Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Dipecat


__ADS_3

Sementara di kantor Umbara Corporation kini tengah terjadi sedikit kehebohan. Tepatnya di lobby lantai satu. Arion terlihat sedang berdiri angkuh di hadapan seorang gadis berseragam OG, yang mereka kenal sebagai Ningrum.


Insiden lift beberapa hari yang lalu membuat Ningrum menerima konsekuensi dipecat tanpa pesangon. Gadis itu bahkan sengaja dipermalukan di depan umum oleh Arion. Kendati hubungannya dengan Sekar sedang berantakan, Arion tetap tidak akan mengabaikan perbuatan Ningrum. Lagi pula, ia akan tetap menindak tegas siapa pun karyawan yang bertingkah sok jagoan, dan melakukan perundungan di kantor ini.


"Jangan pecat saya, Pak! Ini semua saya lakukan atas perintah Ibu Erlina." Ningrum menangis sesenggukan seraya bersimpuh di hadapan Arion. Gadis itu tidak boleh berhenti dari pekerjaannya. Keluarganya butuh makan. Ia tidak percaya dengan janji Erlina untuk menjamin segalanya, sebab kini wanita itu sulit sekali dihubungi.


Lalu, bagaimana dengan uang yang sudah diberikan Erlina? Semua telah habis untuk melunasi hutang-hutang keluarganya dan juga berfoya-foya.


Arion sendiri sudah tidak terkejut lagi mendengar jawaban dari Ningrum. Sebab Aiden telah mendapatkan informasi tentang kedekatan keduanya selama beberapa waktu terakhir.


"Harusnya kau tahu, dia bukan siapa-siapa di sini!" perkataan Arion merujuk pada sosok Erlina.


Ningrum masih menangis. Ia mengangguk-anggukan kepala seraya berkata, bahwa ia telah melakukan dosa besar. Meski begitu, sesekali Ningrum terlihat melirik ke arah pintu lobbi. Ia masih berharap sosok Erlina akan muncul dari sana dan membela dirinya.


"Siapa yang kau tunggu?" tanya Arion dingin.


Ningrum gemetar ketakutan. Gadis itu menggelengkan kepalanya keras-keras.


"Jika wanita itu berjanji akan melindungimu, ketahuilah bahwa kau telah dibohongi!" kata Arion sinis.


Ningrum membelalakkan matanya. Bagaimana Arion bisa tahu akan hal tersebut?


Raut ketakutan kini benar-benar tampak di wajah gadis itu.


"B4ngsat kau Erlina!" batinnya terluka. Padahal demi Erlina, ia rela melakukan segala hal. Bahkan dengan bodohnya, ia juga mempercayai janji manis wanita ular itu. Menyadari bahwa itu semua merupakan akal-akalan Erlina saja membuat Ningrum menangis histeris.


Di depan para karyawan yang sibuk berkasak-kusuk, Ningrum menjatuhkan harga dirinya. Ia beringsut hendak meraih sepatu Arion guna meminta ampunan. Arion dengan sigap menghindar. Biar bagaimanapun, pantang baginya diperlakukan demikian, sebab ia juga manusia biasa.


Arion melirik Aiden yang berdiri tepat di sebelahnya, lalu pergi meninggalkan Ningrum menuju lantai 30.


Mendapati bosnya pergi begitu saja, Ningrum bangkit dan hendak berlari, tetapi Aiden segera menjegal gadis itu.


"PAK, TOLONG JANGAN PECAT SAYA!" teriakan Ningrum yang bergema sama sekali tidak diindahkan Arion.


Sebelum pergi dari sana seraya membawa Ningrum, Aiden menyuruh para karyawan yang menonton untuk segera membubarkan diri.


...***...


Erlina hanya menatap layar ponselnya dengan wajah datar. Tiga puluh sembilan panggilan tak terjawab, serta ratusan pesan singkat yang dikirim Ningrum sama sekali tidak digubris olehnya.

__ADS_1


"Dasar t0lol! Buat apa aku pasang badan untuk gadis rendahan macam dia? Apa lagi semua rencana yang ia buat gagal total!" gumam Erlina sinis.


Adhisty yang tengah duduk berhadapan dengan Erlina segera membuka suaranya. "Lalu bagaimana nasib kita, Ma? Ningrum pasti membeberkan segalanya pada Arion," ujar wanita itu khawatir.


"Mama tidak peduli dia akan membakar rumah ini sekalipun. Lihat saja, Mama akan membuatnya menangis sambil bertekuk lutut di kaki Mama, guna meminta ampunan!" jawab Erlina. Ada kilat berbahaya yang terpancar di mata wanita paruh baya itu.


...***...


"Pagi, Pak," sapa Estiana begitu Arion masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu rupanya baru selesai membersihkan ruangan Arion, dan kini tengah membuatkannya minuman.


"Ke mana Abiyan?" tanya Arion seraya berjalan menuju tempat duduknya.


"Beliau tidak masuk, Pak," jawab Estiana. "Ini minuman Anda," wanita itu meletakan secangkir teh jahe di meja kerja Arion.


Arion bergeming. Tentu sangat tidak tahu malu, jika pria itu masih berani datang ke kantor. "Tolong, segera urus pemecatannya," pinta Arion kemudian.


Estiana mengangguk. Berita tentang Abiyan yang merupakan dalang dibalik proyek Earlene memang sudah menyebar ke mana-mana.


Estiana pamit undur diri. Begitu ia keluar dari ruangan Arion dan menghampiri meja Abiyan, beberapa karyawan segera mengerubunginya untuk menanyakan keadaan pemimpin mereka.


"Tadi di lobby benar-benar kacau, Mbak. Pak Arion memecat Ningrum dan mempermalukannya di depan khalayak ramai!" seru salah seorang karyawan wanita.


"Benarkah? Gara-gara apa?" Estiana tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.


Estiana hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Soal itu ia memang tidak tahu-menahu.


"Terus, Mbak mau ngapain di meja Pak Abiyan?" tanya salah seorang karyawan lain.


"Tolong panggil salah satu OB untuk merapikan meja ini," pinta Estiana. Si karyawan yang diajak bicara, langsung pergi untuk memanggil salah satu OB yang sedang bertugas.


Estiana pun berjalan kembali meja kerjanya.


BRAAAK!


Baru saja Estiana duduk, suara gebrakan meja membuat wanita cantik tersebut terkejut.


"Ri! Kamu tuh, bisa tidak sih mengurangi sedikit staminamu itu?" kata Estiana melotot. "Bapak bisa dengar, tahu!" sambungnya galak sembari melirik takut-takut ke dalam ruangan Arion, yang berada di sebelahnya.


"Hehe ... Maaf, Bu," Riri, salah seorang karyawan yang dekat dengan Estiana, menggaruk kepalanya sembari terkekeh.

__ADS_1


"Pak Abiyan mau dipecat, Bu Es?" tanya gadis itu.


"Hmm ...!" Estiana hanya menjawab Riri dengan gumaman saja.


"Baguslah! Gila banget sih, calon ipar sendiri ditusuk dari belakang!" sahut Riri kemudian. Dia memang dikenal sebagai gadis ceria tukang gosip.


Mendengar itu, Estiana segera menempelkan telunjuknya ke bibir. Suara Riri yang keras bisa-bisa terdengar sampai ke telinga Arion. "Ssstt! Kecilkan suaramu, Ri!"


Riri kembali terkekeh. "Maaf,"


"Nanti kita bergosip ya, Bu?" Riri mengerling jenaka.


"Tidak mau! Saya sedang sibuk!" Estiana mengabaikan pandangan Riri dan sibuk mengambil berkas-berkas yang akan ditandatangani Arion.


"Dih! Kerja mulu nggak udah-udah. Mau naik haji?" sahut Riri ketus.


"Itu kamu tahu!"


...***...


Arion membuka salah satu laci meja yang terkunci dan mengambil sekotak rokok. Tanpa memperdulikan tempat, ia mulai menyalakan rokok tersebut dan menyesapnya kuat-kuat.


Sebenarnya, hari ini Arion tidak ingin berangkat ke kantor, dan memilih mencari Sekar. Tetapi urusan Ningrum dan Abiyan tidak bisa diabaikannya begitu saja.


Matanya menatap sendu pemandangan di luar jendela. "Di mana kau?" batin Arion putus asa.


Ia tahu Sekar masih ada di sini, sebab Aiden sudah memeriksa seluruh agen travel, terminal bus, dan juga stasiun kereta yang memiliki jadwal keberangkatan menuju kampung halaman gadis itu, tetapi Sekar tidak ada di sana.


Arion memijit pelipisnya kuat-kuat. Kepalanya kembali terasa pusing.


"Tolong jangan pernah temui aku lagi. Kita sudah bukan siapa-siapa!"


Kalimat terakhir yang Sekar lontarkan benar-benar menghantam telak batinnya. Rasa bersalah kian membumbung tinggi.


Tak lama, Aiden masuk ke dalam ruangan Arion. Mendapati Arion melamun sambil memegang rokoknya, Aiden dengan berani merampas rokok tersebut.


"Anda belum makan dari semalam, namun sudah menghabiskan sebatang rokok." Aiden mematikan rokok Arion dan membuangnya ke tempat sampah.


"Aku bahkan belum menyesapnya setengah," Arion membela diri.

__ADS_1


"Anda harus sarapan. Saya sudah meminta pihak kantin untuk membawakan Anda makanan." Aiden tidak menghiraukan tatapan tajam bosnya.


Arion menghembuskan napasnya. Seakan teringat sesuatu, ia segera memanggil Aiden yang hendak pergi meninggalkan ruangan. "Ei, tolong lacak siapa pun teman terdekat Sekar di sini, dan berikan padaku data diri beserta nomor telepon mereka yang bisa dihubungi."


__ADS_2