
"Sudah kubilang, jangan pertaruhkan jabatanmu hanya untuk gadis itu!" kata Daniel tanpa memperdulikan raut tersinggung Arion. Kini Arion sedang berada di apartemen Daniel. Pria itu benar-benar enggan menemui dirinya. Seharian bekerja di luar kantor, sang kakak memilih langsung pulang ke rumah. Arion yang jengkel akhirnya datang ke apartemen saat jam pulang kerja.
"Aku tidak mempertaruhkan apa-apa!" kilah Arion keras kepala. Tangannya bersedekap sembari duduk di lengan sofa.
"Kau itu sedang dievaluasi! Jika tingkahmu seperti ini, maka jabatanmu sudah pasti jadi taruhannya." Daniel menaikan speed pada treadmill-nya. Otot-otot pria itu semakin terlihat, seiring langkah kakinya yang semakin cepat.
Arion tertunduk. Matanya menatap sendu lantai marmer berwarna keemasan milik Daniel. Suasana mendadak suram. Daniel melirik sebentar ke arah sang adik, lalu mengacak rambutnya frustrasi. Ia mematikan alat treadmill dan turun dari sana.
"Baiklah, aku akan memikirkannya dulu. Kau tahu sendiri, tidak mudah berpindah tugas, apa lagi jabatanmu di kantor adalah CEO." Mendengar perkataan Daniel, Arion tetap bergeming. Pria itu malah berdiri dari posisinya dan duduk di badan sofa sembari memejamkan mata.
Daniel mengangkat sebelah alisnya. "Kubilang, aku akan memikirkannya dulu!" katanya kembali menegaskan.
"Iya, aku tahu," sahut Arion enteng. Suaranya lebih terdengar seperti gumaman saja. Tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mulut sang adik setelahnya. Meski sedang terpejam, wajah pria itu malah terlihat sangat menyedihkan. Seolah-olah semua beban kini tengah berada di pundaknya.
Daniel berdecak sembari mengacak rambutnya kasar. "Baiklah! Baiklah! Besok aku akan membuatkan surat permintaan ke kantor cabang!" serunya kesal. "Aku juga yang akan pasang badan untuk menghadapi para orang tua itu. PUAS!" serunya lantang.
Arion kontan membuka mata dan melebarkan senyumnya. Dia berdiri dari tempat duduk dan memeluk sang kakak erat, tak peduli Daniel baru saja berolah raga. Tidak lupa, ucapan terima kasih berkali-kali dilontarkan Arion untuknya.
"S3tan teng1k! Dari dulu kau selalu saja membuatku sakit kepala! Berdoa saja, paman sepupumu itu mau diajak kerjasama!" ujar Daniel ketus. Meskipun begitu, tangannya membalas pelukan sang adik.
"Aku akan menelepon Ben dan merayunya, agar sudi bertukar posisi sementara." Arion tersenyum sumringah.
Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski tidak seratus persen setuju dengan keputusan sang adik, tetapi di sisi lain ia memahami apa yang dirasakan Arion. Maklum saja, ia tahu betul bagaimana kisah percintaan adik sepupunya itu. Selama ini, Arion tidak pernah terlihat jatuh cinta pada wanita mana pun. Sebab para wanita yang mendekat pasti hanya akan menginginkan hartanya saja.
Namun sekarang, kelihatannya sedikit berbeda. Gadis office girl yang pernah bekerja di kantor mereka telah berhasil membuat Arion jatuh cinta setengah mati. Sudah dapat dipastikan, gadis itu tidak seperti wanita-wanita yang selama ini dikenal Arion.
__ADS_1
"Bawa gadis itu kemari secepatnya, jadi kau tak perlu lama-lama di sana!"
"Pasti!" sebuah janji terucap dari bibir Arion. Dia memang bukan hanya berniat menemui Sekar, tetapi juga membawa gadis itu pulang.
...***...
Butuh waktu satu minggu bagi Arion dan Daniel untuk mengurus kepindahannya. Ben, sepupu ayahnya yang memegang kantor cabang di kota tempat tinggal Sekar, sejak awal sudah menyetujui permintaan Arion. Tetapi permasalahan datang dari para jajaran direksi. Mereka sempat menentang permintaan Arion untuk berpindah tugas di sana, bertukar dengan Ben yang akan menghandle kantor di Jakarta. Tetapi berkat usaha keras Daniel, mereka akhirnya menyetujui hal tersebut, dengan catatan tidak lebih dari tiga bulan. Kalau sampai tiga bulan Arion belum juga kembali ke Jakarta. Mereka akan langsung memecatnya ditempat dan mengangkat Ben menjadi CEO tetap di kantor utama.
Begitu permintaannya disetujui, Arion ditemani Aiden langsung terbang ke kampung halaman Sekar. Mereka akan tinggal dan berkantor di sana selama tiga bulan, sembari mengawasi pabrik yang sedang dalam proyek pembangunan.
Beruntung, Ben berbaik hati mau meminjamkan apartemennya untuk ditinggali mereka selama di sana. Jadi mereka tidak perlu bersusah payah mencari tempat tinggal. Terlebih, jarak apartemen tidak terlalu jauh dari kantor. Arion pun dengan senang hati mempersilakan Ben untuk tinggal di rumah utama.
Di kantor yang baru, para karyawan menyambut kedatangan Arion dengan sangat baik. Beberapa bahkan tampak berbinar-binar melihat kedatangan CEO tampan yang baru.
"Kira-kira sudah punya gandengan belum, ya? Kalau belum, kayaknya bisa nih dideketin! Beliau kelihatan lebih ramah dari pada Pak Ben yang dingin!"
Aiden diam-diam menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka belum tahu saja apa alasan Arion sampai mau berkantor di sini.
Arion dan Aiden kemudian diajak berkeliling kantor oleh Novia, asisten pribadi Ben. Wanita itu baru akan menyusul Ben ke Jakarta setelah selesai mengenalkan Arion dan menghibahkan pekerjaan Ben pada pria itu. Arion tersenyum puas melihat gedung kantor ini. Kantor cabang yang dipegang Ben memang tidak semegah di Jakarta. Gedungnya hanya memiliki sepuluh lantai saja. Tetapi, justru ini lah yang ia sukai. Pekerjaannya pasti tidak akan sesibuk di sana.
Sore harinya Arion langsung mampir untuk melihat pabrik Earlene Fe yang pembangunan sudah hampir rampung. Baru setelah itu, ia bersama Aiden pulang ke apartemen milik sang paman, Ben.
Apartemen Ben memiliki satu setengah lantai, yang biasa disebut mezzanine. Maklum, Ben adalah pria bujangan, sama seperti Arion. Kendati status di keluarga merupakan sepupu sang ayah, tetapi usia Ben hanya terpaut lima tahun di atas Arion.
"Karena apartemen ini tidak memiliki kamar, biar saya tidur di sofa saja, Pak," ujar Aiden begitu selesai melihat-lihat apartemen milik Ben.
__ADS_1
"Kau tidak mungkin berbulan-bulan tidur di sofa," sergah Arion.
"Lebih tidak mungkin lagi, jika kita tidur di ranjang yang sama," perkataan Aiden membuat Arion bergidik ngeri. Benar juga! Masa iya mereka harus berbagi tempat tidur setiap hari, selama tiga bulan.
Arion akhirnya mengiyakan kemauan Aiden. "Besok aku akan membeli kasur lipat agar kau bisa tidur dengan nyaman."
Aiden menganggukan kepalanya.
"Oh iya, Pak, besok jadwal Mbah Bhanuwati check-up," ujar Aiden tiba-tiba.
"Ahh, aku hampir saja lupa." Kesibukannya di kantor pada hari pertama membuat pikiran Arion sedikit teralihkan dari Sekar.
"Besok saya akan mengurus administrasinya langsung ke rumah sakit."
"Aku ikut. Besok pagi kita pergi ke rumah sakit dulu sebelum ke kantor," perintah Arion. Jarak rumah sakit jauh lebih dekat dari apartemen dari pada kantor.
...***...
Davina tidak bisa menyembunyikaan kemarahannya ketika mengetahui Arion baru pindah keluar kota. Apa lagi saat Erlina memberitahu ke mana tujuan pujaan hatinya itu. Ia sudah banyak mengetahui seluk beluk Sekar dari ibu tiri Arion tersebut, termasuk desa tempat tinggal gadis itu.
"Si4lan!" umpat Davina. Matanya memicing sinis, mengingat wajah polos Sekar yang sangat menjijikan. Sepertinya ia harus mulai ikut turun tangan.
"Apa yang istimewa dari gadis kampungan tidak tahu diri itu? Aku jauh lebih baik dari segi apapun!" Davina mengepalkan tangannya sekuat tenaga, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Akan kupastikan, kau kembali lagi ke sini tanpa membawa gadis kampungan itu, Arion!" batin wanita itu geram.
__ADS_1