
"Kamu ndak apa-apa, Nduk? Nanti repot, loh," Bude Gayatri menatap khawatir sang keponakan yang sudah siap dengan tas belanjaannya. Gadis itu terlihat antusias. Mbah Bhanuwati yang berada di sebelahnya pun terlihat tak kalah antusias dengan sang cucu.
"Tidak, Bude. Lagi pula, aku sudah lama tidak jalan-jalan sama Mbah." Sekar bersiap mendorong kursi roda yang diduduki sang nenek. Dari semalam gadis itu memang berniat mengajak beliau jalan-jalan sembari berbelanja sayuran. Kebetulan, ia baru saja membeli sebuah kursi roda bekas dari pengepul barang bekas untuk Mbah Bhanuwati. Walau kondisinya tidak terlalu bagus, tetapi kursi roda tersebut masih sangat layak digunakan.
"Kami pergi dulu ya, Bude? Assalamualaikum," pamit Sekar.
"Waalaikumsalam." Bude Gayatri menatap kepergian ibu dan keponakannya dengan senyum kecil.
Sekar mendorong kursi roda sang nenek perlahan. Tadinya, ia berniat mengajak beliau ke pasar yang biasa didatangi, tetapi karena jaraknya terlalu jauh, Sekar akhirnya memilih berbelanja ke pasar pagi. Biasanya, di lapangan bola satu-satunya milik desa, selalu diadakan pasar pagi dadakan. Ada berbagai macam penjual yang menggelar lapaknya di sana. Mulai dari perabotan rumah tangga, pakaian, mainan, hingga sayur dan buah-buahan.
Dulu sewaktu kecil, Mbah Bhanuwati sering sekali mengajak Sekar ke sana untuk menemaninya belanja.
"Wah, rame sekali, Mbah," ucap Sekar ketika mereka sampai di sana. Suara riuh dari para pedagang yang memanggil pelanggan untuk mampir ke lapak mereka, membuat Sekar sedikit bersemangat.
Gadis itu mendorong kursi roda Mbah Bhanuwati masuk lebih dalam ke area pasar dan memulai berbelanja. Meski masih gadis, ia sudah biasa berkutat dalam urusan rumah tangga, termasuk berbelanja. Maka tak heran jika Sekar lihai dalam hal tawar menawar ketika membeli.
Sekar menatap puas tas belanjaannya yang sudah hampir penuh. Semua bahan belanjaan untuk stok beberapa hari kedepan sudah terbeli, tinggal buah untuk Mbah Bhanuwati saja yang belum.
"Sepertinya di ujung ada," gumam Sekar. "Mbah, kita beli buah dulu baru pulang, ya?" tanya Sekar pada Mbah Bhanuwati.
"Buah?" tanya Mbah Bhanuwati sembari menatap Sekar penasaran.
"Iya, Mbah. Kata dokter, Mbah harus banyak makan buah." Jawab Sekar tersenyum. Mbah Bhanuwati menganggukan kepalanya semangat. Gadis itu pun mendorong kursi roda beliau lebih jauh ke dalam.
Saat sedang fokus mencari-cari lapak buah, Sekar dikejutkan dengan tepukan Mbah Bhanuwati pada tangannya. Wanita lanjut usia itu meminta Sekar untuk berhenti di depan sebuah lapak sepatu.
"Kenapa, Mbah?" tanya Sekar.
Tanpa menjawab pertanyaan cucu ya, Mbah Bhanuwati turun dari kursi roda dan menghampiri lapak sepatu yang berada di sebelah kiri mereka.
Sekar memarkirkan kursi roda Mbah Bhanuwati persis di depan lapak, agar tidak menghalangi pejalan kaki lain.
"Mbah mau sepatu?" tanya Sekar sembari menghampiri sang nenek.
Bukannya menjawab, beliau malah memperhatikan kaki Sekar yang terbalut sandal jepit, lalu sibuk memilah-milih selop berukuran dewasa yang terjajar rapi di atas terpal beralaskan beberapa kontainer.
Setelah menemukan apa yang cocok, beliau mengambil selop tersebut dan menyuruh Sekar mencobanya.
"Sekar ndak butuh selop, Mbah," ujar gadis itu.
"Pakai saja dulu," titah sang nenek, yang membuat Sekar mau tak mau menurutinya. Gadis itu kemudian duduk di kursi roda Mbah Bhanuwati dan mencoba selop pilihan beliau.
Mbah Bhanuwati tersenyum sumringah begitu mengetahui ukuran selop yang ia pilihkan ternyata cocok dengan Sekar. Dengan penuh sayang, beliau mengelus rambut gadis itu. "Pilih yang kamu mau, Nduk,"
"Mbah mau beliin Sekar?" tanyanya.
__ADS_1
Mbah Bhanuwati menganggukan kepala. Wanita paruh baya itu kemudian mengeluarkan sebuah kantong lusuh dari saku bajunya dan membayar selop tersebut menggunakan uang pas.
Melihat hal tersebut kontan mengingatkan Sekar pada kenangan belasan tahun silam, saat Mbah Bhanuwati membelikannya sepasang sepatu sekolah.
"Makasih ya, Mbah," ucap Sekar tulus.
"Sama-sama, Nduk," jawab Mbah Bhanuwati tersenyum. Beliau kemudian memegang kedua bahu Sekar dan menepuk-nepuknya lembut.
"Putune Simbah saiki wis gede, jadi sepatune juga kudu diganti."
"Mbah kenal Sekar yang sekarang?" tanya Sekar dengan raut wajah terperangah.
"Moso ora ngerti putune dhewe."
Mendengar jawaban itu, tanpa pikir panjang Sekar langsung memeluk neneknya dan menangis histeris, hingga membuat para pengunjung pasar menatap ke arah mereka.
Sekar tidak peduli, yang ia pedulikan hanya kebahagiaannya atas ingatan Mbah Bhanuwati. Setelah bertahun-tahun dilupakan, akhirnya beliau dapat mengingat dirinya.
...***...
"Intinya, kalau kau ingin menyelamatkan Umbara, kau harus kembali sebelum Rapat Umum Pemegang Saham diadakan."
"Sial!" umpat Arion. Pria itu meremas sebuah map coklat kosong demi melampiaskan kekesalannya.
Erlina memang benar-benar wanita iblis yang tidak pernah kehilangan akal. Penangkapan Abiyan sama sekali tidak menyurutkan keinginan Erlina untuk berdiam diri. Justru, wanita itu malah memiliki strategi lain agar dapat menyingkirkan dirinya sekaligus. Yaitu dengan menjadikan Adhisty sebagai CEO pada rapat umum yang akan diadakan tak sampai dua bulan lagi.
Jika niat Erlina sampai terlaksana, hanya butuh waktu sekejap bagi wanita itu untuk dapat menyingkirkan semua orang yang berpihak padanya, tak terkecuali anggota keluarga Umbara yang lain.
"Kau mendengarku?" suara Ben segera membuyarkan lamunan Arion.
"Iya, Mas," jawab Arion lesu.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya. Segera selesaikan urusanmu di sana, lalu kembali lah ke sini." Ben berusaha menenangkan keponakannya itu.
"Baik, Mas. Terima kasih," ucap Arion. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. "Urusan?" tanya pria itu ketika menyadari ada yang janggal dari perkataan Ben.
"Kau pikir, aku tak tahu apa tujuanmu datang ke sana," kelakar Ben sembari tertawa.
Arion hanya bisa tertawa sumbang mendengar hal tersebut. Tak perlu cenayang untuk dapat mengetahui siapa yang telah membeberkannya pada Ben. Sudah pasti Aiden lah pelakunya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan sering-sering mengabarimu," pamit Ben.
"Terima kasih, Mas." Arion menutup teleponnya dan kembali duduk di kursi. Pria itu memejamkan matanya sejenak, demi menenangkan diri.
Drrt ... Drrt ...
__ADS_1
Getaran pada ponselnya membuat Arion membuka matanya lagi. Senyum kecil terbit dari wajah tampan pria itu, ketika melihat identitas si penelepon yang tertera di layar ponsel.
"Assalamualaikum," Arion memberi salam terlebih dahulu.
"Waalaikumsalaaaaam," jawab Sekar sembari menangis sesenggukan.
Arion sontak menegakkan badannya begitu mendengar tangisan Sekar. "Kau menangis? Ada apa?" tanyanya panik.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Sekar malah mengeraskan tangisannya. "Maaas!" pekik gadis itu.
"Iya, ada apa? Kau terluka?" tanya Arion sekali lagi. Pria itu buru-buru berdiri dari kursinya. "Kau di mana? Biar aku ke sana!"
"Aku tidak apa-apa." Jawab Sekar. Suaranya kini tidak sekeras tadi. "Mbah hari ini bisa mengingat diriku yang sekaraaang!" seru gadis itu kemudian. Ia pun menceritakan kejadian di pasar tadi pagi pada Arion. Ketiganya bahkan tengah berbincang hangat di rumah. Memang, ada beberapa momen yang harus diingatkan kembali, seperti bagaimana Sekar tumbuh dan berapa usianya sekarang. Sebab Mbah Bhanuwati sama sekali tidak mengingatnya.
"Setidaknya, Mbah tahu aku sudah sebesar ini," tutur gadis itu.
"Alhamdulillah," ucap Arion yang turut senang dengan perkembangan Mbah Bhanuwati. "Nanti sepulang kerja, aku mampir ya?" sambungnya.
"Iya." Jawab Sekar. "Minggu depan jadwal check-up Mbah, dan aku ingin menanyakan hal ini pada dokter. Menurut Mas, kita tunggu minggu depan atau besok saja aku ke sana?" tanya Sekar kemudian.
"Minggu depan saja, nanti aku yang antar." Jawab Arion.
Mereka pun berbincang sejenak, sebelum akhirnya Sekar pamit duluan. "Maaf, sudah menganggu waktu kerjamu. Aku tak kuasa menahan diri untuk tidak mengabari," ungkap Sekar malu-malu.
"Tidak apa-apa. Mendengar kabar baik darimu, membuat pikiranku akan pekerjaan sedikit terangkat." Arion tersenyum lembut.
"Ya sudah, nanti aku telepon lagi ya, Mas? Jangan lupa makan," pesan Sekar.
"Kamu juga," kata Arion.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam. Aku mencintaimu," Arion terkikik geli begitu mendengar gumaman Sekar soal perkataannya yang selalu blak-blakan. Tanpa menjawab, Sekar menutup teleponnya.
Walau Sekar tidak pernah membalas ucapannya, tetapi melihat bagaimana respon gadis itu, sudah cukup buat Arion senang.
Arion hanya harus lebih berusaha lagi, agar Sekar mau kembali padanya. Dengan begitu, niatnya untuk memboyong sang gadis dan keluarganya ke Jakarta dapat terlaksana.
...***...
Bude Gayatri masuk ke dalam kamar Sekar yang masih menyala. Gadis itu rupanya sudah tertidur lelap. Beliau menaikkan selimut yang berada di kaki Sekar, mengecup lembut dahi sang keponakan, sebelum akhirnya mematikan lampu kamar gadis itu.
Rasa bahagia tentu juga dirasakan wanita berusia 56 tahun itu, saat mengetahui sang ibu dapat mengingat kembali cucu satu-satunya. Meski beliau hanya mampu mengingat wajah Sekar dan tidak dapat mengingat setiap perkembangannya, tetap saja itu merupakan sebuah kemajuan yang signifikan.
Namun, entah mengapa, secara bersamaan perasaan tak enak tiba-tiba hadir membelenggu diri Bude Gayatri.
__ADS_1
Berkali-kali ia berusaha menampik perasaan tersebut. Tetapi, semakin hatinya menampik, perasaan tak enak itu malah semakin pekat terasa.
"Mudah-mudahan hanya perasaanku saja," gumam wanita itu sembari menutup pintu kamar Sekar.