Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Pertemuan Davina dan Erlina


__ADS_3

Sekar dan Dino tiba di rumah sakit pukul delapan pagi. Bude Gayatri terlihat sudah merapikan seluruh barang-barang Mbah Bhanuwati.


"Kita tidak perlu ke kasir, Bude?" tanya Sekar. "Mungkin saja ada obat yang tidak ditanggung oleh Donatur," lanjutnya.


"Tidak, Nduk, semua sudah diurus. Kamu hanya perlu mengambil obat Mbah di bagian farmasi. Tadi dokter juga sudah memeriksa keadaan Mbah. Alhamdulillah, beliau hanya perlu rawat jalan saja." Bude Gayatri tersenyum sumringah. Wajahnya tak lagi menampakkan raut keletihan.


"Alhamdulillah." Sekar tersenyum lembut. "Kalau begitu, Sekar ke bawah dulu," sambungnya.


"Biar aku saja yang mengambil obatnya. Kau tunggu saja di sini." Dino menginterupsi.


"Tidak usah repot-repot, Mas, biar aku saja," tolak Sekar tak enak hati. Dino tidak mengindahkan perkataan Sekar. Ia meninggalkan ruangan Mbah Bhanuwati tanpa menunggu persetujuan gadis itu. Melihat hal tersebut, Sekar merengut sesaat lalu tersenyum kecil.


"Terima kasih," batinnya.


Sepeninggal Dino, Sekar lantas menghampiri Mbah Bhanuwati yang sedang duduk di kursi roda menghadap jendela.


"Mbah, Sekar pulang, loh! Mbah kangen tidak?" tanya Sekar jenaka. Sang nenek hanya terdiam sembari sibuk merajut kain dari benang wol berwarna ungu. Warna kesukaan Sekar.


"Dokter menyarankan Mbah melakukan sesuatu untuk mengasah daya ingatnya. Dino membantu Bude mencari informasi di internet, dan menemukan artikel bahwa merajut adalah salah satu kegiatan yang sangat baik bagi penderita alzheimer. Kebetulan, Mbah memang sangat suka merajut sewaktu Bude masih kecil." Penjelasan Bude Gayatri membuat pertanyaan yang ada di dalam kepala Sekar terjawab.


"Oh, begitu. Sejak kapan Mbah mulai merajut, Bude?" tanya Sekar.


"Baru sebulanan ini." Jawab Bude Gayatri. "Ingatannya soal merajut masih sangat baik."


Sekar tersenyum. Gadis itu memegang ujung kain yang sudah dirajut sang nenek. "Mbah, sedang buat apa?" tanya Sekar lembut.


Mbah Bhanuwati menghentikan kegiatannya, lalu memberi isyarat pada Sekar untuk diam. "Ssst! Aja rame. Aku sedang membuatkan baju hangat untuk cucu kecilku, Sekar."


Mendengar penuturan Mbah Bhanuwati, Sekar kontan tersentuh. Meski beliau tidak mengingat dirinya yang sekarang, tetapi sosok kecilnya masih terus tersimpan di hati beliau.


"Cantik bajunya, Mbah," puji Sekar tulus.


Mbah Bhanuwati menoleh ke arah Sekar. "Apa iya?" tanyanya.


Sekar menganggukan kepalanya. "Iya, Mbah. Cantik sekali. Sekar pasti akan suka!" jawab gadis itu antusias.


Mbah Bhanuwati melebarkan senyumnya. Wanita itu berkata akan membuatkan lebih banyak pakaian untuk cucu kesayangannya tersebut.


...***...

__ADS_1


Arion dan Aiden kini berada di sebuah bangunan besar yang sudah hampir selesai. Setelah memakai rompi dan helm keselamatan, pria itu kemudian ikut naik ke atas bangunan menggunakan lift proyek, demi memantau para pekerja dari jarak dekat. Pak Zian, sang kepala proyek, menjelaskan dengan sangat rinci soal perkembangan pembangunan tersebut.


"Jika tidak ada halangan, semua akan selesai dalam jangka waktu satu bulan ke depan." Pak Zian mengakhiri penjelasannya.


Arion mengangguk paham. "Saya percayakan semua pada Anda," Arion mengulurkan tangannya pada pria berusia 55 tahun itu.


"Terima kasih, Pak," ucap Pak Zian. "Ahh, saya dengar Anda akan pulang hari ini?" tanyanya.


"Benar. Pekerjaan di sini selesai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan." Jawab Arion tersenyum.


"Kalau begitu hati-hati di jalan, Pak. Semoga selamat sampai di rumah." Pak Zian membungkukkan tubuhnya.


Tanpa merasa risih akan pakaian Pak Zian yang sedikit kotor akibat debu proyek, Arion menegakkan tubuh beliau dan memeluknya ramah. "Terima kasih, Pak,"


Pak Zian membalas pelukan Arion canggung. Pria itu kemudian mengantar Arion dan Aiden sampai ke mobilnya. Saat Arion hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ujung jasnya seperti tengah ditarik-tarik.


Arion menoleh ke bawah. Seorang gadis lucu berusia sekitar 5 tahunan menatap Arion datar. Pakaian yang dikenakan gadis itu tampak kotor. Wajahnya juga sedikit menghitam akibat sengatan matahari. Tak ada sepatu atau sendal yang melindungi kaki kecilnya. Ia memegang erat-erat sebuah kotak kecil berisi uang koin lima ratusan. Dengan lugu, gadis itu mengangkat kotak tersebut tinggi-tinggi ke arah Arion.


Arion tersenyum lalu berjongkok di hadapan gadis itu. "Siapa namamu?" tanyanya lembut.


"Sekar," jawab gadis itu. Suaranya merdu dan lembut. Mendengar nama tersebut, Arion kontan tertawa kecil. Gadis itu rupanya memiliki nama yang sama dengan seseorang yang tengah dirindukannya.


"Kenapa sendirian? Setiap hari kamu selalu sendirian?" tanyanya lagi.


"Itu Kakak-kakakmu?" tanya Arion seraya mengangkat alisnya. Sekar mengangguk.


Arion menoleh pada Aiden guna menanyakan jam keberangkatan pesawat mereka.


"Masih empat jam lagi, Pak," jawab Aiden sembari melihat jam tangannya.


"Kalau begitu ...." Arion berdiri dari posisinya, lalu melambai-lambaikan tangannya pada ketiga anak tersebut.


Ketiga anak-anak itu menghampiri Arion malu-malu. Kendati demikian, ada secercah cahaya terbit pada tiap sorot mata kecil mereka. Arion mengajak mereka berkenalan sejenak. Ada Gilang yang merupakan anak tertua berusia 10 tahun, Nino berusia 8 tahun, dan Dwi yang belum genap 7 tahun.


"Mereka memang sering mangkal di sini, Pak. Mereka adalah anak yatim piatu yang tinggal di kawasan tempat pembuangan akhir daerah sini." Pak Zian menjelaskan sedikit informasi yang dia miliki pada Arion.


Mendengar hal tersebut, wajah pria itu berubah sendu. Malang sekali nasib mereka yang harus kehilangan kedua orang tua diusia sekecil itu.


Arion mengedarkan pandangannya ke segala arah dan berhenti pada sebuah rumah makan sederhana yang letaknya tak jauh dari sana. Ia kemudian menggendong Sekar kecil, lalu meminta pak Zian untuk menghentikan para pekerja agar bisa makan siang bersama. Tanpa diminta dua kali, para pekerja bersorak sorai dan berterima kasih pada Arion.

__ADS_1


"Kita makan dulu, ya?" Sekar kecil mengangguk senang. Bersama Sekar dan ketiga kakaknya, pria itu menyusul para pekerja menuju rumah makan tersebut.


Untung saja di sebelah rumah makan itu terdapat dua kedai tendaan sederhana. Jadi para pekerja tidak perlu merasa khawatir kehabisan makanan. Mereka bebas memilih makanan apa pun yang diinginkan. Arion bahkan tanpa canggung berbaur bersama. Ia juga turut membantu menyuapi Sekar makan dengan sangat telaten.


Selesai makan, Aiden rupanya sudah menyiapkan uang dan sembako untuk keempat anak tersebut. Tak lupa, empat pasang sendal juga dibeli oleh Aiden. Mata Gilang, Nino dan Dwi berbinar-binar kala menerima sendal pemberiannya. Mereka bahkan dengan tidak sabaran langsung memakai sendal tersebut saat itu juga.


Arion tertawa melihat tingkah ketiga anak itu. Matanya kemudian beralih pada Sekar yang tampak menginginkannya juga. Arion mengambil sendal milik Sekar dan membantu gadis itu memakainya.


"Terima kasih banyak, Om Ion," ucap Sekar sumringah. Arion tertawa. Kendati gadis itu sudah sangat fasih mengatakan huruf R, tetapi entah mengapa, tidak pada namanya.


"Sama-sama. Kalian belajar yang rajin, ya?" pesannya pada anak-anak tersebut.


"Iya, Om. Aku bakal sekolah yang rajin biar jadi anak pintar. Kalau pintar, nanti aku bisa ketemu Om di gedung itu!" Gilang menunjuk gedungnya yang berada di belakang mereka. Arion mengacak rambut gilang seraya tertawa bangga.


"Om tunggu!" serunya mantap. Keduanya pun pamit pergi. Pak Zian, para pekerja dan keempat anak itu kompak berdiri di ambang pintu gerbang, mengantar kepergian Arion dan Aiden dari sana.


"Gilang anak yang tangguh," tutur Aiden tiba-tiba.


"Ya. beberapa tahun lagi, mungkin saja dia akan berdiri bersamamu di sebelahku," jawab Arion tersenyum.


...***...


Davina baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah mengurus perusahaan sang ayah di Singapore. Dari sana, ia langsung pergi menuju apartemen Erlina. Wanita sudah mengabari Davina soal dirinya dan Adhisty yang telah diusir paksa dari rumah utama.


"Mama, baik-baik saja? Betah tidak di sini? Nyaman tidak? Kalau tidak, biar aku urus kepindahan Mama ke salah satu apartemen mewahku," Davina segera memberondong Erlina dengan berbagai macam pertanyaan begitu sampai di sana.


"Tidak perlu, Sayang. Apartemen ini masih nyaman ditempati. Bagaimana kabarmu? Mama kangen sekali, loh," Erlina merangkul Davina dan membawa wanita cantik itu masuk ke dalam.


"Baik, Ma. Hanya saja, beberapa hari lalu aku sempat check up ke rumah sakit akibat kelelahan." Jawab Davina.


"Jaga kesehatan, Sayang, jangan sampai sakit lagi, ya?" Erlina membelai sayang pipi Davina.


"Iya, Ma." Davina tersenyum lembut. "Oh iya, bagaimana oleh-oleh yang kuberikan kemarin untuk Mama, Ka Adhisty dan Jane? Suka tidak? Maaf ya, Ma, oleh-olehnya tidak seberapa," kata Davina tak enak hati.


"Jangan begitu, Sayang. Mama suka sekali. Terima kasih kau masih mengingat Mama dan mau repot-repot mengirim oleh-oleh duluan." Raut wajah Erlina mendadak sumringah. Bagaimana tidak sumringah, Davina baru saja mengirimkan barang-barang mewah, seperti tas, sepatu, dan pakaian dengan brand ternama. Itu lah mengapa Erlina sangat menginginkan Davina agar bisa menikah dengan Arion. Sebab selain saham yang diwariskan Dewandaru bisa jatuh ke tangannya secara resmi, dia juga bisa menguasai harta wanita itu.


Erlina kemudian mengajak Davina makan siang sembari membicarakan proyek Arion yang sukses besar. Erlina juga memberitahu wanita itu, soal dirinya yang telah berhasil menendang Sekar keluar dari kantor.


"Pokoknya kalian harus menikah tahun ini! Ok, Sayang?" desak Erlina.

__ADS_1


"Tapi Papaku, Ma ...," sorot Davina berubah sendu. Wanita itu kembali merasa sedih, sebab sang ayah tidak berusaha menjodohkan mereka. Itu lah mengapa Baskoro langsung menyuruhnya terbang ke Singapore untuk mengurus perusahaan mereka di sana, agar dia bisa melupakan Arion.


"Tenang saja, Sayang, ada Mama. Mama pastikan kalian akan menikah tahun ini juga!" mendengar kalimat tersebut, Davina sontak memeluk erat Erlina seraya mengucapkan kata terima kasih.


__ADS_2