau baik-baik saja?" tanya Sekar khawatir.


"Aku sangat baik. Lagi pula, kau sakit bukan karena hujan juga, Ar. " Rani memandang Sekar prihatin.


Sekar tersenyum kecut. Rasanya memalukan sekali tinggal di rumah orang dan membuat sedikit keributan di sana. Secepat mungkin, dia harus segera pindah dari sana, agar tidak lagi merepotkan si empunya rumah.


"Terima kasih, Ran," ucap Sekar tulus.

__ADS_1


Rani menghampiri sahabatnya tersebut dan memeluknya erat. "Jangan khawatirkan apapun. Kau punya kami," ujarnya menguatkan.


Sekar mengangguk. Rani pun pamit untuk berangkat kerja.


Baru saja Sekar hendak memulai makan, ponselnya tiba-tiba berdering.


Sebelum mengangkat telepon, Sekar berdeham dan menepuk-nepuk pipinya terlebih dahulu, sebab yang meneleponnya saat ini adalah Dino.


"Assalamualaikum, Nduk," suara Bude Gayatri terdengar, begitu Sekar mengangkat teleponnya. Wanita paruh baya itu memang selalu menghubungi Sekar melalui ponsel Dino.


"Waalaikumsalam, Bude," jawab Sekar seriang mungkin.


"Kamu, kok, sudah beberapa hari ini ndak menelepon Bude, Nduk? Bude kepikiran."


"Maaf, Bude, aku lembur kerja terus, jadi pas sampai rumah langsung tidur." Jawab Sekar berbohong. Sekar tersenyum miris. Gadis yang sangat tidak menyukai kebohongan, akhir-akhir ini malah melakukan lebih banyak kebohongan, seperti layaknya sebuah hobi.


"Owalah, ta' kira kenapa. Tapi kamu sehat, toh?" tanya Bude Gayatri lagi.


"Nggih, Bude," jawab Sekar. "Bude sama Mbah bagaimana kabarnya?" tanya Sekar kemudian.


"Kami baik, Nduk. Kondisi Mbah juga sudah sehat. Jika dalam beberapa hari ke depan kondisi Mbah memungkinkan, maka Dokter akan mengijinkannya pulang." Bude Gayatri terdengar sangat ceria saat mengatakan hal demikian.


Mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk mengobrol ringan, sebelum akhirnya Bude Gayatri berpamitan duluan.


Sekar menjatuhkan tangannya ke pangkuan. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya selain tentang Arion. Yaitu, sikap Dino. Sepanjang telepon tadi, Dino sama sekali enggan berbicara padanya. Meski Sekar memintanya sendiri agar bisa bicara dengan Dino, pria itu malah pergi meninggalkan ruangan Mbah Bhanuwati menuju kantin.


Sejak peristiwa di rumah sakit waktu itu, jarak keduanya memang terasa sangat jauh. Dino memang masih membalas pesan singkat dari Sekar, tapi tidak dengan berbicara di telepon. Ada saja alasan yang dikeluarkan pria itu saat menolak berbicara dengan Sekar. Dan untuk sekarang, Sekar tidak dapat melakukan apapun untuk memperbaikinya, selain mengikuti apa mau Dino.


...***...


"Tolong antar sarapan ini ya, Nak," Bi Ida menyuruh Dini mengantar sarapan ke kamar Arion, sebab pria itu sedang sakit hingga tidak masuk kantor.


"Nggak perlu, Bu." Dari jauh Dini sudah melihat sosok Arion yang sedang berjalan menghampiri mereka. Pria itu menyapa Bi Ida, Dini dan beberapa maid yang ada di sana, sembari masuk ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil minum.


"Sarapan dulu, Pak," ujar Dini seraya membawa makanan dan obat yang diresepkan dokter ke meja makan yang letaknya tak jauh dari sana. Semalam, Bi Ida langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Umbara untuk datang ke rumah guna memeriksa kondisi Arion. Beruntung dia hanya mengalami demam biasa.


"Bu ...," Arion menghentikan minumnya dan melirik Dini sinis.

__ADS_1


"Din ...," tegur sang ibu dengan raut jenaka.


"Ck! Makan dulu sarapannya, Mas," Dini meralat ucapannya sembari memasang wajah ketus. Arion menghampiri meja makan dan mengacak pelan rambut Dini sebelum mendudukkan dirinya. Beberapa maid yang ada di sana tertawa kecil melihat interaksi manis tersebut. Rasanya suasana rumah ini sudah kembali hidup.


Tak berapa lama, suara bel rumah berbunyi. Dini dengan riang gembira menghampiri pintu dan mempersilakan Candra masuk.


"Pak," sapa Candra yang sedikit terkejut, mendapati si empunya rumah masih berada di sana dengan piyama tidurnya. Pria tanggung itu menghampiri Arion dan mencium tangannya.


"Makan dulu, Can," tawar Arion. Dia lalu menyuruh seorang maid untuk membawakan sarapan lagi.


"Saya sudah sarapan di rumah, Pak," tolak Candra halus. "Bapak tidak kerja?" tanya Candra penasaran.


"Tidak. Katanya sih, saya sakit, padahal saya merasa baik-baik saja," jawab Arion.


"Sakit apa, Pak?" Candra menelisik kondisi Arion yang nampaknya baik-baik saja. Hanya memang bibirnya saja yang terlihat sedikit pucat. "Dari pada sakit, Bapak lebih terlihat sedang putus asa!" celetukan Candra membuat Arion kontan tersedak.


DUAGH!


Candra mengaduh ketika sebuah tas menghajar punggungnya telak. Dini berkacak pinggang seraya menjewer telinga Candra. "Congormu!" bisik gadis itu geram.


"Adu–du–duh! Kenapa, sih?" tanya Candra seraya menahan tangan Dini agar tidak lebih beringas.


"Sudah, jangan banyak tanya! Ayo, berangkaaat!" serunya galak. Tanpa melepaskan jewerannya, Dini dan Candra mencium tangan Arion dan Bi Ida yang berada di dapur.


"Lepaskan, Din. Sakit loh, itu," Bi Ida menatap Candra prihatin.


"Biar nggak nakal, Bu!" sahut Dini.


Bi Ida menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menyodorkan dua buah kotak bekal untuk mereka. "Ini bekal, kalian. Jangan pulang telat," titah beliau.


"Iya. Assalamualaikum," pamit Dini.


"A–as–assalamualaikum," dengan terbata-bata, Candra ikut mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam." Arion tertawa kecil. Dia lalu terdiam seraya memperhatikan pantulan wajahnya dari piring yang telah kosong.


Bayangan akan kejadian semalam, tiba-tiba terlintas lagi di benak Arion. Rasa sakit yang sebelumnya berkurang, kini kembali terasa.

__ADS_1


Arion mengontrol napasnya, sembari mencengkram piyama yang dia kenakan sekuat tenaga.


"Sekar,"


__ADS_2