Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Akhir kisah


__ADS_3

Sekar berjalan menghampiri seseorang yang tampak memisahkan diri dari kerumunan para tamu. Sebatang rokok terselip di bibir pria itu, ketika Sekar sampai di sana.


"Mas Dino," panggil Sekar.


Dino tersentak. Ia nyaris saja menjatuhkan rokoknya. "Sejak kapan kau ada di sebelahku?" tanya pria itu.


"Kau terlalu banyak melamun," ujar Sekar.


Hening melingkupi keduanya sesaat. Dino sibuk menghirup rokoknya dalam-dalam, sementara Sekar sibuk memainkan gaun mewahnya.


"Aku ...,"


"Aku ...,"


Keduanya saling melempar tawa kecil, saat menyadari ucapan mereka nyaris bersamaan.


"Kau duluan saja." Dino mempersilakan Sekar untuk bicara duluan.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena Mas sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Terima kasih juga atas segalanya. Aku tak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu selama ini," ucap Sekar lirih.


"Dengan menerima pinanganku."


Sekar kontan terkejut mendengar jawaban Dino tiba-tiba.


"Aku ingin mengatakan demikian, jika kau bertanya jauh sebelum Arion mengambilmu duluan." Senyum simpul terpatri di bibir pria berusia 37 tahun itu. Senyum yang terlihat sangat menyedihkan di mata Sekar.


Sekar tertunduk lesu. "Aku tidak bisa–"


"Aku tahu. Kau hanya menganggapku tak lebih dari seorang kakak, bukan?" Dino menatap langit malam, seraya menghembuskan asap rokoknya.


"Maaf," cicit Sekar.


Dino mematikan rokoknya dan beralih menatap Sekar. "Jangan memasang wajah seperti itu. Walau hatiku pilu, ini hanya akan berlangsung sesaat. Melihat kebahagiaanmu adalah tujuan utamaku, Sekar."


Sekar mengangkat wajahnya. "Seperti apapun hubungan kita, kau tetap pria pertama yang kusayangi, Mas. Selamanya akan tetap begitu."


Kali ini, Dino benar-benar tersenyum lepas. Matanya kemudian menatap Sekar dalam-dalam. "Bolehkah, aku memelukmu?" pintanya canggung.


Sekar tertawa kecil. "Kenapa meminta ijin?" Gadis itu berinisiatif memeluk Dino duluan.


Di sini Dino yang baru saja dipatahkan hatinya, tetapi malah Sekar menangis di pelukan pria itu.


"Kenapa malah kau yang menangis?" tanya Dino.


"Aku mewakilimu menangis." Jawaban Sekar kontan membuat Dino tertawa nyaris terpingkal. Ia pun mengeratkan sedikit pelukannya.


Arion menatap keduanya dari kejauhan selama beberapa saat, sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia tak ingin mengganggu acara perpisahan mereka.


...***...


Acara selesai dengan sukses, semua tamu yang hadir sudah meninggalkan kediaman keluarga Umbara. Sementara untuk kerabat dan teman Sekar yang tinggal jauh di Luar Kota, Arion sudah mengosongkan satu lantai hotelnya, khusus untuk mereka.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Sekar memilih menghirup udara malam di balkon lantai dua rumah Arion. Matanya sesekali menatap ke bawah, tepat di mana pesta kecil itu dibuat. Beberapa maid masih terlihat sibuk merapikan tempat tersebut.


Sebuah pelukan hangat dari belakang, menyadarkan Sekar. Arion turut mengikuti arah pandang gadis itu.


"Sudah malam. Mengapa tidak meminta mereka untuk merapikan semua esok hari saja?" tanya Sekar.


"Aku sudah memintanya, tetapi mereka tak ingin menunda-nunda." Jawab Arion sembari sibuk menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang ada di rambut Sekar.


"Tadi aku berbincang sedikit dengan Mas Dino," ungkap Sekar.


"Dan memeluknya. Aku tahu," tawa Arion.


Sekar memutar tubuhnya tanpa melepaskan pelukan Arion. "Mas nggak marah?" tanya gadis itu penasaran.


"Buat apa? Seluruh dunia sudah tahu, bahwa kau adalah milikku," ujar Arion seraya mengecup lembut dahi Sekar.


Sekar tertawa mendengar perkataan Arion yang berlebihan.


"Jangan tertawa terlalu lebar!" seru Arion tiba-tiba.


"Eh, kenapa?"


"Kau sangat cantik kalau tertawa, dan itu membuatku tak sabar menunggu tiga bulan lagi." Sebuah seringai terpatri di wajah tampan pria itu.

__ADS_1


Sekar terperanjat. Tiga bulan lagi adalah tanggal pernikahan yang ditentukan (paksa) oleh Arion.


Sekar memajukan bibirnya.


"Jangan majukan bibirmu!" pekik Arion.


"Kenapa lagi, sih?" ujar Sekar jengkel.


"Ngambekmu itu sangat cantik! Hmm, kalau begini terus, bagaimana jika acara pernikahan kita dimajukan bulan depan saja?" tanya pria itu kemudian. "Ahh, tidak! Minggu depan saja. Oke?"


"MAS!"


Melihat kepanikan Sekar, sontak membuat Arion tertawa lepas. Tawa yang ternyata sangat merdu di telinga Sekar. Selama mengenal pria itu, ia sama sekali belum pernah mendengar Arion tertawa selepas itu.


Sekar bahagia bisa menemukan pria yang mau menerima segala kekurangan dirinya. Ia berjanji untuk meraih kebahagiaan bersama Arion. Ia harap, tak akan ada lagi air mata kesedihan yang menghiasi hidup mereka.


Sebuah kecupan lembut membuat tawa Arion terhenti. Tentu saja ia terkejut mendapati Sekar mengambil inisiatif duluan.


Tak ingin kehilangan kesempatan, Arion membalas ciuman gadis itu lebih dalam. Kali ini Sekar tidak menghindarinya lagi. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Arion dan memperdalam ciuman mereka.


...***...


3 bulan kemudian.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ananda Arion Raditya Umbara bin Dewandaru Umbara dengan Sekar Ayu Parmaditha binti almarhum Ismawan, dengan maskawinnya berupa seratus gram emas dan uang sebesar seribu empat ratus dua dollar, dibayar tunai!”


"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Ayu Parmaditha binti Ismawan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai!" dalam satu tarikan napas, Arion berhasil melafadzkan ijab qobul dengan lancar.


Para tamu undangan yang datang kompak meneriakkan kata, 'sah', disusul ucapan alhamdulillah. Sang wali hakim kemudian membacakan do'a setelah akad nikah, sebelum akhirnya meminta Sekar dan Arion menandatangani buku nikah.


Dini mengantarkan sebuah kotak berisi cincin kawin untuk kedua mempelai.


Sekar menghapus sedikit air matanya yang sudah mengalir sejak pembacaan akad nikah. Ia kini tengah berusaha menahan debaran jantungnya agar tidak semakin menggila. Tangannya yang gemetaran membuat gadis itu sulit menyematkan cincin kawin di jari manis Arion.


Arion pun sama gugupnya, tetapi ia lebih dapat menguasai diri.


Selesai memakaikan cincin, Sekar mengambil tangan Arion dan mencium tangannya. Lagi-lagi, air mata tumpah membasahi pipi gadis itu.


Setelah Sekar melepaskan tangan Arion, pria itu kemudian memegang ubun-ubun Sekar seraya melafalkan do'a pengantin baru, sebelum akhirnya mencium lembut kening sang istri tercinta.


Suasana terasa begitu sakral. Para tamu undangan turut mendo'akan kedua pengantin agar hidup bahagia. Apa lagi mereka tahu, bagaimana lika-liku perjalanan keduanya sebelum sampai di kursi pelaminan.


Setelah ijab qobul selesai, mereka beristirahat sejenak sembari berganti pakaian. Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian prosesi adat jawa. Baru pada malam harinya, resepsi dengan nuansa modern dilaksanakan.


Meski lelah, Sekar tak dapat menahan rasa bahagianya. Saat ini ia tengah berada di dalam kamar hotel. Begitu acara selesai Sekar langsung pamit untuk beristirahat, sementara Arion masih harus menemani beberapa kolega yang datang sedikit terlambat, sebelum akhirnya menyusul Sekar ke kamar.


"Capek, ya?" tanya Arion sembari memijit pundak Sekar yang terasa berat. Gadis itu baru saja selesai melepas aksesoris di kepalanya.


"Sedikit." Jawab Sekar.


Arion tersenyum lalu memeluk gadis itu seerat mungkin. "Terima kasih banyak istriku," ucap Arion. "berjanjilah padaku, kita akan terus berjalan beriringan, sampai maut yang datang memisahkan kita berdua."


Sekar membalas pelukan Arion sama eratnya. "Aku berjanji," jawab gadis itu.


"Aku pun." Arion mencium pipi Sekar. Sekar membalas ciuman Arion dan meminta ijin untuk mandi duluan. Dengan mengangkat sedikit gaunnya, ia berjalan menuju ke kamar mandi.


"Tidak ingin kubantu?" tawar Arion dengan nada jenaka.


Seolah memahami arti sebenarnya dari ucapan sang suami, Sekar mempercepat langkahnya ke kamar mandi.


Ia pun mulai melepas lapisan gaunnya yang sangat rumit di sana. Butuh segenap usaha sampai Sekar berhasil membuka semua lapisan, dan hanya menyisakan gaun dasarnya saja.


Sekar berusaha memanjangkan tangannya agar dapat membuka ritsleting gaun pengantin yang ia pakai. Namun sangat sulit. Ia menggigit bibirnya, menimbang-nimbang, apakah harus meminta bantuan Arion.


"Malu-maluin banget, sih!" batin Sekar.


Gadis itu kemudian membuka sedikit pintu kamar mandi. Rupanya Arion sudah berganti pakaian dan tengah menonton televisi.


"Mas," panggil Sekar dengan suara rendah.


Dirasa suaranya terlalu kecil, Sekar memanggil pria itu sekali lagi. "Mas!" kali ini ia mengeraskan suaranya


Arion menoleh. "Sudah selesai?" tanya pria itu.


Sekar menggeleng. Ia melambaikan tangannya, meminta Arion datang menghampiri.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arion begitu sampai di hadapan Sekar.


Bukannya menjawab, Sekar malah melipat kedua bibirnya.


"Kenapa, kok, belum mandi?" tanya Arion sekali lagi.


"Anu, aku mau minta tolong," pinta Sekar malu-malu.


Arion menaikkan sebelah alisnya. "Minta tolong apa?"


Tanpa menjawab, Sekar memutar tubuhnya dan memperlihatkan ritsleting gaunnya yang belum terbuka.


Arion tertawa kecil. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan pintunya terbuka. "Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya pria itu.


"Malu!" jawab Sekar cepat.


Arion tertawa. Ia pun membantu Sekar menurunkan ritsleting gaun tersebut.


Tak ingin rambut panjangnya tersangkut ritsleting, Sekar menyampingkan rambutnya hingga leher jenjang gadis itu terlihat.


Melihat leher indah sang istri, Arion sontak menghentikan gerakannya. Desir halus menggelitik jiwa Arion untuk membelai lembut leher tersebut.


Arion memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke leher sang istri. "Kau sangat cantik," puji Arion mesra. Ia membelai lembut leher jenjang Sekar, sembari sesekali mengecupnya ringan.


Sekar terkesiap atas perlakuan sang suami. Gadis itu hanya bisa berdiri kaku tanpa mampu berkata-kata.


Mengetahui tak ada perlawanan dari Sekar, membuat Arion semakin berani menciumi leher belakang istrinya. Tangannya yang semula berhenti, kembali membuka ritsleting gaun itu sampai ke dasar.


Arion meneguk ludahnya, ketika mendapati punggung mulus sang istri terpampang di sana. Ia menggenggam bahu Sekar dan menurunkan gaun tersebut dengan sangat hati-hati, hingga bahu jenjang sang istri terbuka.


Sekar menggigit bibirnya sekuat mungkin. Ingin rasanya ia melawan, tetapi tubuhnya sama sekali tidak mau bergerak.


Jantung gadis itu berdebar tiga kali lipat lebih cepat, saat Arion mulai menciumi kedua bahunya, hingga ke punggung.


"Aku mencintaimu, Sekar Umbara," ucap Arion dengan suara sedikit serak.


Sekar membuka mulutnya. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia pun membalas ucapan sang suami. " ... aku juga mencintaimu, Tuan Raditya Umbara,"


Arion membalikkan tubuh sang istri dan menutup pintu kamar mandinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


..."Aku mencintaimu, bukan karena siapa kamu. Melainkan, karena menjadi apa diriku saat bersamamu."...


...-Roy Croft-...


...-TAMAT-...


Akhirnya selesai juga cerita ini! πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Terima kasih banyak untuk para pembaca setia saya yang selalu menunggu cerita ini dan sudi membacanya sampai tamat.


Terharu rasanya, saat ada yang mau membaca karya saya yang tidak seberapa ini.


Maaf jika sekiranya, selama saya menulis ada beberapa hal yang terlewat dan kurang memuaskan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi saya juga sadar, bahwa saya hanya manusia biasa yang lebih banyak lupanya dari pada ingatnya. 😁


Jangan ke mana-mana ya, Kakak-kakak semua. Karena masih ada ekstra part yang akan hadir nanti. 😍


Oh iya, satu lagi. Semoga kalian masih berkenan menunggu karya baru saya yang akan dipublish beberapa hari lagi. (Berharap sekali kalian mau mampir, favoritkan, like, rating, gift, dan membaca karya baru saya tersebut. 😭😭❀️)

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih banyak semua. Kurang lebihnya, saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya.


Saya mencintai kalian. πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈ


__ADS_2