Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Pindah


__ADS_3

Tanpa memperdulikan kakinya yang masih sedikit nyeri, Sekar berlari menuju ruangan Anita yang masih berada di lantai yang sama. Dan memang benar apa yang dikatakan para sahabatnya soal rumor tersebut. Kini Sekar menyadari, bahwa ada banyak pasang mata yang memandangnya hina.


Jika dulu para karyawan yang berpapasan dengannya akan bertegur sapa sembari melempar tersenyum ramah, sekarang hanya ada tatapan kebencian yang diperlihatkan mereka untuk Sekar. Memang tidak semua, sebab sebagian lagi melewatinya begitu saja, seperti menganggap Sekar tidak ada.


"Eh, itu si OG yang katanya gatel sama Pak Arion, kan?" tanpa sengaja telinganya mendengar pembicaraan tiga orang wanita yang baru saja dia lewati.


"Iya, benar. Dengar-dengar dia itu cuma lulusan SMP, loh! Pantas saja! Yang ada di otaknya pasti hanya cara-cara instan agar dapat hidup enak. Seperti mendekati atasan sendiri, misalnya!" salah seorang karyawan lain menanggapi pembicaraan temannya. Dari suara mereka yang keras, kentara sekali mereka sengaja melakukannya agar Sekar turut mendengar.


Sekar memelankan langkah kakinya. Beberapa kali gadis itu terlihat menarik napas, lalu mengeluarkannya, agar dapat mengontrol hawa panas yang mulai menguar dari seluruh tubuhnya.


Setelah merasa tenang, Sekar lantas berbalik arah menuju ketiga wanita tersebut. Ia berhenti tepat di hadapan mereka.


Melihat keberanian Sekar, ketiganya tampak tidak gentar. Mereka bahkan memasang wajah seolah-olah sedang meremehkan gadis itu.


"Mbak-mbak sekalian, jika kalian ingin tahu cerita sebenarnya, mengapa kalian tidak menanyakannya langsung pada Bapak Arion?" tanya Sekar seramah mungkin.


Ketiga karyawan wanita itu mengernyitkan dahinya. "Dih! Apaan sih, nggak jelas banget!" sahut salah satu di antara mereka.


"Loh, kenapa nggak jelas? Kalian bukannya ingin tahu cerita sebenarnya? Apa perlu kita temui Bapak Arion saja? Yuk," ajak Sekar sembari menarik salah satu tangan seorang wanita, yang kira-kira berusia 30 tahunan.


"Eh, ngapain narik-narik tangan saya, sih? Lepasin, nggak!" pekik wanita tersebut.


"Tidak, sebelum kita bertemu dengan Pak Arion!" jawab Sekar dingin. Mendengar nada suara Sekar berubah, sudah dapat dipastikan kalau ia tidak sedang main-main.


Ketiganya pun langsung dilanda kepanikan. Meski Arion merupakan seorang pemimpin yang baik hati, ia juga merupakan pemimpin yang sangat ditakuti. Pria itu bisa berbuat apa saja, saat mengetahui ada karyawan yang berbuat semena-mena, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan sesama karyawan. Bisa-bisa nasib mereka akan sama seperti Ningrum, tempo hari.


Kedua karyawan lainnya membantu si wanita melepaskan diri. Namun Sekar malah semakin mengeratkan cengkeramannya. "Tidak mau?" tanya gadis itu dengan tampang jenaka. Melihat hal tersebut membuat ketiganya justru bergidik ngeri.

__ADS_1


"Aww!" teriakan mereka terdengar lantang, begitu Sekar melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba. Tubuh mereka pun tumpang tindih di lantai.


"Padahal aku berbaik hati ingin memberikan jawaban, tetapi kalian tidak mau. Ya sudah! Jangan sampai mati penasaran, ya?" seloroh Sekar sembari berjalan pergi meninggalkan mereka.


Sesampainya di koridor yang sepi, Sekar bersandar lemas di dinding, sembari mendekap erat kedua tangannya. Perlahan-lahan air mata yang sedari tadi ia tahan kembali mengalir. Kendati begitu, Sekar bertekad tidak ingin memperlihatkan kelemahannya tersebut kepada orang lain. Sebab ia tahu, bahwa air mata tidak dapat meluluhkan kebencian mereka. Jadi mau tidak mau ia harus terlihat kuat.


Biarlah hanya dia dan para sahabatnya yang tahu bagaimana hancurnya hati seorang Sekar.


Sekar memasang senyumnya kembali, setelah puas menangis. Keputusannya untuk pindah ke gedung lain semakin mantap. Dia juga telah memiliki rencana untuk mencari pekerjaan baru, ketika sudah dipindahkan ke gedung yang lain, agar bisa langsung bekerja setelah resign dari sana. Biar bagaimanapun kehidupan Mbah dan Bude ada di kedua bahunya.


"Semangat Sekar! Hanya kamu yang bisa menguatkan dirimu sendiri!" gumamnya berapi-api.


...***...


Erlina terlihat termenung di meja makan. Setelah di usir dari rumah utama, ia bersama Adhisty pindah ke salah satu apartemen mewah yang dimilikinya. Beruntung wanita itu masih memiliki beberapa properti sang suami. Beberapa waktu setelah kematian Dewandaru, diam-diam Erlina mengganti sertifikat dua buah apartemen mewah dan satu buah rumah istirahat dengan namanya secara ilegal, tanpa sepengetahuan Arion.


Selama di apartemen, Erlina hanya menghabiskan waktu tanpa keluar dari sana sekali pun. Wanita itu benar-benar sedang memikirkan rencana lain, yang bisa menjatuhkan anak tirinya.


Adhisty yang tahu akan tabiat Erlina tentu saja sudah lelah memperingatinya. Begitu pula dengan Abiyan, yang kini sudah resmi menjadi seorang pengangguran kembali.


"Kita tidak akan bisa menyentuh Arion maupun Sekar, Ma," kata Abiyan.


Erlina mendelik kesal. "Tutup mulutmu! Kau sama sekali tidak kompeten. Kalau saja anakku tidak mencintaimu, sudah dari dulu aku tendang kau ke jalanan!"


Dada Abiyan naik turun mendengar penghinaan Erlina. Ini memang bukan sekali dua kali ia direndahkan, dan itu sudah biasa. Tetapi tetap saja rasanya sakit sekali, setiap mendengar kata yang dilontarkan wanita itu. Terlebih, Erlina sama sekali tidak mengapresiasi dirinya, yang telah sukarela menjalankan tugas penuh resiko tersebut.


Bagi Erlina, keberhasilan adalah hal yang mutlak. Jika gagal, maka jangan harap pujian akan terlontar dari mulut busuknya. Janji yang pernah terucap pun tidak akan pernah ia tepati.

__ADS_1


"Dari pada kau terus mengoceh tidak jelas, lebih baik cari cara untuk mengulik keadaan di kantor, dan juga Arion! Jangan lupa, mata-matai juga Aiden. K4cung si4lan itu benar-benar telah berani merendahkan diriku!" seru Erlina geram. Dendamnya bertambah pada satu orang lagi.


Abiyan terdiam sejenak lalu mengangguk patuh. Dari raut wajahnya, pria itu seperti sedang menahan sesuatu yang mulai bergejolak.


...***...


"Sayang sekali, padahal kamu adalah salah satu karyawan yang sangat saya sukai, Sekar. Kinerjamu selama ini sangat baik, attitude-mu pun patut diacungi jempol," ujar Anita jujur, tatkala selesai mendengar permintaan Sekar.


"Maaf, Bu," ucap Sekar seraya tertunduk.


Anita tersenyum. Wanita itu berdiri dari kursinya dan menghampiri Sekar. "Angkat kepalamu," perintahnya.


Sekar mengangkat kepalanya. Anita lalu memegang kedua bahu Sekar dan meremasnya lembut. "Baik, saya akan mencarikan tempat yang masih kosong dan nyaman buatmu. Kalau perlu, kau bisa bertukar dengan salah satu OG dari gedung lain." Jawaban Anita menjadi angin segar bagi Sekar.


Gadis itu reflek mengambil kedua tangan Anita yang berada di bahunya, sebelum kemudian mencium tangan wanita itu berkali-kali, sebagai bentuk ungkapan terima kasih.


Anita tertawa lembut dan meminta Sekar berhenti melakukannya. Ia pun berjanji tidak sampai satu minggu, Sekar sudah mendapatkan kabar baik darinya.


"Terima kasih sekali lagi ya, Bu," ucap Sekar dengan mata berkaca-kaca.


"Iya. Ya sudah, sekarang kembali bekerja. Semangat, ya?" Anita memberi sedikit dorongan.


Sekar mengangguk. Ia pun pamit undur diri dari sana.


Wanita berusia 40 tahunan itu menatap kepergian Sekar dengan raut perihatin. Akibat rumor murahan yang dikembangkan manusia-manusia tidak bertanggung jawab, Ia harus kehilangan sosok karyawan seperti Sekar, yang tidak pernah mengeluh dan selalu semangat bekerja.


Anita sendiri memang tidak memiliki niat untuk menahan Sekar. Sebab ia mengerti, bekerja di bawah bayang-bayang rumor menyedihkan seperti itu tentu akan sangat menyulitkan. Sekar pasti merasa sangat tidak nyaman. Walau sebenarnya rumor tersebut juga sudah menyebar ke gedung lain. Namun situasinya tidak begitu buruk, karena mereka tidak mengetahui identitas OG yang tengah hangat diperbincangkan. Hal itu lah yang membuat Anita langsung menyetujui permintaan Sekar.

__ADS_1


"Semoga kau baik-baik saja di tempat yang baru nanti, Sekar," gumam Anita tulus.


__ADS_2