Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kejutan


__ADS_3

"Ada apa, Nak? Sepertinya kau sedang kesal sekali sepulang dari makam. Kalian sedang bertengkar?" tanya Bu Ida pada Sekar yang duduk di sebelahnya.


Sekar tertunduk lesu. "Kami tidak bertengkar, Bu, hanya saja aku sedang merasa sangat kesal pada Mas Ryon," jawab gadis itu jujur.


"Memangnya kenapa?" tanya Bu Ida lagi.


"Mas Ryon seenaknya saja membatalkan rencanaku untuk ikut saudara sepupuku tinggal di Melbourne." Sekar memilin ujung blouse-nya.


Bu Ida tersenyum. "Jauh sekali."


Sekar mengangkat kepalanya dan menatap Bu Ida sedih. "Beliau berniat untuk menyekolahkanku di sekolah khusus keterampilan, agar memiliki bekal. Aku sudah tidak memiliki siapa pun, jadi sebisa mungkin aku harus bisa berdiri sendiri, Bu," ujar gadis itu kemudian.


Bu Ida memegang tangan Sekar dan mengelusnya lembut. "Ibu paham bagaimana perasaanmu. Kau tidak ingin merepotkan orang lain, terutama Ryon, terus-menerus. Tetapi, bisa jadi dia memiliki rencana lain hingga berani menahanmu untuk tetap tinggal di sini."


"Rencana apa?" tanya Sekar penasaran.


Bu Ida menggelengkan kepalanya. "Kau tahu sendiri, Arion terkadang sulit ditebak."


Sekar menyetujui pendapat Bu Ida. Pria itu memang sulit ditebak dan terkadang semaunya sendiri. Belum lagi, ia sering mengajaknya berdebat hanya untuk masalah sepele. Namun, entah mengapa, hal itulah yang membuat Sekar semakin merasa terikat dengannya.


"Kalau Ibu boleh tanya, bagaimana hubungan kalian saat ini?" tanya Bu Ida tiba-tiba.


Sekar sedikit tersentak dengan pertanyaan tersebut. Benar juga, selama ini mereka tidak pernah mengikrarkan janji untuk menjadi sepasang kekasih kembali. Semua mengalir begitu saja tanpa adanya pengakuan.


Arion memang selalu menyatakan cinta padanya, tetapi Sekar tak pernah menjawab pernyataan tersebut.


Jauh di dalam lubuk hati yang terdalam, Sekar tak dapat memungkiri, bahwa ia masih mencintai Arion. Namun, perasaan takut untuk menjalin hubungan lebih dalam dengan pria itu, jauh lebih menguasai dirinya. Terlalu banyak perbedaan di antara mereka, terutama status sosial. Sekar hanya seorang gadis miskin yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Bersanding dengan Arion hanya membawa kerugian bagi pria itu.


Hati Sekar mendadak pilu.


"Aku tidak tahu, Bu," jawab Sekar jujur. "Mas Ryon memang beberapa kali mengatakan perasaannya, tetapi aku tidak pernah menjawab. Dinding pemisah di antara kami terlalu tebal. Aku takut, Bu," sambungnya.


Bu Ida mengerti akan perasaan gadis itu. "Tak ada dinding yang mampu menghalangi perasaan seseorang, Sayang. Selama kalian yakin bisa melewatinya bersama, dinding setebal apa pun pasti akan hancur dengan sendirinya." Tangan tua wanita itu menepuk-nepuk punggung tangan Sekar.


Suasana hening setelahnya. Sekar sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai tak terasa, mereka telah tiba di halaman parkir supermarket.


Sekar, Bu Ida, dan Lucas turun dari sana. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan untuk satu minggu ke depan. Maklum, penghuni rumah itu bukan hanya Arion dan Aiden saja. Beberapa maid juga tinggal di sana, begitu pula dengan empat tukang kebun dan dua supir lainnya.


Selesai berbelanja, Bu Ida mengajak Sekar berjalan-jalan ke Taman Kota sembari menikmati matahari terbenam. Baru setelah itu mereka pergi ke sebuah butik ternama.


"Kupikir, kita akan langsung pulang ke rumah, Bu," ujar Sekar.


"Ada pesanan Ryon yang harus Ibu ambil," jawab Bu Ida. Beliau pun mengajak Sekar masuk ke dalam butik.


Tiga orang wanita berpakaian formal, bersama seorang wanita berpenampilan nyentrik, menyambut hangat kedatangan mereka.


"Ini orangnya, Bu?" tanya Jennie, sang pemilik butik yang memiliki wajah bak artis korea.

__ADS_1


Bu Ida mengangguk kecil. "Tolong, ya?" pintanya tersenyum.


"Beres, Bu." Jennie mengacungkan jempolnya pada Bu Ida, sebelum kemudian beralih pada Sekar. "Cantiknya!" seru wanita itu antusias. "Arion pintar memilih gadis," sambungnya.


Mendengar itu Sekar mengernyitkan dahinya. "Anda kenal Arion?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja! Yuk, dari pada berlama-lama, ikut aku," ajak Jennie. Tanpa menghiraukan raut kebingungan Sekar, wanita itu langsung menggandeng tangannya menuju ke dalam, sementara Bu Ida sendiri duduk di ruang tunggu.


Jennie mengambil sebuah gaun mewah berwarna silver dari salah satu rak besar yang ada di sana. Meski gaun tersebut tidak memiliki banyak hiasan, tetapi tetap terlihat sangat mewah dan berkelas. Cocok sekali dengan kepribadian Sekar.


"Cobalah," titah Jennie pada Sekar.


"Loh, kami ke sini untuk mengambil pesanan, Mbak," sergah Sekar.


"Iya. Ini pesanannya." Jawab Jennie sembari menggoyang-goyangkan gaun tersebut. "Yuk, aku bantu." Jennie mendorong Sekar ke dalam ruang ganti. Dibantu dua orang asistennya, ia membantu gadis itu berganti pakaian.


Lima belas menit kemudian Sekar keluar dari ruang ganti. Bu Ida nampak terpukau dengan penampilan gadis itu. Kendati wajahnya masih polos tanpa riasan apa pun, Sekar tetap terlihat sangat cantik.


"Kecantikan alami sang gadis desa!" sahut Jennie senang.


"Baiklah, sekarang kita poles sedikit wajah alamimu ini, gara kecantikannya semakin terpancar!" seru Jennie lantang. Ia pun segera meminta asistennya untuk mendandani Sekar secantik mungkin.


"Loh, bukannya aku hanya disuruh mencobanya saja?"


"Tidak, Sayang. Kau harus memakai ini sampai rumah." Jawab Jennie menyeringai.


"Percayakan saja pada, Nak Jennie, Sayang," hanya itu yang bisa Bu Ida katakan.


Sekar pun akhirnya pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Rasanya, berdebat pun hanya akan membuat tenggorokan gadis itu kering saja.


Selesai dengan semua persiapan yang ada, Sekar dan Bu Ida baru pulang ke rumah.


"Selamat ya, Sekar. Semoga kalian berbahagia!"


Sekar mengernyit keheranan begitu mendengar ucapan Jennie.


"Selamat apa sih, Bu? Mas Ryon ulang tahun? Bukannya masih lama?" berbagai pertanyaan dilontarkan Sekar pada Bu Ida.


Bu Ida tersenyum. Tangannya merapikan sedikit helaian rambut Sekar yang tergerai indah. "Jangan pernah takut untuk memulai segalanya ya, Nak. Tidak apa-apa sesekali egois demi meraih kebahagiaanmu sendiri."


Perkataan Bu Ida yang ambigu membuat semakin banyak pertanyaan timbul di benak Sekar.


Suasana rumah utama keluarga Umbara begitu ramai ketika Sekar sampai di sana. Belasan mobil dan motor terparkir di halaman depan rumah tersebut. Belum lagi, suara hingar-bingar orang-orang yang terdengar samar di telinga Sekar.


"Bu, ini beneran ada yang ulang tahun?" tanya Sekar bingung.


Bu Ida hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


Lucas membawa mobilnya parkir tepat di depan pintu masuk. Ternyata sudah ada Dini, Ningsih, Rani dan Lastri yang menunggu di sana.


Sekar terkejut. "Kalian kenapa ada di sini?"


"Yuk, masuk! Semua sudah menunggu." Keempatnya dengan hati-hati membawa Sekar ke halaman belakang rumah utama. Mereka sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan gadis itu.


Merasa lelah dan kesal, akhirnya Sekar memilih untuk diam saja.


Sekar lagi-lagi dibuat terkejut ketika sampai di halaman belakang rumah. Tempat yang sebelumnya hanya dipenuhi rumput hijau itu, kini berubah menjadi sebuah tempat pesta yang cukup meriah.


Matanya kontan menatap sekeliling. Ada banyak karyawan Umbara yang datang ke sana. Beberapa wajah yang Sekar kenal pun ada di tempat itu, termasuk Mas Bayu, Amanda, Dino dan para karyawan Mon Amour beserta pemiliknya.


"Mas Bayu!" pekik Sekar.


Katanya Arion melarang Bayu datang, tetapi kenapa pria itu ada di antara kerumunan para tamu?


Baru saja Sekar hendak menghampiri Bayu, Arion tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. "Kau sangat cantik," bisik pria itu mesra.


"Ini apa, Mas? Kenapa Mas Bayu ada di sini? Katanya dia nggak jadi datang!" Sekar menatap Arion tajam.


Bukannya menjawab, Arion malah menggandengnya dan membawa gadis itu ke tengah-tengah para tamu undangan.


"Baiklah, para tamu undangan. Ini dia pasangan yang sudah ditunggu-tunggu!" Dimas, salah seorang sahabat Sekar menyambut kedatangan keduanya.


"Sekarang, mari kita mulai acara pertunangan antara Tuan Arion Raditya Umbara dan Nona Sekar Ayu Parmaditha!" seru Dimas yang langsung disambut tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan.


Sekar tak dapat menyembunyikan raut terkejutnya kali ini. Dengan wajah kebingungan, gadis itu bertanya pada Arion yang berdiri bersamanya. "Tunangan? Siapa yang tunangan?"


"Tentu saja, kau dan aku," jawab Arion tanpa pikir panjang.


"Memang kapan aku pernah bilang akan bertunangan denganmu? Jangan bercanda!" Sekar menatap Arion tajam. Ia berusaha menghempaskan tangannya, tetapi Arion bersikeras menahan tangan Sekar.


"Kau pikir, apa tujuanku membawamu ke sini? Dan aku tidak butuh persetujuanmu untuk melakukan ini?" Arion kemudian mendekatkan dirinya ke telinga gadis itu.


"Mulai detik ini, kau resmi menjadi calon istriku, Sekar Ayu. Jika kau menentang acara pertunangan ini, maka pergilah sejauh mungkin. Tetapi ingat! Aku akan selalu menemukanmu, di mana pun kau berada, dan kembali membawamu ke sini." Mendengar ancaman yang Arion lontarkan, membuat bulu kuduk Sekar meremang seketika. Gadis itu tidak dapat mengeluarkan suaranya.


Arion tersenyum dingin. Ia melepaskan tautan tangannya dan mempersilakan Sekar untuk pergi saat itu juga.


Tanpa disangka, Sekar malah menangis terisak-isak hingga membuat para tamu undangan panik seketika.


Arion pun tak kalah panik. Pasalnya, meski yang ia katakan sungguh-sungguh, tetapi ia hanya ingin membumbuinya dengan sedikit drama saja.


Arion menarik Sekar ke dalam dekapannya sembari meminta maaf berkali-kali. Beberapa tamu undangan hanya bisa saling menatap satu sama lain, tanpa mengerti apa yang tengah terjadi di antara Arion dan Sekar.


Lima menit kemudian, Sekar berhenti menangis. Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Arion.


"Jadi?" tanya pria itu kemudian.

__ADS_1


"Mau ditaruh mana mukaku kalau sampai acara ini batal!" jawaban ketus Sekar membuat Arion tertawa kecil. Ia pun memberi isyarat pada Dimas untuk melanjutkan acara tersebut.


__ADS_2