
Suasana sempat canggung kala posisi duduk mereka telah ditukar. Kini Arion yang memegang kemudi dan Sekar duduk di sampingnya. Sementara Aiden berada di kursi belakang dengan Dini.
Arion melirik kaca spion tengah, tepat ke arah Aiden duduk. Mengetahui Bosnya tengah memerhatikan lewat pantulan kaca spion, Aiden hanya bisa memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat. Sungguh, ia benar-benar tak ingin melihat tatapan kasih sayang atasannya tersebut.
Mobil segera bergerak membelah jalanan Ibu kota Jakarta malam ini. Mereka berempat bertemu dengan Candra di alun-alun Kota.
Candra yang melihat Aiden dan Arion turun dari mobil dengan posisi tertukar sama sekali tidak terkejut, sebab ia telah diberitahu oleh Dini melalui pesan singkat saat masih berada di perjalanan. Sebenarnya, tidak diberitahu pun Candra pasti paham. Toh, ia sudah mengetahui semua rahasia mereka.
"Makan dulu, yuk?" ajak Candra setelah bersalaman dengan Arion, Aiden dan Sekar.
Mereka menghampiri tempat makan tendaan sederhana yang berada di kawasan tersebut.
Sekar membelalak kala merasakan seseorang menggenggam tangannya erat. Ia menoleh pada seorang pria yang berjalan di sebelahnya.
Sekar berusaha melepaskan tautan tangan mereka, namun Arion urung melakukannya. Ia malah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada gadis itu. Arion bahkan tidak mengindahkan tatapan keberatan Sekar.
Apa yang salah? Toh, mereka memang sepasang kekasih.
"Mas, tidak enak dilihat orang!" sahut Sekar pada akhirnya.
__ADS_1
"Kita berjalan paling belakang, tidak ada yang melihat. Lagi pula, apa yang salah jika mereka melihatnya?" Arion menatap Sekar lembut.
"Tapi, tetap saja aku tidak terbiasa. Malu–" belum sempat Sekar menyelesaikan kalimatnya, Arion malah mengangkat tangan gadis itu dan mengecupnya ringan.
Tangan kiri Sekar yang terbebas kontan memukul keras dada Arion.
"Ouch!" pekik Arion. Teriakannya sontak membuat Candra, Dini dan Aiden berhenti dan menoleh ke belakang.
"Hahaha ... Mas tuh cemen banget sih, baru digigit serangga saja sudah kesakitan!" seru Sekar sembari tertawa garing. Gadis itu melepas tautan tangan mereka dan memukul-mukul punggung Arion.
Arion ikut tertawa garing, padahal dalam hati ia menaruh dendam. "Awas saja kalau kita sedang berduaan!" batinnya.
"Kamu, tuh!" sahut Arion jengkel.
"Mas, tuh!" Sekar tak mau kalah.
Ditengah debat kecil mereka, tiba-tiba seseorang menubruk bahu Sekar keras. Gadis itu bisa saja terjerembab jika Arion tidak reflek memegangi tubuhnya.
"Ups, sorry– ... wow!"
__ADS_1
Wajah Arion yang semula rileks berubah dingin ketika mendapati bahwa yang menabrak Sekar adalah Davina.
Davina turut membantu Sekar berdiri. "Terima kasih," ucap Sekar.
"Tidak masalah, dear, aku lah yang sudah menabrakmu," ujar Davina. Matanya lalu beralih pada Arion. "Tak kusangka kita bertemu di sini," katanya.
Aiden maju beberapa langkah, namun Arion segera menyuruhnya untuk tetap diam ditempat menggunakan isyarat tangan.
Jantung Arion berkebit. Mereka tidak boleh berlama-lama berhadapan dengan Davina. Bisa-bisa wanita itu keceplosan soal identitas dirinya.
Sekar menoleh ke arah Arion dan bertanya, "Mas kenal?"
"Mas?" batin Davina. "Ahh, jangan-jangan dia gadis yang diceritakan Kak Adhisty." Sambungnya penuh keyakinan, sebab Arion terlihat begitu melindungi gadis itu.
Seringai muncul di bibir seksi Davina. Matanya mengerling, memandangi Sekar dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan menilai.
"Cih! Kuakui dia memang cantik, tetapi kampungan tetaplah kampungan!" cibir Davina dalam hati.
Ditatap sedemikian rupa oleh Davina, mau tak mau membuat Sekar merasa risih.
__ADS_1
Puas memandangi Sekar, Davina kemudian mengulurkan tangannya pada gadis itu. "Kenalkan, aku Davina," ucapnya. "wanita satu-satunya yang dekat dengan Rion."