
Tiga tahun sudah Arion dan Sekar mengarungi bahtera rumah tangga. Ada begitu banyak suka dan duka yang sudah mereka lewati selama tiga tahun belakangan ini. Tak ada jalan yang mulus, semua harus mereka tempuh dengan penuh perjuangan, termasuk soal anak.
Setelah menikah, Arion dan Sekar bersepakat untuk menunda momongan, agar Sekar dapat melanjutkan pendidikannya yang sempat terhenti. Semula, Sekar enggan menyetujui hal tersebut. Sebab, biar bagaimanapun juga ia tak ingin egois dengan mementingkan dirinya sendiri. Menurut Sekar, sebagai seorang istri, menunda kehamilan selama bertahun-tahun adalah bentuk dari keegoisan. Namun, Arion malah bersikeras memaksa. Pria itu berkata, meski sudah menikah bukan berarti Sekar tidak bisa meraih mimpinya.
Seperti biasa, setelah melalui perdebatan sengit, Sekar akhirnya menyetujui kesepakatan yang Arion buat. Ia pun memasang kontrasepsi agar bisa fokus mengejar pendidikannya.
Sekar pikir, selepas ia menyelesaikan sekolahnya (paket C, setara SLTA), mereka akan fokus untuk mendapat momongan. Tetapi ternyata, Arion malah mendaftarkan sang istri di salah satu universitas ternama yang ada di Jakarta.
Pria itu meyakinkan Sekar untuk menempuh pendidikan lanjut. Tidak perlu menunggu lulus untuk hamil, mereka bisa memulai usahanya saat Sekar memasuki pertengahan kuliah, yang berarti dua tahun lagi.
Total mereka harus menunda momongan bertambah menjadi 5 tahun. Waktu yang sangat lama. Saking lamanya, membuat pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Sekar. Seperti, apakah itu hanya akal-akalan Arion saja yang tidak ingin memiliki anak darinya?
Sang suami secara tegas membantah saat Sekar nekat menanyakan hal tersebut. Untung saja semua tidak berakhir dengan pertengkaran.
Sekar memarkirkan mobilnya di halaman rumah dengan terburu-buru. Keterlambatan dosen ke kelas membuat Sekar harus pulang melewati jam seharusnya. Meski ia adalah seorang mahasiswi, Sekar tak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Wanita itu berkomitmen untuk selalu tiba di rumah lebih dulu, sebelum sang suami.
"Assalamualaikum," salam Sekar begitu masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Ida ramah. Wanita paruh baya itu tidak lagi memakai seragam maid seperti dulu. Arion sudah melarang beliau untuk ikut membantu di rumahnya. Begitu pula dengan Dini, yang kini bekerja di kantor Arion sebagai karyawan biasa.
Gadis itu berhasil masuk mengalahkan ratusan pelamar berkat usahanya sendiri, tanpa campur tangan sang kakak angkat sedikit pun.
Selama tiga tahun ini, memang banyak perubahan yang terjadi, bukan hanya pada kehidupan mereka.
Dimas, salah seorang sahabat Sekar yang bekerja sebagai cleaning service di kantor Umbara, kini diangkat sebagai Kepala Koordinator menggantikan Anita. Sedangkan Jalu mengikuti tes CPNS dan sekarang bekerja di kantor kelurahan, yang letaknya tak jauh dari rumah pria itu.
Untuk Ningsih sendiri, ia sekarang hidup nyaman dengan belasan kontrakan hasil warisan dari sang kakek yang meninggal dua tahun silam. Sementara Lastri, gadis tomboy yang menjadi sahabat pertama Sekar di Jakarta, sudah menikah dengan pria bule yang ditabraknya sewaktu mereka semua tengah berlibur ke Lombok. Keduanya kini hidup bahagia di negara tempat asal sang suami, sembari menanti kelahiran anak pertama yang diprediksi akan lahir beberapa hari lagi.
Lalu bagaimana dengan Rani?
Siapa sangka, ia menikah dengan pria kepercayaan Arion, Aiden.
Mereka berdua bahkan tengah diusir oleh Arion ke Santorini, agar dapat menikmati bulan madu yang sempat tertunda. Kesetiaan Aiden padanya, membuat bulan madu mereka sempat gagal dua kali. Akibatnya, Rani nyaris mengacak-acak kantor Arion, karena merasa diduakan sejak hari pertama pernikahan mereka.
"Mas Ryon belum pulang, kan, Bu?" tanya Sekar setelah mencium tangan sang ibu.
"Belum, Sayang," jawab Bu Ida.
"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya, Bu," pamit Sekar. Ia lantas pergi ke lantai dua untuk mandi dan berganti pakaian.
Setengah jam kemudian, Arion masuk ke dalam kamar setelah Sekar selesai berganti pakaian. Sekar mencium tangan sang suami dan bergegas membantu membukakan sepatu serta pakaiannya.
"Mandi dulu ya, Mas. Aku siapkan air hangatnya dulu," ujar Sekar.
"Mandi air dingin saja, supaya badanku segar." Ia mendekatkan diri ke leher sang istri. "Kamu sudah mandi? Padahal aku pulang buru-buru biar bisa mandi bareng," keluh pria itu.
Sekar tertawa kecil. "Ya sudah, aku mau bantu Ibu menyiapkan makan malam dulu." Sekar mencium pipi sang suami dan langsung kabur ke bawah.
Rupanya, di bawah sudah ada Dini dan Candra, tunangannya. Pria baik hati itu baru saja diterima sebagai PNS di Kementrian Keuangan. Walau golongannya masih di bawah, setidaknya Candra sudah memiliki masa depan yang pasti, saat berumah tangga dengan Dini kelak.
"Kalian barengan?" tanya Sekar.
"Iya, Mbak. Tadi aku nggak bawa motor, jadi mau nebeng Dini sekalian lewat. Eh, lupa kalau Dini sedang jadi supir Mas Ryon. Alhasil, aku yang jadi supir beliau hari ini." Candra menghela napas pasrah.
Sekar terkikik.
Mendengar keluhan Candra, Dini menampar punggung kekasihnya tersebut dengan sangat keras.
"Sakit, yank! Pedes amat sih, punya tangan!" pekik Candra seraya meringis.
"Abis kamu nggak ikhlas!" ketus Dini sembari ngeloyor ke lantai atas.
"Gimana mau ikhlas, orang dibohongin. Katanya bawa motor!" Candra misuh-misuh tak karuan.
Sekar menggelengkan kepalanya sembari tertawa. Ia sudah terbiasa melihat tingkah absurd kedua adiknya tersebut. Wanita itu sudah dapat membayangkan, bagaimana serunya rumah tangga mereka nanti.
Sepeninggal Dini, Candra memilih duduk di meja dapur, menonton Sekar dan calon ibu mertuanya menyiapkan makan malam.
Beberapa maid mulai menghidangkan makan malam di meja.
Tak berapa lama, Arion turun dari lantai atas dan langsung duduk di meja makan. "Terima kasih, Bu," ucap Arion. Pria itu sebenarnya sudah melarang Bu Ida untuk masuk ke dapur. Dia dan Dini sudah bukan lagi maid keluarga Umbara. Namun, kebiasaan lama memang sulit dihilangkan. Alhasil, Arion hanya bisa pasrah melihat sang ibu sibuk mengurus mereka berempat.
...***...
Arion memeluk Sekar yang sedang duduk di meja rias. Wanita itu baru saja selesai membersihkan wajahnya. Rutinitas yang biasa ia lakukan sebelum tidur.
"Kau sangat cantik," puji Arion. Dalam sekejap, ia mengangkat tubuh sang istri dan mendudukannya di pangkuan.
"Gombalanmu tak pernah hilang," ujar Sekar tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca besar yang terdapat di meja rias. Ia dapat melihat dengan jelas pantulan wajah sang suami dari kaca tersebut.
"Aku tidak gombal. Kau memang istriku yang cantik."
Sekar menghela napas pasrah. Jika Arion sudah mulai bertingkah seperti ini, itu artinya ia tengah menginginkan kebersamaan mereka.
Benar saja, tangan pria itu sudah mulai tidak bisa diam. Telinga Sekar pun beberapa kali di tiup Arion dari belakang, demi mendapatkan respon dari sang istri.
Sekar menggigit bibirnya. Perlakuan Arion yang sangat lembut selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Meski terkadang menuntut, tetapi Arion tidak pernah memperlakukan Sekar berlebihan. Pria itu amat menghargai dirinya.
Sekar memutar tubuhnya di pangkuan Arion. Mereka kini berhadap-hadapan.
"Tuh, kan, istriku memang cantik," puji Arion dengan nada jenaka.
Sekar tertawa. "Iya, deh, suamiku yang tampan."
Arion tersenyum. Mereka pun saling memagut mesra, sebelum suara dering ponsel Sekar menginterupsi kegiatan mereka.
"Abaikan saja!" seru Arion sembari terus mengecup leher Sekar, dan memberinya tanda kepemilikan di sana.
"Takut penting." Sekar berusaha menahan suara-suara ajaib yang mulai keluar dari bibirnya.
"Ini lebih penting!" sahut Arion yang mulai menurunkan tali gaun tidur Sekar.
__ADS_1
Ponselnya sempat berhenti bersuara. Tetapi beberapa saat kemudian, kembali berdering.
Tak bisa mengabaikan hal itu, Sekar mendorong sang suami dan bangun dari pangkuannya.
"Lastri video call," beritahu Sekar.
Arion memasang wajah jengkel. "Di sini malam," keluh pria itu.
Sekar meringis seraya meminta maaf. Ia pun menaikkan tali gaun tidurnya terlebih dahulu, sebelum mengangkat sambungan telepon Lastri.
Wajah Lastri terpampang jelas di layar ponsel.
Mata Sekar kontan membola, ketika mendapati tak hanya wajah Lastri yang terpampang di sana, melainkan juga wajah seorang bayi mungil yang tertidur di sebelahnya.
Sekar berteriak kegirangan sembari memanggil sang suami untuk segera mendekat.
Lastri terkikik.
"Laki-laki atau perempuan? Kapan? Kok, tidak mengabariku, sih!" Sekar terlihat sangat bersemangat.
"Laki-laki. Aku juga tidak tahu. Semua serba mendadak. Dia lahir saat kami sedang pergi berbelanja bulanan tadi." Jawab Lastri tertawa. Wanita itu mendekatkan kamera ponselnya lebih dekat ke wajah sang putra. Wajah bayi itu mirip sekali dengan Jeff, suami Lastri.
"Tidak ada sedikitpun jejakmu di sana," cibir Sekar.
"Kau akan merasakannya nanti." Lastri pura-pura ngambek. Sekar tertawa.
Sekar terperangah saat si bayi menguap dan membuka matanya. Iris mata bayi mungil itu bahkan menurun dari ayahnya juga. Biru.
"Benar-benar tak ada jejakmu sama sekali." Sekar tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah sepuasmu." Lastri memutar bola matanya.
Arion ikut tertawa kecil dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. Jeff yang baru bergabung, mengucapkan terima kasih dalam bahasa indonesia yang terbata-bata.
"Aku akan segera mengambil cuti, agar kami bisa pergi ke sana," janji Arion.
"Ditunggu kedatangannya, Uncle, Aunty," jawab Lastri dengan meniru suara anak kecil. Mereka pun memutuskan sambungan setelah mengobrol beberapa saat.
Sekar masih tersenyum-senyum meski sudah meletakkan ponselnya kembali di nakas.
"Aku masih tidak percaya, si tomboy itu, kini sudah menjadi seorang ibu," kata Sekar.
"Kau pasti bahagia sekali." Arion tersenyum. Matanya tak lepas memandangi wajah cantik sang istri, yang sedang ikut berbahagia.
"Pasti." Sekar mengangguk. Ia meraba-raba halus perutnya sendiri, membayangkan bagaimana rasanya hamil dan melahirkan.
"Kita akan menyusul mereka segera." Arion mengambil tangan Sekar dan mengecupnya.
Sekar mengangguk. Mereka pun kembali memulai kebersamaan yang sempat tertunda.
...***...
Matahari masih belum nampak ke permukaan, ketika Arion membuka matanya. Suara ponsel Sekar yang berdering berkali-kali, membuat pria itu terpaksa harus bangun. Ia mengambil ponsel sang istri untuk mengeceknya.
Hati Arion menghangat. Tidak dapat dipungkiri, tiga tahun menjalin rumah tangga membuat pria itu begitu merindukan sosok malaikat kecil hadir di tengah-tengah mereka. Namun, ia sadar betul, bahwa Sekar tidak boleh kehilangan mimpi kecilnya untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti. Hanya sebuah mimpi sederhana. Sekolah.
Mengetahui kepintaran sang istri, rasanya sayang kalau dia hanya berakhir di jenjang SLTA. Maka dari itu, Arion berinisiatif mendaftarkan Sekar di sebuah universitas begitu menyelesaikan sekolah paket C-nya. Sebuah keputusan besar yang membuat mereka harus kembali menunda momongan.
Ibu jari Arion mengelus lembut foto bayi dari sahabat istrinya tersebut. Dia tidak menyadari, bahwa Sekar tengah melihatnya dari balik punggung sang suami.
...***...
Arion dan Sekar menjalani keseharian mereka seperti biasa. Pagi hari, Arion akan selalu berangkat ke kantor lebih dulu, bersama Dini dan Aiden. Baru setelah itu Sekar pergi ke kampus. Saat sore hari tiba, Sekar sudah harus sampai duluan di rumah sebelum kepulangan sang suami. Tetapi tidak dengan hari ini.
Sekar baru saja menelepon Arion guna meminta ijin untuk pulang terlambat. Ia berkata, bahwa ada satu tugas kelompok yang harus diselesaikan malam itu juga.
Tanpa menaruh curiga, Arion langsung memberikannya ijin.
"Apa perlu aku jemput?" tanya Arion.
"Tidak perlu. Aku akan pulang sebelum jam 8 malam. Assalamualaikum," pamit Sekar.
"Baiklah. Hati-hati. Waalaikumsalam."
Sekar memutus sambungan teleponnya. "Maaf ya, Sayang," gumam wanita itu tak enak hati. Ia tahu, berbohong bukanlah hal yang baik. Tetapi untuk yang satu ini, Sekar merasa harus melakukannya.
Wanita itu pun mengemudikan mobilnya keluar dari gedung kampus, menuju suatu tempat yang memang sudah direncanakan dari beberapa hari lalu.
...***...
Dua bulan kemudian.
Senyum sumringah tak luput dari wajah cantik Sekar. Berbekal sebuah kotak makanan di tangan kanannya, wanita itu berjalan memasuki gedung kantor. Beberapa karyawan yang melihat kedatangannya kontan membungkuk hormat, dan memberi salam pada istri dari pimpinan mereka tersebut.
Sekar menjawab salam mereka dengan sangat ramah. Seorang karyawan juga membantu menahan pintu lift, agar Sekar bisa ikut naik.
"Terima kasih," ucap Sekar.
"Sama-sama, Ibu."
Sesampainya di lantai 30, Sekar bergegas menghampiri ruangan Arion.
"Ibu." Estiana berdiri dari kursinya begitu melihat kedatangan Sekar.
"Bapak ada?" tanya Sekar tersenyum.
"Bapak sedang ada tamu, Bu. Biar saya panggilkan dulu."
"Tidak perlu. Aku titip ini saja ya?" Sekar memberikan kotak bekal yang ia bawa ke tangan Estiana.
"Eh, nggak langsung di kasih ke Bapak saja, Bu. Beliau paling sebentar lagi selesai." Estiana menerima kotak tersebut ragu-ragu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagi pula, aku buru-buru," ujar Sekar. "Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu." Wanita itu melambaikan tangannya pada Estiana dan berbalik pergi.
"Hati-hati, Bu," ucap Estiana sembari membungkuk hormat.
Benar saja perkiraan sang sekretaris. Tak sampai lima menit, Arion sudah keluar dari ruangan bersama koleganya.
"Terima kasih sekali lagi, Pak. Hati-hati di jalan." Arion membungkukan hormat pada pria berumur yang baru saja membuat kesepakatan dengan perusahaannya.
Si pria tertawa kecil dan menepuk punggung Arion dua kali. Bersama dua orang asistennya, mereka pun pergi meninggalkan kantor.
"Pak, tadi Ibu ke sini," ujar Estiana sembari menyerahkan kotak bekal titipan Sekar.
"Loh, tidak disuruh tunggu dulu?" tanya Arion keheranan.
"Buru-buru katanya. Baru saja pergi."
Mengetahui hal itu, Arion hendak menyusul Sekar. Namun, Aiden segera menginterupsinya dengan mengatakan, bahwa mereka harus segera menemui klien satu jam lagi. Itu artinya, waktu makan siang sangat sempit.
Pria itu akhirnya memutuskan masuk ke dalam ruangan seraya membawa kotak bekal dari sang istri.
Wangi masakan rumahan yang menggugah selera langsung menerpa indera penciuman Arion, begitu ia membuka kotak bekalnya.
Mata pria itu memicing saat mendapati sebuah kertas lipat terselip di dalam kotak sendok.
"Surat? Tumben." Arion mengangkat sebelah alisnya heran. Pasalnya, sang istri sama sekali tidak pernah menyelipkan surat seperti itu sebelum-sebelumnya.
Penasaran akan isi pesan yang ditulis Sekar, Arion pun segera membacanya.
'*SelAmat makan siang suamiKu tercinta. Aku harap kaU** menyukai bekal makan siang yang aku buat dengan penuh cinta dan kasiH sayang. Jangan lup**A untuk selalu berdo'a sebelum M***akan.
Salam sayang, dari *I**stri yang seLalu mencintaimu*.'
Arion mengernyitkan dahinya setelah selesai membaca pesan yang Sekar tulis. Rasanya, seperti ada sesuatu yang janggal di balik tulisan tersebut.
Pria itu kemudian membolak-balikkan kertasnya, lalu membaca kembali hingga tiga kali.
Jantung Arion nyaris lompat dari tempatnya, begitu menyadari pesan tersirat yang Sekar sampaikan.
Tanpa pikir panjang, pria itu langsung melesat keluar dari ruangan. Ia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Daniel dan Aiden, yang terkejut sekaligus khawatir melihat dirinya berlari.
Sekar yang sebelumnya sudah memprediksi reaksi Arion, menunggu pria itu di depan mobilnya.
Benar saja. Wanita itu tertawa kecil saat melihat Arion keluar dari gedung kantor dan langsung menerjang tubuhnya.
"Kau tidak boleh berlari. Aku tahu kau akan kemari, jadi aku menunggumu di sini. Tidak perlu berlari," ujar Sekar khawatir. Matanya menelisik keadaan sang suami yang tampaknya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja." Arion memegang kedua bahu Sekar. "Jadi, benarkah apa yang kau tulis di pesan itu?" tanyanya memastikan.
Sekar mengangguk malu-malu. "Maaf, aku sudah melanggar kesepakatan kita. Tak seharusnya kita menunda lebih lama lagi. Aku juga ingin menyibukkan diri dengan mengurus bayi kecil kita, di sela-sela tugasku sebagai istri dan seorang mahasiswi."
"Itu akan sangat berat. Aku mengkhawatirkan kondisimu," tukas Arion cemas.
"Tak perlu khawatir. Ada kau yang senantiasa menemaniku, kan?" Sekar memasang senyum tulus yang sangat cantik di mata Arion.
"Pasti. Kita akan merawatnya bersama. Aku akan menjadi suami yang siap siaga untukmu dan anak kita." Arion kembali memeluk Sekar dan menciumi seluruh wajah sang istri.
Ia tak peduli pada orang-orang yang melihat kemesraan mereka. Justru, pria itu ingin sekali memamerkan pada seluruh khalayak, bahwa mereka kini tengah berbahagia atas kehamilan sang istri tercinta.
Sekar sedikit terperanjat tatkala melihat air mata Arion mengalir membasahi pipinya. Wanita itu pun tertawa dan ikut menangis.
Dia tidak menyesali keputusan sepihaknya dua yang bulan lalu, untuk melepas alat kontrasepsi. Melihat kebahagiaan sang suami merupakan salah satu tujuan hidup Sekar yang jauh lebih besar di atas segalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...TAMAT...
Bab paling panjang dari semua bab yang pernah ada di CTMOG.😁
Maaf kalau feel-nya agak kurang terasa ya, Kakak-kakak. Terima kasih sekali lagi atas dukungannya pada cerita ini.
Jangan lupa nantikan novel terbaru saya yang akan di-publish sebentar lagi. Novel yang sebagian naskahnya sudah saya buat sejak tiga tahun silam, dan baru matang saat ini.
Mudah-mudahan kalian sama antusiasnya, seperti saat membaca novel ini.
Sampai bertemu di novel terbaru saya, Kakak-kakak. 😘😘😘
Omong-omong, ada yang tahu nggak, gimana Arion bisa tahu hanya dari pesan yang ditulis Sekar?
*SelAmat makan siang suamiKu tercinta. Aku harap kaU** menyukai bekal makan siang yang aku buat dengan penuh cinta dan kasiH sayang. Jangan lup**A untuk selalu berdo'a sebelum M***akan.
Salam sayang, dari *I**stri yang seLalu mencintaimu*.
(Susun huruf tebal yang ada di pesan tersebut).
__ADS_1
😁😁
See yaaa ....