
Tepat di hari senin, Sekar kembali bekerja. Ia langsung disambut beberapa teman dekatnya yang sudah menunggu di ruang istirahat karyawan.
"Keadaan Mbah bagaimana, Sekar? Sudah pulang dari rumah sakit belum?" tanya Lastri. Satpam wanita itu baru saja dipindahkan ke gedung utama Umbara Corporation tiga hari lalu.
"Sudah jauh lebih baik. Beliau masih di rumah sakit untuk menjalani terapi." Jawab Sekar. "Aku senang kau pindah kemari!" pekiknya sumringah, begitu mengetahui Lastri kini satu tempat kerja dengannya.
"Syukurlah," ujar Lastri, Ningsih, dan Dimas serempak.
"Nanti istirahat sama kita ya, Sekar? Banyak kejadian seru selama kamu cuti, tahu!" sahut Ningsih penuh semangat, yang langsung disetujui yang lain.
Sekar kontan meringis. Pasalnya ia berniat akan makan siang dengan Arion. Maklum, mereka sudah beberapa hari tidak bertemu.
...***...
Tepuk tangan meriah terdengar memenuhi aula kantor. Mereka baru saja melakukan percobaan presentasi proyek Earlene.
Berkat Abiyan yang rela begadang semalam suntuk, proyek Earlene dapat di selesaikan kurang dari waktu tiga bulan. Peluncuran mobil tersebut bahkan bisa mereka lakukan minggu depan. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan, seperti perkiraannya.
Semua memuji ketekunan Abiyan dalam mengerjakan proyek besar itu, termasuk Arion.
Pria itu berkali-kali mengucapkan terima kasih pada calon iparnya, karena telah sudi membantu menyelesaikan proyek yang nyaris gagal akibat cracking tempo hari. Walaupun kelakuan dan reputasi kerja Abiyan buruk, tetap saja Arion harus bersikap profesional. Jika bagus, maka ia akan mengatakan demikian, begitu pula sebaliknya.
"Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Minggu depan adalah perjuangan terakhir kita. Persiapkan diri kalian dan jangan lupa beristirahat." Di atas panggung besar, Arion membungkukan badannya dalam-dalam, sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan dari dirinya untuk semua anggota tim Earlene.
Melihat pemimpin mereka sudi melakukan hal tersebut, Danu beserta yang lain sontak saja melakukan hal serupa. Sembari membungkuk, Danu sekali lagi menghapus air matanya yang kembali berlinang. Ini bukanlah impian pria itu semata, melainkan impian mendiang istri tercintanya, Earlene, sejak lama.
"Kau berhasil melakukannya, sayang," gumam Danu setelah mengangkat kepalanya. Mata pria itu menatap haru sebuah layar besar bergambar robot virtual Earlene, yang terpampang tepat di belakang Arion.
Arion memberi isyarat pada mereka semua untuk mendekat. Mereka saling berpegangan tangan sebelum bersorak dan berpelukan. Setelah itu, Arion pamit undur diri lebih dulu.
"Pak, proyek ini terlalu cepat selesai. Apa Anda tidak ingin memeriksanya sekali lagi?" tanya Aiden, begitu mereka sampai di ruang kerja Arion.
"Aku tahu. Maka dari itu, nanti malam kita akan kembali ke sini," jawab Arion. "Tolong, buatkan aku secangkir jahe hangat." Sambung pria itu.
"Baik, Pak." Aiden mengangguk dan segera membuatkan minuman yang diminta Arion.
Drrt ... drrt ...
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.
๐ฉ Sekarโค๏ธ
Mas ada di kantor? Kita makan siang bersama. Aku baru saja masuk kerja hari ini. Maaf, aku tidak mengabari dulu, karena ingin memberimu kejutan. Kau pasti terkejut, kan? hehe
Melihat pesan yang dikirim Sekar, pria itu terperanjat. Karena terlalu sibuk mengurus proyek, ia sampai lupa niatnya untuk berbicara pada Anita, perihal cuti Sekar yang akan diperpanjang sampai akhir bulan. Belum juga ia menemui Anita, Sekar sudah keburu masuk.
"Bagaimana ini?" gumam Arion seraya mondar-mandir. Aiden yang sedang mengaduk jahe, mengerling kebingungan.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Aku lupa soal cuti Sekar!" jawab Arion panik. "Proyek Earlene akan disiarkan secara langsung minggu depan di hampir seluruh stasiun televisi. Kau tahu, wajahku akan terpampang di sana!" sambungnya.
Arion tampak frustasi. Padahal ia sudah mengantisipasi segalanya agar Sekar tidak melihat dirinya tampil, termasuk hendak menelepon pihak rumah sakit untuk mematikan server televisi kabel selama seharian penuh.
"Anda mungkin bisa memaksanya cuti." Aiden mencoba membantu pria itu dengan memberikan usulan yang terdengar ... sia-sia.
Arion mendelik sinis. Ia juga tahu, Sekar harus dipaksa. Namun ia hapal betul, bagaimana sikap keras kepala gadis itu.
Untuk sekarang, lebih baik ia menghindari Sekar terlebih dahulu, demi menjernihkan isi kepalanya.
...***...
Sekar merengut. Niatnya untuk bertemu dengan Arion kandas, begitu mengetahui bahwa pria itu ternyata sedang keluar kantor bersama CEO mereka.
"Baiklah, aku bisa makan siang dengan yang lainnya!" sahut Sekar sembari mengangkat bahunya. Toh, mereka bisa bertemu saat di rumah.
BRUK!
"Auuu!" terlalu sibuk memperhatikan ponselnya, Sekar sampai tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang. Beberapa tumpuk map yang sedang dipegang orang itu langsung jatuh berhamburan di lantai. (Ningsih sedang libur, jadi Sekar bisa bebas membawa ponselnya.)
Sekar langsung bersimpuh dan memunguti map-map tersebut tanpa melihat wajah orang yang ditabraknya.
DUGH!
"Auuu!" terburu-buru memunguti map, keningnya malah menabrak kening si korban.
Seolah terhipnotis, Abiyan termangu di tempat. Matanya sibuk merekam setiap inchi wajah Sekar.
"Cantik!" batin Abiyan.
Ia baru menyadari satu hal, bahwa Sekar terlihat sangat cantik, meski hanya memakai riasan wajah sederhana.
Abiyan segera tersadar saat Sekar berdiri terlebih dahulu. Gadis itu lalu menyerahkan setumpuk map padanya.
"Sepertinya, pertemuan kita selalu dimulai dengan sebuah insiden," celetuk Abiyan seraya tersenyum simpul.
Sekar meringis. Yang dikatakan Abiyan memang benar. Apa lagi disetiap insiden tersebut, selalu saja dirinya yang jadi si pembuat ulah.
"Sudah lama kita tidak bertemu." Abiyan menelisik wajah gadis itu lebih dalam, terutama pada bibir meronanya yang tipis.
"Apa kabar, Mas?" tanya Sekar santun.
"Baik. Kau?" Abiyan bertanya balik.
"Aku juga baik." Jawab Sekar.
__ADS_1
Abiyan menatap sebuah kotak bekal yang Sekar bawa-bawa. "Mau ke mana?" tanyanya lagi.
"Tadinya aku ingin makan siang di tempat biasa, tetapi ternyata temanku tidak bisa datang. Jadi, aku berniat makan siang bersama teman-temanku yang lain." Sekar menjelaskan dengan jujur.
"Kalau begitu, boleh aku yang menggantikan temanmu itu?"
...***...
Sekar membuka kotak bekalnya dengan canggung. Abiyan menatap sekumpulan makanan yang dibawa Sekar dengan berbinar-binar.
"Terima kasih," ucap Abiyan seraya mengambil sesendok nasi dan lauk yang disediakan.
Entah mengapa, kali ini masakan Sekar benar-benar terasa nikmat di lidah Abiyan. Dengan antusias, pria itu menandaskan bagian Arion yang dibuat Sekar dengan sepenuh hati.
Suara tawa kecil menginterupsi acara makan Abiyan. Sekar ternyata tengah tertawa. Ia yang semula canggung dan kesal rupanya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, saat melihat cara makan Abiyan.
"Kenapa tertawa?" tanya Abiyan dengan mulut penuh makanan
"Mas, sudah tidak makan berapa hari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Abiyan buru-buru menelan makanannya dan tertawa malu. Ia kemudian menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Maaf,"
Sekar melambaikan tangannya di depan Abiyan. "Tidak apa-apa. Aku justru senang jika melihat orang-orang menyantap masakanku dengan lahap."
"Makananmu memang seenak itu," Abiyan berkata jujur.
"Terima kasih," Sekar tersipu malu. Rasa kesal karena gagal bertemu Arion sedikit terobati dengan kehadiran Abiyan.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih telah sudi membaca sampai sini, Kakak-kakak. Jujur, bab ini aku sama sekali tidak merasakan feel-nya. Mungkin karena scene-nya Sekar dan Abiyan, ya? xixixi.
Meskipun begitu, aku harap Kakak-kakak masih terhibur dengan ceritaku yang sangat sederhana ini. Dan biar aku makin semangat, jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya, Kakak-kakak. Karena 1 like atau komen dari kalian benar-benar sangat berarti bagiku, apa lagi gift.๐๐ค
Selagi menunggu Sekar update lagi, ada rekomendasi cerita yang tak kalah bagus milik salah satu temanku. Semoga kalian suka.
__ADS_1
Terima kasih, ๐ค