
"Apa akhir-akhir ini asma Bapak Arion suka kambuh?" tanya dokter UGD pada Aiden.
"Dibandingkan dulu ... iya, dok," jawab Aiden.
"Beliau mengalami asma eksaserbasi akut atau serangan asma yang muncul tiba-tiba. Jika terus dibiarkan akan menyebabkan komplikasi dan membahayakan nyawa. Saya harap, Bapak Arion segera melakukan pengobatan lebih lanjut." dokter tersebut melirik Arion yang tengah berbaring di atas bed, dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.
"Baik, dok,"
"Usahakan juga agar beliau tidak terlalu banyak pikiran, dan jangan lupa selalu membawa inhaler asma ke mana-mana," pesan sang dokter. Aiden mengangguk paham. Ia kemudian mendekati Arion yang hendak duduk dari pembaringannya.
"Aku harus ke kantor," ujar Arion kepala.
"Tidak usah memikirkan urusan pekerjaan dulu. Anda harus pulang ke rumah, biar saya yang ke kantor!" tegas Aiden seraya mendorong pelan Arion agar kembali berbaring.
Arion tidak membantah. Ia menuruti perintah Aiden, lalu terpejam. Sesekali pria itu mengelus dadanya yang masih terasa nyeri. Pukulan Sekar lumayan terasa, ditambah lagi hantaman Dino saat mendorongnya tadi.
...***...
Di sepanjang perjalanan pulang, Sekar hanya terdiam membisu. Dino tak bisa berbuat apa-apa selain ikut diam, karena ada Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri bersama mereka.
"Nduk, kamu kenapa?" tanya Bude Gayatri yang menyadari perubahan sikap Sekar sekembalinya dari kantin.
"Tidak apa-apa, Bude," kilah gadis itu.
"Yakin? Kok, habis dari kantin matamu sembab begitu?" tanya sang bude sekali lagi.
Sekar tersenyum dan menoleh ke kursi belakang. "Aku hanya kepikiran soal pengobatan Mbah, Bude. Kalau boleh Sekar memberi saran, bagaimana jika kita pindah saja ke tempat yang lebih dekat? Hanya rawat jalan, Rumah Sakit kecil sepertinya tidak masalah."
"Kenapa memangnya?" tanya Bude Gayatri penasaran dengan rencana tiba-tiba Sekar.
"Perjalanan dari rumah ke sini membutuhkan waktu yang sangat lama, Bude. Aku kasian sama Mbah," jawabnya sembari mengerling pada sang nenek yang tertidur di sebelah budenya.
Bude Gayatri kontan melirik sang ibu. Benar juga apa yang dikatakan Sekar. Tetapi itu artinya, mereka harus menggunakan biaya pribadi.
"Tapi Nduk, jika kita menggunakan biaya pribadi, bukankah itu sangat berat? Apa lagi kau bilang kemarin, bahwa selama cuti kerja kau tidak akan mendapatkan gaji." Bude Gayatri memandang Sekar khawatir.
__ADS_1
"Itu urusan belakangan, Bude, yang penting Mbah tidak kelelahan setiap kali pergi check-up. Toh, aku masih punya tabungan yang cukup." Sekar mencoba meyakinkan budenya.
Setelah berpikir sejenak, beliau pun menyetujui keinginan Sekar. Memang sangat tidak baik bagi lansia seperti mereka untuk melakukan perjalanan jauh jika tidak terbiasa.
"Apapun yang baik menurutmu, Bude manut saja, Nduk." Bude Gayatri tersenyum lembut.
"Terima kasih, Bude," Sekar mengelus tangan kedua orang tuanya itu, lalu kembali memutar badannya ke depan. Diam-diam ia mulai menangis tanpa suara. Hanya Dino lah yang mengetahui hal tersebut, sebab Sekar duduk di sebelahnya.
Dino memberanikan diri menggenggam tangan Sekar, dan kali ini ... gadis itu sama sekali tidak menolak.
...***...
Beberapa hari setelah pertengkaran keduanya, Arion kembali berusaha mendekati Sekar dengan menghampiri rumahnya.
Selama seminggu berturut-turut, setelah pulang kerja Arion rela menempuh dua jam perjalanan demi menemui Sekar. Pria itu langsung tahu alamat rumah Sekar dari data yang diperoleh rumah sakit. Namun seperti biasa, Sekar akan selalu mengunci rumahnya dan membiarkan Arion berdiri di luar sampai ia pulang sendiri.
Bude Gayatri sebenarnya tidak tega melihat Arion diperlakukan demikian oleh keponakannya tersebut. Tetapi ancaman yang dilontarkan Sekar, bahwa ia akan pergi dari rumah, membuat beliau tidak dapat berbuat apa-apa.
"Nak Rion datang lagi," sapa Bude Gayatri yang sedang di sibuk membersihkan tanah depan rumahnya. Tanah luas tersebut bukan miliknya, tetapi demi kenyamanan ia rajin memotong tanaman liar yang ada di sana agar tidak menjadi sarang hewan-hewan melata. Lama ditinggalkan membuat tanaman liar itu tumbuh sampai sepinggang orang dewasa.
Dulu jalanan menurun itu sangat becek dan penuh dengan bebatuan. Namun, karena Sekar pernah jatuh saat berusia 5 tahun, Ismawan, sang adik, akhirnya mengaspal jalan itu sampai di depan rumah sedikit demi sedikit. Tak lupa, ia juga membuat bale ukuran 2x1,5 meter yang diletakkan di bawah pohon jambu untuk bersantai. Di bale itu lah biasanya Arion duduk menunggu Sekar.
"Sedang apa, Bude?" tanya Arion ramah. Di hari libur ini, ia datang bersama Aiden pagi-pagi sekali.
"Bude mau membersihkan ilalang dan rumput liar ini, agar hewan malam tidak datang ke rumah." Bude Gayatri menggulung lengan bajunya yang sedikit lusuh kemudian mengambil cangkul yang telah disediakan. Ada pula arit dan gunting rumput yang sudah mulai berkarat.
"Rion bantu, Bude," Arion tiba-tiba menawarkan diri.
"Tidak usah, Nak Rion, Bude bisa sendiri. Lagi pula bajumu nanti kotor." Arion tidak mengindahkan larangan sang bude. Setelah menggulung lengan kemeja dan celananya, ia dan Aiden membantu Bude Gayatri mencabut semua tumbuhan liar yang ada menggunakan cangkul dan arit.
Bude Gayatri yang merasa tidak enak melarang keras keduanya untuk ikut membantu. Tetapi mereka malah menyuruh sang bude menunggu saja di pelataran rumah bersama Mbah Bhanuwati yang sedang sibuk merajut.
Demi menghindari perdebatan, akhirnya Bude Gayatri mengalah. "Kalau begitu, nanti Bude buatkan makanan yang enak. Kebetulan Sekar sedang berbelanja di pasar."
Arion dan Aiden menganggukan kepalanya, sebelum melanjutkan lagi kegiatan mereka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Sekar turun dari becak sembari membawa barang belanjaannya. Gadis itu sangat terkejut mendapati Arion dan Aiden sedang berkubang di tanah kotor sembari menebas-nebas rumput liar. Keduanya menggunakan masker berlapis yang selalu dibawa oleh Aiden. Asma membuat Arion tidak boleh sembarangan menghirup udara kotor.
Arion berdiri dari posisi jongkoknya. Pekerjaan mereka sudah selesai setengah jalan. Bude Gayatri memang meminta mereka supaya tidak terlalu lebar membersihkan halaman. Tak sengaja mata Arion bersitatap dengan Sekar yang juga tengah melihatnya.
Gadis itu buru-buru memasang wajah masam. Baru saja ia hendak menegur, Bude Gayatri sudah menariknya.
"Bude, ngapain mereka di sini, sih!" ketus Sekar. "Mana kotor-kotoran lagi!" sambungnya. Meski samar, ada nada kekhawatiran terdengar dari perkataan gadis itu.
"Mereka yang memaksa. Biarkan saja, Nduk. Sekarang bantu Bude masak, ya? Mereka pasti lapar setelah bekerja keras."
Mau tak mau Sekar akhirnya menuruti Bude Gayatri.
Matahari kini sudah berada tepat di atas kepala, ketika Arion dan Aiden menyelesaikan pekerjaan mereka. Halaman rumah terlihat sudah bersih dari rumput-rumput liar yang menjulang tinggi, dan rumput-rumput kecil.
Sekar memberikan handuk kecil untuk Aiden dan Arion.
"Terima kasih," ucap Arion. Matanya memandangi Sekar penuh kerinduan.
"Sama-sama." Jawab Sekar datar. Ia lantas mengajak Arion dan Aiden masuk ke dalam rumah untuk makan siang bersama. Tidak ada meja makan di sana. Hanya ada sebuah tikar lama yang menjadi alas makan dan duduk mereka.
"Maaf, rumahnya kumuh seperti ini," kata Bude Gayatri canggung.
"Rumah yang sejuk dan nyaman, Bude," tutur Arion jujur. Meski sangat sederhana, tapi rumah beliau memang terasa sejuk walau tidak memakai AC atau kipas angin.
Pria itu duduk diapit Sekar dan Aiden, sementara Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri berada di hadapannya.
Menu sederhana yang menggugah selera benar-benar membuat perut Arion keroncongan. Terlebih, ia baru saja melakukan pekerjaan berat.
"Maaf, ya Nak Rion, Nak Aiden, Bude hanya bisa menyediakan makanan kampung," ujar Bude Gayatri tak enak.
Arion tersenyum. "Makananku juga seperti ini, Bude," jawabnya.
Mereka pun mulai makan siang dengan tenang. Sekar dengan telaten menuangkan nasi dan lauk ke piring Arion, sementara Bude Gayatri membantu Aiden.
"Sambalnya sedikit saja. Perutmu tidak kuat," ujar Sekar datar sembari menuang sambal terasi setengah sendok teh ke piring Arion. Mendengar itu, Arion melebarkan senyumnya. Gadis itu rupanya tidak melupakan hal-hal kecil tentang dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Arion. Sekar hanya melirik sekilas sembari menjawab ucapan terima kasih Arion. Padahal dalam hati, ia tengah memaki-maki dirinya sendiri agar tidak terbawa suasana.