Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Office Girl Senior, Ningrum


__ADS_3

"Sekar!" teriak Ningrum, salah satu senior Office Girl, yang dikenal judes dan suka sekali memerintah. "Kamu antar berkas-berkas ini ke lantai 7, lewat tangga darurat!" seru Ningrum seraya memberikan setumpuk berkas yang tingginya hampir menutupi wajah Sekar. Ini adalah kali ketiga ia harus bolak balik beberapa lantai demi memenuhi perintah seniornya itu.


"Kenapa harus pakai tangga, Mbak?" tanya Sekar disela-sela kesibukannya menyeimbangkan diri. Takut-takut tumpukan berkas itu jatuh berhamburan ke lantai.


"Kau itu membawa banyak berkas. Khawatir akan mengganggu orang-orang di lift. Lagian, memangnya kau mau berkas-berkas itu sampai jatuh, hah!" seru Ningrum dengan nada tinggi.


Sekar menggeleng.


"Ya sudah, sana pergi! Awas ya kalau sampai lewat lift!" ancamnya.


Sekar menghembuskan napasnya kasar. Tiga hari ini pekerjaan jauh lebih berat dari biasanya. Itu semua disebabkan oleh Ningrum, seniornya yang kini ditugaskan di lantai yang sama dengan Sekar. Sebelumnya Ningrum bertugas di lantai 20, tetapi tiba-tiba ia harus bertukar tempat dengan Sinta tiga hari yang lalu.


Rumor tentang Ningrum langsung mampir di telinganya, begitu Sekar diberitahu akan satu tim dengan wanita itu. Dan benar saja! Selama tiga hari ini, Ningrum benar-benar menyiksanya. Hampir semua tugas diserahkan padanya, dari mulai mengisi kertas mesin foto kopi, mengantar berkas, membuatkan minuman karyawan, membelikan makanan karyawan, mengangkat galon, bahkan sampai menyapu, mengepel dan membersihkan jendela yang seharusnya menjadi tugas cleaning service.


Padahal setiap tim terdiri dari 4 orang di masing-masing lantai, tetapi kentara sekali Ningrum hanya membebani dirinya seorang.


Sekar sampai berusaha mengingat-ingat, siapa tahu ia memiliki masalah dengan Ningrum, hingga membuat gadis itu menaruh dendam padanya. Namun sepertinya tidak demikian. Selama 8 bulan bekerja di sini, Sekar bahkan belum pernah bertemu dengan Ningrum.


Sekar mengambil napas sejenak. Lantai yang ia tuju adalah lantai 7, sedangkan ia sekarang berada di lantai 4. Sebenarnya Sekar kuat-kuat saja menaiki tangga beberapa lantai sekaligus, tapi kalau sambil membawa setumpuk berkas? Tentu lain ceritanya.


Setelah cukup mengambil oksigen, gadis itu kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga.


...***...


Arion terlihat sibuk memeriksa ponselnya beberapa kali. Pria itu sedang gusar, sebab Sekar sama sekali belum menghubunginya hari ini.


Kekasihnya itu memang sempat bercerita soal salah satu seniornya yang sedikit tegas. Seniornya tersebut bahkan melarang Sekar membawa ponsel selama bekerja dan baru diijinkan memegang ponsel saat istirahat tiba.


Aiden mencoba mengabaikan tingkah gusar Arion. Ia merasa tak harus mencampuri kisah asmara Bosnya lagi. Sudah cukup kejadian tempo hari, ia tak akan pernah sudi ikut-ikutan kekonyolan atasannya kembali.


"T0l0l!" suara seorang wanita yang tengah menghardik, tertangkap telinga Arion dan Aiden.


"Becus kerja, tidak! Kan sudah kubilang hati-hati!" Arion menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia paling benci melihat sesama karyawan saling menindas. Namun ia tak mungkin ikut campur langsung. Seperti biasa, setiap kali mendapati hal tersebut, ia akan meminta tolong pada Aiden untuk mencari tahu pelakunya agar bisa diberikan bimbingan.


"Sekarang beresin ini semua berkas-berkas, jangan sampai ada yang hilang! Dengar tidak, Sekar?"

__ADS_1


Mendengar nama kekasihnya disebut, Arion sontak terkejut. Kakinya reflek melangkah ke sumber suara. Diikuti Aiden, ia berjalan menuju sebuah ruangan besar, tempat kerja para karyawan.


Arion mengintip dari pintu kaca acid. Terlihat Sekar sedang memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai seorang diri. Sementara di hadapan Sekar, berdiri seorang gadis yang berpakaian sama dengannya.


Arion mengernyit, ia mengingat wajah gadis itu. Wajahnya beberapa kali terpampang di papan pengumuman sebagai Office Girl Senior terbaik.


Hatinya mendidih ketika Office Girl senior itu kembali menghardik Sekar agar segera menyelesaikan pekerjaannya memunguti kertas-kertas itu. Baru saja ia hendak melangkah, lengannya sudah ditahan Aiden.


"Jangan, Pak," pinta Aiden.


"Kenapa? Kau tidak lihat bagaimana Sekar diperlakukan demikian? Kurang ajar sekali kelakuannya!" seru Arion dengan suara tertahan.


"Saya tahu, tetapi akan aneh rasanya kalau Bapak sampai ikut campur. Omongan-omongan miring pasti akan langsung tersiar. Hidup Nona Sekar pasti akan menjadi semakin sulit nantinya," kata Aiden tenang.


Arion terdiam. Benar apa yang dikatakan Aiden. Ia tak bisa gegabah. Bisa-bisa mereka akan semakin merundung Sekar, bila ia sampai turun tangan membelanya.


Matanya berubah sendu kala melihat setetes air mata mengalir dari sudut mata Sekar. Gadis itu buru-buru menghapusnya sebelum berdiri dan menyerahkan tumpukan berkas-berkas tersebut pada salah seorang karyawan yang menghampiri dirinya.


Tak ingin ketahuan, Arion dan Aiden bergegas pergi dari sana, menuju ruang rapat yang tak jauh dari sana.


...***...


Gadis itu memang sengaja ingin menyendiri, sebab tidak ingin melihat wajah Ningrum yang ikut bergabung di sana. Kejadian yang ia alami di lantai tujuh benar-benar membekas dalam diri Sekar.


Sudah susah payah menaiki tangga sambil membawa setumpuk berkas, ternyata Ningrum malah menuju ke lantai 7 juga. Berkas pun jatuh berhamburan karena ulah gadis itu yang entah disengaja atau tidak, menyenggol dirinya. Dan bukannya membantu memunguti, Ningrum dia malah meneriakinya di depan orang-orang, seolah-olah ia lah yang ceroboh.


Entah apa yang ada di pikiran gadis, berusia tiga tahun di atas Sekar itu. Ia transparan sekali menunjukan kebenciannya pada Sekar.


Sekar menghapus air matanya yang kembali mengalir. Sesuap nasi pun rasanya sulit tertelan. Ia paham dunia kerja memang tidak selalu mudah, maka dari itu ia memilih untuk tetap diam meski diperlakukan demikian. Sekar yakin, Ningrum tidak akan selamanya menindas dirinya.


Suara pintu terbuka. Sekar menutup kotak makannya dan buru-buru menggeser duduknya agar tidak menutupi jalan. Gadis itu juga menyeka sisa-sisa air matanya agar tidak terlihat orang lain.


Sebuah tangan mencengkram lembut bahunya. Sekar menoleh dan mendapati Arion tersenyum lembut.


"Loh, katanya Mas harus keluar?" tanya Sekar terkejut. Gesture tubuhnya gelisah. Ia takut Arion menyadari bahwa dirinya baru saja menangis.

__ADS_1


"Tidak jadi. Kau sedang apa sendirian? Katamu, biasanya kau akan makan dengan Rani dan yang lainnya, jika aku tidak ada," Arion duduk di samping Sekar. Ada gurat kesedihan tergambar dari wajah pria itu, tatkala melihat mata Sekar yang memerah.


"Sedang ingin makan sendiri. Aku kebetulan lapar sekali, kalau aku makan bareng mereka, aku harus membagi jatah makanku," kilah Sekar seraya tertawa kecil.


"Tak kusangka, kau orang yang pelit," Arion mencubit ujung hidung Sekar. "Lalu bagaimana? Aku tidak jadi keluar dan sekarang aku lapar, kau juga akan pelit padaku?" tanya Arion pura-pura kecewa.


"Tidak, donk. Ayo, makan," Sekar membuka kembali kotak makannya dan mereka mulai makan bersama.


Sesekali Arion akan melirik Sekar. Kentara sekali gadis itu tengah berusaha menelan makanannya dengan terpaksa.


Arion sengaja tidak menanyakan hal apapun. Ia tidak ingin membuat Sekar merasa tak nyaman jika mengulik hal tadi pagi. Toh, yang Sekar butuhkan pasti hanyalah kehadirannya, bukan kata-kata penyemangat yang terdengar klise.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan Like, vote, dan komen sebanyak-banyaknya ya, Kakak-kakak.


Sehabis baca ini, jangan lupa untuk mampir ke karya salah satu temanku yang kece.


Dijamin kalian bakal suka.

__ADS_1


Terima kasih,🤗



__ADS_2