Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
"Kita sudah bukan siapa-siapa!"


__ADS_3

Seakan tersadar dari lamunannya, Arion bergegas lari menuju mobil untuk menyusul Sekar yang sudah pergi jauh. Ia tak peduli sama sekali pada acara yang masih berlangsung. Dipikiran Arion saat ini hanya ada Sekar.


Sementara Dini kini tengah dilanda ketakutan, sebab ketika sampai di rumah, ia sama sekali tidak mendapati Sekar di sana. Gadis itu bahkan mencoba menghubungi Sekar, tetapi tidak diangkat.


"Ya ampun, jangan-jangan Mbak Sekar ke kantor!" Dini membelalakan matanya. Kaki gadis itu tidak berhenti mondar-mandir. Raut wajahnya benar-benar tengah gusar dan ketakutan.


Dini sama sekali enggan menghubungi Arion. Ia takut itu akan mengganggu konsentrasinya.


...***...


Istirahat makan siang telah usai, tapi Arion masih belum juga kembali. Para tamu undangan sudah jengah menunggu. Daniel, Aiden, Danu, beserta seluruh anggota tim Earlene berusaha menghubungi pria itu, tetapi sia-sia. Arion sama sekali tidak mengangkatnya. Malah ponsel pria itu mati ketika mereka mencoba menghubunginya terakhir kali.


"Mobil Bapak tidak ada, Pak," seorang security yang dimintai tolong oleh Aiden untuk mengecek keberadaan mobilnya, segera melapor.


Aiden menggaruk rambutnya kasar. Pria itu kemudian meminta tolong pada Daniel untuk mengambil alih acara ini.


Danu menyetujuinya. "Sesi ini hanya tinggal uji coba saja." Matanya menatap Daniel penuh harap.


Daniel menghela napasnya lalu mengangguk. Ia meminta dibuatkan skrip dadakan agar bisa memandu acara tersebut tanpa kesalahan. Maklum, Daniel mempersiapkan diri hanya untuk pembukaan saja.


"Ke mana kau, adik bodoh!" batin Daniel.


...***...


Dini bangkit dari duduknya dan bergegas lari keluar, saat mendengar suara pagar rumahnya terbuka.


"Mbak," gadis itu menghampiri Sekar yang tengah berjalan tertatih. Mata Sekar yang sembab sudah cukup membuat Dini mengerti, bahwa memang terjadi kekacauan di sana.


"Mbak," Dini sekali lagi memanggil Sekar, namun gadis itu malah berjalan melewatinya.


Dini kontan menghadang Sekar dan memegang tangannya. "Mbak, maafkan aku," ucap Dini seraya menatap Sekar sendu.


Sekar tertawa lirih. "Jadi, memang selama ini hanya aku yang tidak tahu. Hanya aku yang bodoh!" Sekar melepas pegangan tangan Dini.


"Bukan seperti itu, Mbak," sangkal Dini. "Tidak ada yang membodohi, Mbak," tukasnya.


Sekar tidak menghiraukan perkataan Dini. Baginya, apapun yang akan diucapkan gadis muda itu hanyalah sebagai pembelaan diri saja.

__ADS_1


Ia memilih masuk ke dalam rumah menuju kamar untuk membereskan seluruh pakaian, dan memasukkannya ke dalam koper. Gadis itu tidak mungkin tetap tinggal di sana.


Sesekali Sekar menghapus air matanya yang kembali mengalir. Sesekali gadis itu juga terlihat mencengkram kuat-kuat dadanya, guna meminimalisir rasa sakit yang tengah didera.


Setelah selesai merapikan seluruh barang-barangnya, Sekar lalu keluar dari kamar. Dini yang melihat Sekar membawa koper dan tasnya langsung berdiri menghadang.


"Mbak mau ke mana?" tanya Dini dengan mata berkaca-kaca.


"Ini bukan tempatku, Din," jawab Sekar. "Tolong, sampaikan maaf dan terima kasih ku pada Ibu. Maaf, jika aku pergi tanpa berpamitan langsung pada beliau," sambungnya.


"Mbak, tolong jangan pergi. Aku tahu, Mas Rion salah. Aku pun salah, tapi itu sama sekali bukan niat kami ingin mempermainkan Mbak. Please, Mbak, dengarkan dulu penjelasan Mas Rion," Dini menatap Sekar lirih. Ada segumpal keputusasaan yang tersirat dari sorot matanya.


Sekar tersenyum. Gadis itu menarik Dini ke dalam pelukannya. "Kau tidak salah, Din. Dan tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Karena sejak awal aku pun tahu, bahwa jarak di antara kami berdua memang terlalu jauh."


Sekar melepas pelukannya dan menepuk kedua bahu Dini, sebelum melangkah pergi.


Tepat ketika dia sampai di depan gerbang, Arion turun dari mobilnya. Sekar memandang miris mobil yang Arion pakai. Mobil itulah yang selama ini selalu diakui Arion sebagai mobil pinjaman.


Arion terperanjat ketika mendapati Sekar keluar dari rumah dengan membawa seluruh barang miliknya. "Kau mau ke mana?" tanya pria itu.


Sekar tidak mengindahkan pertanyaan Arion. Gadis itu berusaha menerobos tubuh tinggi menjulang Arion, yang menghalangi pagar rumah.


Sekar terdiam.


"Aku minta maaf karena telah membohongimu selama ini. Kebohongan yang kulakukan bukan serta merta karena kau patut dibodohi. Bukan!" tegas Arion.


"Aku hanya terlalu nyaman bersamamu yang melihatku sebagai pria biasa, disaat wanita lain memandangku sebagai pemimpin perusahaan besar!" ungkapnya jujur.


"Aku terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sebenarnya, karena aku takut kau akan pergi dari sisiku." Arion merendahkan nada suaranya. Matanya menatap Sekar sendu.


"Dan itu lah yang akan aku lakukan sekarang." Sekar memandang Arion datar.


"No!" dengan sigap Arion menahan tangan Sekar, tetapi Sekar menepisnya kuat-kuat.


"Tolong jangan pernah temui aku lagi. Kita sudah bukan siapa-siapa!"


Mendengar perkataan terakhir Sekar, Arion lantas terpaku. Pertahanannya seketika roboh. Dirinya bahkan hanya mampu termangu, saat Sekar melepas kalung pemberiannya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


...***...


Erlina, Adhisty dan Abiyan masuk ke dalam rumah dengan wajah-wajah tidak tenang. Sesampainya di ruang tamu, tanpa tedeng aling-aling, Erlina langsung menampar wajah Abiyan sekuat tenaga menggunakan tas mahalnya. Para maid yang melihat kejadian tersebut tidak ada yang berani melerai. Mereka jelas tidak ingin ikut menerima sasaran kemarahan dari sang nyonya rumah.


"Dasar tol0l!" hardik Erlina. "Kau bilang akan membuat Arion hancur dan malu! Mana buktinya, hah?" teriak wanita itu.


Abiyan mengelus pipinya yang memar. "Maaf, Ma, aku tidak tahu kalau dia menyadari keberadaan virus yang aku tanam."


"Dong0! Sia-sia saja kalian kurestui, jika kau tidak berguna untukku, sialan!" Erlina melempari Abiyan dengan vas bunga yang ada di ruang tamu.


"Kau bisa hidup enak, itu semua berkat diriku! Kau bisa punya tempat tinggal bagus, itu semua juga berkat aku dan anakku. Tapi apa yang kau balas? Nyatanya, sampah sepertimu tetaplah sampah!"


"Ma!" Adhisty yang tidak terima kekasihnya dihina oleh sang ibu segera bertindak. "Sedari awal seharusnya Mama tahu, bahwa Arion memang sulit dikalahkan. Ia bukan bocah b0doh seperti yang Mama kira!"


Erlina melotot mendengar teriakan Adhisty. Seumur hidup, Adhisty tidak pernah sekalipun berani meneriakinya. Baru kali ini ia mendengar anak semata wayangnya itu dengan lantang menghardik dan menatapnya tajam hanya demi membela seorang pria tak berguna.


"Kau sekarang berani melawan Mama, ya?" Erlina membalas tatapan tajam Adhisty.


"Bukan maksudku seperti itu, Ma, aku hany–" belum sempat Adhisty menyelesaikan perkataannya, Erlina sudah mengusir mereka berdua terlebih dahulu.


"PERGI SEMUA DARI HADAPANKU! PERGI SIALAAAN!"


Tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, Abiyan segera memapah Adhisty ke kamarnya di lantai dua.


"Aaaaaargggghhh!" selepas keduanya pergi, Erlina berteriak dan mengamuk, sembari melempar seluruh barang-barang yang ada di ruang tamu. Wanita itu bahkan memanggil salah satu maid dan melempar guci kecil ke kening maid tersebut hingga terluka, demi melampiaskan kemarahannya.


"B4ngs4t kau, Arion! B4NGS4T!"


...***...


"Loh, Sekar?" Rani terkejut saat mendapati Sekar berdiri di depan pintu rumahnya dengan keadaan basah. Hujan baru saja turun meski tidak terlalu deras.


"Ran," lirih Sekar. "bolehkah aku tinggal di sini untuk sementara waktu?" sambungnya.


Tanpa pikir panjang Rani langsung mempersilahkan Sekar masuk. Gadis itu memang hanya tinggal berdua saja dengan adiknya yang masih SMP, sebab sang ibu tengah merantau sebagai TKW. Sementara Ayahnya sudah lama pergi meninggalkan mereka.


Rani berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil handuk bersih.

__ADS_1


"Pakailah ini," ujar Rani sembari menyerahkan handuk bersih itu pada Sekar.


Rani menilik keadaan Sekar yang terlihat memprihatikan, terlebih pada mata sembab gadis itu, ia tahu bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.


__ADS_2