
Selesai makan mereka berbincang-bincang sampai menjelang sore. Sadar bahwa hari akan berganti malam, Sekar bergegas menyuruh keduanya mandi dan berganti baju. Mereka tidak mungkin pulang dengan pakaian kotor.
Gadis itu memberikan dua setel pakaian milik mendiang sang ayah, sementara pakaian mereka sendiri akan dicuci olehnya. Selepas mandi dan berganti pakaian. Aiden yang kelelahan meminta ijin untuk beristirahat di pojok ruangan depan ruang tv. Dengan beralaskan tikar pria itu tertidur pulas di sana.
Tak lama kemudian, Sekar keluar membawa sebuah ember hitam berisi kemeja dan celana panjang kedua pria tersebut. Ia hendak menjemur pakaian mereka di samping rumahnya. Berhubung cuaca sedang bagus, jadi mungkin saja pakaiannya akan sempat kering sebelum malam.
"Biar aku bantu," Arion mengajukan diri. Biar bagaimana pun itu adalah pakaian miliknya.
"Tidak usah. Duduk saja di sana." Sekar memberi isyarat pada Arion untuk tetap diam di pelataran rumahnya.
Tanpa mengindahkan perkataan Sekar, Arion ikut turun menyusul gadis itu.
"Sini, biar aku yang memerasnya." Arion mengambil kemeja basah miliknya dari tangan Sekar, lalu memerasnya kuat-kuat sampai kering. Sekar meringis. Kemejanya pasti mahal, maka dari itu ia sangat berhati-hati mengeringkannya. Tetapi yang punya malah seenaknya memelintir kemeja tersebut sekuat itu.
"Ini," Arion memberikan pakaiannya yang sudah tidak meneteskan air. Sekar menerima dan mulai menjepit pakaian tersebut di tali tambang yang telah tersedia. Mereka terus melakukannya bersama sampai habis.
Saat mereka hendak kembali ke dalam rumah, tanpa sengaja Sekar terpeleset tanah basah bekas Arion memeras tadi. Beruntung ia segera menangkap tubuhnya agar tidak terjerembab.
Sadar akan posisi mereka, Sekar reflek mencengkram tangan Arion dan mendorongnya guna melepaskan diri.
"Ouch!" Arion kontan meringis kesakitan. Sesekali ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Menyadari hal tersebut, Sekar mengambil kedua tangan Arion. "Kenapa tidak bilang kalau tanganmu lecet begini?" tanya Sekar marah, begitu mendapati telapak tangan Arion penuh dengan luka lecet. Pantas saja beberapa kali ia terlihat mengerutkan keningnya saat sedang memeras.
"Hanya luka kecil." Jawab Arion kalem.
"Luka kecil bisa jadi besar kalau tidak diobati!" Sekar menarik lengan Arion dan menyuruhnya duduk di bale, selagi ia mengambil kotak P3K.
Hati Arion menghangat ketika Sekar dengan telaten mengoleskan salep dan membebat kedua tangannya menggunakan perban. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan lembut gadis itu. Mendapati perlakuan seperti ini membuat Arion semakin merindukannya.
"Aku merindukanmu," ucap Arion tiba-tiba.
__ADS_1
Hati Sekar berdetak tak karuan. Ini lah yang ia takutkan ketika berdekatan dengan Arion. Egonya mengatakan bahwa Arion adalah pria jahat yang tega berbuat kebohongan dengan memanfaatkan harta dan kekuasaan. Tetapi tidak demikian dengan hatinya. Sekuat tenaga Sekar telah berusaha membenci pria itu. Namun, semakin ia membenci, perasaannya malah semakin tertaut.
Arion adalah pria pertama yang mampu membuat hati Sekar terombang-ambing. Tetapi, ia juga lah pria pertama yang sudah menyakiti dirinya.
Tanpa mengindahkan pengakuan Arion, Sekar memilih menyelesaikan kegiatannya. Baru saja ia hendak pergi untuk menaruh kembali kotak P3K di dalam rumah, Arion segera menahan tangannya.
Suasana di antara mereka hening sesaat, sebelum kemudian Sekar memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. "Mulai besok, kau tidak perlu kemari lagi. Soal biaya pengobatan Mbah, aku akan berusaha menggantinya dengan cara mencicil sedikit demi sedikit. Walau miskin, kedua orang tuaku tidak pernah mengajarkan kami untuk menerima belas kasihan dari orang lain."
"Kau salah mengartikan perbuatanku. Aku tidak pernah melihat dirimu seperti itu!" sahut Arion tegas.
"Kumohon, berhentilah membantah setiap perkataanku," lirih Sekar.
"Terima kasih atas semua kebaikanmu hingga detik ini. Aku hanya meminta satu hal padamu, jangan sampai Bude tahu soal ini. Urusan hutang biar menjadi masalahku."
"Sekar, please," ujar Arion putus asa. Entah bagaimana ia harus meyakinkan Sekar agar berhenti berpikiran buruk tentangnya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya, bahwa semua yang kuperbuat tak lebih dari sekedar ungkapan cintaku?" tanya Arion sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Aku mencintaimu, Sekar Ayu!" seru Arion. Raut wajahnya terlihat sungguh-sungguh. "Seribu kali kau menolakku, aku akan terus datang membayang-bayangi hidupmu," lanjutnya.
Sekar membalikkan tubuhnya menghadap pria itu. Wajah cantiknya sudah dipenuhi bulir-bulir air mata. "Percaya lah, itu bukan perasaan cinta. Kau hanya pria kesepian yang terlalu terobsesi pada seorang gadis yang mencintaimu, tanpa memandang siapa kau sebenarnya."
Arion sontak terbungkam setelah mendengar pernyataan Sekar yang amat menyakitkan. Diiringi seberkas cahaya senja yang sudah mulai menghiasi langit, keduanya sama-sama terdiam.
Sesaat kemudian Arion mengeluarkan tawa kecil. "Jadi, itu lah arti diriku di matamu, ya?"
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Arion segera masuk ke dalam rumah Sekar dan membangunkan Aiden. Keduanya lalu pamit pulang pada Bude Gayatri. Tak lupa ia juga mengatakan pada beliau akan mengembalikan pakaian yang mereka pakai sesegera mungkin.
"Kok, buru-buru, toh? Tidak menunggu sampai makan malam dulu?" tanya Bude Gayatri sembari melirik Sekar yang berdiri di ambang pintu rumah. Mata gadis itu terlihat sembab.
__ADS_1
"Tidak buru-buru, Bude, ini sudah hampir maghrib." Arion tersenyum.
"Kalau begitu tunggu sampai maghrib dulu." Bude Gayatri mencoba menahan keduanya, tetapi Arion berkeras ingin tetap pulang. Wanita itu pun tidak bisa melarangnya lagi. Beliau berterima kasih atas bantuan keduanya, dan berpesan pada mereka agar berhati-hati di jalan.
Aiden berpamitan pada Sekar sembari keluar dari rumahnya. Sekar pikir Arion akan melakukan hal yang sama, tapi ternyata pria itu hanya melihat dirinya sekilas lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Hati Sekar sontak berdenyut sakit, terlebih ketika Arion memperlihatkan raut kekecewaannya. Sekar hanya bisa meratapi kepergian mereka dari sana.
"Maafkan aku," batin gadis itu saat mobil Arion sudah tidak terlihat lagi.
Bude Gayatri menyentuh lengan keponakan tersayangnya. "Mau bercerita?" tanya wanita itu lembut.
Begitu mendapat perhatian dari sang bude, Sekar langsung mengangguk dan menangis tersedu-sedu di pelukan beliau. Ia tak mungkin terus-menerus memendam semuanya seorang diri. Sekar sadar bahwa dirinya butuh sandaran.
...***...
Ben melempar semua berkas-berkas yang baru saja ia baca ke atas meja. Baru saja beberapa hari di sana, ia sudah menemukan berbagai kesalahan yang telah diperbuat Abiyan. Pria itu geram setengah mati, saat mengetahui bahwa Arion belum menindaklanjuti perbuatan orang itu selain hanya memecatnya secara tidak hormat.
"Rion sedang menunggu, Mas. Dia sedang mengumpulkan bukti-bukti lebih. Baru setelah itu, ia akan memberinya tindakan tegas." Jawab Daniel saat Ben menanyakan alasannya melalui telepon. Meski status mereka adalah paman dan keponakan, tetapi Ben enggan dipanggil 'om' oleh keponakan yang hanya berjarak 3 tahun di bawahnya itu.
"Untuk apa menunggu banyak bukti? Apa harus menunggu pria itu berbuat lebih jauh lagi?" ujar Ben emosi. "Besok aku akan segera menangani si brengsek itu. Bilang pada adikmu supaya jangan coba-coba mencampuri ini. Sekarang, aku lah yang bertahta di sini!" Ben langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Daniel.
Daniel memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ben adalah tipe pria keras dan dingin. Arion juga memiliki sifat keras, tetapi ia bukan lah pria yang terburu-buru. Sang adik malah lebih senang menyelesaikan segala sesuatu diam-diam terlebih dahulu, lalu menyergapnya bak hewan pemangsa, seperti yang selama ini ia lakukan.
Namun, tidak demikian dengan Ben. Tanpa pandang bulu pria itu akan langsung menindak tegas siapa pun, yang melakukan kesalahan detik itu juga. Ben juga merupakan pria yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Itu lah mengapa ia di lempar ke kota kecil (yang kini ia tempati) beberapa tahun silam oleh para petinggi-petinggi Umbara Corporation yang merasa terancam. Padahal karena ketegasannya lah, kantor yang ia kelola sebelumnya mengalami kemajuan pesat.
"Erlina memang wanita ular! Sudah kubilang jangan pernah menikahi iblis itu!" gumamnya emosi.
Dini yang mengintip dari balik tangga hanya bisa bergidik ketakutan. Sejak awal Ben datang, gadis itu tak pernah berani mengajaknya berbincang. Dilihat dari luarnya saja, ia bisa tahu Ben adalah orang yang menakutkan. Ditambah, postur tubuhnya yang tinggi besar. Siapa pun pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekatinya.
__ADS_1