Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Benci Pembohong


__ADS_3

Hari mulai gelap. Selepas sholat maghrib, Sekar menunggu Arion pulang di depan teras bersama secangkir teh hangat dan gorengan yang masih mengepul. Gadis itu menyempatkan waktunya sebentar untuk menggoreng pisang. Kebetulan, ada sisa adonan pisang di dalam kulkas yang Dini buat semalam.


Sekar kembali tersenyum kala mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. Ia tidak menyangka, Arion akan jujur menceritakan semua yang terjadi saat makan siang hari ini padanya, tanpa terkecuali. Termasuk cerita soal dirinya dan Davina yang digadang-gadang akan dinikahkan oleh kedua keluarga mereka. Dalam hal ini, sebenarnya hanya Erlina yang setuju, sementara Dewandaru membebaskan putra semata wayangnya itu untuk memilih pasangan sendiri.


Kendati timbul perasaan sedih ketika mendengar cerita soal mereka berdua, Sekar tetap merasa bersyukur, sebab Arion tidak mencoba menutupi atau mengarang cerita demi menenangkan hatinya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Arion yang baru datang dari mushola masuk ke dalam rumah Bi Ida. Pria itu kemudian duduk di kursi sebelah Sekar.


"Minum dulu, Mas, ini ada pisang goreng juga," Sekar mendekatkan teh hangat dan sepiring pisang goreng ke Arion.


"Terima kasih," ucap Arion seraya menyesap teh hangatnya.


Sekar menganggukan kepala. "Mas, boleh aku tanya sesuatu?" ujar gadis itu tiba-tiba.


"Tanya apa?"


"Mengapa Mas tidak menyukai Davina? Davina adalah gadis tercantik yang pernah aku temui secara langsung. Dia juga seksi dan memiliki karisma. Sangat cocok denganmu," kata Sekar panjang lebar. Ia tulus memuji kecantikan yang ada pada wanita berpenampilan glamour itu.


"Kupikir, kita sudah selesai membahasnya tadi," Matanya memandangi Sekar heran.


"Hanya ingin tahu saja. Boleh, kan?" Sekar tersenyum.


Arion mengambil tangan Sekar dan menciumnya lembut. "Di mataku, hanya kau lah wanita yang paling cantik. Dan kau tahu, mengapa aku bisa menyukaimu?" pria itu malah balik bertanya.


"Kenapa?" tanya Sekar penasaran. Ia jadi sedikit melupakan pertanyaannya tadi.


" ... karena hanya kau lah yang mampu membuatku kembali mengingat Allah." Jawab Arion tegas. Pria itu melepas tangan Sekar dan menengadahkan kepalanya menghadap langit malam.


"Aku bukanlah pria yang taat agama. Aku bahkan lupa sudah berapa lama tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim." Kata pria itu lirih. "Tetapi sejak mengenal dirimu yang tidak pernah lupa mengingatkanku untuk beribadah, membuat aku menyadari, bahwa seharusnya tidak hanya dunia yang aku kejar. Yah, walaupun sholatku masih bolong-bolong," sambungnya dengan nada jenaka diakhir kalimat.


"Itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan?" Sekar bersuara.


Arion mengangguk.


Sekar memandang Arion penuh sayang. Ia bersyukur mengenal pria itu sebagai pria yang berkepribadian baik dan hangat. Dan yang membuatnya lebih bersyukur adalah, Arion sama sekali tidak keberatan dari mana dia berasal. Ketakutannya akan perbedaan kasta keluarga mereka, sedikit-sedikit mulai memudar.


"Eh, tapi itu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali!" seru Sekar tiba-tiba. Ia baru ingat bahwa Arion menjawab pertanyaan yang ia ajukan dengan pertanyaan lainnya.

__ADS_1


"Itu adalah jawabanku," jawab Arion enteng.


Sekar memutar bola matanya. "Kau memang pintar sekali memutar-mutar pembicaraan. Belum lagi sifatmu yang pemaksa itu!"


"Dan kau pintar sekali membantah," Arion mencubit ujung hidung Sekar.


Sekar tertawa merdu. "Aku senang sekali, setidaknya Mas tidak berusaha menyembunyikan apapun, karena aku sangat membenci pembohong."


Pernyataan Sekar barusan sontak menghujam ulu hati Arion. Pria itu berdeham demi menyamarkan raut terkejutnya . "Pembohong?"


Sekar menoleh menatapnya. "Ya. Terlalu sering dibohongi oleh orang-orang sekitar membuatku sedikit trauma. Bahkan, aku sempat marah pada kedua Ayah dan Ibu, karena mereka sempat berbohong perihal sakit yang tengah mereka idap. Aku tidak sepenuhnya membenci pembohong. Hanya saja, aku tidak akan bisa menghadapinya lagi, jika harus kembali dibohongi." Terang Sekar.


"Meski kebohongan itu demi sebuah kebaikan?" tanya Arion.


Sekar tertawa kecil. "Tidak ada yang namanya berbohong demi kebaikan. Semua kebohongan tetaplah kebohongan." Jawab gadis itu penuh keyakinan.


Tenggorokan Arion kontan tercekat. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi pernyataan Sekar barusan. Selera makannya pada sepiring pisang goreng yang tersaji di atas meja tiba-tiba menguap entah ke mana.


...***...


"Setahu saya, gadis itu tidak memiliki masalah dengan siapapun. Bahkan, ia sudah dua bulan berturut-turut dinobatkan sebagai Office Girl Junior terbaik di sana." Jane berkata dengan hati-hati. Ia takut Erlina tak suka mendengar jawabannya.


"Bagus kalau begitu! Dengan popularitas dan prestasi yang dimiliki si gadis kampungan tidak tahu diri itu, bukan tidak mungkin ada saja segelintir orang yang membenci dirinya. Cari tahu dan bawa orang itu ke hadapanku segera!" Matanya memandang sinis Jane.


Jane membungkukan tubuhnya dan undur diri dari hadapan Erlina.


"Bagaimanapun caranya, Arion harus bersanding dengan Davina. Akan kulakukan apapun yang kubisa untuk menyingkirkan gadis kampungan itu!" seringai manis terpatri di bibir Erlina.


...***...


"Pak, kita sudah sampai." Lagi-lagi Aiden membuka suaranya. Kali ini ia memberanikan diri menoleh ke belakang. Arion tampak sedang melamun.


"Pak," mau tak mau Aiden menyentuh lutut Arion, agar pria itu tersadar dari lamunannya. Sejak pulang dari tempat Sekar, Arion lebih banyak diam, seperti tengah melamunkan sesuatu.


"A–ahh," respon Arion. Tanpa menunggu Aiden membukakan pintu mobilnya, ia sudah keluar terlebih dahulu.


Lucas segera memarkirkan mobilnya di garasi rumah Arion, sementara keduanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Bapak, mau makan dulu atau mandi dulu?" Dini bergegas menghampiri Arion dan Aiden, begitu mereka membuka pintu rumah. Gadis itu mengambil tas dan jas kerja Arion. Tak lupa meletakan sepatu pria itu, di tempat seharusnya.


"Sudah berapa kali kubilang, jangan memanggilku seperti itu. Rasanya aku seperti memiliki seorang anak gadis," tukas Arion jengkel. "Kau kan lancar sekali memanggilku 'Mas' saat di rumahmu. Tidak bisakah seperti itu saja?" sambungnya.


Dini mengernyitkan dahinya. Seingat gadis itu, mereka sudah pernah membicarakan hal ini. Sedekat apapun hubungan mereka, Arion tetaplah Tuannya, dan ia tidak ingin melewati batas. Dianggap keluarga oleh Beliau saja sudah merupakan anugerah yang patut disyukuri. Jadi, rasanya sangat berlebihan kalau ia sampai harus memanggilnya dengan sebutan demikian.


"Hanya di depan Mbak ****Sekar****." Dini mengingatkannya tegas. Mendengar nama Sekar keluar dari mulut adiknya itu, raut wajah Arion berubah mendung. Dini yang menyadarinya langsung melirik Aiden yang berdiri dua langkah di belakang Arion.


Aiden mengangkat bahunya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk Kakak-kakak semua yg masih sudi membaca karya recehanku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar aku makin semangat nulisnya 😁🤗


Oh iya, sekarang aku mau mempromosikan karya salah satu temanku. Yuk, yang lagi cari bacaan lain, bisa dibaca cerita ini.


Terima kasih,😇


__ADS_1


__ADS_2