Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Pertemuan


__ADS_3

Hari ini Sekar dan Bude Gayatri mengantar Mbah Bhanuwati check up ke rumah sakit. Bude Gayatri kali ini menolak keras tawaran Dino yang ingin mengantar mereka. Beliau merasa tidak enak hati jika terus menerus merepotkan pria itu. Terlebih, beberapa tetangga sudah mulai berkasak-kusuk membicarakan kedekatan Sekar dan Dino. Dia takut kabar tersebut sampai ke telinga keluarga Dino, dan Sekar harus kena getahnya lagi.


"Kondisi Mbah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Teruskan apa yang sudah saya katakan waktu itu ya, Bu? Seperti menghindari daging merah, mentega, keju, kue-kue dan permen. Makanan cepat saji dan goreng-gorengan juga tidak boleh. Kalau hanya sesekali tidak apa-apa." Terang dokter Fanya, seorang dokter geriatri yang menangani Mbah Bhanuwati.


"Di samping itu, saya sarankan Mbah untuk melakukan diet mediterania," lanjut sang dokter.


"Diet apa itu, dok?" tanya Sekar.


"Diet mediterania berguna untuk menghentikan hipertensi dan menekankan pengurangan asupan garam. Penderita alzheimer juga diharuskan mengonsumsi tiga sampai empat porsi ikan, buah dan sayuran dalam sehari." Jawab dokter Fanya lembut.


"Baik, dok." Bude Gayatri mengangguk paham.


"Emm ... dok, boleh saya menanyakan hal yang lain?" tanya Sekar tiba-tiba. Pertanyaan ini memang sudah dia siapkan sejak jauh-jauh hari.


"Boleh." Jawab dokter Fanya tersenyum.


"Dok, mengapa Mbah sama sekali tidak mengenali saya, cucunya? Padahal beliau masih bisa mengingat Bude. Sedangkan ingatan beliau tentang saya hanya terpaut masa-masa sekolah dasar saja," tanya Sekar penasaran.


Dokter Fanya tampak sedang memikirkan sesuatu. "Ibu Gayatri pernah menceritakan ini pada saya. Memang, ada beberapa penderita yang benar-benar kehilangan memorinya akan seseorang atau momen tertentu. Dan sampai sekarang masih belum ada penjelasan yang lebih terperinci soal itu."


Sekar mendengarkan dengan seksama, begitu pula dengan Bude Gayatri.


"Hanya saja, yang bisa saya tangkap dari cerita Ibu Gayatri adalah, bahwa kepedihan Mbah tentang Mbak Sekar sudah terlalu dalam. Hingga tanpa sadar memicu otak beliau untuk menghilangkan sebagian memorinya. Mbah tidak kuat jika harus melihat penderitaan sang cucu, selepas ditinggalkan anak dan menantunya. Terkadang beliau memang akan mengingatnya sesekali, tetapi hanya sedikit sekali."


Mendengar penjelasan sang dokter, raut wajah Sekar berubah mendung. Mata gadis itu kontan berkaca-kaca.


Dokter Fanya memegang bahu Sekar. "Sabar, ya? Jangan menyerah. Terus ajak beliau berkomunikasi dan perlakukan seperti biasa. Selebihnya, percayakan saja pada Tuhan." Tangannya menepuk-nepuk lembut bahu gadis itu.

__ADS_1


Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai mengembun. "Terima kasih, dok," ucapnya.


"Sama-sama."


Tak lama mereka pun pamit setelah dokter Fanya memberikan resep obat yang harus dikonsumsi Mbah Bhanuwati. Ketiganya kemudian turun ke lantai satu menuju bagian farmasi.


"Haus, haus!" seru Mbah Bhanuwati tiba-tiba.


"Ibu haus?" tanya Bude Gayatri yang langsung diiyakan oleh sang ibu. Wanita itu kemudian mengambil botol minum dari tas besar miliknya, tetapi ternyata minum yang dia bawa sudah habis.


"Biar aku belikan, Bude," Sekar berdiri dari tempat duduk lalu bergegas pergi menuju kantin rumah sakit.


Saat berjalan melewati kasir, tanpa sengaja telinga Sekar mendengar nama sang nenek disebut-sebut oleh salah seorang, yang sekiranya tidak ia kenal.


Sekar mengintip sedikit dari balik tiang pondasi rumah sakit. Rupanya orang tersebut sedang membicarakan administrasi atas nama Mbah Bhanuwati. Sekar semakin menyembunyikan diri agar tidak ketahuan.


"Saya terima depositnya ya, Pak Arion, dan ini tanda terimanya," seorang kasir wanita memberikan secarik kertas pada Arion. Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih.


Arion membenahi kupluknya yang hampir terbuka. Bergegas ia pun pergi dari sana.


Wajah Sekar berubah pucat mengetahui kenyataan sebenarnya. Rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu. Lagi-lagi, Arion telah menipu dirinya.


Tanpa pikir panjang Sekar berjalan cepat menyusul Arion yang kini sudah keluar dari lobby rumah sakit. Gadis itu semakin yakin bahwa pria itu adalah Arion, ketika ia membuka jaket kupluknya.


Secepat kilat Sekar merampas kertas yang berada di tangan Arion. Mendapat perlakuan demikian, Arion terkejut bukan main. Ia hampir saja mencengkram keras lengan Sekar, jika tidak segera melihat wajahnya.


"Sekar!" Arion membelalakan matanya.

__ADS_1


Sekar memeriksa kertas yang baru saja diberikan kasir pada Arion. Dan benar saja! Di sana tertera nama Mbah Bhanuwati sebagai pasien, dan Arion sebagai penanggung jawab penuh.


Gadis itu menatap Arion kecewa. Air mata tak dapat lagi dibendung olehnya. Tidak ada yang namanya donatur untuk Mbah Bhanuwati. Semua biaya pengobatan dibayar oleh Arion, dari pertama kali Mbah dirawat sampai detik ini. Bahkan Arion juga sudah mendepositokan sejumlah uang untuk rawat jalan sang nenek, selama beberapa waktu kedepan.


Sekali lagi, pria itu telah membohongi dirinya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Sekar seraya mengayun-ayunkan kertas tersebut. Arion mencoba menghapus air mata Sekar, tetapi gadis itu menepisnya kasar.


"Kau sedang mencoba menjadi pahlawan kesiangan, ya? Kau mengasihani hidup keluargaku yang miskin, begitu? Kau sengaja membuatku berhutang budi. IYA, KAN?" teriak Sekar sembari merobek-robek kertas pembayaran tersebut. Beberapa orang yang berlalu-lalang di sana, berusaha mendekat guna mencari tahu. Tetapi Aiden yang sedang mengawasi dengan sigap menghentikan mereka.


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan," kilah Arion seraya menggapai tangan Sekar.


Sekar kembali menepis dan tertawa sinis. "Katakan, hal konyol apa lagi yang sudah kau lalukan, hah? Lebih baik beritahu aku sekarang, atau aku akan mencari tahu semuanya sendiri!" air mata mengalir deras membasahi pipi Sekar.


"Dengarkan penjelasanku dulu, please," Arion menarik Sekar ke dalam pelukannya, tetapi dia langsung memberontak. Arion tidak menyerah. Ia semakin mengeratkan pelukannya agar gadis itu bisa tenang. Namun hal yang tidak diduga terjadi, Sekar malah menggigit dan memukul dadanya sekuat tenaga. Pelukan itu kontan terlepas. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sekar bergegas lari ke dalam rumah sakit.


Baru saja Arion hendak mengejar Sekar, Dino tiba-tiba datang dan meninju pria itu. Suasana semakin memanas saat Arion membalas tinjuan Dino. Aiden yang berada di sana langsung berlari melerai mereka.


"Brengsek! Kau sudah membuat Sekar menangis!" hardik Dino. Ia yang mengkhawatirkan Sekar dan keluarganya, diam-diam menyusul gadis itu ke rumah sakit. Baru saja pria itu turun dari mobil, matanya menangkap sosok Sekar dan seorang pria tengah bertengkar. Emosinya sontak tidak terkontrol, mendapati gadis yang dicintainya selama bertahun-tahun dibuat menangis oleh pria lain.


"Kau orang luar, tidak perlu ikut campur!" Arion membalas perkataan Dino.


Dino menggertakan gigi-giginya. Sekuat tenaga ia melepas cengkraman Aiden dan menarik kerah kemeja Arion hingga tercekik. "Kau pikir, siapa dirimu? Kau pun bukan siapa-siapa bagi, Sekar!"


Dino mendorong dada Arion kasar, hingga nyaris terjerembab. Ia langsung masuk ke dalam rumah sakit menyusul Sekar.


Arion bergeming seraya memandangi kepergian Dino. Setelah pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya, Arion ambruk seketika. Aiden dengan sigap menangkap tubuh Arion. Wajahnya terlihat sangat pucat dan napasnya terasa sesak. Tanpa pikir panjang, Aiden segera membawa pria itu ke UGD.

__ADS_1


__ADS_2