
Adhisty menangis meraung sejadi-jadinya. Kejadian tentang kecelakaan 13 tahun lalu rupanya bukan hanya sekedar mimpi belaka.
Adhisty ingat kalau hari itu Erlina mengajaknya untuk menghadiri acara peresmian sebuah hotel ternama, yang diadakan salah satu bos tempat sang ibu bekerja. Entah bagaimana ceritanya Erlina juga mengetahui, jika Rossane, istri dari Dewandaru, akan menghadiri acara yang sama.
Berbekal informasi tersebut, Erlina memutuskan untuk memata-matai Rossane dari rumah dan membuntuti mobil wanita itu.
Adhisty yang tidak mengerti apa-apa hanya menuruti saja kemauan sang ibu. Namun, tujuan Erlina ternyata lebih dari itu. Dia memaksa Adhisty untuk menabrak mobil Rossane. Penolakan Adhisty rupanya tidak mengendurkan niat Erlina . Ia dengan beringas malah mengambil alih kemudi dan menabrak mobil sedan ibu dari adik tirinya itu hingga masuk ke dalam jurang.
Supir pribadi Rossane meninggal di tempat, sementara Rossane sendiri koma selama lima hari sebelum akhirnya meninggal dunia.
Adhisty mengusap wajahnya berkali-kali dengan tangan gemetar. Kejadian saat mobil hitam itu di dorong masuk ke dalam jurang oleh mereka, membayang-bayangi ingatan Adhisty. Batinnya terguncang hebat. Air mata bahkan sudah tak terhitung lagi saking banyaknya ia menangis.
Rasa bersalah kian meledak-ledak saat menyadari, bahwa mereka telah menghancurkan satu keluarga utuh yang tengah berbahagia.
Adhisty memeluk kedua lututnya erat-erat. Ia tengah berpikir keras, tentang bagaimana caranya menebus semua dosa yang telah ia lakukan di masa lalu. Haruskah ia menghubungi Arion dan mengaku? Atau, langsung menyerahkan diri saja ke kantor polisi?
Adhisty sontak mengangkat kepalanya. Ya, dia bertekad untuk menyerahkan diri ke polisi, tetapi sang ibu juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Adhisty hanya perlu bukti yang memberatkan Erlina, bahwa kematian Rossane bukanlah kecelakaan biasa.
"Tapi apa?" batin wanita itu.
Saat sedang sibuk berpikir, suara dering pada ponselnya memecahkan konsentrasi Adhisty. Wanita itu kontan terbelalak tatkala nama Arion tertera di layar ponsel.
Adhisty mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia berusaha menguatkan diri, sebelum mengangkat telepon Arion dengan sangat hati-hati.
"Ada apa, Ryon?" tanya Adhisty tanpa basa-basi. Wanita itu berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar biasa.
"Aku sudah mencoba menghubungimu sejak beberapa hari lalu, tapi kau tak pernah mengangkatnya," kata Arion. "Apa kau sudah tahu berita soal Mama?" tanyanya kemudian.
Adhisty menarik napas. "Ya, aku memang sedang tak ingin diganggu. Soal Mama, aku sudah tahu. Namun, aku tidak ada di rumah saat itu karena sedang berada di luar." Jawab wanita itu sembari sesekali menghapus air matanya.
"Sekarang kau ada di mana?" tanya Arion.
"Di suatu tempat." Jawab Adhisty tanpa memberitahu lokasinya. "Ryon?" panggil wanita itu.
"Ya."
Adhisty meringis seraya mencengkram erat dadanya. "Aku tahu kesalahan Mama sudah begitu besar. Aku tidak pernah berharap kau mau memaafkan Mama, hanya saja ... aku ... Mama ...," wanita itu tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Suasana hening sejenak, sebelum Arion membuka suaranya lagi. "Kau baik-baik saja? Sepertinya, sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama. Kau ada di mana? Biar aku yang ke sana,"
Mendengar hal tersebut, Adhisty refleks menjauhkan ponselnya dan membekap mulutnya sendiri sekuat mungkin.
Rasanya akan jauh lebih baik jika Arion membentak dan mencaci maki dirinya saat ini. Bukan malah berkata demikian.
"Kak?" panggilan Arion padanya semakin membuat Adhisty ingin menjerit.
__ADS_1
" ... Ya ... adikku," jawab Adhisty dengan suara sengau.
" ... berikan alamatmu, aku akan datang ke sana," pinta Arion.
"Tidak perlu. Biar aku yang menemuimu di sana. Itu kalau kau berkenan mengijinkannya."
"Baiklah, akan kuberikan alamat tempat tinggalku di sini," mendengar jawaban Arion, Adhisty berterima kasih.
"Kalau begitu, sampai bertemu," ucap Adhisty mengakhiri pembicaraan.
"Ya. Jaga kesehatanmu. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu,"
Adhisty hanya bisa menjawab dengan gumaman rendah. Pria itu pun mengakhiri teleponnya duluan. Sedetik setelah menutup telepon, Adhisty menangis meraung-raung sembari mengucapkan kata maaf berkali-kali.
Sementara itu, Arion menatap layar ponselnya sendu.
...***...
Sekar kembali masuk bekerja di kedai Mon Amour. Gadis itu sangat terharu saat teman-temannya memberikan kejutan selamat datang, dan beberapa pelanggan yang tengah makan di sana turut meramaikan acara kecil-kecilan tersebut.
Mereka berbondong-bondong memeluk Sekar dan menguatkan dirinya.
"Terima kasih semua," ucap Sekar penuh keharuan. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam, sembari sibuk menghapus air mata yang mengalir.
"Kau yakin sudah baik-baik saja, Ar?" tanya Tristan, sang pemilik kedai.
Sekar mengangguk antusias. "Saya sangat yakin, Pak," jawabnya.
Tristan tersenyum lembut. "Jangan terlalu memaksakan diri, ya?"
Sekar kembali mengangguk. Tristan pun mempersilakan Arion dan Aiden untuk makan siang di sana. "Karena hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan, maka seluruh minuman yang ada di sini gratis."
Sorak sorai dari para pengunjung menambah suasana suka cita mereka.
"Saya juga mau turut andil. Silakan makan dan minum sepuasnya, karena semua gratis."
Kehebohan di kedai itu semakin semarak setelah mendengar perkataan Arion. Pria itu pun berbisik pada Tristan dan meminta tolong agar dibuatkan beberapa makanan, untuk dibagikan kepada orang-orang di jalan.
Sekar tersenyum. "Kau merepotkan Mas Gading dan Banyu," ujarnya jenaka.
Arion mendekatkan diri. "Haruskah aku ikut turun ke dapur juga?" timpalnya tersenyum.
...***...
Malam harinya setelah Sekar selesai menutup kedai, Arion mengajak gadis itu makan malam di sebuah restoran yang terbilang cukup mewah.
__ADS_1
"Kali ini, aku tak akan berbohong," ujar pria itu.
Sekar mengangguk pelan. Mereka masuk ke dalam restoran dan masuk ke private room yang telah Arion pesan sebelumnya.
Keduanya makan malam dalam suasana yang sangat tenang. Sesekali, jika Sekar kesulitan memotong makanannya, Arion akan dengan sigap membantu gadis itu.
"Terima kasih," ucap Sekar setelah mereka menyudahi makan malamnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih, karena kau sudi menerima ajakan makan malam ini," jawab Arion. Pria itu kemudian merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak silver berukuran sedang.
"Aku ingin mengembalikan ini pada pemiliknya." Arion menyerahkan kotak tersebut pada Sekar.
Sekar mengernyit keheranan. Seingatnya, Arion tidak pernah meminjam barang apapun darinya, apa lagi sampai harus mengembalikan barang tersebut.
"Apa ini?" tanya Sekar.
"Bukalah," titah Arion.
Tanpa diminta dua kali, Sekar membuka kotak silver tersebut. Matanya terperanjat tatkala sebuah kalung berinisial 'S' tertata rapi di dalam kotak. Ia ingat bahwa kalung itu merupakan pemberian Arion dulu. Sekar mengembalikannya tepat sebelum pergi dari rumah Bu Ida.
"Ini bukan barang milikku. Aku tak bisa menerimanya." Sekar menutup kembali kotak kalung tersebut dan mendorongnya ke hadapan Arion.
"Ini adalah barang milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu." Matanya memandang Sekar serius.
Sekar terdiam. Ujung jarinya sibuk memainkan kaki gelas yang ada di hadapannya. Ia tampak seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Arion yang menyadari perubahan raut wajah Sekar.
"Dua hari lalu, Mas Bayu mengajakku berbincang," tutur Sekar memulai pembicaraan.
Arion dengan seksama menunggu perkataan gadis itu selanjutnya.
"Setelah kasus ini selesai, dia mengajakku untuk ikut tinggal dengannya. Mas Bayu berniat mendaftarkanku ke sekolah kursus di sana, agar aku memiliki bekal yang mumpuni." Sekar menundukkan kepalanya, enggan menatap Arion.
"Dan aku ... sedang meyakinkan diri untuk mengiyakan ajakan Mas Bayu," ucap Sekar dengan suara nyaris tak terdengar.
Arion meremas sapu tangan yang berada di atas meja makan. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kotak kalung tersebut dan berdiri dari kursi.
Sekar mendongak. Ia pikir, Arion akan pergi meninggalkan dirinya di sana. Namun ternyata, pria itu malah berdiri di belakang tubuhnya dan membuka kotak tersebut. Dalam diam, ia memasangkan kalung berinisial 'S' itu pada leher Sekar.
"Kau pasti lelah. Aku akan mengantarmu pulang," ujar Arion setelah selesai memakaikan kalungnya. Ia pun berbalik pergi.
Sekar buru-buru menahan tangan pria itu dan menggenggamnya erat. Ia berdiri dan menyandarkan dahinya di punggung lebar Arion. "Hanya sebentar. Bolehkah?" tanya gadis itu lirih.
Arion menghela napasnya yang terasa berat. Tangan pria itu membalas genggaman tangan Sekar.
__ADS_1