
Janji Erlina untuk diam dan hanya memperhatikan dari jauh hanyalah omong kosong belaka. Wanita itu sibuk berkeliling, menanyakan satu persatu hal yang bahkan, jika dijelaskan pun ia belum tentu mengerti. Kehadirannya benar-benar memecah konsentrasi Danu dan timnya.
"Jangan sentuh!" teriak Danu tiba-tiba, tatkala Erlina mendekati sebuah tabung kaca seukuran manusia yang terlihat kosong.
Mendapat teriakan dari bawahan Arion, Erlina melotot. "Ini hanya tabung kosong, dan jangan berani-beraninya meneriakiku, bodoh!"
Danu berusaha memasang wajah sebiasa mungkin. Dia menekan beberapa tombol pada hologram table yang berada tepat di depannya.
Sebuah robot virtual yang masih setengah jadi muncul dalam tabung tersebut. Ia adalah Earlene, yang desainnya sama persis menyerupai mendiang istri Danu.
"Tolong, tepati janjimu untuk duduk diam di sana." Danu menunjuk salah satu sofa nyaman yang biasa ditempati Arion.
"Aku tidak melakukan apa-apa selain menanyakan hal-hal yang aku tidak tahu. Itu suatu hal yang wajar, bukan?" ujar Erlina enteng.
Danu menarik napasnya yang terasa berat. "Anda memecah konsentrasi kami. Jadi, saya mohon untuk duduk di sana atau pergi dari sini sekarang juga."
Mendengar itu kontan saja Erlina tersinggung. Ia baru saja diusir secara halus oleh Danu. Tanpa menanggapi celotehan Danu, ia berbalik hendak menuju sofa.
Langkahnya namun terhenti saat salah seorang karyawan wanita berjalan menuju ke arahnya sembari membawa Ipad. Mata karyawan tersebut begitu fokus menatap benda pipih di tangannya. Erlina tersenyum sinis.
Tepat saat ia berada di sebelah Erlina, wanita itu pura-pura gontai dan menyenggol keras bahu karyawan tersebut hingga jatuh dan menimpa tabung kaca. Sontak saja benda itu langsung menghantam lantai dan hancur berkeping-keping.
"Grace!" semua orang yang berada di sana berlari menolongnya, termasuk Danu.
"Ipad-ku!" bukannya peduli pada tubuhnya yang jatuh di atas pecahan kaca, Grace malah menangis ketika melihat Ipad-nya yang berisi beberapa data Earlene, dalam keadaan mati total. Meskipun mereka memiliki cadangan data dan tabung kaca bisa dibuat lagi, tetap saja akibat ulah Erlina, mereka harus membuang-buang waktu yang berharga.
Ragif, salah seorang ahli IT segera membopong tubuh Grace dan berlari keluar menuju Klinik.
"Aku tak sengaja," kilah Erlina begitu melihat sorot kemarahan Danu padanya. Nyali wanita itu sedikit menciut, mendapati beberapa pasang mata menatapnya bengis.
"Ada apa dengan kalian? Sudah aku katakan bahwa aku tidak sengaja. Tundukan pandangan kalian, jangan kurang ajar! Ingat, aku adalah–" sebelum Erlina dapat menyelesaikan kalimatnya, Danu dengan penuh kekuatan menarik tangan wanita itu dan mendorongnya keluar dari laboratorium.
"Persetan siapa kau! Bagiku, kau hanyalah seorang wanita gila hormat yang suka mengganggu ketentraman kami semua!" hardik Danu sebelum masuk kembali ke dalam ruangan dan membanting pintu.
Erlina melotot. Ia tak menyangka seorang karyawan baru saja menghinanya. Wajah wanita itu merah padam. Dengan lantang ia meneriaki Danu dari balik pintu dengan kata-kata kasar.
...***...
Arion datang ke rumah utama dengan wajah dingin. Kentara sekali ia tengah menahan seluruh emosinya.
Begitu ia dan Aiden sampai di bandara, Danu menghubunginya dan menceritakan perbuatan wanita itu hari ini.
Ia yang merasa malu kontan saja meminta maaf pada Danu beserta seluruh tim.
"Tolong, jangan meminta maaf, Pak. Kami hanya ingin melapor, bukan ingin mendapatkan kata maaf." Kata Danu melalui telepon.
"Saya tahu. Namun biar bagaimana pun, permintaan maaf saya adalah sebuah keharusan." Hanya itu yang bisa Arion katakan.
__ADS_1
Pria itu lalu memerintahkan Aiden untuk langsung ke kantor, sementara ia pergi ke rumah utama guna menemui Erlina.
Tanpa permisi Arion langsung masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas.
Melihat raut wajah Tuan Muda mereka, tak ada seorang pun yang berani menyapa, termasuk Bi Ida. Ia tahu anak angkatnya itu tengah menahan kemarahan besar.
"Apa lagi yang dilakukan Erlina?" gumam Bi Ida.
Arion masuk ke dalam walk-in closet milik Erlina dan langsung membuka salah satu lemari berisi sepatu-sepatu mahal wanita itu. Dengan penuh emosi, Arion mengambil dan melempar semua sepatu-sepatu mahal tersebut ke tengah-tengah ruangan.
Salah seorang maid yang rupanya sedang membersihkan ruangan itu, kontan berlari keluar, ketakutan.
Arion kemudian mendatangi lemari tas Erlina dan melakukan hal yang sama. Begitu pun dengan lemari pakaiannya.
Arion melempar semuanya ke tengah-tengah ruangan hingga membentuk sebuah gundukan.
Tanpa basa-basi, ia mengambil pemantik dari saku kemejanya dan melempar pemantik tersebut begitu saja ke atas gundukan barang-barang Erlina. Adanya pakaian membuat api cepat menyala.
Derap langkah kaki yang sedang berlari terdengar kemudian.
Di ambang pintu ruangan, Erlina berteriak histeris begitu melihat sebagian besar koleksi-koleksi mahalnya sudah dibakar oleh Arion. Ia menyuruh dua orang maid yang mengikutinya ke sana untuk mengambil tabung pemadam kebakaran.
Erlina berlari menerjang Arion. Wanita itu mencengkram kuat-kuat kemeja anak tirinya itu seraya berteriak kesetanan, "KAU GILA, ARION! KAU GILAAAA!"
Arion tidak menggubris. Ia hanya menatap Erlina dingin. Erlina kemudian mengalihkan pandangannya pada kobaran api yang mulai membesar. Arion sengaja mematikan sensor api di ruangan itu.
Tak berapa lama, seorang maid datang membawa dua tabung pemadam. Erlina langsung merebut salah satu tabung dan memadamkan kobaran api tersebut.
Seluruh pakaian yang ada di gundukan itu hangus terbakar, sementara hampir setengah dari tas dan sepatu Erlina tidak dapat diselamatkan.
Wanita itu langsung terduduk dan menggali-gali gundukan itu, guna memisahkan barang-barang yang masih selamat. Ia tak peduli jika tangannya harus terluka oleh hawa panas yang mungkin masih tersisa.
"Ini baru permulaan. Aku tidak akan segan-segan melakukan hal lebih, jika kau berani mengusik kantorku!" ancam Arion sebelum melangkah pergi dari sana. Ia memang tidak ingin menghabiskan banyak tenaga untuk berdebat dengan wanita ular itu.
"B4JING4N! TUNGGU SAJA PEMBALASANKU ANAK SIALAAAN!" teriak Erlina sekuat tenaga. Air mata dan keringat mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Tunggu saja, Arion! Kau sudah menghabisi kesayangan-kesayanganku ... akan kuhabisi juga apa yang menjadi kesayanganmu!"
...***...
Bi Ida menghampiri Arion yang hendak keluar dari rumah. Beliau sudah mendengar keributan yang Arion ciptakan dari maid yang diperintahkan mengambil tabung pemadam kebakaran.
"Maaf, aku hanya bisa membuat gaduh, Bu," kata Arion lirih seraya mencium tangan Bi Ida.
"Kau pasti memiliki alasan tersendiri." Bi Ida tersenyum simpul. Ia yang telah mengenal Arion sejak kecil, tahu betul seperti apa sifatnya.
"Kau pasti enggan makan di sini, maka dari itu, Ibu buatkan beberapa bekal. Simpan di kulkas dan panaskan jika ingin di makan, ya?" Bi Ida menyerahkan beberapa kotak makan mewah yang sudah dibungkus rapi ke tangan Arion.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Aku pulang dulu." Arion menerima kotak makan tersebut lalu berpamitan padanya.
Sebelum benar-benar keluar dari rumah, pria itu berjalan menuju ruang tamu terlebih dahulu.
Ia mengambil foto mendiang ayah dan ibunya yang terletak di meja televisi, lalu mengelus lembut wajah kedua orang tuanya tersebut.
Rasa bersalah tiba-tiba hadir dalam benak Arion. Ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali mengunjungi makam mereka.
Arion tidak pernah memiliki keberanian untuk pergi ke sana. Oleh sebab itu, yang rutin mengunjungi makam dan mengurusnya adalah Aiden, Dini dan Bi Ida.
"Maafkan aku, Yah, Bu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih karena sudah membaca cerita saya sampai bab ini. Jangan lupa jejaknya ya, Kakak-kakak (Like, Fav, Rate 5 dan gift). Mudah-mudahan bab ini tidak sedatar bab-bab sebelumnya.
Sembari menunggu Sekar update, aku ada rekomendasi cerita dari salah satu temanku.
Silahkan mampir.
Terima kasih,
__ADS_1