Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Ketika Cinta diuji


__ADS_3

Hari ini beberapa tukang bangunan datang ke rumah Sekar. Sejak kemarin Arion bersikeras untuk memperbaiki rumah Sekar karena ada beberapa bagian yang mulai rapuh. Bahkan, ada bagian-bagian dinding yang sudah bolong dan lepas anyaman bambunya. Rumah semi permanen seperti ini memang seharusnya diganti setiap beberapa tahun sekali, tetapi karena keterbatasan biaya Sekar tak pernah melakukannya. Masih bisa tidur tanpa kepanasan dan kehujanan saja dia sudah sangat bersyukur.


Sekar awalnya menolak. Ia tak ingin berhutang budi lagi pada Arion. Bayangkan saja, sudah berapa banyak biaya yang pria itu gelontorkan hanya untuk dirinya. Namun berkat bujukan Bayu dan para sahabatnya, gadis itu akhirnya menyetujui kemauan Arion.


Selagi rumah direnovasi, Sekar bersama sepupu dan sahabat-sahabatnya pindah ke sebuah rumah sewaan yang berada tak jauh dari Kedai Mon Amour dan kantor Umbara.


Beberapa tetangga yang mengetahui kepindahan Sekar sementara, keluar dari rumah untuk membantu gadis itu.


"Beruntung sekali ya Sekar, punya calon suami sebaik itu, jadi ada yang menjaganya sekarang. Mana wong sugih. Mudah-mudahan saja mereka segera menikah." Sekar pura-pura tidak mendengar saat di antara mereka ada yang sibuk membicarakan dirinya.


Sekar hanya memejamkan matanya. Ia memang sudah mengetahui soal berita tentang Arion dan dirinya di desa ini, dan Sekar tak ingin memusingkan hal tersebut. Kendati demikian, hatinya tetap tidak merasa nyaman ketika mereka melihat status sosial Arion juga.


...***...


Setelah sekian lama berusaha, Adhisty akhirnya bisa bertemu dengan Abiyan di ruang kunjungan narapidana. Pria itu berkenan menemui Adhisty karena biar bagaimanapun, perasaan cinta yang ada pada dirinya tetaplah ada.


Adhisty tersenyum sendu menatap kondisi Abiyan yang sepertinya kehilangan beberapa kilogram bobot tubuhnya. Ingin sekali ia menyentuh wajah kekasihnya itu, tetapi sebuah dinding kaca besar menghalangi mereka.


"Kamu tidak makan, makanan yang aku bawa?" tanya Adhisty memulai pembicaraan.


Abiyan terdiam. Matanya sibuk menelisik wajah Adhisty yang tampak berbeda. "Lingkar matamu menggelap. Kau banyak lembur atau banyak menangis?" bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya.


Mendengar hal tersebut Adhisty refleks menyentuh bawah matanya. "Aku banyak lembur," jawab wanita itu sembari tersenyum.


Abiyan menghembuskan napasnya pelan. "Aku memakan semua bekal darimu, dan membagi beberapa dengan teman satu selku." Pria itu memasang senyum simpul yang terasa hambar di mata Adhisty.


Hening melingkupi keduanya sesaat, sebelum akhirnya Adhisty kembali bersuara. "Aku ... melakukan sesuatu hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu."


"Apa?"


"Soal Mama." Jawab Adhisty. Meski senyum manis terpampang setelah mengatakan hal tersebut, Abiyan tetap dapat melihat sorot mata kesedihan terpatri di sana.


Seolah dapat menebak apa maksud perkataan Adhisty, pria itu pun bertanya, "walau itu harus menghancurkan kebahagiaanmu sendiri?"

__ADS_1


Adhisty terlihat menarik napasnya dengan berat. "Kebahagiaan seseorang telah hancur lebih dulu." Setetes air mata mengalir dari netra wanita itu.


Mendengar jawaban demikian, Abiyan kontan termangu. Ingatan akan Adhisty yang sering mencoba menghentikannya untuk bekerja sama dengan Erlina tak pernah ia gubris. Sebab biar bagaimanapun, ia hidup di bawah kaki ibu dari kekasihnya itu.


Abiyan pun tak bisa sepenuhnya menyalahkan Erlina. Sebab sifat keserakahan yang sudah mendarah daging, serta jiwa tak mau kalah, membuat ia dengan senang hati berkomplot dengan Erlina untuk menghancurkan hidup Arion.


Seulas senyum tulus yang belum pernah Adhisty lihat, terukir di wajah tirus Abiyan. Pria itu mengangkat tangannya dan menyentuh kaca yang menghalangi mereka berdua. Adhisty turut melakukan hal yang sama.


"Berhentilah menemuiku. Aku bukan pria baik-baik yang pantas mendampingimu," ujarnya kemudian.


Adhisty spontan menggelengkan kepalanya. "Aku akan menunggumu. Tiga tahun bukanlah waktu yang lama." Sorot mata wanita itu diliputi keyakinan. Hidupnya jelas tak akan berarti lagi jika ia harus kehilangan Abiyan juga.


Abiyan terdiam. Dahulu, ia mengincar Adhisty tak lain hanya karena harta keluarganya saja. Namun seiring berjalannya waktu, Abiyan mengerti bahwa Adhisty memiliki arti yang jauh lebih penting dan lebih berarti di hidupnya.


Jauh dari dalam lubuk hati pria itu, ia tak pernah sedikit pun mengharapkan perpisahan. Namun ia sadar, hidup Adhisty harus terus berjalan. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat.


Tanpa berkata apa-apa, Abiyan berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan.


Adhisty sama sekali tidak menahan Abiyan. Ia hanya terdiam sembari menatap kepergian kekasihnya itu hingga menghilang di balik pintu.


...***...


Mansion mewah keluarga Baskoro tiba-tiba diwarnai kericuhan akan kedatangan empat unit mobil polisi. Mereka berusaha merangsek masuk ke dalam rumah saat para penjaga mencoba menghalang-halangi.


Baskoro yang hendak berangkat untuk menemui rekan bisnisnya segera membatalkan pertemuan itu, saat mengetahui dari salah seorang penjaga, bahwa kedatangan mereka adalah untuk mencari keberadaan putri semata wayangnya, Davina.


"Katakan yang sejujurnya, apa yang telah kau lalukan selama di sini, sampai para polisi itu mengincarmu?" tanya Baskoro tajam. Pria itu berhasil menerobos masuk ke kamar Davina menggunakan kunci cadangan, setelah Davina menolak membukakan pintu kamar.


Davina yang ketakutan hanya bisa meringkuk di atas ranjang tanpa mengindahkan pertanyaan sang ayah.


"Papa ijinkan kau kembali ke Indonesia untuk berlibur, bukannya berurusan dengan pihak kepolisian!" seru Baskoro.


"VINA!" teriak Baskoro saat tidak mendapat jawaban dari sang anak. Suaranya yang menggelegar membuat wanita itu kontan berteriak histeris. Ia meminta tolong pada sang ayah untuk melindunginya dari para polisi.

__ADS_1


"Jawab dulu! Apa yang telah kau lakukan, Davina?" tanya Baskoro. Kali ini ia merendahkan nada suaranya.


Tubuh Davina mulai bergetar hebat. Sembari menangis dan terbata-bata, ia pun mengakui perbuatan kejinya beberapa hari lalu, kepada Baskoro.


Baskoro yang mendengar pengakuan Davina sontak saja terkejut. Pria paruh baya itu bahkan langsung tersungkur ke lantai detik itu juga. "Papa mendidikmu agar menjadi manusia beradab!" teriaknya. Bayangan akan sosok Davina yang baik di mata Baskoro langsung buyar seketika. Sang anak memang memiliki sifat yang serakah dan sombong, tetapi bukan berarti ia bisa dengan tega melakukan pembunuhan.


"Jangan salahkan aku! Ini semua karena Arion yang sudah menolakku, Pa!" Davina berteriak sambil menjambaki rambutnya.


Mendengar hal tersebut, Baskoro terperangah. "Jadi, hanya karena seorang pria, kau sampai tega menghilangkan nyawa orang? Berkali-kali Papa memintamu melupakannya, tetapi kau masih saja berharap pada pria itu? Otakmu di mana, hah!" suara Baskoro kian meninggi. Pria paruh baya itu menatap sang anak penuh kekecewaan.


Bersamaan dengan itu, empat orang polisi didampingi tiga orang pengawal rumah Baskoro berhasil masuk ke dalam mansion dan naik ke lantai tiga, tempat keduanya berada.


"Maaf, Tuan, mereka memaksa masu–"


Baskoro mengisyaratkan pada para pengawalnya untuk diam. Ia pun berdiri dan menghampiri para polisi itu di luar kamar Davina.


"Apa yang membuat Bapak-bapak terhormat ini tiba-tiba menerobos masuk ke rumah saya hingga menyebabkan kegaduhan?" tanyanya dengan suara tenang.


"Maaf telah mengganggu kenyamanan Anda. Kami dari unit Jatanras Polda Metro Jaya mendapat perintah penangkapan atas nama saudari Davina Rahayu Widodo, yang diduga telah melakukan tindak pembunuhan pada tanggal 28 mei lalu di Kota K." Polisi tersebut mengeluarkan surat perintah penangkapan dan menunjukannya pada Baskoro.


Baskoro menerima surat tersebut dan membacanya. Pria paruh baya itu berusaha menenangkan debaran jantungnya dengan menarik napas dalam-dalam.


"Jika Anda berniat menghalangi kami, maka–"


"Silakan bawa dia ke kantor polisi." Tanpa disangka, Baskoro memotong ucapan sang polisi dan berkata demikian.


"Pa!" teriak Davina dari dalam kamar. Matanya menatap horor sang ayah yang malah tega membiarkan dirinya ditangkap.


Mendapat lampu hijau, tanpa basa-basi tiga orang polisi yang berdiri di belakang langsung masuk ke kamar Davina dan memborgol wanita itu. Sekuat tenaga Davina berusaha memberontak seraya mengumpat kasar. Ia juga meludahi salah seorang polisi yang berdiri paling dekat dengannya.


Baskoro hanya bisa menatap putri semata wayangnya yang tengah digelandang paksa keluar dari kamar. "Tolong, jangan sakiti putriku," ucapnya dengan suara parau.


Polisi-polisi tersebut menjawab ucapan Baskoro dengan sebuah anggukan. Mendengar itu, air mata Davina mengalir semakin deras. Ia kembali berteriak-teriak seperti orang gila. Kakinya bahkan menendang betis salah seorang polisi, hingga akhirnya digendong paksa sampai ke mobil.

__ADS_1


Karena kejadian yang Davina lakukan berada di luar Jakarta, wanita itu pun rencananya akan segera dibawa ke Kota K untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


__ADS_2