
Tak berapa lama, seorang waitress lain datang membawa hidangan yang mereka pesan, termasuk sepiring nasi goreng seafood dan seporsi Lobster saus tiram berukuran jumbo, utuh, milik Sekar.
Arion terperangah saat melihat Lobster utuh tersebut, karena setahu dirinya, Lobster akan dihidangkan dalam keadaan terbelah dua, agar konsumen lebih mudah memakannya.
Tahu bahwa Sekar pasti akan kerepotan memakannya, Arion memutuskan bertanya pada waitress tersebut. "Memangnya di sini Lobster atau kepiting disajikan utuh? Bukankah seharusnya dibelah agar lebih memudahkan kami memakannya?" tanya Arion.
Si waitress hendak menjawab, tetapi Davina sontak menginterupsi. "Aduh! Aku lupa bilang pada mereka, maaf ya, Sekar," ujar Davina seraya memasang wajah menyesal yang dibuat-buat.
Sekar tersenyum. "Tidak apa-apa."
Dini memicing tak suka pada wanita berpenampilan glamour tersebut. Kentara sekali ia tak suka dengan Sekar dan hendak mengerjainya.
"Sini aku bantu, Mbak," Dini menawarkan diri. Ia tahu cangkang Lobster memang tidak sekeras kepiting, tetapi tetap saja merepotkan. Terlebih, dari raut wajah Sekar, sepertinya ia belum pernah memakan makanan tersebut.
Sekar yang tidak ingin kehilangan muka menolak tawaran Dini. Ini hanya sebuah Lobster, ia pasti bisa memakannya. Toh kalaupun tidak bisa, ia akan memakan nasi gorengnya terlebih dahulu, dengan begitu ia bisa menolak memakan Lobster dengan alasan kekenyangan.
Baru saja Sekar mendekatkan piring nasi gorengnya, namun Davina malah menukar piring tersebut dengan seporsi Lobster tadi. "Makan ini dulu, Sekar, rasa yang tertinggal di mulutmu nanti akan membuat nasi goreng itu jadi lebih enak."
Sekar meringis, rencananya gagal.
"Aku bantu, ya?" Arion menarik piring Lobster milik Sekar, tetapi gadis itu menahannya. Ia tidak mau kelihatan norak di depan kekasihnya.
"Aku bisa," katanya sembari mengulas senyum.
Melihat kesungguhan Sekar, Arion pun membiarkan gadis itu melakukannya sendiri.
Sekar menoleh ke arah mereka berlima yang tampak asyik menyantap makanan masing-masing. Ia bahkan bisa melihat Arion tengah khusyuk mengunyah nasinya dengan lahap.
Sekar mengambil pisau kecil yang telah disediakan. Dengan gerakan canggung ia memotong cangkang Lobster tersebut dengan sembarang.
Lobster tersebut sebenarnya mudah dipotong, hanya saja kuahnya yang banjir membuat Sekar kesulitan membelahnya.
__ADS_1
"Memang, kuahnya sebanyak ini?" tanya Sekar dalam hati.
Sekar yang merasa tidak sabaran mengeluarkan sedikit tenaganya. Ia menekan lebih dalam pisaunya dan ...
"Oh, my God!" pekik Davina tatkala kuah Lobster terpercik ke mana-mana. Pisau yang Sekar pegang bahkan sampai terlempar ke lantai, melewati Arion. Membuat suasana gaduh seketika.
Arion mengaduh karena punggung tangannya tergores pisau Sekar sebelum terjatuh ke lantai. Kaosnya pun tidak luput dari kuah Lobster.
Sekar menutup mulutnya. Gadis itu terbelalak begitu menyadari kericuhan yang ia sebabkan. Sementara dengan sigap Davina menghampiri Arion dan membantu pria itu membersihkan pakaiannya.
"Mbak, tidak apa-apa?" tanya Dini. Ia membantu Sekar membersihkan pakaiannya yang juga terkena kuah Lobster.
"Ma–maafkan aku," cicit Sekar.
Arion yang risih menepis bantuan Davina, ia tak peduli pada pakaian atau lukanya. Fokusnya kini hanya pada Sekar. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sembari memperhatikan pakaian sang kekasih.
Arion terperanjat begitu melihat lekukan tubuh Sekar tercetak sempurna, karena pakaiannya basah oleh kuah Lobster. Dengan sigap ia mengambil jaket yang disampirkan di punggung kursi dan memakaikannya ke Sekar.
Arion tersenyum dan mengelus pipi gadis itu. "Jangan dipikirkan."
"Ck! Ini hanya sebuah Lobster, Sekar, masa cara makannya saja tidak tahu! Apa kau tidak pernah memakan makanan itu sebelumnya? Itu makanan umum, loh!" Davina membuka suara.
"Bikin malu saja!" sambung wanita itu.
"Diam, Vin!" Arion memandang Davina tajam.
Sekar menunduk dan menggigit bibirnya. "Aku mau pulang. Aku mau pulang, saja!" pinta gadis itu.
Arion mengerling pada Aiden. Aiden yang memahami langsung bergegas menuju ke kasir. Pria itu kemudian menatap Dini dan Candra.
"Pulang duluan saja, Mas," Dini bersuara.
__ADS_1
"Kami duluan," pamit Arion sembari membawa Sekar ke dalam dekapannya.
Saat melewati Davina, Arion berhenti sejenak dan berbisik padanya, "Kau sudah membuat satu kesalahan fatal!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kakak-kakak ayo terus dukung aku, ya? Sedih deh rasanya kalau semakin kesini, dukungan semakin berkurang. 1 like kalian berharga sekali buat aku.
Jangan bosan baca cerita abal-abalku ya, kakak-kakak semua🤗
Oh iya, aku mau kenalin karya keren dari salah satu sahabatku. Jangan lupa mampir ya, kakak-kakak.
Terima kasih,❤
__ADS_1