Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
"Aku juga merindukanmu,"


__ADS_3

Arion terperanjat begitu mendengar penjelasan Aiden di telepon mengenai pemecatan Sekar hari ini. Pasalnya, ia sama sekali tidak menyetujui hal tersebut. Pria itu kontan berdiri dari kursi kebesarannya, hingga membuat kursi tersebut terpelanting ke belakang, lalu bergegas lari menuju basement.


Dalam benaknya, Arion sedang menerka-nerka, siapa yang telah menandatangani surat pemutusan kontrak kerja Sekar.


"Rion? Mau ke mana?" tanya Daniel saat berpapasan dengan Arion yang tengah terburu-buru di lorong kantor.


Arion tidak mengindahkan pertanyaan Daniel. Dia terus berlari dan memasuki lift menuju basement. Sesampainya di basement, ia bertemu dengan Aiden yang sudah menunggunya di sana.


"Di mana dia?" tanya Arion. Napasnya terdengar memburu.


"Anda terlambat lima menit, Pak. Nona Sekar sudah keluar dari basement bersama temannya." Jawaban Aiden yang tidak memuaskan, membuat Arion kembali berlari sampai ke pintu keluar basement. Dan benar saja, Sekar tidak ada di manapun. Ia terlambat menahannya.


Aiden berlari menyusul Arion. "Pak," katanya sembari memegang pundak sang bos. Ada nada kekhawatiran yang keluar dari mulut asistennya tersebut, tatkala mendapati napas Arion tersengal-sengal. Aiden merogoh saku jas pria itu dan mengeluarkan inhaler miliknya.


Setelah merasa lebih baik, Aiden menuntun atasannya tersebut untuk kembali ke ruangan. Arion bisa saja roboh sewaktu-waktu, jika ia tidak memeganginya.


"Siapa yang sudah memecat Sekar?" tanya Arion dingin, ketika mereka sudah berada di dalam lift.


"Saya sudah menghubungi Ibu Anita. Beliau menerima surat tersebut dari HRD, dan Anda lah yang telah menandatanganinya." Jawab Aiden.


Satu nama timbul di benak Arion saat mendengar jawaban Aiden. Siapa lagi kalau bukan Daniel? Pasalnya, hanya pria itu lah yang dapat meniru tandatangannya. Begitu pula sebaliknya.


...***...


Rani dan Sekar baru saja tiba di rumah. Gadis itu meletakkan barang bawaannya di kamar Rani, sebelum masuk ke kamar mandi untuk membasuh diri.


Rani sendiri ikut pulang ke rumah karena ingin menemani Sekar. Ia tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian. Urusan dimarahi karena tidak ijin terlebih dahulu, bisa belakangan, yang penting Sekar tidak terpuruk sendirian.


Setelah mandi, Rani memesan makanan cepat saji melalui aplikasi. Sekar menolak ketika diajak mencari makan di luar.


"Ar, sampai kau mendapatkan pekerjaan baru, aku ingin kau tetap di sini menemaniku dan Egi. Tolong, jangan keras kepala!" Rani buru-buru menambahkan kalimat terakhirnya, sebelum Sekar membantah.


"Aku ... ingin pulang kampung dulu, Ran," ujar Sekar lirih. "Anggap saja ini adalah hari liburku, sebelum memulai bekerja kembali." Sambungnya.

__ADS_1


Rani mengangguk. Kali ini ia tidak dapat melarang keinginan Sekar. Ia jelas memahami keputusan tersebut. Sebab yang sangat dibutuhkan Sekar saat ini adalah kehadiran keluarganya.


"Tidak apa-apa kalau itu memang keputusanmu. Beritahu aku, kapan kau akan pulang. Aku akan mengabari yang lainnya." Rani mengusap lembut lengan kurus Sekar.


"Maafkan aku, Ar. Aku sama sekali tidak dapat membantumu apa-apa." Rani menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir.


"Siapa bilang? Justru kau lah yang telah banyak membantuku, Ran. Terima kasih banyak," kata Sekar. Dia beringsut menghampiri Rani dan memeluknya erat.


...***...


BRAAAK!


Arion membuka kasar pintu ruangan Daniel. Pria itu berjalan penuh emosi ke arah kakak sepupunya yang baru saja selesai membuat minuman.


"Ada apa sampai membanting pintuku, bro?" tanya Daniel. Ia meletakkan minumannya di atas meja tamu.


"Kau yang sudah menandatangani surat pemutusan kontrak kerja Sekar, bukan?" tanya Arion tanpa basa-basi.


"Tidak. Kau tahu, aku tidak memiliki wewenang melakukan hal itu." Jawab Daniel terkejut.


"Kau pikir, aku sejahat itu?" Daniel melepas kasar tangan Arion. Tangan kanan pria itu memberi isyarat pada Noah untuk tetap diam ditempat.


"Saya yang telah memecat gadis OG itu!" Antonio, salah satu pemegang saham terbesar di Umbara Corporation, masuk ke dalam ruangan Daniel, ditemani dua orang asisten pribadinya.


Pria berdarah Perancis-Indonesia itu berjalan menghampiri Arion dan Daniel yang tengah bersitegang.


"Waktu seminggu yang kami berikan sudah habis, dan kau sama sekali tidak memberikan jawaban. Maka dari itu, kami mengambil langkah." Antonio menatap Arion tajam.


"Aku baru tahu, pemegang saham perusahaan yang biasanya menetapkan kebijakan bagi manajemen dan pengawasan perusahaan, juga turut andil dalam urusan ini," ucap Arion sarkastik.


"Itu karena kau yang tidak tegas, Arion. Jika kami tidak melihat kinerjamu, kau pun sudah diturunkan dari kursi CEO! Ingat, kami memiliki wewenang penuh atas itu!" jawab Antonio keras.


"Kalau begitu, aku akan angkat kaki dari sini!" sahut Arion sungguh-sungguh. Tidak ada keraguan yang tersirat dari wajahnya.

__ADS_1


"Rion!"


"Pak!" Daniel dan Aiden bereaksi nyaris bersamaan.


Antonio tertawa kecil. "Jangan hanya karena seorang gadis, kau rela meletakkan jabatanmu dan menyerahkan semua yang sudah susah payah dibangun oleh ayahmu pada mereka."


Arion bergeming. Apa yang dikatakan Antonio sepenuhnya benar. Walau pria itu menyetujui pemecatan Sekar, beliau tetaplah salah satu orang yang selalu berada di sisinya.


"Sekarang fokus pada pekerjaanmu. Buat citramu kembali bersih dari skandal murahan itu. Serta tunjukan pada kami semua, bahwa kau masih layak menempati kursi kebesaran tersebut." Setelah mengatakan demikian, Antonio bersama dua orang asistennya meninggalkan ruangan Daniel.


Pria itu terduduk lemas di lantai. Wajahnya kini terlihat sangat pucat. Daniel mencengkram pundak Arion guna memberikan semangat.


"Maafkan aku," lirih Daniel. Rasa bersalah ikut menggerogoti dirinya, sebab dia sama sekali tidak menemukan solusi atas permasalahan sang adik.


...***...


Waktu sudah menunjukan tepat tengah malam, tetapi Sekar sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ditemani seberkas cahaya lampu tidur, gadis itu menatap sebaris nama yang tertera di layar ponselnya. Sekar tidak dapat memungkiri, seutas perasaan rindu hadir memenuhi relung hatinya.


Dulu, ketika Arion sedang dinas Keluar Kota, pria itu akan selalu meneleponnya tiap malam, guna menanyakan kabar tentang kesehariannya. Dan Sekar akan selalu bercerita tentang hari-hari yang telah ia lewati. Namun kini, ia tidak dapat melakukannya lagi. Sekar sadar, bahwa sekarang ia harus melalui semua ini sendirian, tanpa Arion.


Sebulir air mata jatuh membasahi bantal tidurnya, kala Sekar membaca baris demi baris pesan singkat yang Arion kirimkan. Sejak pertama kali mereka bertukar pesan, hingga saat terakhir, Sekar tidak pernah menghapusnya.


Aku merindukanmu,


Air mata semakin deras mengalir, saat sebaris kalimat yang Arion kirimkan terbaca olehnya. Sekar mengusap lembut kalimat tersebut seraya berbisik lirih. "A**ku juga merindukanmu**,"


...***...


Dini yang baru saja selesai dari kamar mandi, segera menghentikan langkahnya, begitu melihat ruang kerja Arion dalam keadaan terang benderang. Gadis itu kontan terkejut, kala mendapati Arion tertidur di sana ketika ia masuk ke dalam untuk mematikan lampu.


Dini melangkah perlahan menuju kamar Arion yang berada di seberangnya, lalu kembali lagi ke ruang kerja dengan membawa selimut tebal. Dengan gerakan hati-hati Dini menyelimuti Arion dan membereskan semua berkas-berkas yang ada di meja, termasuk ponsel yang berada di genggaman pria itu.


Tak sengaja, Dini melihat sebuah foto terpampang jelas di layar ponsel Arion.

__ADS_1


"Aku tidak pernah tahu, bahwa mencintai seseorang bisa serumit ini." Matanya menatap sang kakak perihatin.


__ADS_2