Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Arion berhasil menelepon Sekar


__ADS_3

Suasana kantin kantor di lantai satu yang biasanya ramai, mendadak sunyi karena kedatangan CEO mereka. Arion memang belum pernah sekalipun menginjakan kakinya di sana. Mereka berhenti dari kegiatannya lalu berdiri guna memberi salam.


"Silakan dilanjutkan. Anggap saja aku tidak ada," titah Arion kepada mereka.


Suasana pun kembali ramai seperti biasa. Mata Arion menjelajahi seluruh bagian kantin yang sangat besar ini. Ditatapnya satu persatu orang yang ada di sana. Sementara itu, Aiden sudah mengantri di stand untuk mengambil makanan.


Dari kabar yang diperoleh Aiden, teman-teman Sekar akhir-akhir ini selalu makan di kantin kantor. Maka dari itu, Arion menggunakan kesempatan ini untuk datang menemui mereka.


Senyum pria itu terbit ketika netranya menangkap sesosok gadis berkuncir yang tengah duduk bersama kedua temannya. Setelah memastikan bahwa gadis itu lah yang sedang ia cari, Arion segera menyusul Aiden.


Setelah mendapatkan makanan, keduanya berjalan menuju meja Rani, Lastri dan Ningsih. Melihat bos besarnya menghampiri meja mereka, kontan ketiga gadis itu berdiri dari tempat duduknya.


"Boleh kami duduk di sini?" tanya Arion ramah. Lastri, Rani dan Ningsih saling melempar pandangan terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengangguk kaku.


"Saya tidak mengganggu, kan?" tanya Arion lagi.


"T–tidak, Pak," jawab Lastri tergagap.


Arion tersenyum kecil. "Santai saja. Silakan dilanjutkan makannya," pria itu mempersilakan ketiganya makan. Semua karyawan yang tengah makan di sana mulai berkasak-kusuk. Terang saja, mereka pasti keheranan melihat kedekatan Arion dengan dua orang OG dan seorang security wanita.


Baru saja Rani hendak memasukkan kembali makanannya ke dalam mulut, Arion tiba-tiba bertanya, "kalian tahu kabar Sekar?"


Rani meletakkan kembali sendok makannya. "Sudah kuduga, dia pasti ingin mengorek informasi dari kami!" batinnya ketus. Meski canggung, rasa kesal terhadap Arion masih tetap menggelayuti hatinya.


"Kudengar, dia sudah pulang ke kampung halamannya?" tak mendapat respon dari ketiganya, Arion mencoba bertanya sekali lagi.


"Iya, Pak," jawab Ningsih.


"Apa kalian masih sering berkomunikasi?" penasaran, Arion lagi-lagi mengajukan pertanyaan.


"Masih, Pak. Kami sering melakukan video call bersam–"


"Ning!" Tegur Rani. Matanya memelototi gadis itu. Tak seharusnya Ningsih membocorkan hal tersebut pada Arion.


"Ma–maaf," cicit Ningsih merasa bersalah.


Lastri menengahi keduanya. Gadis tomboy itu berkata pada Arion, bahwa Sekar mungkin tidak akan pernah kembali lagi menginjakkan kakinya di Jakarta. Ia juga mengatakan jika Sekar kini sedang sibuk mengurus bude dan neneknya.


"Lebih baik Bapak menghubungi Sekar sendiri," Lastri mengakhiri pembicaraannya.


"Dia tidak pernah mau mengangkat teleponku." Arion menghela napasnya.


"Bapak menelepon Sekar menggunakan ponsel sendiri?" tanya Lastri lagi. Arion menjawab pertanyaan Lastri dengan anggukan.


"Pantas saja. Kenapa tidak mencoba menggunakan ponsel lain? Seperti milik Pak Aiden misalnya." Lastri melirik Aiden yang tengah sibuk makan. Mendengar namanya disebut, Aiden menoleh ke arah mereka.


Arion terbelalak. Nyaris saja ia mengumpati dirinya sendiri. Betul juga apa kata Lastri. Kenapa selama ini ia tidak kepikiran?


"Kalau begitu, terima kasih," ucap Arion ramah. "Maaf sudah mengganggu makan siang kalian." Ia berdiri dari duduknya, dan pamit meninggalkan ketiga gadis itu, sembari membawa nampan miliknya yang sama sekali belum tersentuh. Aiden kontan mengikuti Arion dari belakang.


"Kenapa kamu malah ngasih saran sih, Las?" ujar Rani jengkel.


"Kalau tidak begitu, dia pasti akan selalu mengganggu kita terus, Ran," jawab Lastri.


Rani bergeming. Benar! Bisa-bisa gosip aneh merebak menimpa ketiganya.


Rani dan Lastri mengernyitkan kening mereka tatkala mendapati Ningsih tersenyum-senyum sendiri, seraya menatap kursi yang baru saja diduduki Arion.


"Kamu kenapa, Ning?" tanya Rani keheranan.


Sembari menopang dagu, gadis itu lantas berkata, "kalau dilihat dari dekat, ternyata Pak Arion lima ratus kali lipat lebih tampan, ya? Mana wangi banget. Dia sudah pergi saja wanginya masih nempel di sini. Sekar benar-benar gadis yang beruntung!" sorot matanya terlihat berapi-api.

__ADS_1


Lastri dan Rani kompak memutar bola mata mereka. Walaupun apa yang dikatakan Ningsih benar, tetapi lima ratus kali lipat rasanya terlalu berlebihan. "Lebay banget!" seru mereka kompak.


...***...


Arion menengadahkan tangannya di hadapan Aiden.


Tahu apa yang diminta Arion, Aiden menghembuskan napasnya. Saran Lastri benar-benar didengar baik oleh bosnya itu. Ia merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel dan memberikannya pada Arion.


Arion menerima ponsel Aiden dengan senang hati. Tanpa basa-basi, ia langsung mengusir Aiden keluar dari ruangan agar tidak mengganggu.


...***...


"Alhamdulillah," ucap Sekar senang. Gadis itu baru saja selesai menyuapi Mbah Bhanuwati dan membantunya meminum obat.


"Enak makanannya, Mbah? Rendang ini dibuatkan khusus oleh ibunya temanku." Sekar membersihkan mulut sang nenek dengan tisu kering. Berkali-kali dipanaskan membuat rendang buatan Bi Ida menjadi lembut, hingga memudahkan Mbah Bhanuwati memakannya.


Mbah Bhanuwati mengangguk-anggukan kepalanya. "Enak! Enak!" jawab sang nenek antusias. Sekar tertawa kecil.


"Aku ke dapur dulu ya, Mbah? Mbah tunggu sini, jangan ke mana-mana!" titah Sekar. Suaranya sedikit ditinggikan agar Mbah Bhanuwati bisa memahami.


Suara ponselnya yang diletakkan di atas meja dapur berdering keras ketika Sekar masuk.


"Siapa ini?" gumam gadis itu, mendapati nomor tidak dikenal tertera di layar ponsel. Takut kalau telepon itu merupakan telepon penting, Sekar memutuskan mengangkatnya.


"Assalamualaikum,"


...*...


Jantung Arion berdetak sangat keras begitu mendengar suara merdu Sekar yang sangat dirindukannya. Pria itu mematung seketika.


"Halo, siapa ini?" suara Sekar kembali terdengar.


"Orang iseng!" seru Sekar kesal. Ia hendak menutup teleponnya, tetapi Arion buru-buru mencegahnya.


...*...


"Sekar," panggil pria itu.


Sekar membelalakkan matanya, ketika suara yang sangat familiar terdengar di telinganya. Sekar tidak pernah menyangka bisa mendengar suara Arion lagi.


"Halo? Kau masih di sana?" tanya Arion.


Sekar mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar bergetar. Baru mendengar suaranya saja, hatinya sudah tak karuan. "Aku akan menutup telepon ini."


"Please, jangan! Kumohon, aku ingin mendengar suaramu, walau hanya sebentar," pinta Arion lirih.


"Sekarang kau sudah mendengar suaraku!" seru Sekar dingin.


"Bisakah kita bicara baik-baik saja?" tanya Arion.


Sekar bergeming. Matanya kemudian menoleh ke pelataran rumah, tempat neneknya duduk tadi. Sekar terbelalak, saat mendapati sang nenek sudah tidak ada di sana.


"Mbah?" teriak Sekar sembari berlari ke depan rumah. Mendengar teriakan Sekar, Arion sontak bertanya.


"Ada apa dengan Mbah?" tanyanya panik.


"Mbah tidak ada di rumah. Maaf, aku harus menutup telepon dulu," jawab Sekar sembari memakai sendalnya.


"Apa Mbah baik-baik saja?"


"Pasti. Beliau tidak pernah pergi jauh." Sekar mengucapkan salam lalu memutus sambungan telepon lebih dulu, tanpa menunggu jawaban Arion.

__ADS_1


...***...


Arion berdiri dari kursinya. Bergegas, ia keluar dari ruangan untuk meminta tolong pada Aiden, agar mencari kabar Mbah Bhanuwati dan Sekar di sana.


Raut wajah pria itu berubah datar, ketika tiba-tiba sesosok wanita cantik berpenampilan mentereng muncul tepat di hadapannya. Wanita itu mengenakan mini dress seksi yang sangat tidak cocok dipakai di kantor.


"Hello, Babe," sapa Davina ramah. Bibirnya yang merah merona tersenyum pada Arion.


Arion menghela napas malas. Dia tidak tahu kalau Davina sudah kembali ke Jakarta. Biasanya wanita itu rajin sekali memberi kabar, meskipun tidak pernah mendapat tanggapan darinya.


"Sayang," panggilan Davina membuat Arion mengernyit tak suka.


"Kau sudah pulang?" tanya Arion datar.


"Iya. Aku sudah pulang sejak dua hari lalu." Jawab Davina sumringah. Dia menggandeng tangan Arion.


"Tumben sekali tidak mengabariku?" tanya Arion lagi.


Davina yang mendengar pertanyaan Arion, kontan tertawa riang. Wanita itu tanpa malu-malu bergelayut manja di lengannya. Tak peduli Estiana kini memperhatikan mereka. "Akhirnya kau menyadari keberadaanku, ya? Aku sengaja tidak memberi kabar karena ingin mengejutkanmu." Jawab Davina.


Arion bergeming. Davina terlalu percaya diri, padahal maksud dari pertanyaannya adalah, agar ia bisa menghindari wanita itu.


"Omong-omong, kau mau ke mana tadi?" tanya Davina.


"Makan." Jawab Arion asal.


"Sayang, kau belum makan siang? Kalau begitu kita makan di bawah saja. Sekalian ajak aku berkeliling kantor." Davina menarik tangan Arion keluar.


Arion berusaha menolak, tetapi ancaman Davina yang mengatakan akan terus berada di kantor seharian, membuatnya tak bisa berkutik. Davina sengaja mengajak Arion berkeliling guna menunjukkan pada seluruh penghuni kantor, bahwa dia lah wanita yang akan menjadi pendamping bos mereka. Ia tidak ingin orang-orang menggosipkan kekasihnya itu dengan wanita lain, seperti Sekar, yang jelas-jelas tidak sederajat dengan keluarga Umbara.


...***...


Sekar mencari sang nenek ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi beliau. Tetapi hasilnya nihil. Mbah Bhanuwati tidak ada di manapun. Meski penyakitnya tidak seburuk dahulu, tetap saja ia merasa khawatir.


Sekar mulai mengingat-ingat tempat, yang sekiranya sudah lama tidak dikunjungi sang nenek. Pikirannya kemudian tertuju pada satu tempat, yang baru saja ia kunjungi seorang diri tadi pagi. Tanpa pikir panjang, Sekar berlari menuju ke tempat tersebut. Kebetulan, jaraknya hanya lima menit dari rumah.


Benar dugaan Sekar. Mbah Bhanuwati tampak sibuk membersihkan makam kedua orang tuanya, padahal makam tersebut sudah ia bersihkan. Gadis itu berjalan perlahan menghampiri beliau.


"Mbah di sini rupanya." Sekar duduk bersimpuh di sebelah sang nenek, yang kini tengah mengusap-usap nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya. Mereka memang dimakamkan dalam satu liang lahat.


"Mbah kalau mau ke sini bilang Sekar, ya? Nanti Sekar antar," ujarnya.


"Ismawan, Yati, kalian opo ndak kasian karo Sekar? Yang sudah tuwa itu Ibu, tetapi kenapa kalian yang pergi duluan?" gumam Mbah Bhanuwati sambil terus mengelus nisan anak dan menantunya. "Seharusnya, Ibu sing mangkat duluan!" tangan keriput beliau sesekali mengusap air matanya yang sudah mengalir.


Sekar tak kuasa menahan gejolak dalam dada, tatkala mendengar perkataan sang nenek. Mata gadis itu pun ikut basah.


Sekar menghembuskan napasnya diam-diam, demi mengontrol emosinya agar tetap stabil. Hampir setengah jam mereka di sana, sampai Mbah Bhanuwati sendiri yang berdiri dan mulai pergi meninggalkan makam.


"Mbah, jangan ngomong seperti itu lagi, ya? Sekar tidak ingin kehilangan Mbah dan Bude." Sekar merangkul lengan neneknya. Mereka berjalan perlahan agar tidak menginjak makam lain.


Mbah Bhanuwati hanya terdiam. Ia sama sekali tidak membalas perkataan Sekar. Wanita itu malah melepaskan rangkulan lengannya dan berjalan meninggalkan sang cucu.


"Tunggu, Mbah," seru Sekar yang jaraknya beberapa langkah di belakang Mbah Bhanuwati.


"Sekar,"


Gadis itu membelalakan matanya saat Mbah Bhanuwati menoleh ke belakang dan menyebut namanya.


"Iya, Mbah!" seru Sekar sembari berlari menghampiri Mbah Bhanuwati. Setelah sampai di hadapan sang nenek, beliau malah mengatakan sesuatu yang membuat Sekar hampir menangis.


"Sekar ke mana? Belum pulang dari sekolah?"

__ADS_1


__ADS_2