
Tiga buah mobil sedan hitam memasuki area sebuah pabrik kosong. Mengetahui gerbang besar pabrik tersebut dalam kondisi terbuka, Aiden yang memimpin di depan segera melajukan mobilnya menuju bangunan paling belakang.
Bersama keenam orang suruhan Arion, Aiden turun dari mobil dan masuk ke dalam gudang kosong tersebut. Bau menyengat dari asap rokok dan minuman beralkohol, yang bercampur menjadi satu dengan debu serta karat langsung menyerbu indera penciuman mereka.
Aiden sempat terbatuk sejenak dan mengibas-ngibaskan udara di sekitar wajahnya.
"Si4l!" umpat pria itu, begitu mengetahui orang-orang itu telah pergi. Hanya ada tiga buah komputer lama yang tersisa di sana dalam kondisi hancur lebur. Selebihnya, tumpukan sampah makanan sisa, botol minuman beralkohol dan puntung rokok berserakan di mana-mana.
Aiden berjalan mendekat ke arah salah satu komputer yang hancur dan mendapati sepuntung rokok yang masih menyala di lantai, dekat dengan meja komputer.
"Sepertinya mereka belum pergi jauh, Pak, kita harus mengejarnya!" seru salah seorang suruhan Arion.
Aiden menginjak puntung rokok tersebut guna mematikan baranya. "Biarkan saja dulu," ucap pria itu. Matanya menerawang, memerhatikan seisi gudang. "Mereka tidak akan bisa pergi jauh." Sambungnya dengan nada dingin.
...***...
"G0bl0k lo, semua!" hardik Abiyan sembari menempeleng satu persatu kepala orang-orang suruhannya yang tengah bersimpuh di tanah.
Abiyan merendahkan tubuhnya ke salah seorang dari mereka yang tampangnya paling sangar dan urakan, Bimo. Pria itu memandang Bimo bengis, seolah-olah siap menerkam laki-laki muda itu kapan saja.
"Gua bilang pindah alamatnya tiap beberapa jam sekali! Kita semua bukan lagi berhadapan sama orang sembarangan, t0l0l!" teriak Abiyan tepat di telinga Bimo, membuat laki-laki itu sedikit terperanjat namun tak berani menjauhkan diri.
Abiyan menjambak rambut Bimo, memaksanya untuk mendongak. "Jangan mentang-mentang lo berhasil di tempat kerja gue yang dulu, jadi nyepelein tempat ini!"
Bimo meringis perih. Maria, gadis berperawakan tomboy, reflek berdiri dan menghampiri Abiyan. Ia menggenggam tangan Abiyan dan memohon padanya untuk melepaskan Bimo, kekasihnya. "Bang, tolong lepasin cowok gue, kita minta maaf, kita janji nggak akan ngelakuin kesalahan lagi," pinta gadis itu.
Abiyan memicing sinis sebelum akhirnya melepas kasar rambut Bimo, hingga pria muda itu terjerembab. Maria kontan menolong kekasihnya tersebut untuk bangun.
"Gue ampunin kali ini. Sekarang, pergi lo semua ke tempat yang jauh! Jangan sampai mereka ngendus keberadaan kita lagi. Ngerti?"
Kelima orang tersebut menganggukan kepalanya serempak. Abiyan langsung meninggalkan mereka dengan bersungut-sungut.
Ia harus merahasiakan ini semua dari Erlina dan Adhisty. Jangan sampai keduanya mendengar kabar ini, terutama Erlina, wanita gila yang tidak akan segan-segan menghajar siapapun hanya demi kesenangannya semata.
...***...
Drrrt ... drrrt ...
Ponsel Aiden bergetar tatkala ia hendak kembali ke mobilnya. Pria itu berhenti untuk mengambil ponselnya dari kantong kemeja.
Melihat nama Arion tertera di layar ponsel, ia serta merta mengangkat telunjuknya ke bibir, memberi isyarat pada para bodyguard agar tidak bersuara.
__ADS_1
"Iya, Pak,"
"Di mana kau?" tanya Arion.
"Saya sedang di rumah, Pak," jawab Aiden dengan nada setenang mungkin.
"Aku sedang berada di rumah Bi Ida, kemarilah," pinta Arion.
Aiden mengernyitkan keningnya. "Bukankah di sana ada Nona Sekar?" tanya pria itu.
"Lalu?"
"Yang dia tahu, aku adalah Bapak, kan?" tanya Aiden bingung. Masalahnya, kalau ia ke sana, bukannya bisa-bisa mereka akan ketahuan telah bertukar identitas?
"Justru itu. Aku mengaku bahwa aku dekat dengan CEO kita, tapi dia tidak percaya. Kau tahu, dia mengira aku telah memanfaatkan kebaikan seorang CEO!" seru Arion. Kentara sekali suaranya terdengar jengkel. Mendengar Bosnya kesal, Aiden sontak menarik sudut bibirnya sedikit.
"Sudah, jangan banyak alasan. Cepat kemari!" sambung Arion.
"Baik, Pak."
...***...
"Habis telepon siapa, Mas?" tanya Sekar. Gadis itu menghampiri Arion yang tengah berdiri di depan rumah sembari membawa makanan ringan dan teh.
Sekar mengernyitkan keningnya. Tak ingin bertanya lebih lanjut, ia memilih duduk dan menyuruh Arion meminum tehnya.
"Ibu dan Dini, mana?" tanya Arion.
"Ibu tidur, sepertinya Beliau lelah sekali, sedangkan Dini sedang belajar." Beritahu Sekar.
"Berarti ...," Arion tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar. Jarak mereka kini hanya beberapa centimeter saja.
"Mas ... ngapain?" tanya Sekar dengan raut wajah panik. Gadis itu buru-buru ingin menjauhkan wajahnya dari Arion. Namun sebelum Sekar berhasil melakukannya, Arion sudah lebih dulu mendaratkan sebuah ciuman ringan di pinggir bibir Sekar.
Detak jantung Sekar kontan bergemuruh tak karuan. Gadis itu mematung, matanya membelalak lebar karena terkejut.
Melihat Sekar mematung, Arion malah semakin mendekatkan dirinya. Ia berjuang mati-matian agar tidak terlihat gugup, padahal detak jantungnya juga tak kalah berdebar.
Tepat saat Arion hendak menempelkan bibirnya pada bibir Sekar, gadis itu reflek memalingkan diri.
"Ada Ibu dan Dini di dalam. Rasanya, seperti kurang pantas. Maafkan aku," ujar Sekar seraya menunduk. Ia takut Arion akan marah padanya karena telah berani menolak. Lagi pula, ini adalah hal baru baginya. Tak dapat ia pungkiri, bahwa ada sedikit perasaan takut hinggap dalam hatinya.
__ADS_1
"Kalau Mas mau marah, silakan, aku–" suara tawa kecil memutus kalimat Sekar. Gadis itu mengangkat kepalanya. Rupanya, Arion tengah tertawa lembut.
"Aku yang seharusnya minta maaf," ucap pria itu. "Aku akan menunggumu sampai kau siap, bolehkah?" tanyanya kemudian.
Sekar mengangguk malu. Wajahnya yang sudah semerah tomat membuat Arion mengacak rambutnya gemas.
...***...
Erlina meneliti lembaran demi lembaran foto yang didapat dari Jane. Foto-foto tersebut adalah foto rumah dan keluarga Sekar. Ada juga beberapa orang terdekat gadis itu di kampung.
"Cih! Benar-benar orang rendahan!" cibir Erlina. Matanya menatap jijik kumpulan foto-foto tersebut. "Aku harus menjauhkan gadis itu dari Arion. Jangan sampai gadis kampungan itu merebut seluruh harta keluarga Umbara. Dari pada bersama dia, lebih baik Arion bersanding dengan Davina, agar Perusahaan dua keluarga tersebut bisa bersatu. Dengan begitu, pundi-pundi uang akan semakin melimpah, dan disaat itulah aku akan menyingkirkan bocah busuk itu!" Erlina menatap tajam salah satu foto dan meremasnya kuat-kuat.
"Apa yang akan anda lakukan, Nyonya?" tanya Jane yang berdiri tegap di hadapan Erlina.
Erlina tersenyum sinis lalu berkata, "Akan kukembalikan gadis itu ke habitatnya!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah setia mendukung karya abal-abalku. Jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya ya, Kakak-kakak, biar aku makin semangat upnya. Gift-giftnya juga dengan senang hati aku terima ... hihihi.
Oh iya, aku mau rekomendasiin karya salah seorang temanku.
Ceritanya dijamin bikin nagih. Jadi jangan lupa mampir ke lapaknya juga ya, Kakak-kakak semua.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam cinta dariku,