Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
First Kiss


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang Sekar hanya terdiam. Ia tak peduli pada rasa panas yang menjalari tubuh bagian depannya akibat kuah Lobster saus tiram. Yang ada dipikiran gadis itu hanya kekhawatirannya terhadap Arion, terutama pada punggung tangan kirinya yang terluka.


Sekar kembali melirik tangan kiri Arion yang berada di perseneling. Darah sudah mulai mengering dari lukanya. Itu memang hanya luka kecil, tapi tetap saja ada sebongkah perasaan bersalah datang menggulung-gulung benaknya.


Mata Sekar kembali mengembun. Dengan gerakan ragu-ragu ia mengangkat tangannya, hendak meraih tangan kiri Arion.


Arion yang menyadari maksud Sekar, bergerak lebih dulu menggenggam tangan kanan gadis itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


Air mata kembali jatuh mengalir saat tangan Arion mengelus lembut tangannya. "Maaf," ucap Sekar lirih.


Arion menoleh sekilas. Kontan ia menghapus jejak-jejak air mata Sekar. "Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah," katanya.


Sekar menggeleng. Dengan kedua tangannya, ia menggenggam tangan Arion dan mengusap lukanya penuh kehati-hatian. "Aku hanya orang kampung yang tidak tahu apa-apa. Jangankan Lobster, ikan pun hanya bisa aku makan beberapa bulan sekali." Terang Sekar sembari menatap dalam-dalam tangan Arion.

__ADS_1


"Ini semua salahku. Andai aku tegas menolak tawaran Davina, andai aku menerima bantuan Dini atau Mas, semua tidak akan menjadi kacau seperti ini. Rasa malu dan gengsi membuatku menolak bantuan kalian. Padahal, aku hanya tidak ingin direndahkan." Tawa sumbang mengiringi akhir kalimat yang Sekar utarakan. Sejujurnya dalam hati ia juga bingung, mereka baru pertama kali bertemu, tetapi mengapa seolah-olah Davina tahu tentang dirinya?


"Please, aku tak suka mendengarmu berkata demikian," ujar Arion.


Sekar mengangkat kepalanya lalu menatap Arion penuh sayang. "Aku memang tidak pantas buat Mas. Kau terlalu jauh untuk kuraih. Jadi, bukankah lebih baik kita sudahi saja?" Seulas senyum terpatri di wajah ayu gadis itu.


Sedetik setelah Sekar mengatakan hal tersebut, Arion menginjak remnya tiba-tiba. Beruntung jalanan sedang tidak terlalu ramai, Arion memutuskan menepikan mobilnya kemudian.


"Ini hanya masalah sepele, kenapa harus merambat sampai ke mana-mana!" sahut Arion kesal. "Aku tak peduli siapa dirimu, dari mana asalmu dan siapa keluarga besarmu. Yang aku pedulikan hanya kau seorang!" Mata pria itu menatap Sekar tajam, seolah-olah memberitahu padanya bahwa apa yang ia ucapkan adalah sebuah kebenaran.


Arion tertawa sinis. Sekar sudah terlalu jauh. Ini hanya perkara Lobster, mengapa sampai membawa-bawa hubungan mereka. "Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi."


"Aku hanya ingin berjaga-jaga." Jawab Sekar. "Mas dengar sendiri 'kan saat Davina mengatakan bahwa Lobster itu adalah makanan umum di sini? Padahal harganya bagiku bisa untuk membeli persediaan beras selama satu minggu."

__ADS_1


Arion tercengang, bisa-bisanya gadis itu memutar-mutar pembahasan mereka. Tadi Lobster, lalu hubungan mereka, eh ekarang balik lagi membahas Lobster. Nama Davina disebut pula! Sudah tahu ia muak mendengarnya.


Arion menghela napasnya. Ia bersumpah, mulai saat ini ia akan membenci Lobster ... dan juga Davina.


"Sudah, aku tidak mau membahas Lobster lagi. Trauma!" Sekar membuang muka.


Arion tertawa kecil. Yang dari tadi membahas Lobster adalah gadis itu. Ia benar-benar tidak mengerti pola pikir wanita.


"Kok, Mas tertawa?" tanya Sekar jengkel.


"Aku sedang tidak melempar lelucon! Aku juga se–" bola mata Sekar terbuka lebar, ketika Arion tiba-tiba memagut bibirnya mesra. Pria itu merasa harus melakukannya agar Sekar diam.


Sekar berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri, tetapi Arion malah menarik lehernya dan memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


Mata Sekar kembali mengembun. Setetes air mata kembali turun dari pelupuk mata Sekar. Suara isak tangis yang teredam, terdengar dari bibir gadis itu.


__ADS_2