
Aiden memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Bi Ida. Pria itu membuka kaca mobilnya sedikit guna melihat suasana rumah tersebut.
Setelah beberapa saat Aiden menutup kembali kaca mobilnya. Raut wajah pria itu terlihat sangat ragu, sebab seperti yang telah diketahui Sekar, bahwa ia adalah seorang CEO dan Arion adalah bawahannya. Lalu bagaimana ia harus bersikap di hadapan gadis itu, nanti? Berperilaku layaknya seorang Bos? Tentu ia tidak bisa. Memperlakukan atasannya seperti seorang bawahan? Ia tidak ingin mati muda.
Aiden mengacak rambutnya, frustasi. Atasannya yang sedang dimabuk asmara, tetapi kenapa dia yang harus kena getahnya!
Tak ingin membuat Arion menunggu lama, mau tak mau Aiden keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah Bi Ida.
Sekar terkejut bukan main kala mendapati Aiden dengan langkah tenang membuka pintu pagar rumah Bi Ida dan masuk ke dalam. Kini ia berdiri kaku di depan Sekar dan Arion.
Sekar menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Gadis itu gugup setengah mati karena atasannya kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Aku meminta Beliau kemari, agar kau tidak terus menerus berprasangka buruk padaku!" sahut Arion yang berdiri di belakang Sekar.
Sekar menoleh tajam ke arah Arion, sebelum kemudian berbalik dan menyapanya, "P–pak Arion?" suara gadis itu terdengar sangat gugup. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Bagaimana tidak! Orang sepenting CEO disuruh datang ke sini hanya demi alasan sepele. Sekar tidak habis pikir.
"Duduk, Pak," titah Sekar seraya mempersilakan Aiden masuk ke dalam rumah.
"Di sini saja." Aiden berjalan ke kursi teras yang semula ditempati Sekar dan Arion. Tetapi bukannya duduk, ia malah hanya berdiri mematung
Melihat tingkah Aiden yang aneh, Arion segera melakukan kontak mata tanpa sepengetahuan Sekar.
"Kenapa diam saja? Duduk!" seru Arion tanpa suara. Matanya memandangi Aiden, seolah-olah mengancam akan memecatnya kapan saja.
Aiden berdehem guna meminimalisir kegugupannya, lalu duduk dengan tenang di kursi tersebut.
Perkara duduk di kursi saja, keringat Aiden sudah mengalir sebesar biji jagung.
"Maaf, kalau kursinya kurang nyaman, Pak," ujar Sekar. "Bapak mau minum apa? Biar saya buatkan," sambung gadis itu.
"Tidak perlu, saya hanya mampir sebentar." Jawab Aiden. Pria itu memasang senyum simpul.
"Maafkan sikap Mas Rion ya, Pak? Gara-gara kekonyolan dia, Bapak sampai repot-repot kemari. Saya bukannya tidak percaya, hanya saja rasanya Mas Rion terlalu dimanjakan!" seru Sekar panjang lebar dengan raut berapi-api.
"Bukan dimanjakan, tapi memanfaatkan fasilitas yang ada. Benar begitu 'kan, Pak?" tanya Arion.
Aiden mengangguk-anggukan kepalanya. Bokongnya kini mulai terasa gatal. Ia ingin segera bangun dari kursi dan pergi dari sana secepat mungkin.
"Tenang saja, semua yang Pa–err ... Rion pakai sudah atas seizin saya," ungkap Aiden.
Sekar mengangguk paham.
Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Aiden segera berdiri dari tempat duduknya, hendak pamit pulang.
"Eh, Mas–Pak Arion," sapa Dini yang tiba-tiba datang dari dalam rumah. Gadis itu berpakaian rapi, sepertinya hendak pergi keluar.
Sekar mengerutkan keningnya. "Kamu kenal?" tanyanya bingung.
Dini menahan diri untuk tidak menepuk jidatnya. Walau ia berhasil bersandiwara, tetap saja mencurigakan jika tahu-tahu ia bisa mengenal Aiden.
"Beberapa kali Pak Arion pernah mengajak keluargaku makan malam." Tanpa diminta, Arion membuka suaranya.
Dini mengangguk setuju, begitu pula dengan Aiden.
__ADS_1
"Oh," gumam Sekar.
"Kau mau ke mana? Ini sudah malam." Arion mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku janjian sama Candra di halte depan sana. Kami mau jalan-jalan ke Balai Kota." Terang Dini.
"Mas mau pulang, kan?" tanya Dini kemudian.
"Iya, kenapa memangnya?" Arion balik bertanya.
Dini menoleh pada Sekar, "Ikut yuk, Mbak? Mbak kan sudah lama di Jakarta tapi hanya beberapa kali jalan keluar. Ibu juga sudah tidur, jadi dari pada sendirian mending ikut aku," ajak gadis itu.
"Jadi nyamuk aku, Din," tukas Sekar.
"Banyak orang di sana, Mbak," jawab Dini.
Sekar nampak menimbang-nimbang tawaran Dini sejenak sebelum akhirnya menyetujui ajakan gadis itu.
Sekar pun meminta izin untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
"Ayo, ikut," ujar Arion tiba-tiba pada Aiden.
Aiden membelalakan matanya, "Bapak saja," kata pria itu seraya meringis. Dini menahan diri untuk tidak tertawa melihat betapa sengsaranya Aiden kini.
"Apa kata Sekar, bila aku mengambil mobilmu dan kau pulang naik motor bututku!" sahut Arion kesal.
"Benar juga!" pikir Aiden. Pria itu menghela napas pasrah. Angan-angan untuk pulang ke rumah secepat mungkin pupus sudah.
Baru saja Aiden hendak membalas ejekan Dini, Sekar sudah keluar dari dalam rumah.
"Ayo," ajak Sekar.
"Yuk," bukannya Dini yang menjawab, melainkan Arion. "Kita ikut," kata pria itu.
...***...
"Bu, Ibu mau ke mana?" Bude Gayatri berlari tergopoh-gopoh keluar rumah ketika mendapati sang Ibu berjalan seorang diri tanpa alas kaki. Wanita tua berusia 73 tahun itu membawa sebuah payung yang sudah berkarat, padahal cuaca hari ini tidak hujan.
"Sekar, Nduk," lirih Mbah Bhanuwati. "dia belum pulang sekolah. Kamu jaga rumah, ya? Ibu mau jemput dulu, sudah mau hujan," sambung wanita itu.
Bude Gayatri tidak terkejut dengan apa yang dikatakan sang Ibu. Terkadang Beliau memang ingat beberapa kenangan, walaupun itu kenangan masa lalu.
"Biar Tri saja yang jemput, Bu," Bude Gayatri memegang kedua bahu Ibunya. Dia mengajak sang Ibu untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Biar Ibu saja,"
"Tidak, biar Tri saja, Bu. Lebih baik Ibu menunggu di rumah," ujar Bude Gayatri.
"Ya sudah kalau begitu, Nduk. Jangan lupa mampir ke tempat Mawan, ya? Suruh dia pulang dulu dari ladang untuk makan, Yati sudah masak banyak, " pesan Mbah Bhanuwati pada anak sulungnya tersebut.
Netra hitam Bude Gayatri seketika berembun. Mawan atau Ismawan dan Yati atau Cahyati, adalah mendiang adik dan adik iparnya, sekaligus orang tua dari Sekar yang sudah lama meninggal dunia.
"Iya, Bu," jawab Bude Gayatri. Tak ingin sang Ibu melihat air matanya yang mulai menetes, Bude Gayatri buru-buru membawa sang Ibu ke dalam rumah dan pergi keluar.
__ADS_1
Wanita berusia 56 tahun itu kemudian keluar dari rumah dan masuk ke dalam perkebunan yang terletak agak jauh dari rumah untuk menjemput Sekar. Biasanya, bude Gayatri akan berada di sana selama satu jam sebelum kembali pulang.
Mbah Bhanuwati memang hanya mengingat Sekar kecil. Beliau sama sekali tidak mengenali cucunya yang sekarang. Dulu saat Sekar kecil, Beliau lah yang suka menjemputnya pulang sekolah, sebab kedua orang tuanya sibuk di sawah dan ia sendiri sibuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Itulah mengapa Sekar sangat dekat dengan sang Nenek. Terlebih, gadis itu merupakan cucu satu-satunya.
Sayang kejadian nahas menimpa keluarga mereka, menyebabkan kedekatan Sekar dan sang Nenek tiba-tiba hancur begitu saja, saat Mbah Bhanuwati mengidap penyakit alzheimer, setahun setelah kedua orang tua Sekar meninggal dunia akibat wabah penyakit 10 tahun lalu.
Sejak saat itulah, Sekar tak lagi merasakan kasih sayang sang Nenek. Namun kendati demikian, Sekar tak pernah merasa bersedih. Gadis itu justru semakin mencintai sang Nenek dan tulus merawat Beliau hingga detik ini.
Sekar ingin Mbah Bhanuwati mendapat perawatan yang memadai. Walaupun penyakit ini tidak dapat disembuhkan, setidaknya ia ingin Mbah Bhanuwati dapat mengingatnya kembali, sebagai cucunya yang telah dewasa.
...***...
Sekar mengerutkan keningnya dalam-dalam. Wajahnya menyiratkan raut kebingungan, kala mendapati pemandangan yang tampak ganjil di depannya. Dini yang menyadari tatapan Sekar hanya bisa meringis sembari berusaha memberi isyarat pada Aiden dan Arion.
Merasa kedua gadis itu belum naik, Arion yang sudah duduk di dalam mobil segera membuka kaca jendela. "Kenapa belum masuk?" tanya Arion. Kepalanya menyembul keluar jendela.
Aiden yang hendak masuk ke dalam kursi kemudi pun tiba-tiba terperanjat saat menyadari apa maksud isyarat dari Dini.
Bagaimana tidak! Karena kebiasaan, Aiden reflek membukakan pintu belakang untuk Arion, lalu membuka pintu kemudi untuk dirinya sendiri.
Aiden membelalakan matanya pada Arion. Netranya bergulir kesana kemari, memberi isyarat pada atasannya itu.
Menyadari hal tersebut, Arion segera turun dari mobil dan tertawa garing. "Hahaha ... kadang-kadang aku suka berperilaku layaknya Bos saat dikemudikan Lucas, supir Pak Arion."
Aiden ikut tertawa, meski tidak sekeras Arion. "Saya juga suka lupa, karena akhir-akhir ini terbiasa membawa mobil sendiri." Keringat dingin sebesar biji jagung bertengger di dahinya.
Aiden meringis pasrah, dalam hati ia jadi berharap, Arion memecatnya saat ini juga.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih bagi kakak-kakak yang masih sudi membaca tulisan saya ini. Maaf jika typo masih bertebaran dan tanda baca masih suka salah-salah. 🙏🙏
Untuk menambah list bacaan kakak-kakak sekalian, aku mau rekomendasiin Novel salah satu temanku.
Coba mampir ya, kakak-kakak. Dijamin suka deh.
Terima kasih, 🤗
__ADS_1