Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Rencana Abiyan


__ADS_3

Suara tepuk tangan menggema memenuhi ruangan laboratorium Umbara Corporation. Setelah berjuang selama hampir 24 jam, mereka berhasil melumpuhkan virus pada sistem komputer Earlene. Kendati Earlene harus kehilangan sebagian memorinya, itu jauh lebih baik dari pada AI tersebut harus musnah. Dan hebatnya, berkat kepintaran Abiyan, Earlene hanya kehilangan tiga puluh persen ingatannya dari perkiraan semula.


Tepuk tangan paling meriah tentu ditujukan untuk pria itu.


Abiyan menggaruk tengkuknya malu-malu seraya menggumamkan kata terima kasih.


Tanpa pikir panjang Danu langsung mengajak Abiyan bergabung dengan Tim mereka, tentu dengan persetujuan Arion. Pria itu ingin berjaga-jaga, kalau suatu saat cracking kembali datang dan menyerang sistem komputer mereka, kendati Abiyan telah memasang perlindungan berlapis kali ini.


Arion mau tak mau mengakui kehebatan calon iparnya itu. Jika saja pria itu tidak salah jalan, mungkin kehidupan Abiyan sudah sangat sukses berkat kemampuannya.


Melihat mayoritas dari para anggota menyetujui usul Danu untuk merekrut Abiyan, Arion mau tidak mau ikut menyetujuinya. Tetapi dengan syarat, bahwa Abiyan hanya diperbolehkan mengawasi dan baru turun tangan jika ada sesuatu hal yang mengancam, seperti hari ini.


Abiyan membungkukkan badannya dalam-dalam sembari mengucapkan terima kasih, karena telah diberikan kesempatan untuk bergabung di proyek mega besar ini.


Arion melangkah menghampiri Abiyan dan mengajaknya bersalaman. Abiyan menerima uluran tangan calon ipar tirinya itu dengan senang hati. Tepuk tangan kembali menggema ketika Abiyan memeluk Arion penuh keakraban.


"Terima kasih sekali lagi," ujar Abiyan seraya menepuk-nepuk punggung Arion.


"Ya. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik." Arion membalas pelukan Abiyan.


Tanpa disadari Arion, Abiyan melirik sinis dari balik punggungnya. Ia memasang senyum licik yang sangat menjijikan.


Aiden yang tengah berdiri di sudut ruangan mengerutkan keningnya. Ia menyadari hal tersebut.


...***...


"Bapak yakin? Bukankah Bapak sendiri yang mengatakan untuk tidak membiarkan orang itu masuk ke dalam proyek ini," ujar Aiden begitu mereka tiba di ruangan Arion.


Arion membuka dasi, kemeja dan celana panjangnya. Aiden sigap mengambil pakaian Arion dan memberikannya pakaian ganti.


"Aku tak bisa menolak, sebab Danu sendiri yang menginginkannya." Jawab Arion sembari memakai t-shirt biru tua miliknya.


"Bisa saja itu hanya akal-akalan darinya. Dari mana ia bisa tahu virus itu, sedangkan ahli IT kita tidak? Dan, mengapa virus itu bisa sama dengan virus yang pernah menyerang perusahaan tempatnya bekerja, dulu?" Aiden kontan meninggikan suaranya.

__ADS_1


Arion dengan santai memakai celana jeansnya lalu berbalik menatap Aiden.


Aiden langsung menundukkan kepalanya. "Maafkan kelancangan saya, Pak,"


Arion tersenyum lembut lalu menepuk pundak Aiden. "Tenang saja, sebelum kau bertanya, aku sudah memikirkan segalanya."


Pria itu kemudian melangkah keluar dari ruangan. "Lebih baik kita pulang. Tetapi sembari pulang, biarkan aku mengunjungi Sekar sebentar,"


Aiden mengangguk patuh.


...***...


Setelah menerima telepon dari Arion, Sekar buru-buru menghampirinya yang kini tengah berada di depan gerbang kos-kosan.


Tanpa banyak kata, Arion langsung menyandarkan tubuhnya pada Sekar, begitu sang gadis keluar.


Arion menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Sekar dan menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari tubuh gadis itu.


"Kalau capek, seharusnya Mas langsung pulang," ujar Sekar sembari mengelus lembut rambut Arion.


"Sudah makan?" tanya Sekar lagi. Gadis itu ingin menjauhkan tubuh Arion dari tubuhnya, tetapi Arion malah semakin merapatkan diri dan memeluknya erat.


"Nanti aku akan makan. Jadi ... lima menit saja."


Sekar menghela napas pasrah. Ia membiarkan pria itu memeluknya selama lebih dari lima menit sebelum akhirnya melepaskan diri.


"Omong-omong, kau benar-benar tak ingin pindah ke rumah Ibu?" tanya Arion. Sejak kepulangan Sekar kemarin lusa, Arion memaksa gadis itu untuk pindah dan tinggal di rumah Bi Ida, agar mereka lebih leluasa bertemu. Toh, Bi Ida pun tidak keberatan karena hanya tinggal berdua dengan Dini. Tetapi Sekar menolak. Menginap hampir seminggu saja, ia merasa tak enak hati, apa lagi harus tinggal di sana. Apa lagi mereka baru saja saling mengenal.


Sekar menggeleng. "Aku tak ingin merepotkan." Jawabnya.


"Tidak ada yang merasa direpotkan. Justru mereka senang karena rumah tidak akan sesepi sekarang." Arion mencoba meyakinkan Sekar sekali lagi.


Sekar bertolak pinggang. "Tujuan Mas ke sini sebenarnya apa, sih? Sekedar rindu atau ingin mengajakku berdebat?" tanyanya dengan wajah galak.

__ADS_1


Arion tertawa kecil. "Dua-duanya." Jawab pria itu.


Sekar mendengkus kesal. Ia masih mempertahankan posenya sambil menatap tajam Arion.


"Baiklah, kau menang. Aku tak akan memaksamu lagi."


Mendengar jawaban Arion, Sekar malah mengerutkan keningnya. Sorot mata gadis itu menatap Arion curiga. Semudah itu Arion mengalah? Seperti bukan dirinya saja.


...***...


Erlina, Adhisty dan Abiyan tengah makan malam bersama di rumah utama. Sepulang dari kantor, Erlina menyuruh Abiyan untuk mampir ke sana terlebih dahulu.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Erlina begitu selesai mendengar semua penjelasan Abiyan.


"Tentu saja aku akan membantunya menyelesaikan proyek tersebut, kurang dari waktu yang seharusnya." Jawab Abiyan percaya diri. "Butuh waktu sekitar dua bulan untuk merampungkan semua, tetapi akan kubuat rampung dalam waktu satu bulan."


Erlina sontak menatap Abiyan tajam. "Apa maksud perkataanmu? Bukankah seharusnya kau menghancurkan rencana Arion? Bukannya malah membantu proyeknya cepat selesai!" suara wanita itu mulai meninggi. Bagaimana tidak emosi, Abiyan baru saja berhasil mengelabui semua orang dengan aksi heroik palsunya, agar ia bisa masuk ke dalam tim. Jadi seharusnya Abiyan memakai kesempatan itu untuk mengacaukan segalanya, bukan malah membantu mereka menyelesaikan proyek tersebut tepat waktu.


"Tenang, Ma, tenang." Abiyan mencoba meredam emosi Erlina yang mulai nampak. "Percaya saja padaku. Aku pasti akan menghancurkan reputasi Arion beserta Umbara Corporation. Akan kubuat ia kehilangan muka di hadapan publik." Abiyan tersenyum sinis. Sedetik kemudian wajahnya berubah dingin ketika mengingat bagaimana tenangnya sikap Arion, saat menghadapi situasi pelik tadi.


"Kita lihat saja, sampai kapan kau bisa memasang wajah sok tenangmu itu, bedebah!" gumam Abiyan.


...***...


Sekar hanya bisa menganga pasrah ketika pagi ini, sekelompok orang berjas hitam mendatangi tempat kosnya dan meminta ijin pada Pak Dirman, untuk memindahkan seluruh barang-barang Sekar.


Didampingi Dini dan Candra, mereka naik ke dalam kamar Sekar dan merapikan seluruh barang bawaan gadis itu. Sementara itu, Dini sendiri yang merapikan pakaian-pakaiannya.


Sebelumnya, Sekar telah melarang mereka semua habis-habisan. Gadis itu bahkan sampai mengancam akan melaporkan semuanya ke polisi, lantaran telah berani merangsek masuk ke dalam kamarnya. Tetapi mereka sama sekali tak gentar. Mereka bahkan berkata, lebih bernyali menghadapi polisi dari pada bosnya.


"Sudah, Mbak, kasihan mereka kalau sampai tidak berhasil membawa Mbak ke rumahku," ujar Dini pura-pura prihatin, padahal ia tengah mati-matian menahan tawa.


"Seharusnya kau kasihan padaku, Din!" sahut Sekar ketus. Kalau saja ia tak punya malu, mungkin saja ia sudah menangis bak anak kecil saat ini juga.

__ADS_1


Sekar benar-benar kesal setengah mati. Kecurigaannya ternyata benar! Seharusnya, ia tidak boleh percaya begitu saja atas sikap menyerah Arion.


"Dasar pria menyebalkan!"


__ADS_2