
Langit kota Surabaya begitu cerah hari ini. Namun tidak demikian dengan raut wajah pria berusia 33 tahun yang tengah meratapi ponselnya. Wajah pria itu terlihat sangat frustrasi. Aiden yang tengah fokus menyetir, sesekali melirik ke arah bosnya. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Arion saat ini.
Sudah lebih dari lima hari, Arion mencoba menghubungi Sekar. Tetapi gadis itu sama sekali enggan mengangkat teleponnya. Sebenarnya, ia bisa saja pergi ke rumah Rani untuk menemui Sekar. Tetapi Daniel secara tiba-tiba memintanya pergi ke Surabaya untuk melihat proyek pembangunan pabrik mobil Earlene Fe di sana. Arion tak kuasa menolak. Maka dari itu, meski berat ia tetap berangkat bersama Aiden. Selama di sana pun, Aiden lah yang lebih banyak turun tangan menangani pekerjaan, sebab fokus Arion benar-benar terpecah.
Menghubungi Rani pun rasanya percuma. Ia sudah pernah menelepon gadis itu sekali, tetapi tanggapannya sungguh di luar dugaan. Rani secara terang-terangan menguraikan segala kekecewaannya. Ia bahkan berani membentak Arion dan memintanya untuk menjauhi Sekar. Ia tidak peduli jika Arion akan langsung memecatnya saat itu juga karena telah berlaku kurang ajar. Sebab sampai kapanpun, ia akan selalu pasang badan untuk membela dan melindungi sahabat baiknya tersebut.
Sesampainya mereka di hotel, Arion langsung membaringkan diri di ranjang, meski masih berpakaian lengkap. Sepatu pun enggan ia lepas.
"Kita makan malam di luar atau di sini, Pak?" tanya Aiden.
"Di sini saja." Jawab Arion dengan suara serak. "Bangunkan aku kalau makanannya sudah datang." Sambung pria itu seraya memejamkan matanya.
Aiden mengangguk lalu menelepon pihak hotel untuk memesan makanan. Setelah selesai memesan, pria itu menghampiri Arion dan membantunya membukakan sepatu serta jas yang dikenakannya.
...***...
Rani, Ningsih, Lastri dan Dimas mengantar Sekar ke terminal. Semula keempatnya bersikeras ingin ikut ke kampung halaman Sekar, sekaligus menengok Mbah Bhanuwati yang sedang sakit. Tetapi Sekar menolak. Gadis itu khawatir mereka akan mendapat surat teguran karena bolos kerja bersamaan.
"Kabari kami kalau sudah sampai, ya?" pesan Lastri. Gadis tomboy itu terlihat buru-buru menghapus jejak air matanya yang hampir jatuh. Sekar mengangguk lalu memeluk erat Lastri. Ia lah teman pertama Sekar saat menginjakkan kakinya di Jakarta.
"Aku akan segera mengambil cuti agar bisa mengunjungimu ke sana," kata Lastri. Sekar mengangguk haru.
"Jangan terlalu lama di sana, Sekar. Cari kerja di sini saja." Ningsih menangis sesenggukan. Sekar bergantian menarik Ningsih ke dalam pelukannya.
"Iya, Ning," jawab Sekar seraya tertawa kecil. Ia berusaha memasang ekspresi setegar mungkin, meski air mata sudah tidak dapat dibendung lagi.
"Ini kenang-kenangan dari kami berlima. Jalu titip salam untukmu. Dia shift pagi, jadi tidak bisa ikut mengantar." Dimas mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya.
"Apa ini?" Sekar menerima kotak tersebut dengan penuh keheranan.
__ADS_1
"Jangan buka di sini. Di rumah saja. Tempat seperti ini banyak sekali orang-orang jahat." Titah Dimas yang langsung disetujui ketiga sahabat Sekar lainnya.
Sekar bergeming. Kalau dia tidak salah ingat, sepertinya dia pernah mengalami hal sama, dengan situasi yang juga nyaris sama.
Melihat Sekar mematung, Rani merebut kotak tersebut dan menaruhnya di dalam tas selempang Sekar.
"Apapun itu, terima kasih," ucap Sekar penuh haru. Keempatnya kontan mengerubungi Sekar dan memeluknya erat. "Tunggu aku, ya? Jangan lupakan aku!" isak tangis Sekar terdengar lebih keras.
"Tentu tidak, bodoh!" seru Rani ketus.
Sekar merasa sangat beruntung memiliki sahabat baik seperti mereka. Sekilas, membuat hati Sekar terasa berat meninggalkan Jakarta, yang telah menorehkan sejuta cerita di hidupnya.
Pengumuman keberangkatan bus tujuan kampung halaman Sekar, terdengar beberapa saat kemudian.
"Biar aku bantu." Dimas mengambil alih dua buah koper Sekar. Mereka berempat mengantar Sekar menuju busnya.
"Mbak Sekaaaaar!" teriakan seorang gadis membuat Sekar dan yang lainnya sontak menghentikan langkah mereka.
"Mbak kok gitu, sih! Marah sama aku, sampe mau ninggalin aku, ya?" Dini menangis terisak-isak di pelukan Sekar.
Sekar mengelus punggung Dini dengan penuh sayang. "Siapa bilang Mbak marah? Mbak hanya pulang sebentar untuk merawat Mbah," ujarnya terkikik.
"Tapi Mbak tidak pernah mau aku temui. Berarti, Mbak marah padaku!" tangisan Dini semakin keras. Selain Arion yang rajin menghubunginya, ada Dini dan Candra juga rajin yang menelepon dirinya hampir setiap malam. Namun berbeda dengan Arion, Sekar masih mau mengangkat telepon dari kedua remaja tersebut.
"Maaf, ya?" ucap Sekar penuh penyesalan. Ia memang sengaja tidak ingin bertemu dengan mereka berdua, karena takut Arion akan memanfaatkan mereka lagi, agar dapat menemuinya.
"Ibu sehat?" tanya Sekar mengalihkan pembicaraan.
"Sehat, Mbak. Oh iya, Ibu titip ini. Maaf beliau tidak bisa ikut datang." Dini memberi sebuah rantang susun yang lumayan berat. "Isinya rendang semua. Ibu masak sampai kering supaya awet." Sambung gadis itu.
__ADS_1
"Sampaikan terima kasih Mbak pada Ibu," ucap Sekar seraya menerima rantang makanan tersebut.
"Kalian jaga diri baik-baik, ya?" pesan Sekar pada Candra dan Dini. Mereka bertiga berpelukan sejenak, sebelum akhirnya naik ke dalam bus.
Candra dan Dimas membantu Sekar membawa koper dan menaruhnya di bagasi bus. Sementara yang lainnya mengantar Sekar sampai ke dalam. Tak sampai lima belas menit, bus pun berangkat meninggalkan terminal. Sekar melambaikan tangannya dari balik kaca jendela.
Netranya yang basah menatap haru keenam orang tersebut.
Sekar tersentak kala ingatan saat pertama kali berangkat ke Jakarta, kembali terlintas. Dia tidak menyangka, waktu berlalu begitu cepat. Waktu itu hanya ada Dino yang menemani keberangkatannya. Tetapi kini, ia memiliki banyak sahabat yang mau repot-repot membantunya di kala kesulitan, dan juga mengantar kepergiannya seperti saat ini.
"Aku menyayangi kalian," batin Sekar.
...***...
Bude Gayatri baru saja hendak makan, ketika tiba-tiba Mbah Bhanuwati berteriak-teriak dalam tidurnya. Wanita lanjut usia itu memanggil-manggil nama sang cucu berkali-kali.
"Bu! Bangun, Bu!" seru Bude Gayatri panik. "Ada apa, Bu?" wanita itu menggoyang-goyangkan tubuh sang ibu pelan, agar terbangun dari tidurnya. Perlahan Mbah Bhanuwati membuka matanya, lalu menangis terisak-isak.
"Ono opo toh, Bu?" tanya Bude Gayatri.
"Sekar, Nduk. Sekar mau di bawa Mawan dan Yati." Jawab Mbah Bhanuwati. "Aja! Aja nggawa putuku!" sang ibu kembali berteriak-teriak. Tangan rentanya menggapai-gapai ke segala arah.
Bude Gayatri menahan diri untuk tidak menangis, saat mendengar mendiang adik dan adik iparnya disebut oleh beliau.
"Ora, Bu. Sekar ora ono sing nggawa." Bude Gayatri mencoba menenangkan Mbah Bhanuwati.
"Jemput ke sekolah, Nduk. Jemput Sekar, saiki!" titah sang ibu.
"Iya, iya. Tri jemput sekarang. Ibu tidur dulu, ya?" Bude Gayatri kembali membaringkan Mbah Bhanuwati ke ranjangnya. Setelah tenang, beliau keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu, yang berada di depan ruangan ibunya sembari menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Ono opo toh, Nduk? Kok, hati Bude jadi nggak tenang begini," lirih wanita paruh baya itu.