
Binar bahagia terpampang jelas dari wajah Mbah Bhanuwati ketika melihat rumahnya kembali. Wanita renta itu berkali-kali mengucapkan syukur, karena bisa kembali pulang ke rumah peninggalan sang suami yang sudah dia huni selama puluhan tahun.
Bude Gayatri menuntun sang ibu masuk ke dalam rumah, sementara Sekar dan Dino mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil terlebih dahulu. Ada banyak sekali barang milik sang nenek dan budenya yang dibawa dari rumah, seperti pakaian dan bantal guling milik mereka. Maklum, mereka harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan.
"Saya langsung pamit pulang ya, Bude, Sekar," pamit Dino yang baru saja meletakkan tas terakhir milik sang nenek. Sebenarnya Dino masih ingin berlama-lama di sana, tetapi Sekar pasti menginginkan waktu bersama keluarganya, dan ia tidak ingin menjadi pengganggu.
"Loh, kenapa buru-buru, Nak? Makan dulu saja, Bude baru mau masak." Bude Gayatri bergegas menghampiri Dino untuk melarangnya pergi.
"Tidak perlu repot-repot, Bude. Lagi pula Bude dan Mbah baru saja sampai, lebih baik beristirahat dulu. Tidur di rumah sakit pasti tidak senyaman tidur di rumah." Dino tersenyum lembut.
Bude Gayatri mengucapkan banyak terima kasih pada Dino karena selama ini sudah mau membantu mereka. Padahal mereka tidak pernah membalas apa-apa. Dalam hati sang bude berandai-andai, kalau saja orang tua Dino setuju, mereka pasti sudah menikah sejak lama.
Dino mencium tangan Bude Gayatri dan pergi meninggalkan rumah. Sekar mengantarnya sampai ke mobil. Sesampainya di mobil, Sekar mengucapkan kalimat yang sama seperti budenya. "Terima kasih banyak sekali lagi ya, Mas? Maaf jika lagi-lagi kami kembali banyak merepotkan,"
"Tidak perlu seperti itu, kita ini sudah lama saling kenal, bukan?"
Sekar mengangguk. Melihat wajah cantik gadis itu, Dino tidak dapat menahan diri. Ia mengacak lembut surai hitam Sekar. Meski wajah Dino terlihat biasa-biasa saja, tetapi Sekar dapat menangkap arti yang berbeda dari sorot matanya.
Sekar terdiam. Gadis itu tidak memberikan reaksi apapun, selain hanya membalas tatapan mata Dino dengan raut wajah tak terbaca.
"Aku pergi dulu, assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam." Sekar tersenyum ramah sembari melambaikan tangannya.
Dino menjalankan mobilnya sambil terus menatap Sekar dari pantulan kaca spion. Gadis itu sama sekali belum beranjak dari sana, sampai mobilnya benar-benar tidak lagi terlihat.
Dino menghela napas panjang. Kendati sudah pernah berjanji pada Sekar untuk menjalin hubungan tak lebih dari sepasang kakak adik, Dino tak dapat memungkiri, bahwa kebersamaannya dengan gadis itu membuat perasaannya semakin lama semakin mengembang.
Dino kembali mengingat pertengkaran mereka di rumah sakit waktu itu. Perkataannya pada Sekar yang akan melamar gadis itu setelah urusan Mbah Bhanuwati selesai, membuat hati Dino berandai-andai.
...***...
Arion hanya bisa terduduk lemas di sofa ruang tamu, tatkala mengetahui kabar dari Dini, bahwa Sekar sudah kembali ke kampung halamannya sejak beberapa hari lalu.
"Maafkan aku, Mas," ucap Dini seraya tertunduk, karena tidak memberitahunya soal kepulangan Sekar. Pasalnya, gadis itu mengancam Dini akan memblokir nomornya, jika berani membocorkan hal tersebut pada Arion.
__ADS_1
"Minimal, tunggu Mbak sampai di rumah terlebih dahulu, agar dia tidak bisa menghalangi kepulangan Mbak." Dini masih mengingat jelas pesan yang disampaikan Sekar melalui telepon.
Arion bergeming. Ia tentu tidak bisa menyalahkan adik angkatnya tersebut. Pria itu mengurut keningnya frustrasi. Sekar kini benar-benar pergi dari sisinya.
"Pak," melihat bosnya melamun, Aiden berinisiatif memanggil-manggil. Tetapi tak kunjung mendapat jawaban. Suasana di ruang tamu tiba-tiba terasa begitu sunyi dan sedikit tercekat. Aiden mengerutkan keningnya tak nyaman. Entah mengapa ia seperti telah mengetahui, bahwa Arion kini tengah merencanakan sesuatu hal yang gila. Maklum, ia telah lama mengenal Arion.
Setelah sadar dari lamunannya, Arion mengambil ponsel yang berada di saku kemeja. Ia lantas menelepon seseorang.
Daniel baru saja selesai mengadakan rapat dan kembali ke ruangannya. Ia merapikan seluruh berkas-berkas yang masih berserakan di meja, lalu pergi meninggalkan kantor bersama Noah.
Suara ponsel Daniel berbunyi ketika mereka menunggu di depan pintu lift.
"Assalamualaikum," salam Arion.
"Waalaikumsalam. Kudengar, kau sudah kembali pulang? Bagaimana pekerjaan di sana? Apa proyeknya berjalan dengan lancar?" tanpa basa-basi Daniel langsung memberondong Arion dengan berbagai pertanyaan perihal pekerjaannya di Surabaya.
Mereka terdengar serius berbincang, hingga Daniel masuk ke dalam lift dan tiba di lobby.
"KAU T0LOL ATAU G1LA!" teriakan Daniel tiba-tiba menggelegar memenuhi lobi kantor. Para karyawan yang sedang berada di sana kontan terkejut, mendapati salah seorang pimpinan mereka meneriakkan kata-kata kasar.
"TIDAK! KAU G1LA! SANGAT G1LA!" lagi-lagi Daniel meneriaki Arion. Noah hanya bisa menggaruk lehernya canggung, tatkala seluruh mata memandangi mereka berdua. Beberapa bahkan memberi isyarat pada Noah agar sudi memberitahukan apa yang telah terjadi. Tetapi Noah memilih bungkam.
"Aku masih waras!" balas Arion sengit.
"Kalau waras, kau tidak akan meminta hal konyol seperti itu!" seru Daniel. Suaranya kini tak lagi sekeras sebelumnya.
"Kau sudah berjanji akan selalu membantu jika aku membutuhkanmu. Kini aku menagihnya," Arion kembali mengingatkan Daniel soal janjinya.
"Iya, tapi tidak dengan yang satu ini. Kau tahu sendiri, mereka sedang menyoroti tingkah lakumu, Rion!" Daniel memijit keningnya frustrasi.
"Mas," panggil Arion lirih.
"Berhenti memanggilku dengan nada seperti itu. Jika kau ingin berkelahi, lebih baik kita adu fisik saja!" Daniel berhenti di ambang pintu keluar. Satu tangannya kini berada di pinggang. Para karyawan yang juga hendak pulang otomatis berhenti di belakang Daniel. Mereka tidak berani menerobos keluar.
"Aku akan menemuimu besok!" seru Arion mantap.
__ADS_1
"Aku tidak akan sudi bertemu denganmu, sebelum kau meluruskan isi otakmu dulu!" tanpa basa-basi, Daniel menutup teleponnya sepihak. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan kantor. Raut wajahnya penuh emosi.
Sejak mereka kecil, ada saja kelakuan dan ide konyol Arion demi bisa mewujudkan keinginannya. Kendati sang adik lebih dikenal sebagai anak pendiam, tetapi jika ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia akan berubah menjadi anak yang menjengkelkan. Seperti menyamar sebagai supir pribadi Daniel agar bisa menemui nenek mereka yang sedang sakit, dulu. Pertengkaran dengan sang ayah membuat Arion dilarang menemui sang nenek waktu itu. Dan entah bagaimana caranya, adiknya itu bahkan pernah menyusul sang ibu seorang diri ke London, ketika usianya belum genap 13 tahun.
Arion mengusap telinganya yang berdenging akibat teriakan spontan Daniel. Meski sudah dapat menebak bagaimana reaksi sang kakak, tetap saja ia merasa terkejut.
Matanya kemudian beralih pada Aiden yang tengah menatapnya tajam. Reaksi tak jauh berbeda rupanya didapatkan tak hanya dari Daniel, melainkan asisten pribadinya juga.
"Pak, Anda–"
Arion buru-buru menghentikan perkataan Aiden. "Aku sudah cukup mendengar makian dari Daniel, jangan kau tambah lagi!" tak ingin berdebat, Arion memutuskan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Arion segera membuka jas dan kemejanya. Pria itu kemudian duduk di pinggir ranjang dan kembali memeriksa ponselnya. Ia berniat mengganggu Daniel lagi.
Tanpa sengaja, matanya membaca sebaris pesan yang belum ia buka.
Sekar bergabung dengan telegram.
...***...
Tawa riang keluar dari bibir Sekar setelah mendengar celotehan lucu Dimas. Ia, Dimas, Rani, Ningsih, Lastri dan Jalu sedang melakukan video call bersama. Sekar mengajak para sahabatnya melihat seisi rumah. Tidak ketinggalan, mereka juga memperkenalkan diri dan mengobrol sejenak dengan Bude Gayatri.
"Di depan rumahku terdapat hutan kecil. Sayangnya hari sudah malam, jadi kalian tidak bisa melihatnya. Aku akan tunjukan nanti saat hari terang."
"Rumahmu benar-benar sejuk dan nyaman. Aku bisa membayangkan betapa nyenyaknya tidur di malam hari, tanpa pendingin ruangan mau pun kipas angin."
Sekar mengangguk menanggapi perkataan Dimas. "Kipas anginku memang lebih sering digunakan sebagai pajangan saja." Tawa kecil meluncur dari bibirnya.
Tak berapa lama, mereka pun mengakhiri video call agar Sekar bisa beristirahat.
Sekar tersenyum senang. Rindu kepada para sahabatnya sedikit terobati dengan menatap wajah mereka, meski hanya melalui video call. Itu jauh lebih baik dari pada hanya bertukar pesan saja.
Setelah merasa cukup beristirahat, Sekar berniat akan mulai mencari pekerjaan lagi. Tak perlu bersusah payah ke warnet, ia dapat memanfaatkan ponselnya untuk mencari informasi perihal lowongan kerja.
"Tak perlu gaji yang tinggi seperti di Umbara, yang penting aku masih bisa memenuhi kebutuhan hidup Mbah dan Bude," pinta Sekar.
__ADS_1