Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Pesan tersirat


__ADS_3

Hari-hari yang dijalani Sekar terasa lebih menyenangkan semenjak Mbah Bhanuwati dapat mengingatnya kembali. Meski perjalanan sang cucu ketika tumbuh besar tidak bisa diingat beliau, Sekar tetap merasa bahagia. Setidaknya, ia kini benar-benar bisa mengajak neneknya berkomunikasi.


Curahan kasih sayang yang diberikan Mbah Bhanuwati sekarang, cukup menggantikan momen-momen kebersamaan mereka yang telah lama hilang.


"Nduk," Mbah Bhanuwati yang sedang duduk bersandar dengan di kelilingi banyak peralatan merajut, tiba-tiba memanggil Sekar.


Sekar yang baru saja selesai mencuci piring, bergegas menghampiri beliau. "Dalem, Mbah?"


"Duduk sini, Nduk," titah sang nenek. Tangannya menepuk-nepuk tempat kosong yang berada di hadapannya.


Sekar menuruti beliau. Gadis itu duduk bersila di depan sang nenek. Matanya menelisik sebuah sweater rajut yang terlipat rapi di pangkuan Mbah Bhanuwati. Sweater tersebut tampak dirajut menggunakan benang wol bermacam warna.


Tangan keriput Mbah Bhanuwati mengambil sweater tersebut dari pangkuannya, lalu memberikannya pada Sekar.


"Buat Sekar, Mbah?" tanya gadis itu.


Mbah Bhanuwati menganggukan kepala. Seulas senyum menyejukkan terbit dari bibirnya.


Sekar ikut melebarkan senyumnya. Dengan antusias ia membuka lipatan sweater tersebut. Namun tanpa disangka, sebuah sweater lain yang berukuran lebih kecil jatuh dari dalam lipatan.


Sekar mengerutkan keningnya. "Kok, sweater-nya ada dua Mbah?" tanya gadis itu penasaran. Jika dilihat lebih teliti, sweater yang Sekar pegang dan yang jatuh, memiliki perbedaan ukuran yang cukup jauh, tetapi sama-sama berukuran dewasa.


"Berikan yang satunya untuk teman pria-mu. Siapa namanya? Rion?" ujar Mbah Bhanuwati.


Semburat merah muncul menghiasi pipi ranum Sekar. Dilihatnya lagi sweater tersebut. Warna dan bentuknya benar-benar serasi, yang berukuran besar pasti milik Arion, sedangkan yang lebih kecil untuk dirinya sendiri.


Masih dengan malu-malu Sekar mencoba sweater yang lebih kecil itu.


"Bagus sekali, Mbah. Sekar suka sekali," puji gadis itu jujur.


Mbah Bhanuwati tersenyum. Beliau kemudian meminta Sekar untuk tidur di pangkuannya.


Sekar dengan senang hati menuruti kemauan sang nenek. Dengan perlahan ia merebahkan diri di paha kurus Mbah Bhanuwati. Dulu, sewaktu kecil, gadis itu sering sekali melakukan hal tersebut, dan Mbah Bhanuwati dengan senang hati menyambut kepala Sekar. Beliau membiarkan cucunya itu sampai tertidur sebelum sang ibu memindahkannya ke kamar.

__ADS_1


"Semoga kau segera menemukan jodoh ya, Nduk. Aja nunggu lama-lama, biar Mbah bisa melihatmu pakai baju pengantin." Tangan halus sang nenek mengelus lembut rambut Sekar.


"Aamiin, Mbah. Mbah sehat terus ya? Biar bisa dampingin aku di pelaminan," tutur Sekar sembari memandangi wajah nenek tercintanya.


Mbah Bhanuwati hanya menanggapi perkataan Sekar dengan senyuman. Wanita lanjut usia itu malah menasihati Sekar tentang bagaimana ia harus mulai belajar hidup mandiri.


"Jadi, kalau Mbah sama Bude wis mangkat, kamu iso berdiri sendiri, Nduk."


Mendengar perkataan tersebut, hati Sekar mendadak pilu. Perasaan tak enak lagi-lagi menyergap dirinya. "Mbah aja ngomong gitu, Sekar ndak suka! Mbah dan Bude harus nemenin Sekar lama, ya?"


Mbah Bhanuwati tidak menjawab pertanyaan Sekar. Beliau hanya mengelus lembut wajah gadis itu. Meraba seluruh permukaan wajahnya satu persatu, sebagai pengingat bahwa sang cucu kini telah dewasa. "Putune Mbah wis ghede. Ayu tenan," gumam Mbah Bhanuwati.


Tanpa Sekar sadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Mbah Bhanuwati kemudian menyenandungkan sholawat berbahasa jawa yang sering Sekar dengar sewaktu kecil. Mendengar itu, air mata Sekar mengalir semakin deras. Gadis itu memutar tubuhnya dan memeluk pinggang sang nenek seerat mungkin.


...***...


Sekar menekuk wajahnya ketika melihat Arion datang ke rumah. Ia kesal bukan pada pria itu, melainkan pada jadwal liburnya yang tiba-tiba harus batal. Gendis rupanya sakit dan terpaksa tidak masuk kerja. Sekar tidak mungkin ikut absen dan membiarkan Tyas melayani pelanggan seorang diri.


"Mas benar tidak apa-apa sendirian mengantar Mbah dan Bude? Pasti sangat merepotkan," ucap Sekar tak enak.


"Jangan selalu berpikiran yang tidak-tidak. Aku dengan senang hati melakukannya." Jawab Arion tersenyum.


Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati pun keluar dari rumah. Arion segera membantu sang nenek turun dari pelataran, sementara Bude mengunci pintu rumah. Sekar ikut di belakang mereka. Meski berlawanan arah, jarak rumah sakit dan kedai tidak terlalu jauh. Jadi ia tetap bisa ikut berangkat dengan mereka.


"Maaf jika merepotkan ya, Nak," ujar Bude Gayatri.


"Tidak masalah, Bude," jawab Arion. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera berangkat.


Arion mengantar Sekar terlebih dahulu ke kedai, sebelum akhirnya putar balik menuju rumah sakit. Keinginan Sekar untuk mengganti rumah sakit ditentang keras oleh pria itu. Setelah sempat berdebat sengit, Sekar akhirnya mengalah, tapi dengan satu syarat. Arion tidak boleh lagi membantunya mengurus administrasi. Sekar masih bisa menanggung semuanya. Toh, Kartu Jaminan Kesehatan sedang diurus oleh Sekar setelah sempat terhambat.


"Ini memang sulit dijelaskan, sebab penyakit alzheimer masih sangat sulit disembuhkan. Terapi dan obat-obatan hanya mampu memperlambat proses saja." Ungkap sang dokter sembari membaca berkas Mbah Bhanuwati.

__ADS_1


"Mungkin, keinginan kuat lah yang membuat beliau mampu mengingat cucunya kembali. Terlebih, ingatan beliau hilang bisa disebabkan trauma juga. Jadi, bisa saja trauma itu kini sudah hilang dari diri Ibu Bhanuwati," sambungnya.


Arion menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan Bude Gayatri.


...***...


Sekar berulang kali melirik ponselnya diam-diam. Gadis itu sedang menunggu kabar dari Arion perihal sang nenek.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, pasti mereka sudah selesai melakukan pemeriksaan, atau mungkin saja sudah pulang ke rumah.


Ting!


Bunyi pesan masuk datang ke ponsel Sekar. Gadis itu buru-buru membukanya.


Keadaan Mbah baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir dan fokus saja bekerja. Nanti malam aku akan menjemputmu.


Senyum lebar menghiasi wajah Sekar setelah membaca pesan singkat yang Arion kirimkan. Perasaan tak enak yang Sekar rasakan menguap begitu saja, meski belum sepenuhnya hilang.


...***...


"Sekali lagi terima kasih ya, Nak Rion, sudah mau direpotkan Bude dan Mbah," ucap Bude Gayatri yang baru saja mengantar Mbah Bhanuwati ke kamarnya, begitu mereka sampai di rumah. Wanita paruh baya itu duduk di samping Arion sembari membawa segelas teh manis hangat untuknya.


"Terima kasih, Bude." Arion menerima teh tersebut dan meminumnya. "Aku sama sekali tidak merasa direpotkan," ujarnya kemudian.


"Nak Rion, boleh Bude menanyakan sesuatu?" tanya Bude Gayatri.


"Boleh, Bude. Silakan," jawab Arion.


"Kalau Bude boleh tahu, mengapa pria mapan seperti dirimu bisa menyukai gadis kampung seperti Sekar?" tanya beliau tanpa basa-basi. "Sekar itu hanya gadis yatim piatu yang lahir dari keluarga miskin. Pendidikannya pun tidak tinggi. Kehidupan kalian sangat jauh berbeda."


Arion terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Bude Gayatri. "Aku juga sudah tidak mempunyai orang tua, Bude. Miskin, kaya, berpendidikan atau tidak, itu semua tak lebih dari status sosial saja. Dan untuk alasan mengapa aku bisa menyukai Sekar, jujur saja, aku sulit menjawabnya, selain hanya dia satu-satunya gadis yang melihatku sebagai pria biasa." Jawab Arion panjang lebar.


Bude Gayatri tersenyum. Dengan lembut wanita itu menepuk-nepuk tangan Arion. "Terima kasih karena sudah mau menyukai anak Bude ya, Nak? Maafkan jika sifatnya mungkin pernah menyakiti hatimu. Ketahuilah, Sekar merupakan gadis yang baik."

__ADS_1


Wanita itu menatap Arion lama. "Nak, Bude titip Sekar, ya? Jaga dia baik-baik. Bude harap, Bude masih bisa melihatnya berdiri di pelaminan, menemaninya melahirkan, dan melihatnya bagaimana membesarkan seorang anak." Senyum tulus terpatri di wajah Bude Gayatri.


Perasaan gamang tiba-tiba menyelimuti hati Arion. Pria itu tak mampu berkata apa-apa selain mengiyakan perkataan sang bude.


__ADS_2