Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Ambisi Dino


__ADS_3

Sekian menit berlalu, Arion masih saja duduk diam di dalam mobil. Matanya menerawang jauh ke dalam area pemakaman yang terlihat sangat sunyi. Maklum waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore.


Aiden yang duduk di kursi kemudi hanya bisa menatap Arion perihatin. Yang ia ingat, Arion hanya tiga kali datang ke makam setelah kematian ayahnya, padahal dulu pria itu bisa setiap minggu mengunjungi makam sang ibu bersama Dewandaru, ketika beliau masih hidup.


Aiden pernah bertanya, apa alasan Arion enggan menginjakan kakinya ke sana lagi.


"Hampir setiap minggu kami selalu bersama mengunjungi makam Ibu. Kau pikir bagaimana perasaanku, mengetahui orang yang selalu bersamaku ke sini tiba-tiba ikut terkubur di dalam sana!" Aiden masih mengingat betul jawaban Arion dulu.


"Pak, jika Anda tidak ingin ikut, biar saya saja yang turun." Aiden membuka suaranya.


Arion menggeleng. "Aku ikut." Ia membuka pintu mobil dan berjalan perlahan menuju blok makam kedua orang tuanya, yang berada tak jauh dari pintu masuk.


Aiden menyusul kemudian, setelah mengambil sebuket besar bunga Krisan, bunga kesukaan mendiang Rossane.


Arion bersimpuh di sebelah makam orang tuanya. Ia terlihat khusyuk berdoa. Aiden ikut bersimpuh di sebelah bosnya. Selama beberapa saat keheningan melingkupi mereka berdua.


Selesai berdoa, Arion menerima sebuket bunga dari Aiden dan meletakannya tepat di atas makam.


"Maaf, Yah, Bu, sudah lama aku tidak pernah mengunjungi kalian." Arion mengelus nisan keduanya lembut. Matanya berubah mendung. Sesaat ia menyadari, bahwa ia kini hidup sendirian.


...***...


Sekar merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, sembari menghirup dalam-dalam udara segar di taman belakang rumah sakit ini. Sebenarnya hari ini Bude Gayatri menyuruh Sekar untuk pulang ke rumah dan beristirahat, namun gadis itu menolak mentah-mentah.


Alih-alih pulang, Sekar memilih nongkrong di sana. Dino menyusul ke taman belakang setelah Sekar memberitahunya melalui telepon.


"Terima kasih, Mas," ucap Sekar sambil menerima sebotol minuman dingin dari Dino yang baru saja datang.


Dino mengangguk. "Kau benar tidak ingin pulang ke rumah?" tanyanya. "Mumpung aku di sini, nanti kita bisa pulang bersama."


"Tidak. Aku akan terus di sini sampai jatah cutiku habis. Aku berniat berangkat ke Jakarta langsung dari sini." Jawab Sekar. Gadis itu menandaskan setengah isi botol minuman dingin tersebut.


Ponsel Sekar bergetar. Dino tersenyum kala melihat Sekar mengeluarkan ponselnya. Itu adalah ponsel miliknya, yang ia berikan untuk Sekar.


πŸ“© Mas Rion ❀️


Jangan lupa makan teratur. Salam untuk Bude. Aku merindukanmu.


Seberkas senyum merekah, terbit di bibir Sekar setelah membaca pesan dari Arion. Membuat Dino yang luar biasa penasaran, berusaha mengintip isi ponsel Sekar.

__ADS_1


Wajah pria itu berubah kesal, tatkala ia turut membaca pesan dari saingannya itu.


"Kalian ada hubungan khusus?" tanya Dino tiba-tiba. Dari nada bicaranya, Dino terdengar marah.


"Siapa, Mas?" Sekar tahu maksud pertanyaan Dino, namun ia enggan langsung menjawab dan memilih balik bertanya.


"Kau dan Rion? Aku tahu kalian bukan sekedar partner kerja biasa, mengingat dia sudi meluangkan waktunya untuk menyusulmu ke sini."


"Dia memang orang terdekatku di Jakarta. Jadi wajar saja, jika ia rela jauh-jauh datang kemari." Jawab Sekar santai. Sebenarnya percuma saja menyembunyikan segala hal dari Dino yang dikenal sangat peka. Namun Sekar tidak ingin mengakuinya begitu saja.


"Sedekat apa?" tanya Dino tak sabar. Nada suara pria itu sedikit meninggi.


Sekar berpura-pura tidak mendengar. Ia sibuk mengamati sederatan bunga Rombusa yang tertata cantik, tak jauh dari tempatnya duduk.


"Kau tahu, beberapa hari lalu aku pernah mengobrol berdua dengannya, dan dia mengaku padaku, bahwa dia menyukaimu."


Sekar tersentak. Ia mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga tersebut.


Kapan mereka bicara? Dan yang terpenting, bagaimana bisa Arion mengatakan dengan gamblangnya, bahwa ia menyukai Sekar.


Sekar tertawa garing. "Ia memang menyukaiku. Katanya, aku teman kerja yang baik."


"Berhenti membodohiku, Sekar." Perkataan dingin Dino barusan, membuat Sekar bungkam seketika.


Sekar membelalakan matanya. "Mas, kau ingat pernah berjanji untuk tidak lagi melihatku sebagai lawan jenis? Dan kau tahu betul, keluargamu begitu membenciku. Jangan sampai me–"


"Persetan dengan janji itu! Aku juga tak peduli tentang keluargaku. Kita bisa kawin lari dan hidup jauh di Luar Kota! Kita bawa Mbah dan Bude. Meski aku tidak seperti Rion, namun aku percaya diri bisa membahagiakanmu." Dino memegang kedua tangan Sekar erat. Sekar berusaha melepaskan tautan tangan mereka, akan tetapi sia-sia. Tenaga Dino jauh lebih besar darinya.


"Kau menyukaiku juga 'kan, Sekar? Kau mau menikah denganku, kan?" desak Dino. Genggamannya kian menguat.


"M–mas ini bukan kamu. Tolong, lepaskan aku!" perasaan takut tiba-tiba menyergap Sekar. Gadis itu masih berusaha melepaskan diri dari Dino.


Dino menarik Sekar ke dalam pelukannya. Sekar kontan saja berdiri, agar pelukan pria itu terlepas. "Mas, tolong jangan hancurkan hubungan kita yang sudah baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilangan sosokmu sebagai seorang Kakak." Mata Sekar seketika mengembun.


Dino turut berdiri. "Kau tahu, melihatmu bersama pria lain ternyata membuatku tidak sanggup melakukannya, Sekar." Mata duda tanpa anak itu menatap Sekar pilu.


Mendengar itu, Sekar tertunduk. "Pulanglah, aku ingin kembali ke kamar Mbah."


Dino menatap kepergian Sekar. Pria itu lantas mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Entah bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan Sekar.

__ADS_1


Jika ia tidak bisa memiliki gadis itu, maka tak ada seorang pria pun juga yang dapat memilikinya.


...***...


Erlina tersenyum sinis. Jane baru saja melaporkan segalanya soal Sekar, termasuk soal neneknya yang di rawat di salah satu rumah sakit terbesar di Kota tersebut.


Jane juga memberitahu Erlina perihal donatur yang menanggung seluruh biaya pengobatan nenek dari gadis itu. Sayangnya, Jane tidak bisa mendapatkan informasi mengenai identitas sang donatur.


"Tidak perlu susah payah mencari. Aku tahu, itu pasti Arion." Tebakan Erlina tepat sasaran.


"Kau harus mencari tahu lebih banyak. Jangan lupa, cari juga siapa-siapa saja orang yang membenci gadis itu dan keluarganya!" Erlina membutuhkan sekutu agar rencananya untuk menghancurkan Arion berhasil. Oleh sebab itu, ia tidak bisa bekerja seorang diri.


Mata Erlina berubah tajam. Ingatan akan perbuatan Arion tempo hari benar-benar membekas dalam dirinya.


Wanita itu bersumpah akan membuat Arion bertekuk lutut dan meminta maaf padanya. Ia juga bersumpah akan membuat Arion mengais-ngais miliknya yang telah hilang, sama seperti yang pernah Erlina lakukan waktu itu.


"Dewandaru, Rossane, lihatlah sebentar lagi, bagaimana anak semata wayang kalian merangkak, guna memohon ampun di kakiku!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih telah sudi membaca sampai sini, Kakak-kakak. Maaf jika feel-nya masih terasa kurang. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan saya pasti akan selalu revisi jika dirasa kurang pas.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya, Kakak-kakak. Karena 1 like atau komen dari kalian, sangat berarti bagiku, apa lagi gift.πŸ˜πŸ€—


Selagi menunggu Sekar update lagi, ada rekomendasi cerita yang tak kalah bagus milik salah satu temanku. Kalian pasti suka.

__ADS_1


Terima kasih, πŸ€—



__ADS_2