
Sekar baru saja sampai di rumah pukul sepuluh malam. Rumah sudah terlihat sangat sepi aaat ia masuk. Bi Ida pasti sudah tidur, sementara Dini masih belum pulang. Setelah membersihkan diri, gadis itu memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Sebenarnya, sejak pulang tadi, Sekar terlihat lebih murung dari biasanya. Padahal ia baru saja diajak makan ke tempat yang seumur hidup belum pernah didatanginya.
Semua itu karena pembicaraan Arion saat mereka baru sampai di depan rumah.
Proyek Earlene yang akan dilaksanakan minggu depan rupanya hanya bisa dihadiri para tamu undangan. Setiap anggota memang dibebaskan mengajak satu orang, siapapun, untuk datang ke sana, namun Arion sudah terlanjur berjanji mengajak sang ibu ke sana. Ia maklum, kekecewaannya datang lantaran tidak dapat hadir, bukan karena Arion sudah mengajak ibunya ke sana. Biarlah, lagi pula ia masih bisa melihat acara itu di layar kaca.
...***...
Sekelumit rasa bersalah hadir di benak Arion. Bagaimana tidak! Sekali lagi ia harus berbohong pada Sekar.
Ia sadar, semakin ke sini kebohongan yang ia lakukan semakin banyak. Arion sama sekali tidak menahannya sedikit pun, seolah-olah ia menikmati apa yang telah dilakukannya.
"Terakhir. Setelah ini aku akan mengatakan segalanya. Kuharap perasaanmu padaku tidak akan berubah," gumam Arion.
...***...
"Hei! Hari ini tidak ada yang namanya bersantai. Lusa nanti kantor kita akan ramai, jadi aku ingin tempat ini terlihat bersih. Terlebih aula yang akan dipakai nanti. Mengerti?" titah Ningrum pada seluruh juniornya.
"Baik." Sekar dan beberapa kawannya menjawab dengan serempak. Sebagian dari mereka langsung pergi menuju lantai dua untuk membersihkan aula.
Suara bersin terdengar kala Ningrum, Sekar, Ningsih dan Indah masuk ke dalam aula.
"Kamu sakit Sekar?" tanya Indah khawatir.
"Sepertinya. Baru tadi pagi aku terkena flu." Jawab Sekar seraya menyeka hidungnya yang merah dengan sapu tangan.
"Alaaah! Tidak usah manja. Mau sakit, mau apa, tetap kerja!" seru Ningrum.
Mereka berempat berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing. Ningsih sibuk membersihkan seluruh tirai raksasa yang ada di aula menggunakan vacum cleaner, sedangkan Indah menyapu dan mengepel eluruh lantai. Sekar sendiri membersihkan panggung dan kursi. Untuk Ningrum? Dia sibuk duduk di pojok kursi penonton sembari memainkan ponselnya.
Melihat kelakuan Ningrum, ketiga gadis itu sebenarnya sedikit kesal, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam saja. Bukan karena mereka takut, melainkan terlalu malas berurusan dengan gadis sok berkuasa tersebut.
"Matamu bisa copot, Ning," ujar Sekar pada Ningsih yang tengah membersihkan tirai.
"Kesel aku, sok banget jadi orang!" seru Ningsih jengkel. "Lihat saja kelakuannya. Kita semua di sini sama jabatannya, tapi dia selalu berlagak seperti bos di sini!" sambung gadis itu.
"Sstt! Nanti dia bisa dengar." Sekar mengangkat jari telunjuknya ke mulut.
__ADS_1
"Biarkan saja. Biar sekalian kita adu jotos di sini!" Ningsih terlihat menggebu-gebu. Vacum cleaner-nya dinyalakan gadis itu paling maksimal.
Mendengar suara vacum cleaner tersebut sangat bising. Ningrum segera berdiri
"Woy! Kalau pakai mode maksimal, tirainya bisa-bisa masuk ke dalam mesin semua. Bodoh banget, sih!" teriak Ningrum sembari menunjuk-nunjuk Ningsih.
Ningsih yang terpancing emosi hendak berjalan turun dari panggung, namun Sekar menahannya. "Please, aku tidak ingin ada ribut-ribut," pinta gadis itu.
Ningsih kontan mengurungkan niatnya dan hanya mengangguk tanpa berniat menjawab teriakan Ningrum.
...***...
"Tidak ada wajahku sama sekali, kan? Tidak ada, kan? Pokoknya jangan sampai ada!" Arion berkali-kali memperingati Aiden yang tengah mengurus persiapan lusa nanti. Berbagai iklan dan pengumuman perihal acara mereka rencananya hari ini akan tampil di hampir seluruh media cetak maupun elektronik.
"Tidak ada, Pak," jawab Aiden.
"Ini adalah proyek Danu. Pajang saja wajahnya." Aiden menahan diri untuk tidak mencibir. Semenjak Arion berhubungan dengan Sekar, pria itu melarang semua potret dirinya terpampang di kantor. Ia bahkan mencetak ulang seluruh pamflet milik kantor, dengan menghapus seluruh gambar dirinya.
"Merepotkan sekali," batin Aiden.
...***...
Hari berjalan sangat lambat bagi Sekar, Ningsih dan Indah karena Ningrum. Gadis judes itu sedari tadi hanya bisa berteriak menyuruh-nyuruh mereka. Ada saja hal yang salah menurut Ningrum. Mulai dari tata letak karpet, tirai besar panggung yang kurang bersih, jendela yang masih berembun, sampai lantai yang masih licin.
Sekar mengangguk saja dan mengambil alih long mop yang dipegang Indah.
"Semangat, semangat!" Sekar menyemangati dirinya sendiri, sebelum mulai membersihkan seluruh lantai dari ulang.
Setelah selesai mengepel ulang sebanyak dua kali, Ningrum mengijinkan mereka kembali.
Keempatnya kini tengah menunggu di depan pintu lift. Ketika pintu lift terbuka, Ningsih dan Indah dan Ningrum masuk terlebih dahulu.
Bunyi peringatan langsung terdengar begitu mereka masuk. Maklum, lift memang sedang penuh karena sekarang sudah memasuki jam istirahat makan siang.
"Kalian duluan saja." Ningrum keluar dari dalam lift.
"Sepertinya lama, kita lewat lift yang lain saja, biar cepat." Sekar mengiyakan ajakan Ningrum. Mereka berdua pergi ke sisi lain gedung, menuju lift yang lain.
Ningrum melihat papan peringatan pada salah satu lift. Tanpa sepengetahuan Sekar, gadis itu menggeser papan tersebut ke lift sebelahnya.
__ADS_1
"Kau naik duluan saja, aku harus ke toilet dulu," ujar Ningrum tiba-tiba.
Sekar mengangguk. Ia memang ingin buru-buru ke ruang istirahat untuk makan dan minum obat. Sepertinya, flu yang dideritanya semakin memburuk saja. Terlebih ia baru saja berkutat dengan debu dan kotoran.
Pintu lift terbuka dan Sekar masuk ke dalam sana.
"Duluan, Mbak," pamit Sekar.
"Iya." Ningrum tertawa begitu lift tertutup. "Mampus! Semoga kau terjebak di sana sampai esok hari."
Sekar terheran, sebab lift tidak bergerak sama sekali. Alarm peringatan di dalam lift malah berbunyi begitu ia menekan tombol sekali lagi.
"Bukankah lift yang rusak itu di sebelahnya?" Sekar bertanya-tanya dalam hati.
Sekar membelalakan matanya. Pantas saja Ningrum beralasan ingin ke toilet terlebih dahulu. Ia pasti menggeser papan peringatan tersebut.
Sekar menekan tombol interkom di dalam lift.
"Ada orangkah di sana? Tolong, aku terjebak di lantai dua!" teriak Sekar.
Seorang teknisi menjawab panggilan Sekar. "Siapa di sana?"
"Saya Sekar, OG di sini, Pak." Jawab Sekar.
"Lift ini rusak, Mbak Sekar, kenapa bisa masuk?" Sekar terdiam, enggan menjawab pertanyaan sang teknisi.
"Tunggu ya, kami sedang memperbaikinya."
"Masih lama tidak, Pak?" tanya Sekar yang mulai ketakutan.
"Kami tidak bisa memprediksi," mendengar jawaban itu, Sekar terduduk lemas di lantai lift. Bisa-bisanya ia terjebak ulah Ningrum.
Seorang teknisi lain yang semula sedang memperbaiki lift di lantai satu, segera naik ke lantai dua, tempat Sekar terjebak.
Arion yang kebetulan lewat, melihat teknisi tersebut dan menghampirinya. "Lift-nya belum selesai diperbaiki? Bukankah masalahnya ada di lantai satu?"
"Sedikit lagi, Pak. Ini, ada yang terjebak di lantai dua, jadi saya akan mencoba membuka pintunya," terang teknisi tersebut.
"Mbak Sekar," panggil si teknisi. Arion sontak terbelalak begitu mendengar nama orang yang dipanggil si teknisi.
__ADS_1
"Iya, Pak, saya di sini,"
Benar, itu adalah suara Sekar.