Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Terbongkar


__ADS_3

Daniel terlihat panik dan menyuruh beberapa orang kru untuk datang ke lokasi Danu guna mengecek kondisinya. "Kalian semua kenapa pada santai, hah!" serunya tajam saat mengetahui tak ada satupun dari anggota tim Earlene yang bergerak. Daniel bahkan hanya diminta menunggu oleh mereka.


Mata pria itu lalu beralih pada sang adik yang hanya berdiam diri di atas panggung. Raut wajah Arion bahkan terlihat tenang-tenang saja. Sontak Daniel langsung menghampirinya. "Aku sudah menyuruh tim medis untuk ke lokasi Danu," ujar Daniel. "Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa insiden ini terjadi?" tanyanya gusar. Arion hanya tersenyum.


Melihat senyuman Arion malah membuat Daniel semakin kesal. Bagaimana bisa seorang pemimpin begitu tenang saat anak buahnya terlibat kecelakaan? Apa lagi kecelakaan ini akibat uji coba yang tengah mereka lakukan. Daniel sudah bisa membayangkan seperti apa hebohnya media besok, atas pemberitaan mengenai kegagalan proyek Earlene yang digagas perusahaan mereka.


"Kau ini, kenapa malah ter–"


"Cek! Cek!" suara seorang pria terdengar dari layar monitor. Suasana aula yang semula ricuh mendadak hening seketika.


Danu, orang yang tengah dikhawatirkan, muncul di layar monitor dalam keadaan baik-baik saja. Dia berdiri tepat di depan mobilnya yang terguling dan terbakar.


"Selama lebih dari setengah tahun proyek Earlene mengalami beberapa kali insiden, terutama soal cracking. Bukan hanya sekali kami mengalami hal tersebut, melainkan sampai dua kali." Perkataan Danu sontak membuat para tamu undangan bersuara untuk mempertanyakan maksudnya.


Abiyan yang sedari tadi memperhatikan dari belakang panggung terkejut bukan main saat melihat kondisi Danu sehat-sehat saja, padahal mobil di belakangnya sudah terbakar setengah. Hal yang tak jauh berbeda juga terlihat dari raut wajah Erlina.


"Saat pertama kali sistem kami diserang, mau tidak mau kami harus merelakan sebagian ingatan Earlene dan mengerjakannya lagi dari ulang. Hal ini menyebabkan proyek tersebut membutuhkan waktu selesai lebih lama dari yang telah ditentukan." Danu mendekati mobil yang sudah dipadamkan petugas damkar.


"Kedua, saat proyek ini rampung dan siap dikenalkan, ternyata kami mendeteksi kembali adanya penyerangan. Namun kali ini terjadi bukan pada sistem, melainkan pada mobil yang akan kami gunakan untuk uji coba." Danu merogoh kantong kemejanya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam dari sana. "Di dalam flashdisk ini terdapat virus yang dapat melumpuhkan sistem kerja Earlene. Apa yang akan terjadi jika virus ini berhasil ditanamkan ke dalam mobil?"


Suasana kembali hening. Semua menunggu jawaban Danu.


"Inilah yang akan terjadi. Mobil otomatis tidak dapat di kontrol, meski kami berusaha mengendalikannya secara manual." Danu menunjuk mobil di belakangnya. Setelah petugas damkar berhasil memadamkan api, pria itu berjalan mendekati mobil tersebut dan membuka pintu kemudi.


Kosong! Tidak ada siapapun di sana.


Ternyata, agar mobil dapat berjalan Danu mengendalikannya melalui remote control yang ia buat. Pria itu menunjukan sebuah remote kecil yang telah terhubung dengan mobil Earlene Fe.

__ADS_1


Erlina menatap tajam Adhisty. Wanita itu nyaris saja lepas kendali, jika sang anak tidak segera memberinya isyarat. Adhisty tidak ingin orang-orang menyadari kelakuan aneh Erlina.


"Belajar dari sana kami mencoba membenahi sistem Earlene agar tidak mudah diretas." Danu tersenyum. "Jika bukan karena kerjasama tim, terutama dukungan dan kepercayaan Anda semua, mungkin kami tidak akan bisa menyelesaikan proyek besar ini. Butuh segenap kekuatan dan air mata, terutama bagi saya pribadi." Mata pria berusia 45 tahun itu kini terlihat berkaca-kaca.


"Sekali lagi, terima kasih banyak untuk semua donatur atas kepercayaannya. Dan khusus dari saya pribadi, terima kasih banyak kepada Bapak Arion karena telah sudi membantu dan turun tangan langsung dalam pengerjaan proyek ini. Terima kasih," Danu membungkukkan badannya.


Suasana yang tadinya menegangkan, berubah haru. Tepuk tangan dari para tamu undangan terdengar lebih meriah dari sebelumnya.


Aiden yang sedari tadi berdiri di ujung panggung menghembuskan napas lega. Ia bersyukur, berkat kewaspadaan Arion dan bantuan dari Jack beberapa hari lalu, mereka berhasil menemukan kecurangan pada mobil uji coba.


Arion menatap Daniel yang tampak kebingungan. Pria itu menepuk pundak sang kakak agar tersadar.


"Dasar gila, kalian!" hardik Daniel seraya menarik Arion ke dalam pelukannya.


Grace maju dan berdiri di depan panggung untuk mengambil alih. Gadis itu berkata, bahwa uji coba sebenarnya akan dilakukan setelah istirahat makan siang.


Pintu besar aula segera terbuka. Para pelayan masuk ke dalam aula seraya membawa meja troli berisi berbagai macam hidangan.


Arion menoleh sekali lagi ke arah para tamu undangan yang mulai menikmati pelayanan ekstra darinya. Namun tanpa disangka, matanya tiba-tiba terkunci pada sosok seorang gadis yang sedang berdiri di ambang pintu aula.


Arion terbelalak. Pandangan mata mereka bersirobok. Pria itu paham benar akan arti dari tatapan Sekar. Gadis itu tengah memperlihatkan segenap rasa luka dan kecewanya, sebelum pergi dari sana dengan langkah tertatih.


Tanpa pikir panjang, Arion langsung berlari menerobos kerumunan para tamu.


Sekar berusaha lari dan masuk ke dalam lift. Gadis itu menumpahkan semua air matanya di sana. Ingatan akan semua keganjilan yang ia rasakan saat bersama Arion, langsung memenuhi seluruh isi kepalanya. Dari mulai mobil mewah yang sering dipakai pria itu. Bagaimana pria itu diistimewakan pimpinan perusahaan, sampai kejadian terakhir, yaitu makan malam mewah yang baru saja terjadi beberapa waktu silam. Semua masih jelas terekam di ingatannya.


Di sela-sela tangisnya, Sekar tertawa. "Tololnya aku!" ia menghina kebodohannya sendiri.

__ADS_1


Pantas saja ia bisa begitu mudah mengambil cuti. Pantas saja ia dilarang naik ke lantai 20 keatas. Dan pantas saja ia tidak melihat satu pun gambar Arion, yang merupakan pimpinan perusahaan, di gedung ini. Bisa jadi, itu juga bagian dari rencananya.


Pintu lift terbuka, dengan langkah gontai Sekar keluar dari sana. Sempat berlari membuat kakinya kembali terasa sakit.


Sekar bergegas meninggalkan gedung utama lewat pintu belakang, demi menghindari kerumunan. Ia tak ingin orang-orang melihatnya aneh.


Grep!


Seseorang tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.


"Sekar,"


Jujur, mendengar namanya disebut oleh Arion, membuat hati Sekar berdesir.


Sekar berbalik dan menepis tangan Arion kasar. "Sudah puas?" tanya gadis itu sembari memasang senyum paling manis yang dimilikinya.


Arion memasang wajah sendu, "Sekar, aku ...," ia ragu untuk memulai.


Sekar tertawa sinis. "Sudah puas mempermainkanku? Bagaimana rasanya? Pasti menyenangkan sekali bisa membodohi gadis kampung yang sama sekali belum pernah datang ke Ibu kota. Pasti kau selalu tertawa puas setiap kali berhasil membohongiku. Iya, kan?"


"Tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Arion mencoba mengambil tangan Sekar, tetapi Sekar segera menghindar. "Aku tidak pernah berniat membohongimu, tetapi kuakui, aku memang salah karena sudah keterusan."


"Maafkan aku," perkataan Arion selanjutnya membuat batin Sekar sedikit terguncang. Tetapi ia menutupinya dengan tawa kecil.


"Jangan minta maaf. Ini semua kesalahanku karena terlalu mudah percaya." Sekar menghapus air matanya yang belum juga berhenti mengalir. "Yang jelas aku tahu sekarang, bahwa semua yang kau hadirkan untukku hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Termasuk perasaanmu. Ketahuilah, memang sangat mustahil seorang pria sempurna sepertimu, dapat bersanding dengan gadis miskin seperti diriku ini." Sekar menundukkan kepalanya.


Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Arion dengan pandangan terluka. "Satu hal yang harus kau tahu, biar miskin, tetapi aku masih punya harga diri!" setelah mengatakan demikian, Sekar berlari semampunya, meninggalkan Arion yang hanya bisa menatap kepergian gadis itu tanpa suara.

__ADS_1


Entah mengapa, tenggorokan pria itu kini tercekat, tak mampu bersuara.


__ADS_2