Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Persaingan


__ADS_3

Arion tertawa kecil. Sorot matanya berubah kelam. "Kita baru saja kenal, tetapi sepertinya kau pandai sekali menilai seseorang?"


"Itu memang bakatku." Dino semakin percaya diri menanggapi omongan Arion. "Aku yakin, kau mempunyai rahasia besar yang Sekar tidak ketahui. Ingatlah, suatu saat rahasia itu akan terbongkar dengan sendirinya. Dan jika sampai hal itu terjadi, Sekar pasti akan sangat membencimu."


Perkataan Dino barusan benar-benar menghantam telak batin Arion. Sekelebat bayangan Sekar menari-nari di benaknya kini. Bahkan, kata-kata gadis itu tempo hari kembali muncul di ingatannya.


Sekilas ia membayangkan betapa kecewanya Sekar terhadap dirinya karena telah bersandiwara selama ini.


Awalnya Arion memang tidak bermaksud demikian. Semua terjadi begitu saja, saat Sekar ternyata tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Arion terbawa suasana. Ia merasa nyaman menjalani hubungan yang sederhana seperti ini. Ia merasa dicintai sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak seorang konglomerat yang kini mewarisi seluruh harta sang ayah.


Arion memang sempat berniat ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi saat Sekar berkata, bahwa ia tidak pantas untuk Arion yang notabene seorang karyawan berkedudukan tinggi, ia kontan mengurungkan niat tersebut.


Dia takut Sekar malah akan langsung pergi ketika mengetahui, jika ternyata ia bukan hanya sekedar karyawan.


Demi menutupi kegundahannya, Arion tersenyum. "Bermimpilah terus, jika kau ingin menjadikannya istri." Setelah mengatakan hal tersebut, Arion bangkit dari kursi dan masuk ke dalam ruangan Mbah Bhanuwati.


Sesampainya di dalam, Arion hanya duduk di sofa seraya memperhatikan Sekar yang sibuk menyuapi Mbah Bhanuwati.


Bola matanya bergulir kesana kemari, tampak tidak fokus.


"Tak akan kubiarkan kau lepas dariku." batin Arion. Ia menggertakan gigi-giginya.


"Mas, kenapa?" tanya Sekar khawatir. Rupanya ia telah selesai menyuapi Mbah Bhanuwati dan menidurkannya lagi. Sorot mata Sekar mengamati wajah Arion yang tengah gusar.


Arion tersentak. Pria itu kemudian tersenyum dan berkata, "tidak apa-apa."


Tangan Sekar yang bebas kemudian digenggam oleh Arion. Kali ini Sekar tidak menolak, sebab hanya ada mereka berdua di ruangan itu selain Mbah Bhanuwati. Bude Gayatri sendiri sedang pulang ke rumah sejak pagi untuk berbenah dan mengambil pakaian.


"Setelah semua selesai, aku ingin membicarakan sesuatu padamu," ujar Arion. Ia mengarahkan tangan Sekar ke bibirnya dan mengecup pelan tangan kekasihnya itu.


"Soal apa?" tanya Sekar heran. Ia menebak, itu sesuatu yang sangat penting.


"Nanti saja, bukan hal yang terlalu penting." Kilah Arion.


"Wajahmu tidak berkata demikian." Sekar mencoba menggali kejujurannya.


Arion menoleh ke arahnya dan kembali mengecup punggung tangan Sekar, berulang kali. "Waktunya kurang tepat. Aku berjanji akan segera memberitahumu begitu mendapat kesempatan."


"Baiklah." Sekar mengangguk. "Maaf ya Mas, aku tidak bisa mengatakan soal hubungan kita. Menurutku ini belum saatnya. Aku ingin fokus mengurus Mbah terlebih dahulu." Ungkap Sekar. Ada setitik penyesalan terpatri di wajah cantik gadis itu.


Arion tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, aku mengerti." Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sekar.

__ADS_1


Sekar merapikan poni Arion yang sedikit berantakan dengan tangan kirinya. "Tidurlah."


"Hmm ...," gumamnya sembari memejamkan mata.


...***...


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih," isak tangis wanita cleaning service yang sebelumnya di pecat Erlina bergema. Ia masih menjabat tangan Daniel seerat mungkin, seolah enggan melepasnya.


"Sama-sama, Bu Ima. Sudah, jangan menangis lagi." Daniel menepuk-nepuk tangan punggung tangan Ima lembut. Ia senang tidak terlambat menyelamatkan wanita itu dari perlakuan semena-mena Erlina.


Begitu mendapat kabar dari HRD soal karyawan yang hendak di pecat Erlina, tanpa pikir panjang Daniel langsung datang menemui mereka, menggantikan Arion.


"Wanita gila!" batin Daniel kesal. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi tingkah laku ibu tiri dari adik sepupunya itu. Yang jelas, Erlina tidak bisa lagi dihadapi dengan keramahan.


Mau tidak mau, ia harus menghubungi Arion guna memberitahukan apa yang telah terjadi di sini.


...***...


Kondisi Mbah Bhanuwati berangsur-angsur membaik. Beliau sudah dapat berbicara seperti biasa dan berjalan-jalan mengelilingi kamar tanpa kursi roda.


Sesekali beliau juga sempat menanyakan keberadaannya di sini. Maklum, ia merasa sangat asing berada di tempat seperti ini.


"Sekar sendirian di rumah. Siapa yang akan menjemputnya kalau bukan Ibu?" berkali-kali hanya itu kalimat yang diutarakan Mbah Bhanuwati ketika mengingat rumah.


Mbah Bhanuwati memandang sinis cucunya tersebut. "Siapa kamu? Cucuku seorang gadis kecil dan cantik. Tidak seperti kamu!" katanya ketus.


Air mata kontan mengalir membasahi pipi Sekar. Ia berusaha menepis perasaan sedihnya jauh-jauh.


"Ini Sekar, Mbah," kata gadis itu sembari memegang kedua lengan sang nenek. Sekar mencoba meyakinkan beliau sekali lagi. "Sekar sudah besar sekarang, Mbah."


Mbah Bhanuwati membuang muka. Ia enggan menatap Sekar. Bude Gayatri yang melihat itu segera memegang pundak sang keponakan tercinta. "Jangan diambil hati ya, Nduk,"


Sekar mengangguk. Matanya kembali basah. Entah kapan harapannya pada sang nenek akan terkabul. Ia ingin Mbah Bhanuwati kembali mengingatnya, meskipun itu hanya sekali.


Bude Gayatri menarik Sekar ke dalam dekapannya. "Mbah pasti sembuh kan, Bude?" tanya Sekar dengan suara teredam.


"Pasti, Nduk. Jangan pernah berhenti memohon pada Gusti Allah." Jawab Bude Gayatri.


"Ayo, kita pulang!" suara Mbah Bhanuwati menginterupsi mereka berdua. Bude Gayatri melepas pelukannya pada Sekar dan beralih ke ibunya.


"Sekar sudah dijemput Dino, Bu. Mereka sedang dijalan menuju kemari." Lagi-lagi Bude Gayatri harus berbohong demi menenangkan Mbah Bhanuwati.

__ADS_1


"Benar, Nduk?"


"Iya, Bu. Sekarang tidur dulu, ya?" Bude Gayatri berhasil membujuk Mbah untuk berbaring di ranjang dan tidur.


Sekar menatap Mbah Bhanuwati sendu. "Aku keluar dulu ya, Bude?"


Bude Gayatri mengangguk. Matanya mengikuti kepergian Sekar hingga menghilang di balik pintu ruangan.


...***...


"Pesan tiket pulang sekarang juga! Kita akan kembali!" seru Arion dingin sebelum menutup sambungan teleponnya. Wajah pria itu terlihat sangat emosi tatkala mendapatkan laporan dari Aiden, perihal kelakuan Erlina di kantor, saat ia baru saja sampai di lobi rumah sakit.


Daniel memang sempat menghubunginya tiga kali, namun sengaja tidak diangkat. Ia pikir Daniel hanya akan membicarakan soal pekerjaan.


Arion sampai di depan kamar perawatan Mbah Bhanuwati. Matanya menyipit mendapati Sekar keluar dari ruangan dengan berurai air mata.


"Ada apa?" tanya Arion begitu sampai di hadapan Sekar.


Melihat kekasihnya datang, Sekar kontan memeluk erat Arion. Dalam dekapannya, Sekar mengatakan soal kejadian tadi secara singkat.


Arion mengusap rambut Sekar sembari menciumi kepala gadis itu sesekali. Seperti biasa, ia tidak akan menggunakan kata-kata penghibur untuk Sekar. Arion membiarkan sang kekasih menangis sepuasnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka, tak jauh dari sana.


.


.


.


.


.


.


.


.


Feelnya terasa sangat kurang? Sama, saya pun merasakan hal demikian. Maaf.

__ADS_1


Meskipun begitu, saya harap karya saya yang tidak seberapa ini, masih layak untuk dibaca dan diberikan dukungan. :')


Terima kasih, semua, ❤️❤️❤️


__ADS_2