
Sejak pagi tadi Sekar tampak sangat gelisah. Bagaimana tidak, pikirannya masih saja melayang pada peristiwa semalam. Entah mengapa, ia merasa sangat bodoh saat menyadari dirinya sama sekali tidak melawan, ketika Arion melakukan hal tersebut. Mungkin karena gadis itu sedang ngantuk berat. Tetapi, seharusnya ia memiliki reflek yang bagus untuk menghajarnya. Minimal, tas yang ia pegang bisa dijadikan senjata untuk menampar pria itu, bukan malah mengangguk-angguk saja ketika ia meminta maaf.
"Aduuuh! Bikin malu sajaaa!" batin Sekar heboh.
Andaikan libur kerja tidak perlu bertukar shift. Sekar tak mungkin tega mengambil hak libur teman seperjuangannya.
Suara lonceng yang terpasang di pintu kedai berbunyi. Gendis membuka pintu lebar-lebar saat rombongan para karyawan Umbara masuk ke dalam. Sekar bergegas keluar dari tempat istirahatnya untuk menyambut mereka.
"Selaβ" perkataan gadis itu terputus saat dirinya bertemu pandang dengan Arion. Tanpa disangka Arion malah melempar senyum samar padanya.
Demi menyembunyikan kegugupan, Sekar memilih kabur ke meja kasir untuk mengambil tumpukan papan menu.
Gadis itu terheran-heran mendapati respon Arion biasa-biasa saja, saat ia melayani mejanya. Tidak ada kecanggungan di raut wajah pria itu. Seolah-olah, kejadian semalam hanya sebuah hal sepele dan patut untuk dilupakan.
Ia benar-benar merasa seperti gadis bodoh.
...***...
Kejadian tersebut sepertinya memang sudah dilupakan Arion, atau mungkin dianggap hal biasa olehnya. Karena ketika Arion kembali menghubungi Sekar lewat pesan singkat, sama sekali tidak ada pembahasan soal itu.
"Ar, kamu kenal sama Pak Arion?" tanya Tyas tiba-tiba, saat mereka sedang berdiri di samping meja kasir. Matanya memperhatikan dengan seksama para pengunjung kedai yang sedang menikmati makan siang mereka.
"Memang kenapa?" Sekar yang heran dengan pertanyaan Tyas, balik bertanya.
"Habisnya, beliau selalu merhatiin kamu, loh! Matanya nggak pernah lepas dari kamu barang sedetik pun." Jawab Tyas penuh keyakinan.
Sekar mengangkat kedua alisnya. "Masa, sih?"
"Iya. Kita semua sebenarnya menyadari hal tersebut, tahu!" kali ini Ajeng, yang bekerja di bagian kasir, menjawab pertanyaan Sekar.
Sekar bergeming. Ia yang tak ingin kejadian di Jakarta kembali terulang, memilih bungkam.
Kling!
"Selamat datang," Tyas membungkukkan badannya ketika tiga orang yang Sekar kenal masuk ke dalam kedai.
Mata gadis itu tiba-tiba memicing tajam, kala mendapati seorang wanita berwajah familiar sedang bergelayut manja di lengan Arion.
"Sepertinya, dia tidak asing," batin Sekar. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Melihat Tyas dan Gendis menghampiri pelanggan lain, mau tidak mau Sekar yang melayani mereka bertiga. Saat bertemu, Davina sibuk memandangi Sekar dari atas ke bawah selama beberapa saat, "Kau, gadis yang waktu itu di kedai seafood, kan?" tanya wanita itu sembari tertawa kecil.
"Sepertinya, Anda salah orang, Nona," jawab Sekar datar.
Davina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak! Aku yakin sekali itu kau!" seru Davina meyakinkan. "Bukannya kau bekerja di Umbara sebagai OG? Tak kusangka, kita malah bertemu di sini," lanjutnya pura-pura terkejut.
"Saya juga tidak menyangka bisa bertemu Anda kembali di sini," ucap Sekar seraya melirik sinis Arion. Kini ia ingat, siapa sosok Davina.
Mendapat tatapan maut dari Sekar, Arion hanya bisa terdiam. Ia seperti tengah dipergoki selingkuh oleh kekasihnya sendiri.
"Baiklah, karena kau sedang bekerja, aku tidak akan mengganggumu dengan obrolan-obrolan tak penting ini." Davina membaca satu persatu menu yang ada di sana, sembari sesekali bergelayut manja pada Arion. "Sayang, kau mau makan apa?" tanya Davina dengan suara selembut mungkin.
__ADS_1
Arion yang risih segera menjauhkan diri dari Davina. "Vin," tegur pria itu.
"Jangan malu-malu, sayang, kau bukan milik siapa pun. Benar 'kan, Sekar?" tanya wanita itu pada Sekar.
Sekar menghembuskan napas 'pelan, guna mengontrol emosinya. Jelas sekali, Davina sedang menyindir hubungan mereka.
"Kenapa bertanya pada saya, Nona? Saya tidak tahu menahu tentang kalian berdua." Jawab Sekar dingin. "Jika sudah selesai memilih, Anda bisa memanggil saya kembali." Sekar menganggukan kepala, lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Gadis miskin sialan!" batin Davina geram.
Perasaan tak enak yang dirasakan Sekar rupanya terjawab. Wanita sombong itu benar-benar menguji emosi seisi karyawan kedai dengan tingkah lakunya. Sudah tiga kali mereka secara bergantian menanggapi komplain Davina. Mulai dari meminta makanannya dibuatkan ulang karena terlalu hambar, meminta makanannya dipanaskan lagi karena terlalu dingin, sampai membersihkan seluruh sudut meja dan kursi yang ia duduki dengan dalih kotor, padahal tidak sama sekali.
Sekar sadar, bahwa Davina tengah mengerjai dirinya.
Arion sendiri bukannya hanya berdiam diri. Pria itu sudah berkali-kali menegur Davina agar tidak bertingkah. Ia bahkan menyuruh Sekar dan kawan-kawannya untuk tidak merespon wanita itu. Tetapi Davina sama sekali tidak mengindahkan teguran pria itu.
Arion tidak mungkin bertindak kasar, sebab ada banyak karyawan Umbara yang tengah makan siang di sana. Sebisa mungkin, ia berusaha menghindari keributan.
Sekar dan yang lainnya pun tidak mungkin mengabaikan panggilan wanita itu.
"Hei," Sekar memutar bola matanya jengah, saat Davina lagi-lagi memanggil mereka dengan tidak sopan.
"Ada apa lagi, Nona?" tanya Sekar begitu sampai di mejanya.
"Tehnya kurang dingin. Tambahkan es batu, dan jangan lupa sedikit gula!" titah wanita itu. Sekar mau tak mau mengambil teh pesanan Davina dan membawanya kembali ke dapur.
"Apa lagi kali ini?" keluh Banyu, sang koki.
"Katanya kurang dingin dan manis. Dia minta ditambahkan gula dan es." Jawab Sekar sembari mengeratkan gigi-giginya.
Sekar dan yang lain kontan terbelalak. "Jeng, wanita itu kekasihnya CEO Umbara!" seru Gading, wakil Tristan sekaligus koki, seperti Banyu.
"Terus kenapa? Mentang-mentang memiliki kekasih berkedudukan tinggi, dia jadi bisa seenaknya memperlakukan kita, begitu? Dilihat dari luarnya saja, aku bisa tahu kalau Pak Arion tidak menyukai wanita lampir itu!" Ajeng mengaduk-aduk teh tersebut penuh emosi, lalu meletakkannya ke atas nampan. "Biar aku saja yang berikan," ujarnya sembari melangkah keluar dapur.
"Aduh, mampus!" Banyu meringis. Begitu pula dengan yang lainnya. Di antara mereka, memang Ajeng lah yang paling berani menghadapi pelanggan keterlaluan. Tetapi, baru kali ini ia menggunakan cara tidak sopan seperti ini.
"Ini minuman Anda, Nona." Ajeng meletakkan minuman Davina di hadapannya. Tanpa berterima kasih, Davina meminum teh tersebut.
Sedetik kemudian, wanita glamour itu tiba-tiba menyemburkan teh yang sudah diminum. Ia berteriak, menghardik Ajeng dengan kata-kata kasar karena telah memasukkan garam ke dalam teh miliknya.
"Br3ngsek! Dasar pelayan rendahan! Kalian sampah semua!" teriak Davina dengan mata menyalang.
"Cukup!" Arion yang tidak tahan akan tingkah laku Davina, berdiri dari tempat duduknya. "Di sini, kau lah sampahnya!" seru pria itu keras.
Davina membelalakkan matanya. "Sayang,"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Arion menarik kasar tangan Davina guna menyeretnya keluar. Tetapi tak disangka, Davina malah menolak. Wanita itu tak ingin pergi begitu saja setelah dipermalukan Arion.
Sekar bersama teman-temannya lantas menghampiri meja Davina. "Nona, kami meminta maaf atas kesalahan salah satu rekan kami," ucap Gading. "Anda terus-menerus komplain, mungkin itu yang menyebabkan rekan kami canggung hingga salah mengambil gula." Lanjutnya membela Ajeng.
"Biar saya ganti minuman Anda," Sekar hendak mengambil teh yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Loh, memangnya tidak boleh pelanggan komplain? Kalian saja yang tidak becus bekerja. Makanan dan minuman yang kalian buat memang sampah, dan tidak layak jual!" hina Davina seraya menumpahkan teh asin miliknya hingga berceceran di lantai.
Sekar sontak menatap tajam wanita pembuat onar itu. "Tolong, jaga bicara Anda, Nona. Lidah Anda mungkin tidak cocok dengan masakan kami. Kalau memang demikian, Anda bisa pergi dari sini. Saya akan merekomendasikan beberapa restoran mewah di daerah sini."
Mendengar hal itu, Davina kontan naik pitam. Sekar secara halus sedang mengusirnya.
Arion kembali menarik tangan Davina. Ia bahkan mengeratkan genggamannya, tanpa memperdulikan rintihan wanita itu. "Urus ganti rugi tempat ini," titahnya pada Aiden.
Aiden menganggukan kepala.
"Ayo!" seru Arion.
"Tidak mau! Aku harus memberi pelajaran pada mereka dulu!" tolak Davina.
"Jangan macam-macam! Kau sudah membuatku malu!"
Davina bergeming. Merasa tidak ada perlawanan lagi darinya, Arion berjalan keluar dari meja, melewati Sekar.
Namun, peristiwa tak terduga tiba-tiba terjadi. Dengan segenap kekuatannya, Davina merebut papan menu yang ada di pelukan Sekar, dan menampar gadis itu kuat-kuat hingga terjatuh membentur ujung kursi yang ada di sana.
Darah segar langsung mengalir keluar dari kening Sekar.
Para pelanggan yang sedari tadi hanya melihat mereka, bergegas menghampiri Sekar dan membantunya bangun.
Keadaan semakin memanas ketika Arion reflek menampar balik Davina, hingga membuat sudut bibir wanita itu terluka. Persetan Davina seorang wanita! Persetan akan hubungannya dengan Baskoro! Wanita itu sudah keterlaluan dan sepatutnya diberi pelajaran.
"Rion!" Davina yang syok hanya bisa mematung menatap Arion.
Tanpa memperdulikan tatapan terluka Davina, Arion menarik Sekar keluar dari kedai.
Melihat kepergian mereka, Davina menangis histeris dan melempar semua benda yang ada di dekatnya. Para pelanggan kedai, yang sebagian besar karyawan Umbara, menatap wanita itu dengan pandangan benci. Sejak awal, mereka memang tidak menyukai sikapnya yang sombong dan sok berkuasa di kantor.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Saya tidak suka bab ini, jadi maaf kalau feel-nya kurang terasa ya, Kakak-kakak. ππ