
Sekar terdiam begitu mendengar perkataan Davina. Hatinya tercubit. Ada segenggam perasaan tak nyaman menggerogoti relungnya kini.
Arion yang menyadari raut wajah Sekar berubah mendung langsung bersuara, "Kedua keluarga kami sudah saling mengenal, jadi bisa dibilang ia memang wanita yang paling dekat denganku." Katanya menjelaskan.
Sekar tersenyum, mengiyakan. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi penjelasan Arion.
"Kau sendiri, siapanya Rion? Sepertinya kalian dekat sekali," Davina mencoba mengulas senyum ramah, mencoba menyembunyikan raut kekesalannya atas perkataan Arion.
"Dia kek–"
Arion bermaksud menjawab pertanyaan Davina yang ditujukan untuk Sekar, namun gadis itu malah memotongnya. "Aku, Sekar, teman Mas Rion,"
Arion mengernyit tak suka, tapi Sekar tidak memperdulikannya.
"Oh, teman. Teman dari mana? Bertahun-tahun mengenalnya, aku tak pernah tahu soal dirimu," Davina berusaha mengulik Sekar.
Sekar menghela napasnya. "Aku tetangga baru Ibu angkatnya." Jawab Sekar singkat. Ia sadar, Davina tidak menyukai dirinya.
"Ahh, pas sekali, bergaulnya pun dengan seorang pembantu!" batin Davina.
__ADS_1
"Ahh, begitu rupanya."
"Vin, ayo," ujar salah seorang wanita yang datang bersama Davina.
"Kalau begitu, kami pergi dulu," tak ingin berlama-lama berada di hadapan wanita itu, Arion kontan berpamitan pada Davina dan mengajak keempatnya pergi dari sana.
"Tunggu ...," ujar Davina pada Arion dan Sekar. Wanita itu kemudian menoleh pada ketiga temannya. "Guys, aku ikut mereka, bye!" sahut Davina seraya melambaikan tangannya.
"Oh, ok fine," ketiga temannya pun membalas lambaian tangan Davina dan bergegas pergi begitu saja.
Arion membelalakan matanya.
"Kenapa? Kalian hendak makan, kan? Aku juga baru mau makan. Dari pada bersama mereka, lebih baik aku bersama seseorang yang lebih kukenal." Terang Davina. "Boleh 'kan, Sekar?" sambung wanita itu.
Arion menghela napas pasrah. Mood-nya seketika berantakan. Matanya melirik pada Aiden yang berdiri tepat di belakangnya.
Aiden yang telah lama mengenal Arion, langsung mengerti akan maksud tatapan atasannya tersebut. Ia harus segera membawa Davina menjauh, jika wanita itu sedikit saja mengeluarkan suara, perihal identitas mereka.
Mereka berenam akhirnya pergi bersama menuju tempat makan.
__ADS_1
Sesampainya di dalam, Dini mencari tempat duduk yang pas dengan jumlah mereka saat ini. Begitu menemukannya, gadis itu langsung mengajak mereka duduk di sana.
Ketiga pria tersebut mengambil tempat duduk bersebelahan, sementara para gadis mengambil tempat duduk tepat dihadapan mereka. Mengetahui Sekar hendak duduk di depan Arion, Davina segera menarik tangan Sekar dan duduk di sana.
"Aku duduk di sini, tidak apa-apa 'kan, Sekar?" tanya Davina lembut. Sekar tidak mungkin menolak, sebab wanita itu sudah mendaratkan bokongnya di sana. Pertanyaan Davina hanya formalitas belaka, bahkan Sekar merasa, Davina kini tengah mengejeknya.
Sekar mengangguk dan memilih duduk di depan Aiden. Ia sudah tak lagi canggung berhadapan dengan pria itu, karena pikirannya saat ini hanya berfokus pada Arion dan Davina.
Aiden memanggil seorang waitress untuk memesan makanan.
Sekar yang merasa asing dengan beberapa makanan yang tertera di buku menu, akhirnya hanya memesan nasi goreng seafood super pedas.
"Kau tidak suka ini, Sekar?" tanya Davina sembari menunjuk salah satu menu makanan, Lobster saus tiram, yang begitu menggugah selera.
"Aku tidak suka." Jawab Sekar. Ia malu jika menjawab, jika ia tidak pernah makan Lobster.
"Cobain, ya? Pasti kamu suka,"
Sekar hendak menolak, tetapi Davina keburu memesan menu tersebut. Waitress mengulang kembali pesanan mereka sebelum pamit pergi.
__ADS_1
"Ahh, tunggu," panggil Davina seraya berdiri dari kursinya. Wanita itu berlari kecil, menghampiri sang waitress yang sudah berjalan beberapa langkah.
"Lobsternya utuh ya, Mas," pinta Davina sembari mengulas senyum.